Belajar AESTHETICS THEORY (1)

•19 Februari 2018 • Tinggalkan sebuah Komentar

Beberapa  hari lalu saya menulis Komunikasi Visual: Apa Itu?. Terimakasih untuk yang sudah mampir di blog saya, membacanya dan mengapresiasinya. Kali ini saya akan lanjutkan pengembaraan belajar komunikasi visual itu dengan mengajak (pengambil subjek ini) membaca salah satu referensi yang menurut saya cukup komprehensif. Buku itu karangan Smith, Ken. et.al. (eds). Edisi 2005 berjudul  Handbook of Visual Communication Theory, Methods and Media. Diterbitkan oleh Lawrence Erlbaum Associates Publisher.

Ada dua belas bagian  dalam buku itu yang dirinci lagi terdiri dari tiga puluh empat chapter. Semua bahasan sudah saya review dan saya padatkan menjadi empat belas kali pertemuan kuliah, sudah saya dokumentasikan dalam RPS. Wow… !!! Dengan komposisi materi yang cukup gemuk, maka sudah barang tentu kuliah menuntut partisipasi peserta kelas memelajari sendiri dahulu secara intens baik secara individu maupun kelompok. Untuk ini nanti akan saya bantu dengan beberapa pokok pertanyaan kunci dalam mereview buku (chapter) sehingga memudahkan mahasiswa menaklukkan teks book yang tebal ini (601 hal).

Ok, Aesthetics Theory….

Komunikasi visual itu bagaikan sosok yang kompleks, gambarannya mirip sebuah puzzle dan baru bisa dipahami kalau semua potongannya telah terpasang dengan benar. Satu potongan kunci puzzle dalam memahami komunikasi visual adalah aesthetic.

Sebelumnya saya ingatkan lagi, mengapa sesuatu itu bisa dikatakan “indah” dan mengapa kemudian “keindahan” itu bisa memengaruhi kita—adalah sesuatu yang misterius. Sekarang coba anda ingat, pernahkah anda begitu terpana melihat “keindahan” matahari tenggelam di ufuk barat? Mengapa ada semacam “sesuatu” yang menyapa dan begitu menggerakkan emosi kita di dalam “visual sunset” itu? Itulah sebenarnya pertanyaan kunci di dalam memahami komunikasi visual!. Pertanyaan kunci yang senantiasa misterius. Karena yang utama dari sifat nonverbal komunikasi visual, apa yang kemudian bisa ditulis hanyalah spekulasi “tentang” sifat estetika dan karenanya tidak bisa “menjadi” estetika visual itu sendiri. Because of the essentially nonverbal in visual communication, what can be written is only speculation”about” the nature of aesthetics and cannot therefore be ”of” visual aesthetics itself  (Dake, dalam Smith, 2005:1).

Memahami komunikasi visual dimulai dengan mengenal aspek apa saja yang ada di dalamnya. Ada beberapa aspek dalam komunikasi visual:

  • Visible, structural and configurational in nature (Terlihat, bersifat struktural dan konfiguratif);
  • Largely implicit in apprehension (Dalam peng-arti-an sebagian besar sifatnya tersirat);
  • Holistic in conveying meaning not wholly translatable into parsed, discursive form (Holistik dalam pemaknaannya— yang tidak sepenuhnya diterjemahkan secara terpisah, dalam bentuk diskursif); dan
  • Cognitive in a generative sense, based on a unique type of visual logic (Kognitif dalam pengertian generatif, berdasarkan jenis logika visual yang unik).

Selain itu kita, mesti mengenal pula secara historis tiga disiplin yang sudah mencoba menggarap aesthetics visual yakni filsafat, seni dan ilmu. Dari ketiganya itu, visual arts tercatat sebagai penyumbang pemahaman yang komprehensif mengenai apa itu pemaknaan visual; sedangkan disiplin ilmu (ilmiah) dalam perkembangannya menawarkan bukti-bukti faktual mengenai  kualitas estetika tertentu yang memiliki peran utama di dalam kecakapan manusia ber-komunikasi.

Perspektif filsafat tentang Estetika

Secara tradisional aesthetics didefinisikan sebagai “studi dan teori kecantikan dan respon psikologis terhadapnya” (“the study and theory of beauty and of the psychological response to it” ( Neufeldt & Guralnik D.E.,1998)). Definisi di atas secara spesifik lebih mengacu pada kajian filosofis yang berkaitan dengan seni, sumber-sumber kreatifnya, bentuk dan efek-efeknya. Dalam konteks teori estetika, diperlukan definisi yang lebih luas mencakup keseluruhan fenomena mengenai komunikasi visual.

Sebuah tinjauan historis singkat menggambarkan masalah yang telah dikemukakan para filsuf tentang teori kecantikan. Analisis Plato mengenai kecantikan—dalam tubuh, dalam jiwa dan dalam pengetahuan—berusaha menggambarkan dimensi afektif (berdasarkan “cinta” sesuatu) dalam respons estetika. Pendekatannya menjadi semakin abstrak sampai berkembang sebagai “Teori Bentuk” berdasarkan pada apa yang ia tekankan sebagai properti yang dimiliki oleh hal-hal yang bersifat indah (Dickie, 1971). Para filsuf berikutnya, seperti Aristoteles dan St. Thomas Aquinas, melanjutkan pengembangan “Teori Bentuk” dalam hal analisis objek morfikal dari dunia pengalaman. Di masa Renaissance, teori seni yang berkembang mendefinisikan keindahan dalam hal harmoni. Namun, pada abad ke-18, filsuf menambahkan pengertian tentang yang agung dan filosofi rasa, yang membuat gagasan kecantikan lebih subjektif dan menyebar dan berkontribusi pada fragmentasi teori keindahan. Dengan kata lain, teori kecantikan yang berguna berdasarkan proporsi, kesatuan, dan dimensi yang sering dianggap tidak dapat disepakati. Newton misalnya, (1962, hal 11) mengamati, “Kecantikan tidak dapat dijelaskan, oleh karena itu tidak dapat didefinisikan.” Sebagai tanggapan, pemikir Inggris dan filsuf Jerman Kant mencari sebuah teori terpadu dalam ranah teori estetika, di mana tanggapan kognitif dan afektif diakui, namun dalam konteks pribadi yang memungkinkan apresiasi kecantikan individualistik. Belakangan ini, teori estetika telah mengartikulasikan dua dimensi – kualitas itu sendiri dan respons terhadapnya. Respons estetika, dengan demikian, adalah tujuan dari sebuah pencarian.

Estetika adalah cabang filsafat yang kaya akan teori diskursif dan spekulasi interpretatif, namun tidak terlalu membantu dalam memahami peran kualitas estetika dalam komunikasi visual. Visual estetika bersifat visual dalam pondasi dan holistik dalam pengertian. Seperti yang diamati oleh seniman abad ke-19 Paul Cezanne, “Berbicara tentang seni hampir tidak ada gunanya” (Rewald, 1976, hal 303).

Filsafat didasarkan pada penjelasan diskursif dan parsial verbal dan mengikuti konstruksi linear yang logis. Ribuan argumen filosofis untuk estetika yang maju secara historis didasarkan pada pemikiran dan ekspresi tatanan dan karakter yang berbeda dari penciptaan dan komunikasi sendiri. Dengan demikian, argumen filosofis dapat membuktikan lebih banyak gangguan dari eksplorasi aspek estetika komunikasi visual daripada bantuan untuk memahami. Secara biologis berdasarkan (dari penemuan baru-baru ini dalam ilmu saraf) pemahaman tentang estetika dapat mencakup banyak argumen filosofis yang beragam dan memberikan landasan yang lebih stabil untuk memahami komunikasi visual.

Perspektif Artistik tentang Estetika Menggunakan eksperimentasi visual dan bersifat intuitif, para seniman menghasilkan perangkat pengetahuan tentang estika komunikasi visual. Meski kalangan ilmuwan telah menyajikan penjelasan eksplisit mengenai respons estetika, disiplin studi seni (arts) memberikan penyingkapan unik yang mendasarkan perspektifnya pada fungsi komunikasi estetik.  Para seniman sebagai pencipta pesan visual, pilihan-pilihannya, manipulasinya, terhubung secara tak terbatas dengan petunjuk estetika yang halus hingga mencapai hasil akhir yang sempurna. Pengetahuan tentang keterkaitan estetika, yang diperoleh melalui kinerja visual, memberikan catatan visual permanen mengenai keputusan yang dibuat dan relasi estetika tanpa kata yang terbentuk dalam proses tersebut. Apa yang perlu digarisbawahi menurut perspektif seni ini  (Dake, 1993, 1995, 1996, 2000) adalah suatu bentuk action research  bersifat kualitatif yang memanfaatkan ide dari seniman yang kemudian di studio   (sketsa persiapan para seniman, maquettes, buku harian, surat, foto karya seni yang berkembang) berkorelasi dengan temuan dari sains. Kesepakatan analogis dari perspektif ini memberikan filter yang kritis dan berdasarkan fakta untuk memperluas pemahaman tentang komunikasi estetika. Di mana sains dan seni saling memberikan perspektif yang kompatibel, ada harapan untuk teori komunikasi estetika visual yang lebih obyektif.

  Perspektif Scientific  tentang Estetika Sudah banyak penelitian ilmiah tentang estetika yang dihasilkan dalam ilmu biologi dan sosial. Salah satu cabang pengetahuan yang menghasilkan perspektif yang menjanjikan adalah estetika eksperimental (psikobiologi). Pendekatan untuk mengeksplorasi komunikasi estetika pada umumnya berfokus pada responsivitas individu terhadap sifat estetika. Selama 40 tahun terakhir, terutama dalam pendekatan ekologis Berlyne terhadap responsif, pemahaman hubungan estetis yang lebih tepat telah dihasilkan. Berlyne menciptakan istilah “sifat kolektif” untuk menentukan kualitas stimulus yang bergantung pada kekhawatiran komparatif dengan rangsangan masa kini atau masa lalu. Variabel kolektif seperti kerumitan, ketidaksesuaian, ketidakpastian, kejutan, kebaruan, dan ketidakjelasan terbukti penting untuk mendapatkan dan mempertahankan perhatian pemirsa yang penting untuk mempertahankan pengalaman estetika (Berlyne, 1974). Dengan menginformasikan pembentukan hubungan estetika, komunikator visual secara sistematis mempelajari kapasitas otak visual menggunakan seperangkat alat pendisiplin intuitif yang unik. Dr. Semir Zeki, dari Institut Internasional Neuroesthetics, dalam bukunya Inner Vision: Exploration of Art and the Brain, membahas pentingnya pendekatan brainbloss disciplinary. Semua seni visual diekspresikan melalui otak dan karenanya harus mematuhi hukum otak, baik dalam konsepsi, eksekusi, atau penghargaan; Tidak ada teori estetika yang tidak didasarkan pada aktivitas otak yang mungkin akan lengkap, apalagi mendalam “(1999, hal 1).

Perspektif  Interdisiplinary  tentang Estetika Mempelajari segala cara media komunikasi visual, tidak hanya yang biasanya tergolong seni, membuat jelas bahwa semua komunikasi visual harus menggunakan sistem persepsi manusia yang sama seperti halnya benda seni. Tidak ada koneksi mata-ke-otak yang terpisah untuk pengolahan gambar berlabel seni. Dengan melihat apa yang secara ilmiah diketahui tentang cara otak memproses informasi visual, seseorang dapat mempelajari lebih lanjut tentang sifat dan fungsi aspek estetika persepsi dan oleh karena itu peran yang dimainkan oleh fenomena estetika dalam komunikasi visual. Dengan mempelajari seni, seseorang dapat memperoleh pemahaman emosional dan intuitif yang lebih dalam tentang banyak hubungan estetika yang sensitif yang terlibat dalam membentuk citra komunikasi visual. Menetapkan dasar fisik untuk ekspresi estetika dengan eksplorasi ilmiah yang ketat dan pengamatan artistik berbasis objek diharapkan memberi kemanfaatan bagi individu di dalam mengatasi pemahaman subjektif dan estetika saat ini yang membingungkan. Ungkapan umum menyatakan, “Kecantikan ada di mata yang melihatnya.” Meskipun benar bahwa subjektivitas dapat mencerahkan tanggapan pribadi pemirsa secara pribadi, namun juga mengaburkan kontribusi transpersonal yang lebih dalam, lebih dapat diandalkan, yang dibuat melalui komunikasi visual. (bersambung)  

Iklan

KOMUNIKASI VISUAL : Apa itu?

•12 Februari 2018 • Tinggalkan sebuah Komentar

tri-nugroho-adi-baret-e1511687821904Komunikasi visual, sekali lagi saya tulis: “komunikasi visual”. Bagi sebagian kalangan yang mungkin belum pernah mendalami kajian ini akan cenderung menafsirkannya sebagai satu kajian yang bersifat praktis tentang desain, atau tentang bagaimana membuat desain yang apik secara visual. Pemahaman seperti ini tidak tepat. Karena kalau kita hendak memelajari bagaimana membuat desain yang bagus, atau membuat desain graphic yang ok maka belajarlah  “desain komunikasi visual”. Di Indonesia sudah ada prodi seperti ini.

Satu masalah kesalahan penafsiran selesai. Lalu kembali ke judul di atas apa itu komunikasi visual?

Begini, saya akan menjawab dengan pengandaian. Manusia dalam perkembangan belajarnya tentu mengalami proses belajar, dalam konteks ini belajar berkomunikasi. Kita mulai belajar berbicara, belajar membaca, belajar  mengemukakan pikiran dalam bentuk  tulisan dan seterusnya.  Dengan kata lain, dalam ilmu komunikasi kita belajar mengenai segala aspek tindakan manusia berkomunikasi, mulai dari berkomunikasi secara interpersonal, dalam sebuah relasi kelompok, dalam sebuah organisasi, berkomunikasi melalui media, berkomunikasi dalam suatu konteks kultur dst. (catatan: maaf ini gambaran yang terlalu saya sederhanakan mengenai ilmu komunikasi)

Tema-tema komunikasi seperti di atas tentu sudah tidak asing bagi pembelajar ilmu komunikasi, karena kebetulan objek studinya adalah pesan komuikasi yang bukan visual. Nah sampai di sini, perlu kita munculkan satu pertanyaan : bagaimana dengan mempelajari bagaimana manusia berkomunikasi secara visual  ? Bagaimana kita belajar memahami pesan secara visual? Bagaimana cara kerja otak kita sehingga kita memahami pesan secara visual dengan cara tertentu? Bagaiamana kita menyadari bahwa aspek alam bawah sadar kita itu berpengaruh dalam kita mempersepsi sesuatu secara visual? Bagaimana kita mengkaji bentuk-bentuk representasi pesan secara visual di berbagai media? Jawaban untuk beberapa pertanyaan terakhir itulah yang menjadi inti kajian komunikasi visual.

Komunikasi visual, dengan demikian, sesungguhnya lebih bersifat kajian teoritis (mengenai bagaimana manusia berkomunikasi secara visual) ketimbang praktis. Karena sifatnya yang ternyata amat kompleks maka mau tidak mau disiplin ini membutuhkan kontribusi teoritis dari disiplin ilmu lain. Atau dengan kata lain sub kajian ini berakar dari bermacam disiplin ilmu. Yang paling menonjol perannya menurut saya adalah teori psikologi, khususnya psikologi Gestald. Lalu teori estetika, beberapa teori representasi, retorika, semiotika, dst.  Karena dalam komunikasi visual juga perlu mengembangkan metode terkait dengan bagaiamana manusia atau masyarakat bisa menerima atau tidak menerima pesan visual, maka perlu juga dimasukkan pendekatan resepsi, atau teori resepsi. Selebihnya, teori visual literary juga tidak boleh diabaikan karena pada titik tertentu kemampuan manusia memahami pesan visual bergantung pada tingkat literacy-nya. Sebagai gong-nya, dalam komunikasi visual juga sangat berkaitan dengan cultural study karena disiplin ini sudah terlebih dahulu melirik segala macam aspek produk budaya (termasuk yang produk budaya visual) sebagai yang sarat makna dan menjadi sarana pertarungan wacana yang bersifat ideologis di sana.

Singkatnya, mata kuliah ini akan disajikan dengan pendekatan studi kritik dengan menyandarkan pada beberapa perspektif teori seperti teori estetika, Perception, Represeantation, Visual Rethoric, Cognition, Semiotics, (Visual ) Reception Theory,Narrative, Media aesthetics, Ethicts, Visual Literary, dan (Visual) Cultural Studies .

Satu buku yang cukup komprehensif akan saya pakai sebagai pengantar dalam mata kuliah ini yaitu buku karangan Smith, Ken. et.al. (eds). 2005.  Handbook of Visual Communication Theory, Methods and Media. London : Lawrence Erlbaum Associates Publisher.

Selain itu akan saya gunakan juga beberapaa referensi yang akan memperkaya perspestif komunikasi visual yakni buku Emmison, M.dan Smith, Philip. 2007. Researching The Visual Images, Objects, Contexts and Interactions in Social and Cultural Inquiry. London : Sage Publication Ltd. Juga buku Heywood,Lan dan Sandywell, Barry. 1999. Interpreting Visual Culture : Explorations in the Hermeneutics of Visual. London – New York : Royledge. Buku selanjutnya ini juga bagus karena menambah kekayaan dari sisi metodologis yakni buku Rose, Gillian. 2002. Visual Methodologies : An Introduction to the Interpretation of Visual Materials. London : Sage Publication Ltd.  Dan juga refersni berikut : Scirato,Tony dan Webb, Jen. 2004. Reading the Visual. Australia: Allen & Unwin akan menambah kekayaan pemahaman kita mengenai kajian pesan visual.

Sayangnya, mata kuliah “baru” yang muncul di kurikulum 2015 dan sudah dua tahun ditawarkan di Prodi S1 kita ini, oleh pengampu sebelumnya pernah diajarkan dengan pemahaman yang cenderung praktis sehingga jatuhnya menjadi mirip kajian desain komunikasi visual seperti yang saya singgung di awal tulisan ini. Tahun 2018, mata kuliah ini akan diluruskan menjadi sebuah kajian yang bersifat teoritis. Dengan dukungan referensi di atas, saya tawarkan komunikasi visual  dengan pemahaman yang “benar”. Ada semangat redefinisi dalam mata kuliah ini, dan semoga lebih kontekstual dengan kebutuhan pencapaian belajar di Prodi S1 Ilmu Komunikasi kita.

Tapi, sayangnya lagi, mata kuliah ini telanjur dipatok dengan beban 2 sks, juga telanjur dipasang di semester 2 yang menurut saya koq terlampau dini untuk bicara tentang aspek teoritis dan metodologis. Ah tak apalah, justru sebuah tantangan sendiri menurut saya kalau harus mengemas mata kuliah yang cukup berat ini dalam durasi yang cukup pendek. Tentu diharapkan mahasiswa lebih pro aktif dalam memelajari materi, mereview literatur yang semua bahasa Inggris, dengan contoh kasus yang memang kebetulan kita ambil dalam konteks negara barat.

Semogalah demikian…

Ayo belajar komunikasi visual!

Bangun pagi… Let’s Go….

 

TNA

 

 

STUDI FILM dalam PERSPEKTIF PSYCHOANALYSIS

•26 November 2017 • Tinggalkan sebuah Komentar

Abstrak

Paper ini membahas mengenai studi film dalam perspektif psychoanalysis. Uraian dibagi menjadi dua bagian. Pertama: mengenai fantasy dan psychoanalysis. Bagian ini mengeksplorasi mengenai aspek-aspek  psikologis yang terlibat ketika seseorang berinteraksi dengan film. Kedua : membahas aplikasi teori psychoanalysis dalam studi film sebagai teks.

————–

Keyword: fantasy, psychoanalysis, studi film.

Fantasy dan Psychoanalysis

 Konsep “fantasy” dalam paper ini dipakai untuk menggambarkan dan menganalisis fiksi utamanya terkait dengan aspek “dreams”, “imaginations” dan “subconscious” dari sebuah dunia penceritaan yang secara signifikan berbeda dengan pengalaman keseharian. Secara umum film memang senantiasa dikaitkan dengan “dream”. Itulah sebabnya Hollywood acapkali disebut sebagai pabrik mimpi karena memang mereka mampu mewujudkan mimpi yang terpendam, yang tidak nyata menjadi sesuatu yang “nyata“ dalam sebuah film

Pendekatan psychoanalysis terhadap film (dan televisi) mencoba mengkesplorasi apa yang sebenarnya mendorong orang menonton citraan dalam layar tersebut. Freud (dalam Mulvey,1989)berpendapat salah satu  hasrat atau dorongan  pokok yang ada dalam diri manusia adalah dorongan untuk melihat. Dorongan itu disebut “scopophilia’ (dari kata bahasa Yunani yang menggambarkan kegemaran untuk mengamati/melihat). Hasrat itulah yang mendorong orang begitu mengejar kenikmatan  dan kepuasan dalam aktivitas “melihat”. Salah satu aspek dari “scopophilia” adalah “voyeurism”, yaitu hasrat untuk melihat sesuatu hal secara tersembunyi (diam-diam) atau mengintip secara rahasia apa yang dilakukan seseorang. Rupanya inilah salah satu  yang dipuaskan oleh film (atau tayangan televisi).  Penonton jatuh dalam fantasy bahwa aktris  yang tengah dia lihat adalah orang yang benar-benar nyata yang sedang berakting di depan kamera (namun dengan anggapan si aktris itu tidak sadar bahwa dia sedang dishooting). Penonton seakan menyaksikan tindakan aktris itu dari kejauhan dan dalam konteks bioskop tentu suasananya gelap penuh misteri.  Si penonton memilih untuk percaya bahwa saat itu dia diijinkan untuk boleh melihat hal-hal yang paling pribadi yang dilakukan oleh si aktris, jauh dari kemungkinan yang bisa dilihat dalam situasi keseharian terhadap aktris di layar tersebut. Hal yang demikian itu cocok sekali dengan karakter “melihat” dalam sifat voyeurism yang  ditandai dengan adanya “jarak” (si pengamat dalam keadaan tertentu memang berjarak dengan objek yang diamatinya) dan “ bersifat rahasia” ( si obyek yang diamati tidak mengetahui kalau sedang diamati dan tidak fokus ke pengamat). Kombinasi antara distance (jarak) dengan rahasia itulah yang mengarah pada sensasi bisa mengontrol dan mengobyektivikasi.

 Selain voyeurism ada lagi aspek scopophilia yakni fetishistic.  Fetishistic scophilia di sini lebih berarti keadaan terikat pada kenikmatan mengamati daripada mengontrol dan mengobyektivikasi  sebagaimana dalam voyeurism di atas. Ketika sedang menonton film, seringkali yang menjadi obyek  fetishistic  (umumnya adalah bagian tertentu dari tubuh atau pakaian) mendapat sorotan kamera secara close up dan mengeksploitasi kecantikan si obyek yang diamati. Freud mengingatkan bahwa obyek fetishistic adalah pengganti dari sesuatu yang menjadi dambaan seseorang, namun dalam kenyataannya tidak memungkinkan untuk bisa diraih atau dimilikinya. Misalnya obyek fetis berupa kain sutera dan pakaian dari bahan bulu binatang dianggap sebagai sesuatu yang mewakili sensasi meraba kulit atau rambut seseorang. Dalam film There’s Something About Mary digambarkan obyek fetish berupa sepatu yang tengah dikenakan oleh Cameron Diaz.  Fetish sepatu seringkali dipakai sebagai analogi antara adegan memasukkan kaki dalam sepatu dengan tindakan “sexual intercourse”.

Penggambaran di atas menambah dimensi makna penggunaan istilah “fantasy” dalam analisis teks media. Fantasy pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak nyata, produk dari apa yang kita impikan atau imajinasikan. Satu hal yang paling mengasyikkan dari sebuah cerita film dan televisi adalah karena media ini memberi kesempatan kepada pembuat film dan penontonnya untuk hidup di alam yang paling liar dengan fantasy yang paling ekstrem sekalipun.  Hal yang demikian inilah yang menimbulkan kontroversi utamanya terkait dengan representasi seksual dan kekerasan dalam film. Sebagian ahli berpendapat representasi kekerasan bisa mendorong orang untuk meniru dan melakukan sebagaimana digambarkan dalam film. Ahli lain membantah karena, pertama, penonton mampu membedakan apakah yang ditontonnya itu nyata atau tidak. Kedua, cerita tersebut justru bisa menjadi saluran atas ekspresi kecenderungan dalam diri kita dengan cara yang aman. Argumen pada poin kedua itu konkritnya begini, melihat kekerasan dalam film justru memberi kesempatan pada kita untuk mengeksplorasi sekaligus memahami kecenderungan, misal kekerasan, yang mungkin ada dalam diri kita. Tidak banyak dari kebanyakan orang itu pembunuh, namun kebanyakan dari kita, dalam satu kesempatan dalam hidup kita memimpikan “pembunuhan” atau setidaknya menyerang seseorang. Memahami dan melihat sisi gelap dan yang kita tekan untuk tidak muncul  dalam diri kita itu seakan mendapat salurannya melalui tontonan yang senada dengan itu. Menghindari kesempatan yang ada dalam diri kita untuk mengeksplorasi sisi gelap dalam diri kita hanya akan menekan kecenderungan itu lebih dalam; dan itu malah tidak sehat. Cerita film dalam batas tertentu memberi kesempatan kita untuk ber-action — dalam imajinasi — segala sesuatu kemungkinan tindakan yang akan kita lakukan, untuk mengujinya, atau untuk mengetahui apa akibatnya jika dilakukan ini dan itu.

Menjelaskan mengenai bagaimana fantasy kita dimainkan dalam layar, Perkins (dalam O’Shauhnessy dan Stadler, 2002:168) menganalogikan penonton itu seperti pengamat berperan serta (participant observer). Perkins mencatat, bahasa film, cara pengungkapan kisahnya, memungkinkan penonton itu merasa seolah terlibat dalam cerita yang ditampilkan dalam layar. Penonton seakan menjadi bagian  dalam aksi laga yang ekstrem dengan emosi yang mendalam — pembunuhan, dibunuh, bercinta, kebut-kebutan mobil dan seterusnya. Meski demikian, di sisi lain kita (baca penonton) masih menyadari bahwa sedang menonton film; sebagian dari kita masih “sadar” sekaligus masih bisa mengamati baik apa yang sedang ditonton maupun yang terjadi dalam diri kita sejauh pengalaman kita dalam situasi tersebut. Dengan kata lain, kita secara bersamaan adalah pengamat sekaligus pelibat (partisipan). Sinema lalu menjadi tempat bermain di mana kita bisa merasakan segala macam emosi, dan pada saat yang sama kita merefleksikannya dengan cara kritis dan rasional bagaimana sesungguhnya emosi tersebut, dan bagaimana konsekuensinya terhadap diri kita maupun terhadap orang di sekeliling kita. Tempat latihan ini sekaligus menjadi arena dalam mencari kesenangan dan pembelajaran.

Sutradara film surealis, David Lynch dan David Cronenberg, mengatakan film surealis yang di luar kenyataan sehari-hari memungkinkan kita menguji perasaan dan pengalaman manusia ke titik yang paling paling dalam. Bagi pecintanya, aspek penceritaan surealis adalah bagian yang paling mengasyikkan dari narasi film dan televisi.  Akhirnya, bisa dikatakan bahwa film mampu memainkan peran dalam mempertontonkan kemungkinan-kemungkinan yang paling tidak realistis sekalipun.

Kritisisme psikoanalitik

FREUD

Sigmund Freud

Mengutip Freud dengan gagasan scopophilia di atas seakan menegaskan bahwa psycoanalysis dapat diterapkan di dalam analisis teks baik sastra, film maupun televisi.  Dalam studi film penerapan teori psychoanalysis dalam teks sering disebut kritisisme psikoanalitik.

Kritisisme psikoanalitik adalah bentuk aplikasi psikoanalitis yaitu ilmu pengetahuan yang menaruh perhatian pada interaksi dari proses-proses kesadaran dan ketidaksadaran dan dengan hukum-hukum pemfungsian mental.

Sebelum Sigmund Freud sudah ada para filsuf seperti Plato, Nietzsche, Bergson dll. yang membicarakan tentang kesadaran. Gagasan awal itu kemudian dikembangkan sepenuhnya oleh Freud.

Siapakah Freud?  Selain sebagai pionir dalam aliran psychoanalysis, Freud dikenal sebagai orang yang tertarik untuk membantu orang, tetapi di bidang karirnya yang luar biasa dia juga menulis dongeng/cerita rakyat, humor, dan teater. Salah satu kutipan dari Freud tentang alam bawah sadar kita simak di sini: “Apa yang ada dalam benak anda tidak identik dengan apa yang anda sadari, apa yang terjadi di dalam pikiran anda dan apa yang anda dengar darinya adalah dua hal yang berbeda”

Ini berarti kita tidak sepenuhnya mengendalikan diri kita setiap waktu, kita dipengaruhi oleh cara yang sulit untuk kita mengerti dan kita melakukan sesuatu untuk alasan yang tidak kita mengerti atau kita tidak mengakui diri kita sendiri.

Marilah kita pahami konsep di atas dengan perumpamaan gunung es. Kehidupan mental seseorang dapat dilihat sebagai gunung es. Puncak gunung es yang terlihat di air adalah bagian kesadaran seseorang. Sisa dari gunung es adalah bagian yang terbesar dan tidak terlihat—itulah kira-kira ketidaksadaran. Pendeknya, kita tidak sepenuhnya makhluk yang rasional yang bertindak pada basis logika dan kecerdasan,namun sebaliknya justru emosional dan hal lain yang tidak rasional atau irasional.

Sejalan dengan gambaran di atas, Ernest Dichter dalam bukunya The Strategic of Desire 1960  (dalam Berger 2000) mengatakan “…. banyak keputusan keseharian kita diperintah oleh motivasi yang tidak kita kendalikan dan yang sering kita tidak sadari”

Bagaimana gambaran ketidaksadaran itu bisa kita tangkap dalam sebuah ilustrasi atau visualisasi film? Coba anda ingat, pernahkan melihat satu adegan film (biasanya film koboi atau gangster) tentang aktornya yang memain-mainkan korek api?  Mungkin kebanyakan kita hanya melihat scene itu sebagai sekedar permainan korek api untuk merokok, padahal kalau kita telusuri kegemaran akan korek api itu terkait dengan “keinginan untuk menguasai dan kekuatan. Kapasitas untuk memanggil api, tidak terelakkan memberikan tiap manusia, anak-anak atau orang dewasa, rasa kekuatan. Api dan kemampuan untuk memerintahkannya merupakan suatu berharga karena mereka diasosiasikan tidak hanya masalah kehangatan, tetapi juga dengan kehidupan itu sendiri.

Jadi korek rokok menjadi penting bagi orang karena korek penuh dengan kekuatan, tetapi (merupakan) keinginan dan hasrat yang tidak disadari.

 

ID, EGO dan SUPEREGO

Konsepsi Freud tentang alam bawah sadar dan kemudian menjadi sangat terkenal adalah struktur kepribadian  yang terdiri dari Id, ego dan super ego. Ketiganya itu adalah bagian dari apa yang seringkali dihubungkan dengan hipotesis struktural Freud tentang pemfungsian mental.

Id perupakan representasi kejiwaan dari suatu dorongan. Sedangkan Ego terdiri fungsi-fungsi yang berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungannya. Sementara Superego terdiri dari aturan moral pikiran kita sebagaimana suatu aspirasi atau masukan ideal kita. Id dan superego berperang satu dengan yang lain, sementara ego mencoba untuk menengahi di antara dua hal tersebut — antara keinginan untuk kesenangan dan ketakutan untuk hukuman, antara dorongan dan kesadaran

Freud dalam New Introductory Lectures on Psychoanalysis mengemukakan Id…sebagai kekacauan, semacam kancah untuk melakukan kesenangan. Insting tersebut penuh dengan energi, tetapi tidak memiliki organisasi dan tidak akan menyatu, hanya keinginan hati untuk mendapatkan kepuasan bagi keinginan instingtual, berkaitan dengan prinsip kenikmatan….

Brenner (1974, dalam Berger, 2000) mencatat superego berhubungan dengan  fungsi moral dari kepribadian. Super ego memainkan peran :

1.Persetujuan dan ketidaksetujuan dari tindakan dan harapan dengan dasar ralat

  1. Observasi diri yang kritis
  2. Penghukuman diri
  3. Permintaan untuk perbaikan atau penyesalan untuk hal yang salah
  4. Memuji diri sebagai penghargaan atas budi luruh atau pemikiran dan tindakan yang diinginkan

 

Apa kaitannya konsep di atas dalam analisis teks media? Kita dapat menggunakan konsep-konsep dari id, ego dan superego untuk membantu kita memahami teks. Di dalam suatu teks, karakter-karakter yang ada mungkin dapat dilihat dari figur id yang penting, atau figur ego ataupun figur superego.

 

SIMBOL-SIMBOL

Psikoanalisis adalah seni interpretasi. Psikoanalisis berupaya mencari makna perilaku orang dan seni yang mereka ciptakan (film).

Satu cara yg dapat kita lakukan untuk menerapkan teori psikologi adalah dengan memahami bagaimana kerja kejiwaan dan memelajari bagaimana menginterpretasikan hal penting yang tersembunyi dari apa yang dilakukan orang dan peran fiksi (film).

Misal : Kita bisa mengajukan pertanyaan apa makna yang dikatakan Hamlet tentang ini dan itu? Atau … Apa artinya ketika Hamlet tidak mampu bereaksi? Kita ingin tahu mengapa.

Dari hal itulah muncul simbol-simbol. Simbol adalah sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan di antaranya tersembunyi dan setidaknya tidak jelas. Simbol berhubungan dengan ketidaksadaran. Simbol adalah kunci yang memungkinkan kita untuk membuka pintu yang menutupi perasaan-perasaan ketidaksadaran dan kepercayaan kita melalui penelitian yang mendalam.

 

Kesulitan menginterpretasi symbol.

Simbol seringkali ambivalen dan dapat dijelaskan dengan cara yang bervariasi bergantung pada orientasi seseorang. Klasifikasi simbol :

1.Konvensional (kata-kata yang kita pelajari untuk menyebut/menggantikan sesuatu )

2.Aksidental ( sifatnya individual,tertutup dan berhubungan dengan sejarah hidup seseorang)

3.Universal ( berakar dari pengalaman semua orang )

Analisis simbolis ini bisa diterapkan dalam mimpi-mimpi yang menjadi gambaran visual seperti dalam film, televisi bahkan komik. Pertanyaan yang diajukan : apa yang sedang terjadi? Apa yang dikatakan di sana? Kepuasan apa yang kita peroleh? Apa yang dikatakan/diceritakan kepada kita oleh bermacam simbol kepahlawanan tentang diri kita sendiri dan masyarakat kita?

 

MEKANISME PERTAHANAN DIRI

Konsepsi Freud tentang teori psychoanalysis lainnya adalah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri variasi teknik yg dipergunakan ego untuk mengendalikan insting dan mencegah keinginan.  Konsep ini kalau disimak juga seringkali digunakan sebagai tematik atau grand narasi sebuah cerita film. Kita bisa menganalisis mengenai tema-tema itu dengan mempelajari kategori mekanisme pertahanan diri di bawah ini:

  • Ambivalensi

Perasaan simultan tentang cinta dan kebencian atau atraksi dan penarikan/pemunduran kepada orang atau obyek yang sama. Kadangkala perasaan tersebut berubah dengan cepat kepada orang yang mengharap dapat memuaskan harapan yang kontrakdiktif.

  • Penghindaran

Menolak untuk terlibat dengan subyek yang menyusahkan/menyedihkan karena mereka berhubungan dengan ketidaksadaran seksual atau dorongan seksual.

  • Penyangkalan atau penolakan

Menolak untuk menerima realitas dari sesuatu yang membangkitkan kegelisahan dengan memblokirnya dari kesadaran atau menjadi terlibat dengan fantasi penuh.

  • Fiksasi/perasaan mendalam

Keasyikan yang obsesif atau memisahkan dari sesuatu, umumnya sebagai hasil dari beberapa pengalaman traumatik.

  • Identifikasi

Keinginan untuk menjadi “seperti” orang lain atau sesuatu di dalam beberapa aspek dari pemikiran atau perilaku.

  • Proyeksi

Upaya untuk menyangkal perasaan diri sendiri yang negatif atau bermusuhan dengan menghubungkan ke orang lain. Jadi seseorang yang membenci seseorang akan memproyeksikan kebencian tersebut kepada orang lain, dan menerima bahwa seseorang tersebut adalah seseorang yang dibenci.

  • Rasionalisasi

Penawaran alasan logis atau alasan perilaku yang dibangkitkan oleh ketidaksadaran dan faktor-faktor penting  yang irasional

  • Formasi reaksi

Hal ini terjadi ketika bagian dari sikap-sikap ambivalen menimbulkan persoalan, sehingga satu elemen ditekan dan dibuat tidak sadar dgn menekankan pada hal lain (kebalikannya), meskipun hal tersebut tidak hilang.

  • Regresi /kemunduran

Kembali ke tahap awal di dalam perkembangan kehidupan ketika berkonfrontasi dengan  ketegangan/stress atau kegelisahan – pada situasi yang memprovokasi.

  • Represi

Menunjukkan kesadaran tentang ketidaksadaran harapan instingtif, memori, keinginan dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan mekanisme pertahanan yang paling mendasar

  • Supresi

Bertujuan untuk meletakkan di luar pikiran dan suatu kesadaran yang dirasakan individu sebagai menyakitkan.

 

References :

Berger, Arthur Asa. 2000, Media Analysis Techniques, 2nd edition. Terjemahan Setio Budi HH. Yogyakarta : Penerbit Universita Atma Jaya.

O’Shaughnessy, Michael  dan Jane Stadler. 2002. Media and Society an Introduction  Second  edition. New York: Oxford University Press.

Mulvey, L. 1985. “Visual Plesure and Narrative Cinema”. B.Nicholas (ed). Movies and Methods Vol  2.California : University of Califprnia Press.

 

 

Dampak Media Sosial dan Pentingnya Re-konseptualisasi Komunikasi Massa

•3 Juni 2014 • 1 Komentar
Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dalam sebuah ajang konferensi tingkat tinggi di U.S. Institute of Peace, September 2011, para ahli media sosial beserta penentu kebijakannya mengidentifikasi beberapa isue terkait peranan media sosial di dalam konteks politik  meliputi : tantangan untuk memahami lebih jauh media sosial karena tersedia data yang berlimpah melalui media ini; kesulitan di dalam menginterpretasi secara efektif informasi yang dikomunikasikan melalui platform media sosial; kenyataan bahwa media sosial sedang  membentuk kembali bahasa manusia; upaya menyeimbangkan antara kejujuran media sosial sebagai sarana opini publik dengan anonimitas dan resiko adanya informasi menyesatkan yang dikomunikasikannya;  potensi pengaruh coorporate yang dominan di dalam platform media sosial; dan penerapan media sosial baik di dalam situasi konflik maupun damai ( Scheillinger, 2011).  Meskipun analisis mengenai pengaruh media sosial di dalam politik telah mulai berkembang mulai 2008 yakni sejak terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ( Mettzgar, 2009) dan ditandai pula dengan pentingnya Arab Spring tahun 2010 di mana tindakan kolektif tidak saja dimungkinkan karena adanya media sosial, selain itu dunia bisa menyaksikan masyarakat yang nyaris senantiasa tertindas oleh rejim itu menuntut supaya suara mereka terdengar;  kita belum juga mampu menempatkan dampak media sosial secara tepat di dalam riset dan analisis komunikasi massa dan jurnalistik.  Selama dekade terakhi, telah tumbuh komunitas peneliti dan analis “new communication technology”; meski demikian, kita tidak lagi bisa memperlakukan analisis terhadap teknologi komunikasi baru – apapun bentuknya— sebagai bagian terpisah di dalam riset.  Sebaliknya, peneliti, para ilmuwan dan praktisi seharusnya mengadopsi sebuah pendekatan “yang lebih melihat keterlibatan masyarakat dalam media”  untuk memahami komunikasi massa dan jurnalisme. Mirip dengan ketika lahir industri percetakan yang secara revolusioner mengubah budaya literer dan bagaimana kemudian masyarakat memeroleh pengalaman dunianya di masa lalu; kita kembali berada di dalam persimpangan antara teknologi dengan perubahan di dalam pengalaman komunikasi manusia.

Pentingnya pendekatan terpadu – yaitu, yang merengkuh baik media tradisional maupun media baru — ke dalam komunikasi massa dan jurnalisme tampaknya sudah mulai dirasakan ditengah perkembangan berbagai sub domain disiplin kita. Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa di belahan dunia tertentu lambat laun orang makin terpisahkan dari struktur sosio-kultural tradisional seperti lembaga gereja, komunitas lokal, dan organisasi massa lainnya; meski demikian, mereka masih mengikuti isue-isue yang diyakini memengaruhi diri mereka. Mengenai hal ini, Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa media sosial tidak saja menyediakan platform yang mengatur orang terkait dengan isu yang menjadi pusat perhatian, melainkan juga mendorong personalisasi akitivitas yang dipicu oleh meningkatnya keterlibatan yang semakin tingggi di dalam media sosial, terfokus pada suatu agenda tertentu, dan terimbas kekuatan jaringan. Semakin hari semakin banyak bukti yang mengindikasikan perubahan sosial tidak hanya berakar dari politik ( Wilson,2011) dan budaya kaum muda ( Besley, 2011) melainkan disebabkan oleh meningkatnya manfaat (media sosial)  sebagai alat di dalam menciptakan komunitas peminat di sekitar isu seperti misal : kesehatan (Geoghegan, 2011), iklan dan pemasaran (Yang,Liu dan Zhou, 2012), dan tentu saja jurnalistik ( Stassen, 2010).  Semakin banyak bukti mengenai indikasi bahwa jika kita tidak  memerhatikan pengaruh media sosial terhadap komunikasi massa, maka kelihatannya kita akan kehilangan jejak pada potongan penting dari teka-teki ini.

Meski demikian, tidak cukup tampaknya jika hanya memperhitungkan media sosial atau the platform de jour, kita mungkin perlu memfokuskan pada paradigma kita terhadap komunikasi massa dengan lebih menekankan pada aspek keterlibatan diri (individu di dalam media).  Kenyataanya, penelitian  dan kritik kita akan lebih mendapat manfaat dengan memfokuskan utamanya pada model relasi di dalam masyarakat dari dua jalur simetrik komunikasi yang dicirikan dengan kolaborasi, kompromisitis, dan pendengaran ( Feighery, 2011). Ini berarti karena kita mempertimbangkan dampak media sosial, maka kita perlu melakukan analisis dan mengukur dengan cara bagaimana individu dan organisasi secara efektif menggunakan media sosial sebagai sarana melibatkan diri ketimbang dengan pendekatan yang mengukur dan menganalisis komunikasi massa sebagai sarana penyebaran informasi tradisional.  Dengan demikian, pengukuran terhadap dampak dan pengaruh mirip dengan memandang pesan sebagai sesuatu yang menyebarkan virus ( Metzgar, 2009), atau dengan tepat menyesuaikan pesan di antara pemahaman tradisional dan media baru (Dennis, Fuller,dan Valachich, 2008) karena dengan cara ini agaknya lebih akurat mencerminkan bagaimana cara orang dalam keseharian menggunakan kampanye massa dan artikel (Yang,Liu dan Zhou, 2012). Dengan sederhana kita katakan, jika kosa kata dan cara kita memandang dunia dan tempat kita berpijak itu berubah, maka pendekatan kita di dalam penelitian dan kritik komunikasi massa serta jurnalisme juga harus berubah.

Hal demikian bisa jadi akan menyebabkan implikasi yang luar biasa terhadap teori tradisional dan bahkan metode riset yang akan kita gunakan, atau bisa juga dampaknya tidak sebesar perkiraan kita; meski demikian ada petunjuk  kuat yang harus kita perhatikan bahwa kita harus melakukan kajian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan adanya asumsi bahwa perilaku, kekuasaan dan tindakan kita benar-benar disebabkan oleh perubahan abad teknologi. Mulai dari politik sampai relasi dalam masyarakat dan dari kejadian sehari-hari hingga keadaan krisis komunikasi, sesungguhnya mengindikasikan kita untuk melakukan rekonseptualisasi komunikasi sehingga menuju pada sebuah engagement paradigm.

Diadaptasikan dari :

Diers, Audra R. 2012. “Reconceptualizing Massa Communication as Engagement : The Influnce of Social Media” . J Mass Communication Journalism.  Vol 2.

MENGENAL CRITICAL THEORIES : The Frankfurt School & Jurgen Habermas

•6 Mei 2014 • 1 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Tradisi Marxist yang paling lama dan terkenal adalah Frankfurt School. The Frankfurt School merupakan tradisi terpenting di dalam critical studies dan kemudian tradisi ini seringkali disebut   critical theory.  Teori ini pada mulanya mendasarkan gagasan pokoknya pada pemikiran Marxist, meskipun dalam perjalanan lima puluh tahun terakhir telah mengalami pergeseran cukup berarti dari asal usul teorinya.  Komunikasi memiliki peran sentral dalam gerakan tersebut, dan  komunikasi massa menjadi area studi yang sangat penting ( Baca Kellner, 1995:162-177; Huspek, dalam Littlejohn 2001 :212).

Teori kritis dikembangkan oleh para pemikir seperti Mark Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan para koleganya yang berkarya di bawah payung Frankfurt Institute for Social Research tahun 1923 ( Farrel & Aune,1979: 93-120). Kelompok pakar ini semula berpedoman pada prinsip-prinsip Marxist, meskipun tidak satupun dari mereka ini yang memiliki afiliasi dengan partai politik apa pun, dan karyanya lebih bersifat keilmiahan ketimbang sebuah gerakan. Dengan kelahiran the National Socialist Party di Jerman pertengahan 1930-an, para ilmuwan Frankfurt ini pun hijrah ke Amerika Serikat dan di sana semakin tertarik dengan komunikasi massa dan media sebagai  biang opresif di dalam masyarakat kapitalis.

Para ilmuwan Frankfurt pada awalnya bereaksi keras  terhadap idealisme klasikal ala Marxism dan kesuksesan revolusi Rusia. Mereka melihat kapitalisme sebagai tahap evolutionary  dalam perkembangan, pertama dari sosialisme dan kemudian komunisme. Ide mereka pada masa itu merupakan wujud kritik kerasnya terhadap kapitalisme dan demokrasi  liberal.

Jurgen Habermas

Jurgen Habermas

Semenjak  tahun-tahun permulaan, dalam Frankfurt School tidak ada kesepakatan mengenai teori yang menyatukan karakteristik pemikiran mereka.  Ilmuwan Frankfurt School kontemporer yang paling terkenal adalah Jurgen Habermas, yang teorinya mengenai universal pragmatics  dan transformasi sosial masyarakat telah diakui  sangat berpengaruh di daratan Eropa dan gaungnya masih berkembang terus di Amerika Serikat.  Habermas  merupakan juru bicara terpenting dari Frankfurt School saat ini. Teorinya menggambarkan luasnya pemikiran dan mewakili paduan  pandangan kritis tentang komunikasi dan masyarakat. Tulisan selanjutnya akan mengurai kontribusi penting pemikiran Habermas ini.

Habermas mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami sebagai perpaduan tiga kepentinganutama : kerja, interaksi dan kekuasaan.  Ketiga kepentingan itu sama-sama penting. Kerja, sebagai kepentingan pertama, meliputi kemampuan menghasilkan sumberdaya material. Karena sifatnya yang highly instrumental nature — yang hasilnya adalah objek-objek konkrit, maka kerja pada dasarnya adalah “technical interest”, kepentingan teknis.  Di dalamnya berlaku rasionalisasi instrumental dan diwakili oleh ilmuwan empiris-analitis.  Dengan kata lain, teknologi digunakan  sebagai alat guna mencapai tujuan praktis dan itu diasarkan pada riset ilmiah.  Misalnya desainer  komputer , pembangun jembatan, para ahli yang menempatkan satelite di dalam orbitnya, pelaku organisasi/ kementerian, dan para ahli dengan kemampuan penanganan medis.

Kepentingan utama kedua adalah interaksi, atau penggunaan bahasa dan sistim simbol komunikasi lainnya.  Karena kerjasama sosial merupakan suatu keharusan untuk bisa bertahan hidup, Habermas menyebut item yang kedua ini sebagai “practical interest” atau kepentingan praksis. Ini mencakup rasionalisasi praksis dan diwakili oleh ilmu pengetahuan historis dan hermeneutik.  Kepentingan interaksi dapat dilihat dalam berbagai pidato, konferensi, psychoteraphy, hubungan antarkeluarga, dan segala bentuk usaha kerjasama.

Kepentingan utama yang ketiga adalah power, atau kekuasaan.  Tatanan sosial biasanya mengarahkan pada pembagian kekuasaan, namun kita juga berkepentingan untuk terbebas dari dominasi. Kekuasaan cenderung mendistorsi komunikasi, namun dengan kesadaran akan ideologi yang mendominasi di dalam masyarakat, kelompok-kelompok bisa memberdayakan mereka sendiri menuju transformasi sosial.  Akibatnya, kekuasaan menjadi “kepentingan emansipatory”.  Rasionalisasi  yang terjadi dalam kepentingankekuasaan ini berupa ‘self-reflection’ dan jenis ilmu pengetahuan  yang berkaitan dengan hal ini adalah  critical theory. Menurut Habermas, jenis pekerjaan yang dilakukan oleh teoritisi kritis yang selanjutnya akan didiskusikan dalam bahasan nanti termasuk emancipatory  karena ia bisa memberdayakan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki kekuasaan.

Sebagai ilustrasi jenis-jenis kepentingandalam pekerjaan bisa kita lihat dari kajian yang dilakukan oleh Steven Early, yang melakukan survai klasifikasi pekerjaan di Negara Bagian Georgia di tahun 1970-an (Early, 1981) Pada saat itu, di Georgia terikat tanggung jawab untuk mengklasifikasikan 45.000 posisi pekerjaan. Menurut Early, hasilnya menunjukkan adanya communiction breakdown yang memprihatinkan.  Pemerintah mempekerjakan perusahaan konsultan untuk mengadakan survai yang sangat penting itu dan perencanaan telah  dibuat untuk memeroleh informasi tentang masing-masing posisi pekerjaan, mengembangkan spesifikasi pekerjaan dan mengklasifikasi posisi dan kemudian menentukan berapa besar gaji untuk tiap posisi pekerjaan.

Panduan teknis pekerjaan yang rigit telah dibuat untuk menjalankan survai tersebut.  Ada rangkaian tugas yang harus dilakukan oleh konsultan dengan menggunakan metode tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Mereka menerapkan seakan-akan tugas tersebut bisa diatasi dengan menggunakan prosedur scientific yang “objective” — pengumpulan data, klasifikasi pekerjaan dan sejenisnya.

Para karyawan dan departemen yang disurvai memandang metode yang dipakai dalam survai seharusnya tidaklah demikian.  Para konsultan ini  melihat studi  tersebut sebagai persoalan praktis, sesuatu yang memengaruhi kerja keseharian  dan gaji mereka. Sementara menurut kalangan departemen, di dalam pengumpulan data dan implementasi hasilnya harus  telah melibatkan interaksi dan sehingga menciptakan kesepakatan konsensus yang optimal; kenyataannya tidak demikian.

Karena mereka memiliki kekuasaan,kepentingan  teknis organisasi pengambil keputusan lebih diutamakan;  metode  konsultan dipaksakan diterapkan dan segala kepentingan praktis dieliminasi.  Dengan kata lain, para pekerja diharapkan mengikuti jalannya survai tanpa ada diskusi tentang apa sesungguhnya kebutuhan mereka dan persoalan praktis yang timbul seperti gangguan operasional, permasalahan management,  pertanyaan moral yang mungkin timbul karena adanya klasifikasi ulang pekerjaan tersebut.

Pendeknya, para partisipan tidak sama kedudukan di dalam kekuasaan dan pengetahuan, dan kepentingan para pekerja telah dikalahkan oleh pihak management. Kajian ini menggambarkan kurangnya semacam komunikasi terbuka seperti yang disinggung oleh Habermas bahwa  itu menjadi keharusan di dalam masyarakat yang bebas.  Alhasil, sistem klasifikasi yang baru itu tidak diterima oleh kalangan pekerja dan hanya bisa dilaksanakan sebagian setelah melalui penundaan berulang kali, melakukan kajian ulang, tuntutan hukum dan permohonan naik banding.

Kasus di atas menggambarkan, kehidupan manusia tidak bisa dijalankan hanya dengan menggunakan satu perspektif dari satu jenis kepentingan —kerja, interaksi atau kekuasaan.  Segala aktivitas tampaknya merupakan rentang dari ketiga kategori tersebut. Dengan demikian ketiganya sama-sama penting.

Contohnya, pengembangan obatan-obatan baru jelas merefleksikan kepentingan teknis, namun itu  tidak bisa dilakukan tanpa kerjasama dan komunikasi, dengan melibatkan  interkasi kepentingan juga. Di dalam ekonomi pasar, obat-obatan dikembangkan melalui kerjasama guna mencapai kemanfaatan yang kompetitif  yang  jelas merupakan kepentingan kekuasaan juga.

Tidak ada aspek kehidupan yang terlepas dari kepentingan, bahkan di dalam ilmu pengetahuan sekalipun. Masyarakat yang emansipatory terbebas dari dominasi yang tidak perlu dari kepentingan apapun dan setiap orang memiliki kesamaan kesempatan berpartisipasi di dalam pengambilan keputusan. 

Habermas  (1975) secara khusus menaruh perhatian pada dominasi kepentingan teknis di dalam masyarakat kapitalis kontemporer . Di dalam masyarakat semacam itu, wilayah public dan private saling beririsan sehingga mencapai satu titik di mana sektor publik tidak bisa bertahan  melawan penindasan private, yakni kepentingan teknis.  Idealnya, public dan private harus seimbang, dan sektor publik cukup kuat sehingga menciptakan iklim yang memberi kebebasan orang untuk mengekspresikan ide dan perdebatan. Di dalam masyarakat modern, meski demikian, iklim tersebut masih perlu diperjuangkan ( Bersambung ).

Referensi :

Early, Steven D. 1981. Communication, Speech and Publics : Habermas and Political Analysis. Washinto DC: University Press of America.

Farrell,  Thomas B & James A.Aune. 1979. “ Critical Theory and Communication: A Selective Literature Review “ Dalam Quarterly Journal of Speech hal 93-120.

Habermas, Jurgen. 1975. Legitimation Crisis. terj. Thomas McCarty. Boston : Beacon.

Kellner, Dauglas. 1995. “Media Communications vs Cultural Studies: Overcoming the Divide” Dalam Communication Theory 5  Hal 162-177.

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

 

Sumber foto : Sipa Press / Rex Features

Serial Populer : Research for Beginner (2)

•30 April 2014 • 3 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Episode :  DARI DUGAAN MENUJU HIPOTESIS

Kira –kira tiga minggu lalu saya sudah memulai menulis dalam serial populer ini tentang hal ikhwal mengawali studi akhir alias menulis skripsi alias memenangkan keraguan melawan momok tugas akhir itu. Saya memulai bahasan tentang menentukan topik dan bagaimana mengawalinya dengan riset awal atau mengkaji penelitian terdahulu untuk itu. Bagian kedua ini saya akan menulis mengenai langkah awal memulai kajian teks media.

Subjek Kajian

Mungkin dari sekian banyak media yang bergentayangan di kehidupan kita, ada beberapa yang sering menggoda perhatian kita sehingga jadi pilihan riset.  Misalnya: film, program atau acara televisi dan musik. Meski tidak menutup kemungkinan media atau subjek lainnya juga tak kalah menarik, tapi setidaknya yang saya sebut itulah yang sering nongol di antara tumpukan proposal yang masuk di komisi skripsi dan siap untuk diadili apakah layak dilanjutkan “kasus”nya atau langsung masuk kotak.

Nah, antusiasme terhadap subjek kajian yang sudah tumbuh kadang  dibunuh oleh rasa ketidakpastian atau malah ketidaktahuan yang parah mengenai pilihan metode yang bisa dipakai. Namun, sebelum bicara mengenai pilihan metode alangkah baiknya anda rumuskan terlebih dahulu sebenarnya pertanyaan besar apakah yang akan anda jawab atau anda gali lebih mendalam  terkait dengan subjek kajian tersebut! Ok, silakan berpikir dulu bro, apa itu pertanyaan pokok yang mo dijadikan ‘sumber persoalan hidupmu selama pengerjaan skripsi’ ini.  Sementara anda berpikir, anda boleh menutup layar monitor ini…. saya akan melanjutkan menulis tentang konsep teks atau teks budaya itu terlebih dahulu.

Teks media

Apa yang saya contohkan di atas, yakni film, program televisi atau musik dalam dunia cultural studies lazim disebut sebagai media text  atau teks media. Studi terhadap teks menjadi bagian yang penting dalam wilayah kajian film, media dan cultural studies. Kalau di luar negeri sono nich, baik yang kelas undergraduated maupun yang graduated  sudah pasti memasukan analisis teks sebagai bagian penting dalam kurikulum yang ditawarkan. Kalau di mari, biasanya tidak disebutkan dengan eksplisit analisis teks, jadi masih malu-malu kucing gitu istilah itu muncul…paling pol disisipkan sebagai bagian pembahasan dalam matakuliah metode penelitian komunikasi, khususnya yang membahas ‘analisis media’.  Dalam tulisan episode ini, analisis teks menjadi pokok perhatian karena dari sana kita bisa mengetahui bagaimana sebuah teks itu bekerja.

Apa untungnya (atau tidak untungnya?) mengkaji teks

Pertama, teks itu sendiri sifatnya mudah ‘dibaca’. Mudah dikaji. Zaman digital dan teknologi telah memudahkan kita mencomot berbagai produk budaya itu dalam rupa misalnya, videotapes, CD-ROM, DVD dan seterusnya. Kalau misalnya, media itu program acara TV ya  tinggal di-capture begitu, asal modal storage-nya gede gampang urusannya.

Kedua, selain gampang dicari dan dianalisis barangnya, teks media itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Dalam bahasa keren-nya, teks media itu tidak lain adalah social phenonemon, suatu gejala sosial di mana di dalamnya seringkali didiskusikan para cendekiawan sebagai rekaman dari realitas sosial itu sendiri. So, mengkaji teks media lalu menguatkan argumentasi mengenai pentingnya relevansi kajian kita dengan realitas sosial yang tengah hangat terjadi di kehidupan ini.

Mengkaji teks akan menambah pemahaman kita mengenai cultural life— bagaimana makna teks itu, dan makna menjadi bagian penting dalam penggunaan media  (media use).  Tambahan lagi, ketika anda menganalisis suatu program acara televisi misalnya, anda bisa memperkirakan khalayak juga menikmati program acara tersebut, sehingga kita bisa mengetahui bagaimana frame of reference umum di kalangan penonton itu kayak apa.

Hampir sebagian besar bentuk teks media itu menyaratkan penelitinya untuk mengkajinya ( melihat, mengamati dan mencatat) secara berulang-ulang, sehingga mungkin ini yang membuat kajian terhadap teks media “tidak gampang” karena menuntut pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Juga perlu antisipasi untuk memiliki record-nya, kalau itu siaran TV, sehingga ya itu tadi kita bisa berulang-ulang mengamati dan mencatatnya.

Nah, sekarang saya mulai menyinggung soal metode yang akan saya perkenalkan dalam tulisan ini. Hampir semua metode analisis yang akan kita pelajari ini sifatnya subjektif, yang melandaskan pada kemampuan kita membangun argumentasi dalam menangani tiap-tiap kasus. Semiotik misalnya, sudah pasti sangat interpretatif di mana pembaca yang berbeda tidak mungkin akan memiliki kesamaan interpretasi. Sementara metode analisis yang mendasarkan diri kecakapan analisis (interpretatif) memang menyaratkan penelitinya memilki kemampuan menulis yang lebih dari rata-rata. Artinya, jika memang anda merasa ketrampilan dalam retorikanya kurang maka sebaiknya anda memilih metode yang lain dech…. ( misal, pilih yang kuantitatif gitu!).  Tapi tunggu dulu, segala sesuatunya bisa dipelajari koq… termasuk dalam hal analisis tekstual yang interpretatif ini. Hal pertama yang perlu diingat bahwa  analisis tekstual yang baik memang sedikit banyak bergantung pada kemampuan menyajikan argumentasi yang memikat. Di sini anda bisa memamerkan kecakapan analisis namun dari sini jugalah anda akan kelihatan jika kurang terampil sebagai seorang yang ‘a good writer

Dari dugaan menuju hipotesis

Dalam bahasa Inggris hunch  bisa diartikan firasat atau dugaan atau anggapan.  Sinonim dengan feeling, persumption.  Ternyata sesuatu kata yang artinya ‘tidak ilmiah’ karena toh hanya dugaan itu punya peran penting di dalam studi analisis teks media. Mengapa ? Begini sejarahnya…. salah satu persoalan mendasar di dalam mengawali analisis interpretatif dalam kajian teks media adalah kemampuan kita membuat argumentasi mengapa kajian tersebut penting dilakukan. Disinilah persoalannya, bagaimana kita bisa bisa  berargumentasi bahwa sesuatu teks itu layak untuk ditliti padahal  kita  belum menelitinya? Untuk mengawalinya maka penting melakukan tahapan awal dalam analisis teks yaitu membangun argumentasi analitis itu. Taruh kata misalnya, kita memang beranjak dari dugaan atau hunch tadi. Ini sama dengan cara berpikir awam yang hanya menduga ini dan itu. Tapi pada saat pertama kali dugaan itu muncul, maka jangan langsung membuat proposal hanya berdasar pada hunch.  Sebaliknya, ujilah dulu dugaan itu dengan riset awal. Kita bisa membuat draft catatan, kita cari referensi ilmiah terkait dengan dugaan tersebut. Kita diskusikan dengan teman-teman atau dosen (yang tahu seluk beluk mengenai kajian teks media tentu!). Read, think, and write down your ideas on paper to see how they work ! Begitu istilah kerennya bro… dari situ anda bisa menyaring seberapa banyak yang anda akan kerjakan itu hanya dugaan berdasarkan perasaan atau dugaan karena memang anda punya basic knowledge mengenai teks media tersebut.

Misalnya, setelah sekian banyak anda menonton film-film science fiction futuristik maka anda punya dugaan jangan-jangan salah satu film  science fiction futuristik itu merepresentasikan teks feministik? Nah itu salah satu dugaan di antara sekian dugaan lain yang muncul. Kita tahu bahwa dalam riset ilmiah kita harus menaikkan derajad  sesuatu yang hanya dugaan itu menjadi sebuah hipotesis. Di sini pengertian hipotesis adalah suatu pernyataan awal yang perlu diuji atau dibuktikan dalam penelitian. Tahap awap penelitian, seperti yang telah saya singgung di depan, adalah memilih dari sekian banyak hunches  kemudian kita ubah menjadi sebuah hipotesis yang bisa diuji. Dalam analisis teks tahap ini berati dilalui dengan mengajukan pertanyaan kritis terkait dengan ‘embrio proyek’ yang akan kita garap. Penting sekali anda menengok penelitian terdahulu, teori konsep dsb yang terkait dengan konsep pokok calon riset anda.

Jika memang hunch anda itu  menunjukkan tanda-tanda bisa diuji maka langsung kerjakan proyek tersebut. Bisa jadi, dugaan awal kita malah tidak terpakai, dan di sepanjang uji hunch awal kita justru menemukan dugaan lain yang lebih rasional. Untuk itu anda perlu terus menguji dan menguji dan menyempurnaan hunch yang sudah jadi hipotesis tadi. Anda tidak perlu merasa gagal jika memang dugaan awal itu justru terlempar di tempat sampah, karena revisi yang terus menerus merupakan tahapan penting untuk bisa mencapai tahap discovery!.

Ada orang yang beruntung dengan sekali menemukan hunch kemudian bisa langsung menggorengnya menjadi sebuah hipotesis yang siap uji atau test di dalam penelitian, tapi ada juga yang harus mencoba merumuskannya dua atau tiga kali.  Bagi orang yang kurang beruntung ini, dengan mengikuti hunch pertama kali, anda lalu berkesempatan membaca banyak hal mengenai itu, mendiskusikan banyak hal terkait itu pula dan membuat catatan yang lumayan mengenai hunch itu. Menurut saya justru langkah yang maju terus pantang mundur inilah yang akan mendewasakan kita sebagai calon peneliti dan kita menemukan hipotesis yang ‘bermutu’ untuk kita geluti berbulan kemudian. (Bersambung )

Boekoe nyang gue baca:

How to do Media and Cultural Studies karangannye Jane  Stokes  Sage Publication ( 2003)

MENGENAL CRITICAL THEORIES : MARXIST DAN NEO-MARXIST

•28 April 2014 • 2 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dilihat dari sejarahnya, teori kritis tampak sekali berkiblat pada pemikiran Karl Marx yang kemudian disebut marxist. Tidak bisa dipungkiri salah satu bibit pemikiran teori sosial penting di abad dua puluh memang mendasarkan diri pada pokok pikiran marxist ini.  Berawal dari gagasan Karl Marx dan Friederich Engels, tumbuh gerakan pemikiran yang membebaskan dan menentang tatanan dominan dalam masyarakat.  Kelihatannya, semua cabang ilmu sosial termasuk komunikasi telah dipengaruhi oleh garis pemikiran tersebut (baca juga Bottomore & Mattelart, 1989: 476-483).

Karl Marx

Karl Marx

Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi di dalam masyarakat akan menentukan sifat masyarakat tersebut (Marx dalam Littlejohn,2001:210). Inilah gagasan pokok pemikiran Marx, yakni  base-superstructure relationship. Ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Di dalam sistem kapitalisme, keuntungan akan mendorong  produksi lebih lanjut  dan pada gilirannya akan menguasai kelompok kelas pekerja atau buruh.

Kelompok kelas pekerja ditindas oleh kelompok yang lebih berkuasa yang mendapatkan keuntungan dari laba produksi. Segala institusi yang menjaga kelanggengan dominasi di dalam masyarakat kapitalis ini diuntungkan dengan adanya sistem ekonomi semacam itu. Hanya ketika kelompok pekerja bangkit dan menentang kelompok dominanlah maka cara produksi bisa diubah dan kebebasan kaum buruh bisa dicapai. Kebebasan itu selanjutnya akan menentukan perkembangan alami sejarah yang mendorong lahirnya kelas oposisi  dan melalui  proses dialektis pada gilirannya akan menempatkan mereka ke dalam posisi sosial yang lebih tinggi. Teori Marxist klasik ini kemudian dikenal sebagai  the critique of political economy.  

Hingga saat ini, teori kritis marxist masih juga berkembang, meskipun teori itu sudah  semakin bercabang dan menjadi multiteoritis. Tidak semua pengikut teori kritis adalah “Marxist” di dalam pemahaman klasik dari ajaran Marx, namun tidak perlu ditanyakan lagi bahwa Marx telah mewarnai gaya pemikiran mereka.  Meskipun sedikit dari teori kritis saat ini yang  mengadopsi gagasan Marx tentang ekonomi politik, namun perhatian khusus mengenai dialektika konflik, dominasi, dan penindasan tetap dianggap hal yang penting. Karena itulah, teori kritis sekarang ini disebut sebagai “neo-marxist” atau “marxist” (dengan huruf ‘m’ kecil).

Berbeda dengan the simple base-superstructur modelnya Marx, teori kritis kontemporer kebanyakan melihat adanya overdetermined yang bekerja di dalam masyarakat, atau adanya sebab-sebab multiple yang memengaruhi  struktur masyarakat.  Mereka melihat struktur sosial sebagai sebuah sistem di mana banyak hal saling berinteraksi dan memengaruhi satu dengan yang lainnya.

Teori kritis melihat tugas mereka adalah menyingkap kekuatan yang menindas melalui dialectical analysis, yang didesain untuk membuka kedok “an underlying struggle between opposing forces”. Meskipun pada umumnya masyarakat menerima semacam tatanan di permukaan sebagaimana adanya,  tugas teori kritislah yang menunjukkan berbagai kontradiksi yang terjadi. Hanya dengan menjadi sadar akan dialektika kekuatan yang saling beroposisi di dalam percaturan kekuatanlah maka individu dapat dibebaskan dan memiliki keleluasaan untuk mengubah tatanan yang ada.  Jika tidak, mereka akan tetap teralienasi satu dengan yang lainnya, dan terkooptasi oleh kekuatan penindas.

Marxist memberi perhatian serius  pada cara – cara berkomunikasi di dalam masyarakat. Praktik  komunikasi adalah hasil dari tarik ulur kekuatan antara kreativitas individu dan desakan sosial terhadap kreativitas tersebut. Hanya ketika individu itu sepenuhnya bebas untuk mengekspresikan dirinya dengan jernih dan beralasan maka kebebasan akan terjadi, dan kondisi itu tidak akan terwujud di dalam masyakarat yang berbasis kelas.

Sebaliknya, banyak teori kritis yang meyakini bahwa kontradiksi, tekanan, dan konflik adalah aspek-aspek yang tidak bisa dihindari dalam tatanan masyarakat dan tidak akan bisa dihilangkan. Suatu masyarakat yang ideal adalah lingkungan masyarakat  di mana semua suara bisa didengar, dengan demikian tidak akan ada satu kekuatan yang dominan di antara yang lainnya.

Bahasa menjadi pembatas yang penting di dalam ekspresi individual, karena bahasa yang dipakai kelas dominan telah membuat  kelompok kelas pekerja sulit memahami situasi yang mereka hadapi dan menangkap pokok persoalannya. Dengan kata lain, bahasa kelompok dominan mendefinisikan dan melanggengkan penindasan terhadap kelompok yang terpinggirkan. Inilah tugas dari teori kritis untuk menciptakan bentuk baru bahasa yang  memungkinkan ideologi yang tidak dominan terekspresikan dan bersaing dengan ideologi dominan untuk sama-sama didengarkan.

Konsep ideology menjadi penting dalam teori kritis. Ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk realitas kelompok, sebuah sistem representasi atau kode pemaknaan yang menuntun bagaimana individu dan kelompok memandang dunia ini. (baca Hall, 1989 :307-311) Di dalam pemahaman Marxism klasik, ideologi adalah seperangkat gagasan semu yang dijaga kelanggengannya oleh kekuatan politik dominan. Menurut paham Marxist klasik, ilmu pengetahuan harus digunakan untuk membuka tabir yang menutupi kebenaran dan memunculkan kesadaran palsu sebuah ideologi.

Teori kritis yang berkembang kemudian cenderung untuk meyakini bahwa tidak ada satu ideologi dominan namun kelas dominan yang ada di masyarakat itu terbentuk dengan sendirinya melalui pertarungan di antara beberapa ideologi. Banyak pemikir sekarang ini menolak gagasan bahwa ideologi adalah elemen terpisah dari sistem sosial;  sebaliknya, ideologi itu melekat di dalam bahasa dan proses sosial dan budaya lainnya.

Louis Althusser

Louis Althusser

Bisa jadi, teoritisi ideologi yang paling terkenal adalah ilmuwan Marxist asal Perancis Louis Althusser. Menurut Althusser, ideologi hadir di dalam struktur sosial itu sendiri dan tumbuh berkembang dari tindakan nyata yang diselenggarakan oleh lembaga-lemaba di dalam masyarakat.  ( baca Hall, 1985: 91-114). Dengan itu, ideologi sesungguhnya bentuk dari kesadaran individual dan menciptakan pemahaman subjektif individu tentang pengalaman. Di dalam model ini the superstructure (organisasi sosial ) menghasilkan ideologi, di mana pada gilirannya memengaruhi pemikiran individu tentang realitas.

Menurut Althusser, superstructure ini mencakup repressive state apparatuses, misalnya kepolisian  dan lembaga militer, dan ideological state apparatuses, seperti pendidikan, agama dan media massa. Mekanisme repressive menguatkan ideologi manakala ia terancam oleh kekuatan yang lain, dan the ideological  apparatuses  mereproduksi  kembali secara halus  melalui aktivitas komunikasi keseharian dengan membuat ideologi itu kelihatan sebagai hal yang wajar.

Kita hidup di dalam kenyataan yang dikondisikan, namun kita biasanya tidak memahami hubungan diri kita dengan kondisi seperti itu, kecuali melalui kacamata ‘ideologi’. Kondisi senyatanya dari keadaan ini hanya bisa ditemukan melalui ilmu pengetahuan, yang  oleh Althusser diposisikan sebagai oposisi dari ideologi. Gagasan ini menjadi sangat kontroversial karena itu didasarkan pada ide realis tentang kebenaran yang sekarang banyak ditentang oleh teori kritis itu sendiri.

Teori marxist cenderung melihat masyarakat sebagai lahan percaturan di antara bermacam kepentingan melalui dominasi satu ideologi terhadap yang lain. Hegemony adalah proses dominasi itu, di mana satu ideologi menumbangkan atau mengkooptasi lainnya. Inilah proses di mana satu kelompok di dalam masyarakat mendesakkan penguasaannya kepada yang lainnya. Konsep ini dengan apik dikumandangkan oleh ilmuwan Marxist asal Italia Antonio Gramsci ( 1971).

Antonio Gramsci

Antonio Gramsci

Proses hegemony bisa muncul dengan berbagai cara dan dalam berbagai latar keadaan. Intinya, hegemony  terjadi ketika peristiwa atau teks diinterpretasikan dengan cara tertentu sehingga mengedepankan satu kelompok kepentingan dibanding kelompok yang lainnya. Ini bisa terjadi secara halus melalui kooptasi kepentingan kelompok subordinat untuk mendukung kelompok yang dominan. Misalnya, pengiklan acapkali mengusung tema “Women’s Liberation”, membuatnya nampak bahwa perusahaan mendukung hak-hak kaum perempuan. Padahal yang terjadi di sini adalah kepentingan perempuan sedang diiterpretasikan kembali guna mempromosikan kepentingan ekomoni kapital. Ideologi memerankan fungsi sentral dalam proses ini karena ia  membentuk cara orang memahami pengalaman mereka,dan itulah sebabnya sangat ampuh di dalam membentuk interpretasi orang terhadap suatu peristiwa.

Dennis Mumby ( 1988:74-78) telah menyajikan teori persuasif – hegemony di dalam organisasi yang menggambarkan proses tersebut dengan sangat baik. Mumby menunjukkan bagaimana organisasi menjadi tempat di dalam mana kekuatan hegemony itu muncul. Kekuasaan dipelihara di dalam organisasi oleh suatu ideologi yang lebih dominan dibanding lainnya.  Sebagaimana kita pahami, bahwa komunikasi di dalam organisasi berfungsi di satu sisi untuk menciptakan budaya organisasi. Hal itu tampak melalui ritual-ritual, stories, dan semacamnya, dan Mumby menunjukkan bagaimana budaya dalam organisasi di sisi lain juga dilekati  proses-proses politik. Komunikasi di dalam organisasi berfungsi tidak hanya untuk menciptakan makna melainkan juga menghasilkan kekuasaan dan dominasi.

Mumby belakangan ini menjernihkan interpretasinya tentang hegemony menjadi lebih pragmatik, interaktif, dan suatu proses dialektik penegasan dan perlawanan. Hegemony tidak sekedar sebuah pertanyaan mengenai aktivitas dari  kelompok yang  berkuasa mendominasi kelompok lain yang pasif dan tidak berkuasa, melainkan sebuah proses pengaturan kekuasaan yang nampak sebagai proses aktif dari konstruksi sosial berbagai kelompok.  Hegemony adalah sebuah kesemestian — tidak selalu buruk tidak juga selalu baik— yang dihasilkan dari percaturan di antara kelompok kepentingan dalam situasi yang terjadi setiap hari ( Bersambung ).

Referensi :

Bottomore,Tom dan  Armand Mattelart. 1989. “Marxist Theories of Communication” dalam  International Encyclopedia of Communication. Vol 2. Edited by Erik Barnow dkk New York :Oxford University Press. Hal : 476-483.

Gramsci ,Antonio . 1971. Selections  from The Prison Noetbooks. Terj. Q Hoare dan G. Nowell Smith. New York: International.  

Hall, Stuart. 1985. “Signification, Representation, Ideology : Althusser and the Post Structuralism Debates. Dalam Critical Studies in Mass Commuication 2 . Hal 91-114.

Hall, Stuart. 1989. “Ideology” dalam International Encyclopedia of Communication. New York :Oxford University Press. :307-311

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

Mumby, Dennis K. 1988. Communication and Power in Organizations: Discoures, Ideology and Domination. Norwood,NJ: Ablex.

sumber foto : http://en.wikipedia.org/wiki/Antonio_Gramsci

http://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Althusser

http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx