STUDI FILM dalam PERSPEKTIF PSYCHOANALYSIS

Abstrak

Paper ini membahas mengenai studi film dalam perspektif psychoanalysis. Uraian dibagi menjadi dua bagian. Pertama: mengenai fantasy dan psychoanalysis. Bagian ini mengeksplorasi mengenai aspek-aspek  psikologis yang terlibat ketika seseorang berinteraksi dengan film. Kedua : membahas aplikasi teori psychoanalysis dalam studi film sebagai teks.

————–

Keyword: fantasy, psychoanalysis, studi film.

Fantasy dan Psychoanalysis

 Konsep “fantasy” dalam paper ini dipakai untuk menggambarkan dan menganalisis fiksi utamanya terkait dengan aspek “dreams”, “imaginations” dan “subconscious” dari sebuah dunia penceritaan yang secara signifikan berbeda dengan pengalaman keseharian. Secara umum film memang senantiasa dikaitkan dengan “dream”. Itulah sebabnya Hollywood acapkali disebut sebagai pabrik mimpi karena memang mereka mampu mewujudkan mimpi yang terpendam, yang tidak nyata menjadi sesuatu yang “nyata“ dalam sebuah film

Pendekatan psychoanalysis terhadap film (dan televisi) mencoba mengkesplorasi apa yang sebenarnya mendorong orang menonton citraan dalam layar tersebut. Freud (dalam Mulvey,1989)berpendapat salah satu  hasrat atau dorongan  pokok yang ada dalam diri manusia adalah dorongan untuk melihat. Dorongan itu disebut “scopophilia’ (dari kata bahasa Yunani yang menggambarkan kegemaran untuk mengamati/melihat). Hasrat itulah yang mendorong orang begitu mengejar kenikmatan  dan kepuasan dalam aktivitas “melihat”. Salah satu aspek dari “scopophilia” adalah “voyeurism”, yaitu hasrat untuk melihat sesuatu hal secara tersembunyi (diam-diam) atau mengintip secara rahasia apa yang dilakukan seseorang. Rupanya inilah salah satu  yang dipuaskan oleh film (atau tayangan televisi).  Penonton jatuh dalam fantasy bahwa aktris  yang tengah dia lihat adalah orang yang benar-benar nyata yang sedang berakting di depan kamera (namun dengan anggapan si aktris itu tidak sadar bahwa dia sedang dishooting). Penonton seakan menyaksikan tindakan aktris itu dari kejauhan dan dalam konteks bioskop tentu suasananya gelap penuh misteri.  Si penonton memilih untuk percaya bahwa saat itu dia diijinkan untuk boleh melihat hal-hal yang paling pribadi yang dilakukan oleh si aktris, jauh dari kemungkinan yang bisa dilihat dalam situasi keseharian terhadap aktris di layar tersebut. Hal yang demikian itu cocok sekali dengan karakter “melihat” dalam sifat voyeurism yang  ditandai dengan adanya “jarak” (si pengamat dalam keadaan tertentu memang berjarak dengan objek yang diamatinya) dan “ bersifat rahasia” ( si obyek yang diamati tidak mengetahui kalau sedang diamati dan tidak fokus ke pengamat). Kombinasi antara distance (jarak) dengan rahasia itulah yang mengarah pada sensasi bisa mengontrol dan mengobyektivikasi.

 Selain voyeurism ada lagi aspek scopophilia yakni fetishistic.  Fetishistic scophilia di sini lebih berarti keadaan terikat pada kenikmatan mengamati daripada mengontrol dan mengobyektivikasi  sebagaimana dalam voyeurism di atas. Ketika sedang menonton film, seringkali yang menjadi obyek  fetishistic  (umumnya adalah bagian tertentu dari tubuh atau pakaian) mendapat sorotan kamera secara close up dan mengeksploitasi kecantikan si obyek yang diamati. Freud mengingatkan bahwa obyek fetishistic adalah pengganti dari sesuatu yang menjadi dambaan seseorang, namun dalam kenyataannya tidak memungkinkan untuk bisa diraih atau dimilikinya. Misalnya obyek fetis berupa kain sutera dan pakaian dari bahan bulu binatang dianggap sebagai sesuatu yang mewakili sensasi meraba kulit atau rambut seseorang. Dalam film There’s Something About Mary digambarkan obyek fetish berupa sepatu yang tengah dikenakan oleh Cameron Diaz.  Fetish sepatu seringkali dipakai sebagai analogi antara adegan memasukkan kaki dalam sepatu dengan tindakan “sexual intercourse”.

Penggambaran di atas menambah dimensi makna penggunaan istilah “fantasy” dalam analisis teks media. Fantasy pada dasarnya adalah sesuatu yang tidak nyata, produk dari apa yang kita impikan atau imajinasikan. Satu hal yang paling mengasyikkan dari sebuah cerita film dan televisi adalah karena media ini memberi kesempatan kepada pembuat film dan penontonnya untuk hidup di alam yang paling liar dengan fantasy yang paling ekstrem sekalipun.  Hal yang demikian inilah yang menimbulkan kontroversi utamanya terkait dengan representasi seksual dan kekerasan dalam film. Sebagian ahli berpendapat representasi kekerasan bisa mendorong orang untuk meniru dan melakukan sebagaimana digambarkan dalam film. Ahli lain membantah karena, pertama, penonton mampu membedakan apakah yang ditontonnya itu nyata atau tidak. Kedua, cerita tersebut justru bisa menjadi saluran atas ekspresi kecenderungan dalam diri kita dengan cara yang aman. Argumen pada poin kedua itu konkritnya begini, melihat kekerasan dalam film justru memberi kesempatan pada kita untuk mengeksplorasi sekaligus memahami kecenderungan, misal kekerasan, yang mungkin ada dalam diri kita. Tidak banyak dari kebanyakan orang itu pembunuh, namun kebanyakan dari kita, dalam satu kesempatan dalam hidup kita memimpikan “pembunuhan” atau setidaknya menyerang seseorang. Memahami dan melihat sisi gelap dan yang kita tekan untuk tidak muncul  dalam diri kita itu seakan mendapat salurannya melalui tontonan yang senada dengan itu. Menghindari kesempatan yang ada dalam diri kita untuk mengeksplorasi sisi gelap dalam diri kita hanya akan menekan kecenderungan itu lebih dalam; dan itu malah tidak sehat. Cerita film dalam batas tertentu memberi kesempatan kita untuk ber-action — dalam imajinasi — segala sesuatu kemungkinan tindakan yang akan kita lakukan, untuk mengujinya, atau untuk mengetahui apa akibatnya jika dilakukan ini dan itu.

Menjelaskan mengenai bagaimana fantasy kita dimainkan dalam layar, Perkins (dalam O’Shauhnessy dan Stadler, 2002:168) menganalogikan penonton itu seperti pengamat berperan serta (participant observer). Perkins mencatat, bahasa film, cara pengungkapan kisahnya, memungkinkan penonton itu merasa seolah terlibat dalam cerita yang ditampilkan dalam layar. Penonton seakan menjadi bagian  dalam aksi laga yang ekstrem dengan emosi yang mendalam — pembunuhan, dibunuh, bercinta, kebut-kebutan mobil dan seterusnya. Meski demikian, di sisi lain kita (baca penonton) masih menyadari bahwa sedang menonton film; sebagian dari kita masih “sadar” sekaligus masih bisa mengamati baik apa yang sedang ditonton maupun yang terjadi dalam diri kita sejauh pengalaman kita dalam situasi tersebut. Dengan kata lain, kita secara bersamaan adalah pengamat sekaligus pelibat (partisipan). Sinema lalu menjadi tempat bermain di mana kita bisa merasakan segala macam emosi, dan pada saat yang sama kita merefleksikannya dengan cara kritis dan rasional bagaimana sesungguhnya emosi tersebut, dan bagaimana konsekuensinya terhadap diri kita maupun terhadap orang di sekeliling kita. Tempat latihan ini sekaligus menjadi arena dalam mencari kesenangan dan pembelajaran.

Sutradara film surealis, David Lynch dan David Cronenberg, mengatakan film surealis yang di luar kenyataan sehari-hari memungkinkan kita menguji perasaan dan pengalaman manusia ke titik yang paling paling dalam. Bagi pecintanya, aspek penceritaan surealis adalah bagian yang paling mengasyikkan dari narasi film dan televisi.  Akhirnya, bisa dikatakan bahwa film mampu memainkan peran dalam mempertontonkan kemungkinan-kemungkinan yang paling tidak realistis sekalipun.

Kritisisme psikoanalitik

FREUD

Sigmund Freud

Mengutip Freud dengan gagasan scopophilia di atas seakan menegaskan bahwa psycoanalysis dapat diterapkan di dalam analisis teks baik sastra, film maupun televisi.  Dalam studi film penerapan teori psychoanalysis dalam teks sering disebut kritisisme psikoanalitik.

Kritisisme psikoanalitik adalah bentuk aplikasi psikoanalitis yaitu ilmu pengetahuan yang menaruh perhatian pada interaksi dari proses-proses kesadaran dan ketidaksadaran dan dengan hukum-hukum pemfungsian mental.

Sebelum Sigmund Freud sudah ada para filsuf seperti Plato, Nietzsche, Bergson dll. yang membicarakan tentang kesadaran. Gagasan awal itu kemudian dikembangkan sepenuhnya oleh Freud.

Siapakah Freud?  Selain sebagai pionir dalam aliran psychoanalysis, Freud dikenal sebagai orang yang tertarik untuk membantu orang, tetapi di bidang karirnya yang luar biasa dia juga menulis dongeng/cerita rakyat, humor, dan teater. Salah satu kutipan dari Freud tentang alam bawah sadar kita simak di sini: “Apa yang ada dalam benak anda tidak identik dengan apa yang anda sadari, apa yang terjadi di dalam pikiran anda dan apa yang anda dengar darinya adalah dua hal yang berbeda”

Ini berarti kita tidak sepenuhnya mengendalikan diri kita setiap waktu, kita dipengaruhi oleh cara yang sulit untuk kita mengerti dan kita melakukan sesuatu untuk alasan yang tidak kita mengerti atau kita tidak mengakui diri kita sendiri.

Marilah kita pahami konsep di atas dengan perumpamaan gunung es. Kehidupan mental seseorang dapat dilihat sebagai gunung es. Puncak gunung es yang terlihat di air adalah bagian kesadaran seseorang. Sisa dari gunung es adalah bagian yang terbesar dan tidak terlihat—itulah kira-kira ketidaksadaran. Pendeknya, kita tidak sepenuhnya makhluk yang rasional yang bertindak pada basis logika dan kecerdasan,namun sebaliknya justru emosional dan hal lain yang tidak rasional atau irasional.

Sejalan dengan gambaran di atas, Ernest Dichter dalam bukunya The Strategic of Desire 1960  (dalam Berger 2000) mengatakan “…. banyak keputusan keseharian kita diperintah oleh motivasi yang tidak kita kendalikan dan yang sering kita tidak sadari”

Bagaimana gambaran ketidaksadaran itu bisa kita tangkap dalam sebuah ilustrasi atau visualisasi film? Coba anda ingat, pernahkan melihat satu adegan film (biasanya film koboi atau gangster) tentang aktornya yang memain-mainkan korek api?  Mungkin kebanyakan kita hanya melihat scene itu sebagai sekedar permainan korek api untuk merokok, padahal kalau kita telusuri kegemaran akan korek api itu terkait dengan “keinginan untuk menguasai dan kekuatan. Kapasitas untuk memanggil api, tidak terelakkan memberikan tiap manusia, anak-anak atau orang dewasa, rasa kekuatan. Api dan kemampuan untuk memerintahkannya merupakan suatu berharga karena mereka diasosiasikan tidak hanya masalah kehangatan, tetapi juga dengan kehidupan itu sendiri.

Jadi korek rokok menjadi penting bagi orang karena korek penuh dengan kekuatan, tetapi (merupakan) keinginan dan hasrat yang tidak disadari.

 

ID, EGO dan SUPEREGO

Konsepsi Freud tentang alam bawah sadar dan kemudian menjadi sangat terkenal adalah struktur kepribadian  yang terdiri dari Id, ego dan super ego. Ketiganya itu adalah bagian dari apa yang seringkali dihubungkan dengan hipotesis struktural Freud tentang pemfungsian mental.

Id perupakan representasi kejiwaan dari suatu dorongan. Sedangkan Ego terdiri fungsi-fungsi yang berkaitan dengan hubungan individu dengan lingkungannya. Sementara Superego terdiri dari aturan moral pikiran kita sebagaimana suatu aspirasi atau masukan ideal kita. Id dan superego berperang satu dengan yang lain, sementara ego mencoba untuk menengahi di antara dua hal tersebut — antara keinginan untuk kesenangan dan ketakutan untuk hukuman, antara dorongan dan kesadaran

Freud dalam New Introductory Lectures on Psychoanalysis mengemukakan Id…sebagai kekacauan, semacam kancah untuk melakukan kesenangan. Insting tersebut penuh dengan energi, tetapi tidak memiliki organisasi dan tidak akan menyatu, hanya keinginan hati untuk mendapatkan kepuasan bagi keinginan instingtual, berkaitan dengan prinsip kenikmatan….

Brenner (1974, dalam Berger, 2000) mencatat superego berhubungan dengan  fungsi moral dari kepribadian. Super ego memainkan peran :

1.Persetujuan dan ketidaksetujuan dari tindakan dan harapan dengan dasar ralat

  1. Observasi diri yang kritis
  2. Penghukuman diri
  3. Permintaan untuk perbaikan atau penyesalan untuk hal yang salah
  4. Memuji diri sebagai penghargaan atas budi luruh atau pemikiran dan tindakan yang diinginkan

 

Apa kaitannya konsep di atas dalam analisis teks media? Kita dapat menggunakan konsep-konsep dari id, ego dan superego untuk membantu kita memahami teks. Di dalam suatu teks, karakter-karakter yang ada mungkin dapat dilihat dari figur id yang penting, atau figur ego ataupun figur superego.

 

SIMBOL-SIMBOL

Psikoanalisis adalah seni interpretasi. Psikoanalisis berupaya mencari makna perilaku orang dan seni yang mereka ciptakan (film).

Satu cara yg dapat kita lakukan untuk menerapkan teori psikologi adalah dengan memahami bagaimana kerja kejiwaan dan memelajari bagaimana menginterpretasikan hal penting yang tersembunyi dari apa yang dilakukan orang dan peran fiksi (film).

Misal : Kita bisa mengajukan pertanyaan apa makna yang dikatakan Hamlet tentang ini dan itu? Atau … Apa artinya ketika Hamlet tidak mampu bereaksi? Kita ingin tahu mengapa.

Dari hal itulah muncul simbol-simbol. Simbol adalah sesuatu yang berdiri/ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan di antaranya tersembunyi dan setidaknya tidak jelas. Simbol berhubungan dengan ketidaksadaran. Simbol adalah kunci yang memungkinkan kita untuk membuka pintu yang menutupi perasaan-perasaan ketidaksadaran dan kepercayaan kita melalui penelitian yang mendalam.

 

Kesulitan menginterpretasi symbol.

Simbol seringkali ambivalen dan dapat dijelaskan dengan cara yang bervariasi bergantung pada orientasi seseorang. Klasifikasi simbol :

1.Konvensional (kata-kata yang kita pelajari untuk menyebut/menggantikan sesuatu )

2.Aksidental ( sifatnya individual,tertutup dan berhubungan dengan sejarah hidup seseorang)

3.Universal ( berakar dari pengalaman semua orang )

Analisis simbolis ini bisa diterapkan dalam mimpi-mimpi yang menjadi gambaran visual seperti dalam film, televisi bahkan komik. Pertanyaan yang diajukan : apa yang sedang terjadi? Apa yang dikatakan di sana? Kepuasan apa yang kita peroleh? Apa yang dikatakan/diceritakan kepada kita oleh bermacam simbol kepahlawanan tentang diri kita sendiri dan masyarakat kita?

 

MEKANISME PERTAHANAN DIRI

Konsepsi Freud tentang teori psychoanalysis lainnya adalah mekanisme pertahanan diri. Mekanisme pertahanan diri variasi teknik yg dipergunakan ego untuk mengendalikan insting dan mencegah keinginan.  Konsep ini kalau disimak juga seringkali digunakan sebagai tematik atau grand narasi sebuah cerita film. Kita bisa menganalisis mengenai tema-tema itu dengan mempelajari kategori mekanisme pertahanan diri di bawah ini:

  • Ambivalensi

Perasaan simultan tentang cinta dan kebencian atau atraksi dan penarikan/pemunduran kepada orang atau obyek yang sama. Kadangkala perasaan tersebut berubah dengan cepat kepada orang yang mengharap dapat memuaskan harapan yang kontrakdiktif.

  • Penghindaran

Menolak untuk terlibat dengan subyek yang menyusahkan/menyedihkan karena mereka berhubungan dengan ketidaksadaran seksual atau dorongan seksual.

  • Penyangkalan atau penolakan

Menolak untuk menerima realitas dari sesuatu yang membangkitkan kegelisahan dengan memblokirnya dari kesadaran atau menjadi terlibat dengan fantasi penuh.

  • Fiksasi/perasaan mendalam

Keasyikan yang obsesif atau memisahkan dari sesuatu, umumnya sebagai hasil dari beberapa pengalaman traumatik.

  • Identifikasi

Keinginan untuk menjadi “seperti” orang lain atau sesuatu di dalam beberapa aspek dari pemikiran atau perilaku.

  • Proyeksi

Upaya untuk menyangkal perasaan diri sendiri yang negatif atau bermusuhan dengan menghubungkan ke orang lain. Jadi seseorang yang membenci seseorang akan memproyeksikan kebencian tersebut kepada orang lain, dan menerima bahwa seseorang tersebut adalah seseorang yang dibenci.

  • Rasionalisasi

Penawaran alasan logis atau alasan perilaku yang dibangkitkan oleh ketidaksadaran dan faktor-faktor penting  yang irasional

  • Formasi reaksi

Hal ini terjadi ketika bagian dari sikap-sikap ambivalen menimbulkan persoalan, sehingga satu elemen ditekan dan dibuat tidak sadar dgn menekankan pada hal lain (kebalikannya), meskipun hal tersebut tidak hilang.

  • Regresi /kemunduran

Kembali ke tahap awal di dalam perkembangan kehidupan ketika berkonfrontasi dengan  ketegangan/stress atau kegelisahan – pada situasi yang memprovokasi.

  • Represi

Menunjukkan kesadaran tentang ketidaksadaran harapan instingtif, memori, keinginan dan sebagainya. Hal ini berhubungan dengan mekanisme pertahanan yang paling mendasar

  • Supresi

Bertujuan untuk meletakkan di luar pikiran dan suatu kesadaran yang dirasakan individu sebagai menyakitkan.

 

References :

Berger, Arthur Asa. 2000, Media Analysis Techniques, 2nd edition. Terjemahan Setio Budi HH. Yogyakarta : Penerbit Universita Atma Jaya.

O’Shaughnessy, Michael  dan Jane Stadler. 2002. Media and Society an Introduction  Second  edition. New York: Oxford University Press.

Mulvey, L. 1985. “Visual Plesure and Narrative Cinema”. B.Nicholas (ed). Movies and Methods Vol  2.California : University of Califprnia Press.

 

 

Iklan

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 26 November 2017.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: