Dampak Media Sosial dan Pentingnya Re-konseptualisasi Komunikasi Massa

•3 Juni 2014 • 1 Komentar
Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dalam sebuah ajang konferensi tingkat tinggi di U.S. Institute of Peace, September 2011, para ahli media sosial beserta penentu kebijakannya mengidentifikasi beberapa isue terkait peranan media sosial di dalam konteks politik  meliputi : tantangan untuk memahami lebih jauh media sosial karena tersedia data yang berlimpah melalui media ini; kesulitan di dalam menginterpretasi secara efektif informasi yang dikomunikasikan melalui platform media sosial; kenyataan bahwa media sosial sedang  membentuk kembali bahasa manusia; upaya menyeimbangkan antara kejujuran media sosial sebagai sarana opini publik dengan anonimitas dan resiko adanya informasi menyesatkan yang dikomunikasikannya;  potensi pengaruh coorporate yang dominan di dalam platform media sosial; dan penerapan media sosial baik di dalam situasi konflik maupun damai ( Scheillinger, 2011).  Meskipun analisis mengenai pengaruh media sosial di dalam politik telah mulai berkembang mulai 2008 yakni sejak terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ( Mettzgar, 2009) dan ditandai pula dengan pentingnya Arab Spring tahun 2010 di mana tindakan kolektif tidak saja dimungkinkan karena adanya media sosial, selain itu dunia bisa menyaksikan masyarakat yang nyaris senantiasa tertindas oleh rejim itu menuntut supaya suara mereka terdengar;  kita belum juga mampu menempatkan dampak media sosial secara tepat di dalam riset dan analisis komunikasi massa dan jurnalistik.  Selama dekade terakhi, telah tumbuh komunitas peneliti dan analis “new communication technology”; meski demikian, kita tidak lagi bisa memperlakukan analisis terhadap teknologi komunikasi baru – apapun bentuknya— sebagai bagian terpisah di dalam riset.  Sebaliknya, peneliti, para ilmuwan dan praktisi seharusnya mengadopsi sebuah pendekatan “yang lebih melihat keterlibatan masyarakat dalam media”  untuk memahami komunikasi massa dan jurnalisme. Mirip dengan ketika lahir industri percetakan yang secara revolusioner mengubah budaya literer dan bagaimana kemudian masyarakat memeroleh pengalaman dunianya di masa lalu; kita kembali berada di dalam persimpangan antara teknologi dengan perubahan di dalam pengalaman komunikasi manusia.

Pentingnya pendekatan terpadu – yaitu, yang merengkuh baik media tradisional maupun media baru — ke dalam komunikasi massa dan jurnalisme tampaknya sudah mulai dirasakan ditengah perkembangan berbagai sub domain disiplin kita. Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa di belahan dunia tertentu lambat laun orang makin terpisahkan dari struktur sosio-kultural tradisional seperti lembaga gereja, komunitas lokal, dan organisasi massa lainnya; meski demikian, mereka masih mengikuti isue-isue yang diyakini memengaruhi diri mereka. Mengenai hal ini, Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa media sosial tidak saja menyediakan platform yang mengatur orang terkait dengan isu yang menjadi pusat perhatian, melainkan juga mendorong personalisasi akitivitas yang dipicu oleh meningkatnya keterlibatan yang semakin tingggi di dalam media sosial, terfokus pada suatu agenda tertentu, dan terimbas kekuatan jaringan. Semakin hari semakin banyak bukti yang mengindikasikan perubahan sosial tidak hanya berakar dari politik ( Wilson,2011) dan budaya kaum muda ( Besley, 2011) melainkan disebabkan oleh meningkatnya manfaat (media sosial)  sebagai alat di dalam menciptakan komunitas peminat di sekitar isu seperti misal : kesehatan (Geoghegan, 2011), iklan dan pemasaran (Yang,Liu dan Zhou, 2012), dan tentu saja jurnalistik ( Stassen, 2010).  Semakin banyak bukti mengenai indikasi bahwa jika kita tidak  memerhatikan pengaruh media sosial terhadap komunikasi massa, maka kelihatannya kita akan kehilangan jejak pada potongan penting dari teka-teki ini.

Meski demikian, tidak cukup tampaknya jika hanya memperhitungkan media sosial atau the platform de jour, kita mungkin perlu memfokuskan pada paradigma kita terhadap komunikasi massa dengan lebih menekankan pada aspek keterlibatan diri (individu di dalam media).  Kenyataanya, penelitian  dan kritik kita akan lebih mendapat manfaat dengan memfokuskan utamanya pada model relasi di dalam masyarakat dari dua jalur simetrik komunikasi yang dicirikan dengan kolaborasi, kompromisitis, dan pendengaran ( Feighery, 2011). Ini berarti karena kita mempertimbangkan dampak media sosial, maka kita perlu melakukan analisis dan mengukur dengan cara bagaimana individu dan organisasi secara efektif menggunakan media sosial sebagai sarana melibatkan diri ketimbang dengan pendekatan yang mengukur dan menganalisis komunikasi massa sebagai sarana penyebaran informasi tradisional.  Dengan demikian, pengukuran terhadap dampak dan pengaruh mirip dengan memandang pesan sebagai sesuatu yang menyebarkan virus ( Metzgar, 2009), atau dengan tepat menyesuaikan pesan di antara pemahaman tradisional dan media baru (Dennis, Fuller,dan Valachich, 2008) karena dengan cara ini agaknya lebih akurat mencerminkan bagaimana cara orang dalam keseharian menggunakan kampanye massa dan artikel (Yang,Liu dan Zhou, 2012). Dengan sederhana kita katakan, jika kosa kata dan cara kita memandang dunia dan tempat kita berpijak itu berubah, maka pendekatan kita di dalam penelitian dan kritik komunikasi massa serta jurnalisme juga harus berubah.

Hal demikian bisa jadi akan menyebabkan implikasi yang luar biasa terhadap teori tradisional dan bahkan metode riset yang akan kita gunakan, atau bisa juga dampaknya tidak sebesar perkiraan kita; meski demikian ada petunjuk  kuat yang harus kita perhatikan bahwa kita harus melakukan kajian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan adanya asumsi bahwa perilaku, kekuasaan dan tindakan kita benar-benar disebabkan oleh perubahan abad teknologi. Mulai dari politik sampai relasi dalam masyarakat dan dari kejadian sehari-hari hingga keadaan krisis komunikasi, sesungguhnya mengindikasikan kita untuk melakukan rekonseptualisasi komunikasi sehingga menuju pada sebuah engagement paradigm.

Diadaptasikan dari :

Diers, Audra R. 2012. “Reconceptualizing Massa Communication as Engagement : The Influnce of Social Media” . J Mass Communication Journalism.  Vol 2.

MENGENAL CRITICAL THEORIES : The Frankfurt School & Jurgen Habermas

•6 Mei 2014 • 1 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Tradisi Marxist yang paling lama dan terkenal adalah Frankfurt School. The Frankfurt School merupakan tradisi terpenting di dalam critical studies dan kemudian tradisi ini seringkali disebut   critical theory.  Teori ini pada mulanya mendasarkan gagasan pokoknya pada pemikiran Marxist, meskipun dalam perjalanan lima puluh tahun terakhir telah mengalami pergeseran cukup berarti dari asal usul teorinya.  Komunikasi memiliki peran sentral dalam gerakan tersebut, dan  komunikasi massa menjadi area studi yang sangat penting ( Baca Kellner, 1995:162-177; Huspek, dalam Littlejohn 2001 :212).

Teori kritis dikembangkan oleh para pemikir seperti Mark Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan para koleganya yang berkarya di bawah payung Frankfurt Institute for Social Research tahun 1923 ( Farrel & Aune,1979: 93-120). Kelompok pakar ini semula berpedoman pada prinsip-prinsip Marxist, meskipun tidak satupun dari mereka ini yang memiliki afiliasi dengan partai politik apa pun, dan karyanya lebih bersifat keilmiahan ketimbang sebuah gerakan. Dengan kelahiran the National Socialist Party di Jerman pertengahan 1930-an, para ilmuwan Frankfurt ini pun hijrah ke Amerika Serikat dan di sana semakin tertarik dengan komunikasi massa dan media sebagai  biang opresif di dalam masyarakat kapitalis.

Para ilmuwan Frankfurt pada awalnya bereaksi keras  terhadap idealisme klasikal ala Marxism dan kesuksesan revolusi Rusia. Mereka melihat kapitalisme sebagai tahap evolutionary  dalam perkembangan, pertama dari sosialisme dan kemudian komunisme. Ide mereka pada masa itu merupakan wujud kritik kerasnya terhadap kapitalisme dan demokrasi  liberal.

Jurgen Habermas

Jurgen Habermas

Semenjak  tahun-tahun permulaan, dalam Frankfurt School tidak ada kesepakatan mengenai teori yang menyatukan karakteristik pemikiran mereka.  Ilmuwan Frankfurt School kontemporer yang paling terkenal adalah Jurgen Habermas, yang teorinya mengenai universal pragmatics  dan transformasi sosial masyarakat telah diakui  sangat berpengaruh di daratan Eropa dan gaungnya masih berkembang terus di Amerika Serikat.  Habermas  merupakan juru bicara terpenting dari Frankfurt School saat ini. Teorinya menggambarkan luasnya pemikiran dan mewakili paduan  pandangan kritis tentang komunikasi dan masyarakat. Tulisan selanjutnya akan mengurai kontribusi penting pemikiran Habermas ini.

Habermas mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami sebagai perpaduan tiga kepentinganutama : kerja, interaksi dan kekuasaan.  Ketiga kepentingan itu sama-sama penting. Kerja, sebagai kepentingan pertama, meliputi kemampuan menghasilkan sumberdaya material. Karena sifatnya yang highly instrumental nature — yang hasilnya adalah objek-objek konkrit, maka kerja pada dasarnya adalah “technical interest”, kepentingan teknis.  Di dalamnya berlaku rasionalisasi instrumental dan diwakili oleh ilmuwan empiris-analitis.  Dengan kata lain, teknologi digunakan  sebagai alat guna mencapai tujuan praktis dan itu diasarkan pada riset ilmiah.  Misalnya desainer  komputer , pembangun jembatan, para ahli yang menempatkan satelite di dalam orbitnya, pelaku organisasi/ kementerian, dan para ahli dengan kemampuan penanganan medis.

Kepentingan utama kedua adalah interaksi, atau penggunaan bahasa dan sistim simbol komunikasi lainnya.  Karena kerjasama sosial merupakan suatu keharusan untuk bisa bertahan hidup, Habermas menyebut item yang kedua ini sebagai “practical interest” atau kepentingan praksis. Ini mencakup rasionalisasi praksis dan diwakili oleh ilmu pengetahuan historis dan hermeneutik.  Kepentingan interaksi dapat dilihat dalam berbagai pidato, konferensi, psychoteraphy, hubungan antarkeluarga, dan segala bentuk usaha kerjasama.

Kepentingan utama yang ketiga adalah power, atau kekuasaan.  Tatanan sosial biasanya mengarahkan pada pembagian kekuasaan, namun kita juga berkepentingan untuk terbebas dari dominasi. Kekuasaan cenderung mendistorsi komunikasi, namun dengan kesadaran akan ideologi yang mendominasi di dalam masyarakat, kelompok-kelompok bisa memberdayakan mereka sendiri menuju transformasi sosial.  Akibatnya, kekuasaan menjadi “kepentingan emansipatory”.  Rasionalisasi  yang terjadi dalam kepentingankekuasaan ini berupa ‘self-reflection’ dan jenis ilmu pengetahuan  yang berkaitan dengan hal ini adalah  critical theory. Menurut Habermas, jenis pekerjaan yang dilakukan oleh teoritisi kritis yang selanjutnya akan didiskusikan dalam bahasan nanti termasuk emancipatory  karena ia bisa memberdayakan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki kekuasaan.

Sebagai ilustrasi jenis-jenis kepentingandalam pekerjaan bisa kita lihat dari kajian yang dilakukan oleh Steven Early, yang melakukan survai klasifikasi pekerjaan di Negara Bagian Georgia di tahun 1970-an (Early, 1981) Pada saat itu, di Georgia terikat tanggung jawab untuk mengklasifikasikan 45.000 posisi pekerjaan. Menurut Early, hasilnya menunjukkan adanya communiction breakdown yang memprihatinkan.  Pemerintah mempekerjakan perusahaan konsultan untuk mengadakan survai yang sangat penting itu dan perencanaan telah  dibuat untuk memeroleh informasi tentang masing-masing posisi pekerjaan, mengembangkan spesifikasi pekerjaan dan mengklasifikasi posisi dan kemudian menentukan berapa besar gaji untuk tiap posisi pekerjaan.

Panduan teknis pekerjaan yang rigit telah dibuat untuk menjalankan survai tersebut.  Ada rangkaian tugas yang harus dilakukan oleh konsultan dengan menggunakan metode tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Mereka menerapkan seakan-akan tugas tersebut bisa diatasi dengan menggunakan prosedur scientific yang “objective” — pengumpulan data, klasifikasi pekerjaan dan sejenisnya.

Para karyawan dan departemen yang disurvai memandang metode yang dipakai dalam survai seharusnya tidaklah demikian.  Para konsultan ini  melihat studi  tersebut sebagai persoalan praktis, sesuatu yang memengaruhi kerja keseharian  dan gaji mereka. Sementara menurut kalangan departemen, di dalam pengumpulan data dan implementasi hasilnya harus  telah melibatkan interaksi dan sehingga menciptakan kesepakatan konsensus yang optimal; kenyataannya tidak demikian.

Karena mereka memiliki kekuasaan,kepentingan  teknis organisasi pengambil keputusan lebih diutamakan;  metode  konsultan dipaksakan diterapkan dan segala kepentingan praktis dieliminasi.  Dengan kata lain, para pekerja diharapkan mengikuti jalannya survai tanpa ada diskusi tentang apa sesungguhnya kebutuhan mereka dan persoalan praktis yang timbul seperti gangguan operasional, permasalahan management,  pertanyaan moral yang mungkin timbul karena adanya klasifikasi ulang pekerjaan tersebut.

Pendeknya, para partisipan tidak sama kedudukan di dalam kekuasaan dan pengetahuan, dan kepentingan para pekerja telah dikalahkan oleh pihak management. Kajian ini menggambarkan kurangnya semacam komunikasi terbuka seperti yang disinggung oleh Habermas bahwa  itu menjadi keharusan di dalam masyarakat yang bebas.  Alhasil, sistem klasifikasi yang baru itu tidak diterima oleh kalangan pekerja dan hanya bisa dilaksanakan sebagian setelah melalui penundaan berulang kali, melakukan kajian ulang, tuntutan hukum dan permohonan naik banding.

Kasus di atas menggambarkan, kehidupan manusia tidak bisa dijalankan hanya dengan menggunakan satu perspektif dari satu jenis kepentingan —kerja, interaksi atau kekuasaan.  Segala aktivitas tampaknya merupakan rentang dari ketiga kategori tersebut. Dengan demikian ketiganya sama-sama penting.

Contohnya, pengembangan obatan-obatan baru jelas merefleksikan kepentingan teknis, namun itu  tidak bisa dilakukan tanpa kerjasama dan komunikasi, dengan melibatkan  interkasi kepentingan juga. Di dalam ekonomi pasar, obat-obatan dikembangkan melalui kerjasama guna mencapai kemanfaatan yang kompetitif  yang  jelas merupakan kepentingan kekuasaan juga.

Tidak ada aspek kehidupan yang terlepas dari kepentingan, bahkan di dalam ilmu pengetahuan sekalipun. Masyarakat yang emansipatory terbebas dari dominasi yang tidak perlu dari kepentingan apapun dan setiap orang memiliki kesamaan kesempatan berpartisipasi di dalam pengambilan keputusan. 

Habermas  (1975) secara khusus menaruh perhatian pada dominasi kepentingan teknis di dalam masyarakat kapitalis kontemporer . Di dalam masyarakat semacam itu, wilayah public dan private saling beririsan sehingga mencapai satu titik di mana sektor publik tidak bisa bertahan  melawan penindasan private, yakni kepentingan teknis.  Idealnya, public dan private harus seimbang, dan sektor publik cukup kuat sehingga menciptakan iklim yang memberi kebebasan orang untuk mengekspresikan ide dan perdebatan. Di dalam masyarakat modern, meski demikian, iklim tersebut masih perlu diperjuangkan ( Bersambung ).

Referensi :

Early, Steven D. 1981. Communication, Speech and Publics : Habermas and Political Analysis. Washinto DC: University Press of America.

Farrell,  Thomas B & James A.Aune. 1979. “ Critical Theory and Communication: A Selective Literature Review “ Dalam Quarterly Journal of Speech hal 93-120.

Habermas, Jurgen. 1975. Legitimation Crisis. terj. Thomas McCarty. Boston : Beacon.

Kellner, Dauglas. 1995. “Media Communications vs Cultural Studies: Overcoming the Divide” Dalam Communication Theory 5  Hal 162-177.

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

 

Sumber foto : Sipa Press / Rex Features

Serial Populer : Research for Beginner (2)

•30 April 2014 • 3 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Episode :  DARI DUGAAN MENUJU HIPOTESIS

Kira –kira tiga minggu lalu saya sudah memulai menulis dalam serial populer ini tentang hal ikhwal mengawali studi akhir alias menulis skripsi alias memenangkan keraguan melawan momok tugas akhir itu. Saya memulai bahasan tentang menentukan topik dan bagaimana mengawalinya dengan riset awal atau mengkaji penelitian terdahulu untuk itu. Bagian kedua ini saya akan menulis mengenai langkah awal memulai kajian teks media.

Subjek Kajian

Mungkin dari sekian banyak media yang bergentayangan di kehidupan kita, ada beberapa yang sering menggoda perhatian kita sehingga jadi pilihan riset.  Misalnya: film, program atau acara televisi dan musik. Meski tidak menutup kemungkinan media atau subjek lainnya juga tak kalah menarik, tapi setidaknya yang saya sebut itulah yang sering nongol di antara tumpukan proposal yang masuk di komisi skripsi dan siap untuk diadili apakah layak dilanjutkan “kasus”nya atau langsung masuk kotak.

Nah, antusiasme terhadap subjek kajian yang sudah tumbuh kadang  dibunuh oleh rasa ketidakpastian atau malah ketidaktahuan yang parah mengenai pilihan metode yang bisa dipakai. Namun, sebelum bicara mengenai pilihan metode alangkah baiknya anda rumuskan terlebih dahulu sebenarnya pertanyaan besar apakah yang akan anda jawab atau anda gali lebih mendalam  terkait dengan subjek kajian tersebut! Ok, silakan berpikir dulu bro, apa itu pertanyaan pokok yang mo dijadikan ‘sumber persoalan hidupmu selama pengerjaan skripsi’ ini.  Sementara anda berpikir, anda boleh menutup layar monitor ini…. saya akan melanjutkan menulis tentang konsep teks atau teks budaya itu terlebih dahulu.

Teks media

Apa yang saya contohkan di atas, yakni film, program televisi atau musik dalam dunia cultural studies lazim disebut sebagai media text  atau teks media. Studi terhadap teks menjadi bagian yang penting dalam wilayah kajian film, media dan cultural studies. Kalau di luar negeri sono nich, baik yang kelas undergraduated maupun yang graduated  sudah pasti memasukan analisis teks sebagai bagian penting dalam kurikulum yang ditawarkan. Kalau di mari, biasanya tidak disebutkan dengan eksplisit analisis teks, jadi masih malu-malu kucing gitu istilah itu muncul…paling pol disisipkan sebagai bagian pembahasan dalam matakuliah metode penelitian komunikasi, khususnya yang membahas ‘analisis media’.  Dalam tulisan episode ini, analisis teks menjadi pokok perhatian karena dari sana kita bisa mengetahui bagaimana sebuah teks itu bekerja.

Apa untungnya (atau tidak untungnya?) mengkaji teks

Pertama, teks itu sendiri sifatnya mudah ‘dibaca’. Mudah dikaji. Zaman digital dan teknologi telah memudahkan kita mencomot berbagai produk budaya itu dalam rupa misalnya, videotapes, CD-ROM, DVD dan seterusnya. Kalau misalnya, media itu program acara TV ya  tinggal di-capture begitu, asal modal storage-nya gede gampang urusannya.

Kedua, selain gampang dicari dan dianalisis barangnya, teks media itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Dalam bahasa keren-nya, teks media itu tidak lain adalah social phenonemon, suatu gejala sosial di mana di dalamnya seringkali didiskusikan para cendekiawan sebagai rekaman dari realitas sosial itu sendiri. So, mengkaji teks media lalu menguatkan argumentasi mengenai pentingnya relevansi kajian kita dengan realitas sosial yang tengah hangat terjadi di kehidupan ini.

Mengkaji teks akan menambah pemahaman kita mengenai cultural life— bagaimana makna teks itu, dan makna menjadi bagian penting dalam penggunaan media  (media use).  Tambahan lagi, ketika anda menganalisis suatu program acara televisi misalnya, anda bisa memperkirakan khalayak juga menikmati program acara tersebut, sehingga kita bisa mengetahui bagaimana frame of reference umum di kalangan penonton itu kayak apa.

Hampir sebagian besar bentuk teks media itu menyaratkan penelitinya untuk mengkajinya ( melihat, mengamati dan mencatat) secara berulang-ulang, sehingga mungkin ini yang membuat kajian terhadap teks media “tidak gampang” karena menuntut pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Juga perlu antisipasi untuk memiliki record-nya, kalau itu siaran TV, sehingga ya itu tadi kita bisa berulang-ulang mengamati dan mencatatnya.

Nah, sekarang saya mulai menyinggung soal metode yang akan saya perkenalkan dalam tulisan ini. Hampir semua metode analisis yang akan kita pelajari ini sifatnya subjektif, yang melandaskan pada kemampuan kita membangun argumentasi dalam menangani tiap-tiap kasus. Semiotik misalnya, sudah pasti sangat interpretatif di mana pembaca yang berbeda tidak mungkin akan memiliki kesamaan interpretasi. Sementara metode analisis yang mendasarkan diri kecakapan analisis (interpretatif) memang menyaratkan penelitinya memilki kemampuan menulis yang lebih dari rata-rata. Artinya, jika memang anda merasa ketrampilan dalam retorikanya kurang maka sebaiknya anda memilih metode yang lain dech…. ( misal, pilih yang kuantitatif gitu!).  Tapi tunggu dulu, segala sesuatunya bisa dipelajari koq… termasuk dalam hal analisis tekstual yang interpretatif ini. Hal pertama yang perlu diingat bahwa  analisis tekstual yang baik memang sedikit banyak bergantung pada kemampuan menyajikan argumentasi yang memikat. Di sini anda bisa memamerkan kecakapan analisis namun dari sini jugalah anda akan kelihatan jika kurang terampil sebagai seorang yang ‘a good writer

Dari dugaan menuju hipotesis

Dalam bahasa Inggris hunch  bisa diartikan firasat atau dugaan atau anggapan.  Sinonim dengan feeling, persumption.  Ternyata sesuatu kata yang artinya ‘tidak ilmiah’ karena toh hanya dugaan itu punya peran penting di dalam studi analisis teks media. Mengapa ? Begini sejarahnya…. salah satu persoalan mendasar di dalam mengawali analisis interpretatif dalam kajian teks media adalah kemampuan kita membuat argumentasi mengapa kajian tersebut penting dilakukan. Disinilah persoalannya, bagaimana kita bisa bisa  berargumentasi bahwa sesuatu teks itu layak untuk ditliti padahal  kita  belum menelitinya? Untuk mengawalinya maka penting melakukan tahapan awal dalam analisis teks yaitu membangun argumentasi analitis itu. Taruh kata misalnya, kita memang beranjak dari dugaan atau hunch tadi. Ini sama dengan cara berpikir awam yang hanya menduga ini dan itu. Tapi pada saat pertama kali dugaan itu muncul, maka jangan langsung membuat proposal hanya berdasar pada hunch.  Sebaliknya, ujilah dulu dugaan itu dengan riset awal. Kita bisa membuat draft catatan, kita cari referensi ilmiah terkait dengan dugaan tersebut. Kita diskusikan dengan teman-teman atau dosen (yang tahu seluk beluk mengenai kajian teks media tentu!). Read, think, and write down your ideas on paper to see how they work ! Begitu istilah kerennya bro… dari situ anda bisa menyaring seberapa banyak yang anda akan kerjakan itu hanya dugaan berdasarkan perasaan atau dugaan karena memang anda punya basic knowledge mengenai teks media tersebut.

Misalnya, setelah sekian banyak anda menonton film-film science fiction futuristik maka anda punya dugaan jangan-jangan salah satu film  science fiction futuristik itu merepresentasikan teks feministik? Nah itu salah satu dugaan di antara sekian dugaan lain yang muncul. Kita tahu bahwa dalam riset ilmiah kita harus menaikkan derajad  sesuatu yang hanya dugaan itu menjadi sebuah hipotesis. Di sini pengertian hipotesis adalah suatu pernyataan awal yang perlu diuji atau dibuktikan dalam penelitian. Tahap awap penelitian, seperti yang telah saya singgung di depan, adalah memilih dari sekian banyak hunches  kemudian kita ubah menjadi sebuah hipotesis yang bisa diuji. Dalam analisis teks tahap ini berati dilalui dengan mengajukan pertanyaan kritis terkait dengan ‘embrio proyek’ yang akan kita garap. Penting sekali anda menengok penelitian terdahulu, teori konsep dsb yang terkait dengan konsep pokok calon riset anda.

Jika memang hunch anda itu  menunjukkan tanda-tanda bisa diuji maka langsung kerjakan proyek tersebut. Bisa jadi, dugaan awal kita malah tidak terpakai, dan di sepanjang uji hunch awal kita justru menemukan dugaan lain yang lebih rasional. Untuk itu anda perlu terus menguji dan menguji dan menyempurnaan hunch yang sudah jadi hipotesis tadi. Anda tidak perlu merasa gagal jika memang dugaan awal itu justru terlempar di tempat sampah, karena revisi yang terus menerus merupakan tahapan penting untuk bisa mencapai tahap discovery!.

Ada orang yang beruntung dengan sekali menemukan hunch kemudian bisa langsung menggorengnya menjadi sebuah hipotesis yang siap uji atau test di dalam penelitian, tapi ada juga yang harus mencoba merumuskannya dua atau tiga kali.  Bagi orang yang kurang beruntung ini, dengan mengikuti hunch pertama kali, anda lalu berkesempatan membaca banyak hal mengenai itu, mendiskusikan banyak hal terkait itu pula dan membuat catatan yang lumayan mengenai hunch itu. Menurut saya justru langkah yang maju terus pantang mundur inilah yang akan mendewasakan kita sebagai calon peneliti dan kita menemukan hipotesis yang ‘bermutu’ untuk kita geluti berbulan kemudian. (Bersambung )

Boekoe nyang gue baca:

How to do Media and Cultural Studies karangannye Jane  Stokes  Sage Publication ( 2003)

MENGENAL CRITICAL THEORIES : MARXIST DAN NEO-MARXIST

•28 April 2014 • 2 Komentar

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dilihat dari sejarahnya, teori kritis tampak sekali berkiblat pada pemikiran Karl Marx yang kemudian disebut marxist. Tidak bisa dipungkiri salah satu bibit pemikiran teori sosial penting di abad dua puluh memang mendasarkan diri pada pokok pikiran marxist ini.  Berawal dari gagasan Karl Marx dan Friederich Engels, tumbuh gerakan pemikiran yang membebaskan dan menentang tatanan dominan dalam masyarakat.  Kelihatannya, semua cabang ilmu sosial termasuk komunikasi telah dipengaruhi oleh garis pemikiran tersebut (baca juga Bottomore & Mattelart, 1989: 476-483).

Karl Marx

Karl Marx

Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi di dalam masyarakat akan menentukan sifat masyarakat tersebut (Marx dalam Littlejohn,2001:210). Inilah gagasan pokok pemikiran Marx, yakni  base-superstructure relationship. Ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Di dalam sistem kapitalisme, keuntungan akan mendorong  produksi lebih lanjut  dan pada gilirannya akan menguasai kelompok kelas pekerja atau buruh.

Kelompok kelas pekerja ditindas oleh kelompok yang lebih berkuasa yang mendapatkan keuntungan dari laba produksi. Segala institusi yang menjaga kelanggengan dominasi di dalam masyarakat kapitalis ini diuntungkan dengan adanya sistem ekonomi semacam itu. Hanya ketika kelompok pekerja bangkit dan menentang kelompok dominanlah maka cara produksi bisa diubah dan kebebasan kaum buruh bisa dicapai. Kebebasan itu selanjutnya akan menentukan perkembangan alami sejarah yang mendorong lahirnya kelas oposisi  dan melalui  proses dialektis pada gilirannya akan menempatkan mereka ke dalam posisi sosial yang lebih tinggi. Teori Marxist klasik ini kemudian dikenal sebagai  the critique of political economy.  

Hingga saat ini, teori kritis marxist masih juga berkembang, meskipun teori itu sudah  semakin bercabang dan menjadi multiteoritis. Tidak semua pengikut teori kritis adalah “Marxist” di dalam pemahaman klasik dari ajaran Marx, namun tidak perlu ditanyakan lagi bahwa Marx telah mewarnai gaya pemikiran mereka.  Meskipun sedikit dari teori kritis saat ini yang  mengadopsi gagasan Marx tentang ekonomi politik, namun perhatian khusus mengenai dialektika konflik, dominasi, dan penindasan tetap dianggap hal yang penting. Karena itulah, teori kritis sekarang ini disebut sebagai “neo-marxist” atau “marxist” (dengan huruf ‘m’ kecil).

Berbeda dengan the simple base-superstructur modelnya Marx, teori kritis kontemporer kebanyakan melihat adanya overdetermined yang bekerja di dalam masyarakat, atau adanya sebab-sebab multiple yang memengaruhi  struktur masyarakat.  Mereka melihat struktur sosial sebagai sebuah sistem di mana banyak hal saling berinteraksi dan memengaruhi satu dengan yang lainnya.

Teori kritis melihat tugas mereka adalah menyingkap kekuatan yang menindas melalui dialectical analysis, yang didesain untuk membuka kedok “an underlying struggle between opposing forces”. Meskipun pada umumnya masyarakat menerima semacam tatanan di permukaan sebagaimana adanya,  tugas teori kritislah yang menunjukkan berbagai kontradiksi yang terjadi. Hanya dengan menjadi sadar akan dialektika kekuatan yang saling beroposisi di dalam percaturan kekuatanlah maka individu dapat dibebaskan dan memiliki keleluasaan untuk mengubah tatanan yang ada.  Jika tidak, mereka akan tetap teralienasi satu dengan yang lainnya, dan terkooptasi oleh kekuatan penindas.

Marxist memberi perhatian serius  pada cara – cara berkomunikasi di dalam masyarakat. Praktik  komunikasi adalah hasil dari tarik ulur kekuatan antara kreativitas individu dan desakan sosial terhadap kreativitas tersebut. Hanya ketika individu itu sepenuhnya bebas untuk mengekspresikan dirinya dengan jernih dan beralasan maka kebebasan akan terjadi, dan kondisi itu tidak akan terwujud di dalam masyakarat yang berbasis kelas.

Sebaliknya, banyak teori kritis yang meyakini bahwa kontradiksi, tekanan, dan konflik adalah aspek-aspek yang tidak bisa dihindari dalam tatanan masyarakat dan tidak akan bisa dihilangkan. Suatu masyarakat yang ideal adalah lingkungan masyarakat  di mana semua suara bisa didengar, dengan demikian tidak akan ada satu kekuatan yang dominan di antara yang lainnya.

Bahasa menjadi pembatas yang penting di dalam ekspresi individual, karena bahasa yang dipakai kelas dominan telah membuat  kelompok kelas pekerja sulit memahami situasi yang mereka hadapi dan menangkap pokok persoalannya. Dengan kata lain, bahasa kelompok dominan mendefinisikan dan melanggengkan penindasan terhadap kelompok yang terpinggirkan. Inilah tugas dari teori kritis untuk menciptakan bentuk baru bahasa yang  memungkinkan ideologi yang tidak dominan terekspresikan dan bersaing dengan ideologi dominan untuk sama-sama didengarkan.

Konsep ideology menjadi penting dalam teori kritis. Ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk realitas kelompok, sebuah sistem representasi atau kode pemaknaan yang menuntun bagaimana individu dan kelompok memandang dunia ini. (baca Hall, 1989 :307-311) Di dalam pemahaman Marxism klasik, ideologi adalah seperangkat gagasan semu yang dijaga kelanggengannya oleh kekuatan politik dominan. Menurut paham Marxist klasik, ilmu pengetahuan harus digunakan untuk membuka tabir yang menutupi kebenaran dan memunculkan kesadaran palsu sebuah ideologi.

Teori kritis yang berkembang kemudian cenderung untuk meyakini bahwa tidak ada satu ideologi dominan namun kelas dominan yang ada di masyarakat itu terbentuk dengan sendirinya melalui pertarungan di antara beberapa ideologi. Banyak pemikir sekarang ini menolak gagasan bahwa ideologi adalah elemen terpisah dari sistem sosial;  sebaliknya, ideologi itu melekat di dalam bahasa dan proses sosial dan budaya lainnya.

Louis Althusser

Louis Althusser

Bisa jadi, teoritisi ideologi yang paling terkenal adalah ilmuwan Marxist asal Perancis Louis Althusser. Menurut Althusser, ideologi hadir di dalam struktur sosial itu sendiri dan tumbuh berkembang dari tindakan nyata yang diselenggarakan oleh lembaga-lemaba di dalam masyarakat.  ( baca Hall, 1985: 91-114). Dengan itu, ideologi sesungguhnya bentuk dari kesadaran individual dan menciptakan pemahaman subjektif individu tentang pengalaman. Di dalam model ini the superstructure (organisasi sosial ) menghasilkan ideologi, di mana pada gilirannya memengaruhi pemikiran individu tentang realitas.

Menurut Althusser, superstructure ini mencakup repressive state apparatuses, misalnya kepolisian  dan lembaga militer, dan ideological state apparatuses, seperti pendidikan, agama dan media massa. Mekanisme repressive menguatkan ideologi manakala ia terancam oleh kekuatan yang lain, dan the ideological  apparatuses  mereproduksi  kembali secara halus  melalui aktivitas komunikasi keseharian dengan membuat ideologi itu kelihatan sebagai hal yang wajar.

Kita hidup di dalam kenyataan yang dikondisikan, namun kita biasanya tidak memahami hubungan diri kita dengan kondisi seperti itu, kecuali melalui kacamata ‘ideologi’. Kondisi senyatanya dari keadaan ini hanya bisa ditemukan melalui ilmu pengetahuan, yang  oleh Althusser diposisikan sebagai oposisi dari ideologi. Gagasan ini menjadi sangat kontroversial karena itu didasarkan pada ide realis tentang kebenaran yang sekarang banyak ditentang oleh teori kritis itu sendiri.

Teori marxist cenderung melihat masyarakat sebagai lahan percaturan di antara bermacam kepentingan melalui dominasi satu ideologi terhadap yang lain. Hegemony adalah proses dominasi itu, di mana satu ideologi menumbangkan atau mengkooptasi lainnya. Inilah proses di mana satu kelompok di dalam masyarakat mendesakkan penguasaannya kepada yang lainnya. Konsep ini dengan apik dikumandangkan oleh ilmuwan Marxist asal Italia Antonio Gramsci ( 1971).

Antonio Gramsci

Antonio Gramsci

Proses hegemony bisa muncul dengan berbagai cara dan dalam berbagai latar keadaan. Intinya, hegemony  terjadi ketika peristiwa atau teks diinterpretasikan dengan cara tertentu sehingga mengedepankan satu kelompok kepentingan dibanding kelompok yang lainnya. Ini bisa terjadi secara halus melalui kooptasi kepentingan kelompok subordinat untuk mendukung kelompok yang dominan. Misalnya, pengiklan acapkali mengusung tema “Women’s Liberation”, membuatnya nampak bahwa perusahaan mendukung hak-hak kaum perempuan. Padahal yang terjadi di sini adalah kepentingan perempuan sedang diiterpretasikan kembali guna mempromosikan kepentingan ekomoni kapital. Ideologi memerankan fungsi sentral dalam proses ini karena ia  membentuk cara orang memahami pengalaman mereka,dan itulah sebabnya sangat ampuh di dalam membentuk interpretasi orang terhadap suatu peristiwa.

Dennis Mumby ( 1988:74-78) telah menyajikan teori persuasif – hegemony di dalam organisasi yang menggambarkan proses tersebut dengan sangat baik. Mumby menunjukkan bagaimana organisasi menjadi tempat di dalam mana kekuatan hegemony itu muncul. Kekuasaan dipelihara di dalam organisasi oleh suatu ideologi yang lebih dominan dibanding lainnya.  Sebagaimana kita pahami, bahwa komunikasi di dalam organisasi berfungsi di satu sisi untuk menciptakan budaya organisasi. Hal itu tampak melalui ritual-ritual, stories, dan semacamnya, dan Mumby menunjukkan bagaimana budaya dalam organisasi di sisi lain juga dilekati  proses-proses politik. Komunikasi di dalam organisasi berfungsi tidak hanya untuk menciptakan makna melainkan juga menghasilkan kekuasaan dan dominasi.

Mumby belakangan ini menjernihkan interpretasinya tentang hegemony menjadi lebih pragmatik, interaktif, dan suatu proses dialektik penegasan dan perlawanan. Hegemony tidak sekedar sebuah pertanyaan mengenai aktivitas dari  kelompok yang  berkuasa mendominasi kelompok lain yang pasif dan tidak berkuasa, melainkan sebuah proses pengaturan kekuasaan yang nampak sebagai proses aktif dari konstruksi sosial berbagai kelompok.  Hegemony adalah sebuah kesemestian — tidak selalu buruk tidak juga selalu baik— yang dihasilkan dari percaturan di antara kelompok kepentingan dalam situasi yang terjadi setiap hari ( Bersambung ).

Referensi :

Bottomore,Tom dan  Armand Mattelart. 1989. “Marxist Theories of Communication” dalam  International Encyclopedia of Communication. Vol 2. Edited by Erik Barnow dkk New York :Oxford University Press. Hal : 476-483.

Gramsci ,Antonio . 1971. Selections  from The Prison Noetbooks. Terj. Q Hoare dan G. Nowell Smith. New York: International.  

Hall, Stuart. 1985. “Signification, Representation, Ideology : Althusser and the Post Structuralism Debates. Dalam Critical Studies in Mass Commuication 2 . Hal 91-114.

Hall, Stuart. 1989. “Ideology” dalam International Encyclopedia of Communication. New York :Oxford University Press. :307-311

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

Mumby, Dennis K. 1988. Communication and Power in Organizations: Discoures, Ideology and Domination. Norwood,NJ: Ablex.

sumber foto : http://en.wikipedia.org/wiki/Antonio_Gramsci

http://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Althusser

http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK (2)

•24 April 2014 • 1 Komentar

(tulisan sebelumnya )

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

“…when a ‘language’ does not already exist, one must be something of an artist to speak it, however poorly. For to speak it is partly to invent it, whereas to speak the language of everyday is simply to use it” (Monaco 1981; 163).

Metz vs Wollen

Semiotikus lainnya, Peter Wollen, menunjukkan  salah satu dari sekian persoalan dalam teori Metz : ia meletakkan perhatiannya sepenuhnya pada aspek denotation daripada aspek connotation sebagai bagian terbesar dalam bahasa sinematik. Sebagian besar  aspek  plot film — bagaimana karakter seseorang, apa yang mereka lakukan— adalah segala sesuatu yang diindikasikan oleh petunjuk lainnya dari sebuah plot. Menurut Metz, aspek tersebut adalah connotation, sementara pendapat ahli lainnya, termasuk Jensen (2002)  memahami itu sebagai bagian dari denotation.

Inilah juga yang menyebabkan kita semestinya melihat pentingnyanya mengamati baik aspek  denotation maupun connotation agar bisa memahami film, televisi, bahkan lukisan sekalipun — pokoknya segala bentuk seni.  Denotation  dan  connotation tidak bisa hadir sendiri-sendiri tanpa kehadiran satu dengan lainnya.

Metz dikritik karena terlalu “programmatic “  :…..A theoretical program that leads to so little in practice is clearly suspect” (Braudy 1998; 92-93).  Wollen juga meyakini adanya aspek  semiotik yang terkandung dalam  sinema. Namun demikian, alih-alih mendasarkan pada konsep syntagmas-nya Metz, dia lebih condong pada teori tanda-nya C.S. Peirce.

Peter Wollen

Peter Wollen

Menurut Wollen, sinema utamanya tersusun dari tanda-tanda iconic dan indexical.  Ia mengatakan pentingnya kode-kode di dalam sinema lebih berkaitan dengan  the  poetic-nya ketimbang the linguistic-nya, yang kemudian membuat dia meninggalkan gagasan Metz dalam pencariannya perihal “unit” (satuan terkecil ) dalam sebuah sinema, yang memiliki kesetaraan dengan  unit terkecil dalam linguistik itu.  Wollen tidak sepakat dengan gagasan Metz, yang mengatakan tujuan dari semiotika sinema adalah untuk  “melakukan studi tatanan dan fungsi dari unit-unit penandaan pokok yang digunakan di dalam pesan filmis” ( Baudy, 1998:95).

Ia menegaskan bahwa sinema memiliki baik makna dan signifikansinya  namun itu tidak mengusung  pesan, sementara languange seringkali digunakan untuk mengkomunikasikan pesan. Meskipun Metz dan Wollen sama-sama tidak  setuju tentang  ‘the actual nature of semiotics’, keduanya masih meyakini bahwa studi sinema adalah bagian dari semiotik itu. Metz lebih tertarik pada pendekatan lingusitik : semiotika bahasa menjadi semiotik sinema. Wollen melihat kekuatan filmis dalam bentuk yang berbeda dari kekuatan linguistik.

Penolakan Pendekatan Linguistik : Gregory Currie

Teoritisi lainnya, Gregory Currie, berpendapat “ cinematic representationis not linguistic, quasi-linguistic or even remotely linguistic” ( Currie, 1995:114).  Pernyataan di atas dilatarbelakangi oleh ketidaksepakatannya baik terhadap Metz maupun Wollen. Ia menolak kecenderungan untuk menganalisis bahasa sinematik didasarkan atas bahasa literary. Ia menguatkan argumen ini dengan pernyataan bahwa bahasa sinematik hanya menggunakan satu medium : penglihatan, sementara bahasa literary dapat dilihat, didengar dan diraba.

Sangat bertolak belakang dengan teori Metz bahwa bahasa sinematik terdiri dari lima tracks, sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya. Ia juga mengabaikan fakta bahwa film dan televisi bisa dilihat maupun didengar…. the soundtracks adalah bagian terbesar dari sebuah film. Walaupun demikian, meski dia menolak sinema  sebagai bahasa dia sepakat bahwa sinema  merupakan salah satu sarana dalam berkomunikasi: “There is no set of conventions that function to confer meaning on cinematic images in anything like conventions confer (literal) meaning in language” (Currie 1995; 130). Currie berpendapat tidak ada unit terkecil yang memiliki arti di dalam film. Baginya, tidak ada interaksi antara dua buah shot dan karenanya sebuah shot bukankah  bahasa. Currie tidak yakin bahwa gambar bisa disetarakan dengan sebuah kalimat – seperti layaknya ‘struktur’ karena mereka tidak memiliki grammar.

Pertanyaan Seputar Artikulasi Ganda

Kita kembali ke pertanyaan awal dalam tulisan sebelumnya tentang ‘artikulasi ganda’….. Pada tahap awal perdebatan mengenai pertanyaan apakah unit terkecil dalam  film sebagai sebuah bahasa dan artikulasi di dalam  konsepsi Andre Martine mengenai artikulasi ganda tentang unit terkecil yang adalah sound (phonemes) dan unit terkecil dari sense (morphemes) muncul ( Stam 2000:112).

Christian Metz

Christian Metz

Seperti telah dikemukakan, Metz  tidak sepakat dengan asumsi bahwa sinema memiliki artikulasi ganda (double articulation). Kerja sinema melalui shots dari realitas yang dikonstruksi sedemikian rupa dan tidak memiliki sesuatu yang mirip dengan phoneme (fonem) dalam bahasa. Meski demikian, dia mengatakan  montage  bisa dilihat sebagai sejenis artikulasi dari penggambaran suatu realitas. Namun bukan seperti artikulasi yang dikaitkan dengan pengertian articulation dalam bahasa. Sekali lagi, dia menegaskan adanya hubungan yang kuat dengan  pendekatan linguistik dan mengacu pada perbedaan antara ‘shot’ dalam film  dengan ‘kata’ dalam literary.

Melalui analisisnya Metz tidak menemukan sesuatu unit di dalam sinema yang memiliki kemiripan dengan fonem dalam bahasa, yang artinya bahwa sinema tidak mungkin memiliki artikulasi ganda ( double articulation ). Alih-alih mencoba mengidentifikasi sebuah  shot sebagai unit terkecil, Pier Passolini justru melihat unit terkecil dibentuk melalui penandaan objek di dalam shot, dan karenanya maka sinema bisa dikatakan memiliki artikulasi ganda. Konsep artikulasi ganda sinematik menurut Passolini ini meliputi cinemes (sebagai ganti dari phonemes) dan im-signs ( sebagai ganti dari morphemes). Kenyataan bahwa unit terkecil itu hadir di dalam sebuah shot, itu artinya bahwa cinemes berbeda dengan fonem (phonemes), karena tidak ditemukan jumlah yang tertentu dari cinemes di dalam satu shot.

Umberto Eco

Umberto Eco

Semiotikus semacam Eco dan Garroni tidak sepakat dengan Passolini dan mereka mengkritik  konsepnya yang membingungkan mengenai  double articulation. Eco mengatakan bahwa objek tidak bisa memiliki artikulasi kedua karena mereka sudah membentuk elemen yang berarti ( Stam, 2000 :113), dan itu berarti tidak mungkin memisahkan makna dengan elemennya. Menurut Eco tidak ada unit di dalam citra sinematik yang memiliki kemiripan dengan fonem atau morfem, dan karenanya juga tidak ada double articulation.

The Grammar of Cinema

Metz mengatakan justifikasi dalam analisis mengenai persamaan antara film dengan bahasa dikarenakan persamaan sifatnya secara umum dalam syntagmatic. Di dalam bahasa phonemes dan morphemes dipadukan  sehingga membentuk sebuah kalimat, di dalam sinema gambar  dan suara dipadukan sehingga menciptkan syntagmas ( Stam, 2000:115)

Dengan bergerak dari satu gambar  ke gambar lainnya, film ‘berbicara’ kepada menontonnya dan itu berarti berkomunikasi. Metz menegaskan bahwa tidak ada gambar yang memiliki kesamaan dengan gambar lainnya namun hampir semua narasi film memiliki kemiripan satu dengan lainnya dalam strukturnya. Meski demikian, jika kita melihat  film  Alfred Hitchcock’s dalamThe Birds (1963) — sebagaimana Messaris telah kemukakan  dalam bukunya Visual Literacy: Image, Mind and Reality— teori di atas tidak berlaku. Misalnya, di dalam adegan di mana pemeran wanita selaku protagonis duduk di lapangan sekolah, kita melihat shots burung-burung berkumpul membelakanginya, kemudian intercut pada shot wanita itu ketika dia sedang duduk merokok. Akhirnya ketika dia melihat sekeliling,  shot langsung memperlihatkan  wanita tersebut dengan latar belakang dipenuhi  dengan burung-burung.  Penggalan editing yang seperti itu telah melanggar ‘aturan’ yang mengatakan bahwa jika karakter tampak menoleh ke luar  frame of shot, maka shot berikutnya semestinya menggambarkan apa yang karakter itu lihat ( Messaris, 1994:75).

Hal yang demikian tadi mendorong kita bertanya mengenai the grammar di dalam film dan televisi. Adakah semacam ‘aturan’ umum  di dalam pembuatan film sehingga membuat para penonton bisa ‘membaca’ gambar dengan cara tertentu? Dalam buku Messaris, dia merujuk pada pernyataan Monaco di dalam How to Read a Film, di mana dia mengatakan bahwa film hanyalah ‘seperti’ bahasa dan itulah sebabnya tidak mungkin meng-gramatikal-kan sinema. Messaris berpendapat bahwa jika pernyataan tersebut benar, maka penonton akan selalu dapat mengenali yang dimaksudkan oleh si pembuat film dan interpretasi terhadap gambar —   terlepas dari struktur sebuah film. Untuk memerinci pernyataan tersebut dia mengilustrasikan contoh dari New Wave, yang memperkenalkan jump cuts, misalnya, yang tidak membawa pengaruh besar terhadap ‘pemahaman ‘penonton. Mesaaris menjelaskan:    “… the viewer’s interpretation of edited sequences is largely a matter of cross-referencing possible interpretations against a broader context… rather than a matter of decoding formal devices. To put this more compactly: Interpretation is driven by the narrative context, not the code (Messaris 1994; 79).

Perlu kita pahami apa yang di-konotasi-kan sebuah gambar agar kita pun bisa memahami plot. Kita telah belajar bagaimana ‘membaca’ dan memahami sebuah film meskipun film tersebut tidak mematuhi apa yang disebut struktur ‘gramatical’ dalam sebuah film. Itulah sebabnya, sebagaimana telah disinggung di depan, memelajari bagaimana men-decode tanda dalam sinema sesungguhnya sama dengan kita belajar membaca.

Persamaan dan Perbedaan

Ketika membandingkan antara bahasa literary dengan sinema kita pun terdorong untuk mencari persamaan dan perbedaanya. Perbedaan : Dalam sinema tidak terdapat tanda-tanda yang memiliki kemiripan dengan kata. Di dalam sinema signifier dan signified itu hampir-hampir identik, berbalikan dengan bahasa verbal. Sinema tidak seperti bahasa, misalnya bahasa Denmark atau Inggris, dan praktis tidak mungkin menerapkan struktur gramatikal dalam sinema. Tidak perlu memelajari kosa kata. Dalam sinema sulit untuk mengidentifikasi unit terkecil sebagaimana sebuah kata.

Sejumlah kata tertentu dapat menghasilkan sejumlah interpretasi tertentu. Sinema dan bahasa tidak tidak memiliki metode ekspresi yang sama. Sinema tidak mengindikasikan: ia menyatakan ( Thomas, 1995:2). Di dalam bahasa kita dapat memilih gambaran kita sendiri, di dalam sinema kita telah disodori gambar-gambar yang terpilih.  Kita belajar ‘membaca’ sinema bahkan sebelum kita mengetahui  bahasa verbal.  Persamaan : Di dalam batas tertentu, memang ada struktur yang mirip dalam bahasa literary. Itu  hadir kepada penonton dengan sejumlah kemungkinan pemaknaan. Anda bisa belajar ‘membaca’ sinema. Baik sinema maupun bahasa adalah sama-sama cara berkomunikasi ( Thomas, 1995:3). Keduanya bisa hadir dalam beberapa tingkatan, bergantung pada latar belakang usia, gender, budaya, sosial dan akademik.

Simpulan

So, apakah sinema (film dan televisi) bisa dikatakan sebagai bahasa? Menurut pendapat saya, sinema memang merupakan bentuk komunikasi, suatu komunikasi satu arah yang berbeda dengan bahasa literary dalam hal-hal sebagaimana sudah kita diskusikan di depan.

Melalui penjelajahan  dalam esai ini sudah dicoba untuk dirumuskan pergolakan pemikiran  mengenai apa yang dimaksudkan oleh para semiotikus ketika mereka mengatakan bahwa sinema ‘sebagai’ suatu bahasa, dengan fokus utama pada teori Christian Metz.  Tulisan ini sudah mengeksplorasi bagaimana para ahli itu memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan gagasn tersebut, dan telah pula kita diskusikan bagaimana mereka sama-sama sepakat atau tidak sepakat dalam beberapa poin terkait dengan bahasa sinematik.

Menarik dicatat bahwa hampir semua ahli tersebut secara ekstrim mencoba mencari pembenaran terhadap pemikiran mereka. Mereka yang berniat menghadirkan sinema sebagai sebuah bahasa berarti menempatkan sinema setara dengan bahasa literary. Mereka berusaha mati-matian menempatkan sinema ke dalam semacam struktur dan meng-gramatikal-kannya sehingga bisa dipahami dalam tingkatan yang berbeda; sebagai justifikasi bahwa sinema adalah medium yang bisa diteliti dan dikaji.  Meski demikian, melalui eksplorasi tulisan ini, hal demikian itu sangat sulit dilakukan karena bahasa sinema secara tiba-tiba bisa berbelok arah (tidak taat pakem/’struktur’) seperti yang terjadi dalam contoh kasus Dogme95  dan The New Wave.

*) tulisan ini hanyalah review semata, hak cipta sepenuhnya akan isi karya  dalam bahasa Inggris ada pada ©Jensen, Rikke Bjerg(2002). Do we learn to ‘read’ television and film and do televisual and filmic codes constitute a ‘language’?

sumber foto :

http://www.cinepedia.cn/w/peter_wollen/

http://en.wikipedia.org/wiki/Umberto_Eco

http://www.phillwebb.net/history/Twentieth/Continental/(Post)Structuralisms/Structuralism/Metz/Metz.htm

FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK *)

•14 April 2014 • 1 Komentar
Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

It is not because the cinema is a language that it can tell us such fine stories, but rather it has become a language because it has told such fine stories” (Metz 1991; 47).

Memperbincangkan  Sinema

Sejak awal mula dalam sejarah perfilman, para pembuat film dan teoritisi  film tak henti-hentinya mencoba membandingkan antara  film dengan bahasa dengan maksud untuk mencari pembenaran bahwa film sesungguhnya jugalah medium sebagaimana sebuah bahasa. Kesulitan pokoknya adalah di dalam penerapan konseptual “language” guna menggambarkan kata dan imaji. Sungguh mengejutkan bahwa konsep “film language” telah ada  semenjak film-film jaman baheula (Thomas, 1995:1).

Sebenarnya tidak tepat jika mendefinisikan film dan televisi sebagai sebuah bahasa seperti halnya dalam bahasa sastra. Yang benar : film dan televisi itu adalah seperti bahasa dan keduanya menggunakan codes dan signs untuk membentuk struktur grammar. Apa sebenarnya yang membuat perbedaan dan persamaan di antara bahasa dan film itu? Inilah yang menjadi salah satu konsep yang didisksusikan oleh beberapa semiotikus dan telah dicoba ilustrasikan bahkan sejak dimulainya karya Levi-Strauss. Tulisan ini hendak  menelaah teori-teori tersebut dan memahami apa yang sesungguhnya dimaksudkan dengan “bahasa” dalam konsep citra visual.

Sebagaimana kita tahu, jika kita hendak membaca teks literer di dalam sesuatu bahasa tertentu maka kita harus memelajari signs dan codes – yakni huruf dan kata-kata— dari bahasa tersebut.  Itulah sebabnya, untuk bisa membaca gambaran visual yang muncul di dalam film dan televisi, kita juga harus memelajari atau memahami signs dan codes dari media film. Dalam tulisan ini akan diuraikan garis besar codes untuk membentuk pemahaman mengenai bagaimana grammar di dalam film itu. Selanjutnya, tulisan ini akan menyajikan garis besar persamaan dan perbedaan antara visual dan bahasa ujaran, sehingga bisa dipakai dalam meneliti semiotik sinema.

The Beginning of Semiotics

Kita perlu mengetahui apa dan bagaimana perdebatan di antara para semiotikus ketika mereka mengeksplorasi isi film yang tak lain dibangun melalui bahasa. Para semiotikus selalu lekat dengan pendekatan khusus dalam kajian seni sebagai suatu bahasa.

Kata “semiotics”… ..bisa diartikan teori tentang tanda. Linguistik termasuk dalam teori itu, karena ada teori bahasa-sebagai-sebuah sistem tanda. Semiotik film, sama halnya, teori tentang film-sebagai-sebuah sistem tanda (Braudy, 1998:90)

Teori semiotik tentang film bisa dilacak balik pada teori linguistiknya Ferdinand de Saussure yang  menggunakan bahasa sebagai metode analisis ( Monaco, 1981:417). Saussure berpendapat : “that language material creates meaning but that has no meaning in itself”.

Mentransfer langsug teori semiotic literer ke dalam film yang visualistis itu, terbukti senantiasa membawa persoalan tersendiri, karena menurut Saussure, sinema bukanlah tanda konvensional sebagaimana  kata-kata. Saussure berpendapat bahwa di dalam sinema penanda itu hampir-hampir  identik dengan penanda. Demikianlah misalnya, citra visual sebuah mobil sangat dekat dengan obyek nyata ketimbang dengan kata “mobil” ( Thomas, 1995:2). Kita telanjur belajar bahwa kata “mobil” itu “identik” dengan gambaran mengenai mobil, namun tanpa pemahaman  linguistik (bahasa Indonesia)  maka kata “mobil” hanyalah kumpulan huruf  m-o-b-i-l tanpa memahami apa maknanya.

Konon, sebelum semiotiknya Saussure, seorang filsuf Amerika C.S. Peirce telah mengembangkan semiology, yang memiliki perbedaan dibanding konsepnya Saussure. Peirce membedakan adanya tiga  kategori signs : the iconic sign, the idenxical sign dan the symbolic sign.

The Theories of Christian Metz

Christian Metz

Christian Metz

Mari kita awali pengenalan kita dengan menyimak beberapa teori dan pernyataan yang dikemukakan oleh Christian Metz, yang pendekatannya terhadap sinema mungkin menjadi salah satu yang sangat menyeluruh dan menarik dilihat dari sejarah teori film. Metz meyakini adanya pendekatan linguistik pada sinema, namun untuk bisa melandasi kajian mengenai film sebagai sebuah linguistik, maka pemahaman mengenai linguistik itu perlu didefinisikan ulang.

Segala bentuk komunikasi pada dasarnya adalah bahasa, namun bahasa Belanda, Inggris dan Spanyol misalnya, adalah ‘ sistem bahasa”, demikian Metz ( Monaco, 1981:157). Itulah sebabnya sinema bisa dikatakan sebagai sejenis bahasa namun itu bukanlah sistem bahasa. Seperti yang ditegaskan oleh Metz: “It is not because the cinema is a language that it can tell us such fine stories, but rather it has become a language because it has told such fine stories” (Metz 1991; 47).

Metz berpendapat bahwa film itu adalah sebuah sinema, sedangkan novel adalah literatur. Lebih jauh, Metz mengindikasikan bahwa denotasi itu dikaji sebelum konotasi. Menurutnya, denotasi –lah yang merupakan basic dari material sinematik, karena ia hadir, dan ia tidak perlu diinterpretasikan. Denotasi adalah citra imaji yang menghasilkan sebuah cerita.

Konotasi senantiasa menjadi yang ‘kedua’, demikian katanya, karena apa yang dikonotasikan oleh citra visual tidaklah secara langsung dihadirkan di dalam materi dasar sebuah film dan konotasi hanyalah salah satu bagian yang diindikasikan oleh denotasi ( Braudy, 1998:91).

Metz berpendapat bahwa tidak ada satuan di dalam film yang setara dengan kata di dalam bahasa. Imaji, yang ia yakini sebagai satuan terkecil di dalam sinema, sudah ber-ada dalam level yang setara dengan kalimat atau paragraf. Kenyataan inilah yang mendorongnya untuk membandingkan sebuah ‘shot’  dengan sebuah ‘kata’, yang menggambarkan hubungan kuat antara film dengan semiotika lingusitik.

Apa yang  ingin dikemukakan oleh Metz adalah : bahwa di dalam literatur anda bisa membayangkan, anda bisa menciptakan gambaran visual anda sendiri, sementara di dalam sinema anda tidak bisa melakukan itu, karena gambaran alias imaji itu sudah hadir dan dipilihkan untuk anda. Misalnya, tidak banyak pembaca  trilogi The Lord of the Rings yang akan menciptakan gambaran visual yang sama mengenai sosok Frodo, sebagaimana telah diciptakan oleh sang sutradara di dalam filmnya.

Dalam konteks ini, film tidak mengindikasikan: ia menyatakan. Ia menaruh gambaran visual tepat di depan kita. Metz menjelaskan bahwa semua pengguna bahasa Inggris dalam usia tertentu telah memelajari kode-kode yang berlaku dalam bahasa Inggris — mereka bisa menciptkan sesuatu kalimat tertentu. Meski demikian, ia mengatakan bahwa sinema tidak menghadirkan bahasa yang telah ada sebagai sebuah kode, karena kemampuan untuk menciptakan sinema lebih dilandasi oleh bakat dan pelatihan ( Stam 2000:111). Metz menulis “…when a ‘language’ does not already exist, one must be something of an artist to speak it, however poorly. For to speak it is partly to invent it, whereas to speak the language of everyday is simply to use it” (Monaco 1981; 163).

Salah satu teori Metz mengatakan, film dibentuk melalui rangkaian satuan bagian terkecil yang ia sebut sebagai syntagmas. Misalnya:”…. rangkaian dari berbagai sudut pandang mengenai sebuah rumah…bisa dibentuk menjadi apa yang Metz sebut  a descriptive syntagma — menggambarkan bagaimana wujud rumah itu sebenarnya dan tidak dihadirkan sebagai sesuatu yang tidak sungguh ada dalam sesuatu waktu tertentu ( Braudy, 1998:92). Dengan cara demikian maka syntagmas bisa didefinisikan sebagai dasar dari sebuah montage dan bagaimana montage itu kemudian diramu sedemikian rupa.

Perbedaan lain antara sinema dengan bahasa verbal adalah bahwa di dalam sinema seseorang bisa dialihkan  menuju tren yang baru, misalnya, berkat adanya teknologi atau melalui keputusan terkait dengan sisi artistik. Itulah yang diperkenalkan oleh Dogme95, misalnya, yang menciptakan pembaharuan di dalam bahasa sinematik dengan memangkas semua hal terkait pemolesan dalam film dan hadir ke tengah audiens dengan sebuah ‘kebenaran’

Meski seperti yang disimpulkan Metz bahwa sinema tidaklah identik dengan ‘sistem bahasa’, karena dia meyakini bahwa sinema tidak memiliki unit terkecil dan berartikulasi ganda,  akan tetapi dalam film masih terlihat jejak sistematisasi yang memiliki kemiripan dengan bahasa.  Dengan cara yang sama seperti bahasa literatur mengekspresikan dirinya melalui material tulisan, sinema  mengekspresikan dirinya sendiri melalui : citra fotografis yang bergerak, vokal suara yang terekam, suara musik yang terekam dan naskah.  “Cinema is a language…an artistic language, a discourse or signifying practice characterised by specific codifications and ordering procedures” (Stam 2000; 112). Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa ketika kita belajar untuk memahami film, kita secara otomatis belajar untuk men-decode citra visual juga. (Bersambung)

*) tulisan ini hanyalah review semata, hak cipta sepenuhnya akan isi karya  dalam bahasa Inggris ada pada ©Jensen, Rikke Bjerg(2002). Do we learn to ‘read’ television and film and do televisual and filmic codes constitute a ‘language’?

http://www.phillwebb.net/history/Twentieth/Continental/(Post)Structuralisms/Structuralism/Metz/Metz.htm