Dampak Media Sosial dan Pentingnya Re-konseptualisasi Komunikasi Massa

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dalam sebuah ajang konferensi tingkat tinggi di U.S. Institute of Peace, September 2011, para ahli media sosial beserta penentu kebijakannya mengidentifikasi beberapa isue terkait peranan media sosial di dalam konteks politik  meliputi : tantangan untuk memahami lebih jauh media sosial karena tersedia data yang berlimpah melalui media ini; kesulitan di dalam menginterpretasi secara efektif informasi yang dikomunikasikan melalui platform media sosial; kenyataan bahwa media sosial sedang  membentuk kembali bahasa manusia; upaya menyeimbangkan antara kejujuran media sosial sebagai sarana opini publik dengan anonimitas dan resiko adanya informasi menyesatkan yang dikomunikasikannya;  potensi pengaruh coorporate yang dominan di dalam platform media sosial; dan penerapan media sosial baik di dalam situasi konflik maupun damai ( Scheillinger, 2011).  Meskipun analisis mengenai pengaruh media sosial di dalam politik telah mulai berkembang mulai 2008 yakni sejak terpilihnya Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat ( Mettzgar, 2009) dan ditandai pula dengan pentingnya Arab Spring tahun 2010 di mana tindakan kolektif tidak saja dimungkinkan karena adanya media sosial, selain itu dunia bisa menyaksikan masyarakat yang nyaris senantiasa tertindas oleh rejim itu menuntut supaya suara mereka terdengar;  kita belum juga mampu menempatkan dampak media sosial secara tepat di dalam riset dan analisis komunikasi massa dan jurnalistik.  Selama dekade terakhi, telah tumbuh komunitas peneliti dan analis “new communication technology”; meski demikian, kita tidak lagi bisa memperlakukan analisis terhadap teknologi komunikasi baru – apapun bentuknya— sebagai bagian terpisah di dalam riset.  Sebaliknya, peneliti, para ilmuwan dan praktisi seharusnya mengadopsi sebuah pendekatan “yang lebih melihat keterlibatan masyarakat dalam media”  untuk memahami komunikasi massa dan jurnalisme. Mirip dengan ketika lahir industri percetakan yang secara revolusioner mengubah budaya literer dan bagaimana kemudian masyarakat memeroleh pengalaman dunianya di masa lalu; kita kembali berada di dalam persimpangan antara teknologi dengan perubahan di dalam pengalaman komunikasi manusia.

Pentingnya pendekatan terpadu – yaitu, yang merengkuh baik media tradisional maupun media baru — ke dalam komunikasi massa dan jurnalisme tampaknya sudah mulai dirasakan ditengah perkembangan berbagai sub domain disiplin kita. Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa di belahan dunia tertentu lambat laun orang makin terpisahkan dari struktur sosio-kultural tradisional seperti lembaga gereja, komunitas lokal, dan organisasi massa lainnya; meski demikian, mereka masih mengikuti isue-isue yang diyakini memengaruhi diri mereka. Mengenai hal ini, Bennet dan Segerberg (2011) berpendapat bahwa media sosial tidak saja menyediakan platform yang mengatur orang terkait dengan isu yang menjadi pusat perhatian, melainkan juga mendorong personalisasi akitivitas yang dipicu oleh meningkatnya keterlibatan yang semakin tingggi di dalam media sosial, terfokus pada suatu agenda tertentu, dan terimbas kekuatan jaringan. Semakin hari semakin banyak bukti yang mengindikasikan perubahan sosial tidak hanya berakar dari politik ( Wilson,2011) dan budaya kaum muda ( Besley, 2011) melainkan disebabkan oleh meningkatnya manfaat (media sosial)  sebagai alat di dalam menciptakan komunitas peminat di sekitar isu seperti misal : kesehatan (Geoghegan, 2011), iklan dan pemasaran (Yang,Liu dan Zhou, 2012), dan tentu saja jurnalistik ( Stassen, 2010).  Semakin banyak bukti mengenai indikasi bahwa jika kita tidak  memerhatikan pengaruh media sosial terhadap komunikasi massa, maka kelihatannya kita akan kehilangan jejak pada potongan penting dari teka-teki ini.

Meski demikian, tidak cukup tampaknya jika hanya memperhitungkan media sosial atau the platform de jour, kita mungkin perlu memfokuskan pada paradigma kita terhadap komunikasi massa dengan lebih menekankan pada aspek keterlibatan diri (individu di dalam media).  Kenyataanya, penelitian  dan kritik kita akan lebih mendapat manfaat dengan memfokuskan utamanya pada model relasi di dalam masyarakat dari dua jalur simetrik komunikasi yang dicirikan dengan kolaborasi, kompromisitis, dan pendengaran ( Feighery, 2011). Ini berarti karena kita mempertimbangkan dampak media sosial, maka kita perlu melakukan analisis dan mengukur dengan cara bagaimana individu dan organisasi secara efektif menggunakan media sosial sebagai sarana melibatkan diri ketimbang dengan pendekatan yang mengukur dan menganalisis komunikasi massa sebagai sarana penyebaran informasi tradisional.  Dengan demikian, pengukuran terhadap dampak dan pengaruh mirip dengan memandang pesan sebagai sesuatu yang menyebarkan virus ( Metzgar, 2009), atau dengan tepat menyesuaikan pesan di antara pemahaman tradisional dan media baru (Dennis, Fuller,dan Valachich, 2008) karena dengan cara ini agaknya lebih akurat mencerminkan bagaimana cara orang dalam keseharian menggunakan kampanye massa dan artikel (Yang,Liu dan Zhou, 2012). Dengan sederhana kita katakan, jika kosa kata dan cara kita memandang dunia dan tempat kita berpijak itu berubah, maka pendekatan kita di dalam penelitian dan kritik komunikasi massa serta jurnalisme juga harus berubah.

Hal demikian bisa jadi akan menyebabkan implikasi yang luar biasa terhadap teori tradisional dan bahkan metode riset yang akan kita gunakan, atau bisa juga dampaknya tidak sebesar perkiraan kita; meski demikian ada petunjuk  kuat yang harus kita perhatikan bahwa kita harus melakukan kajian mengenai faktor-faktor yang menyebabkan adanya asumsi bahwa perilaku, kekuasaan dan tindakan kita benar-benar disebabkan oleh perubahan abad teknologi. Mulai dari politik sampai relasi dalam masyarakat dan dari kejadian sehari-hari hingga keadaan krisis komunikasi, sesungguhnya mengindikasikan kita untuk melakukan rekonseptualisasi komunikasi sehingga menuju pada sebuah engagement paradigm.

Diadaptasikan dari :

Diers, Audra R. 2012. “Reconceptualizing Massa Communication as Engagement : The Influnce of Social Media” . J Mass Communication Journalism.  Vol 2.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 3 Juni 2014.

Satu Tanggapan to “Dampak Media Sosial dan Pentingnya Re-konseptualisasi Komunikasi Massa”

  1. Reblogged this on Dhea Qotrunnada and commented:
    izin reblog lagii🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: