MENGENAL CRITICAL THEORIES : The Frankfurt School & Jurgen Habermas

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Tradisi Marxist yang paling lama dan terkenal adalah Frankfurt School. The Frankfurt School merupakan tradisi terpenting di dalam critical studies dan kemudian tradisi ini seringkali disebut   critical theory.  Teori ini pada mulanya mendasarkan gagasan pokoknya pada pemikiran Marxist, meskipun dalam perjalanan lima puluh tahun terakhir telah mengalami pergeseran cukup berarti dari asal usul teorinya.  Komunikasi memiliki peran sentral dalam gerakan tersebut, dan  komunikasi massa menjadi area studi yang sangat penting ( Baca Kellner, 1995:162-177; Huspek, dalam Littlejohn 2001 :212).

Teori kritis dikembangkan oleh para pemikir seperti Mark Horkheimer, Theodore Adorno, Herbert Marcuse, dan para koleganya yang berkarya di bawah payung Frankfurt Institute for Social Research tahun 1923 ( Farrel & Aune,1979: 93-120). Kelompok pakar ini semula berpedoman pada prinsip-prinsip Marxist, meskipun tidak satupun dari mereka ini yang memiliki afiliasi dengan partai politik apa pun, dan karyanya lebih bersifat keilmiahan ketimbang sebuah gerakan. Dengan kelahiran the National Socialist Party di Jerman pertengahan 1930-an, para ilmuwan Frankfurt ini pun hijrah ke Amerika Serikat dan di sana semakin tertarik dengan komunikasi massa dan media sebagai  biang opresif di dalam masyarakat kapitalis.

Para ilmuwan Frankfurt pada awalnya bereaksi keras  terhadap idealisme klasikal ala Marxism dan kesuksesan revolusi Rusia. Mereka melihat kapitalisme sebagai tahap evolutionary  dalam perkembangan, pertama dari sosialisme dan kemudian komunisme. Ide mereka pada masa itu merupakan wujud kritik kerasnya terhadap kapitalisme dan demokrasi  liberal.

Jurgen Habermas

Jurgen Habermas

Semenjak  tahun-tahun permulaan, dalam Frankfurt School tidak ada kesepakatan mengenai teori yang menyatukan karakteristik pemikiran mereka.  Ilmuwan Frankfurt School kontemporer yang paling terkenal adalah Jurgen Habermas, yang teorinya mengenai universal pragmatics  dan transformasi sosial masyarakat telah diakui  sangat berpengaruh di daratan Eropa dan gaungnya masih berkembang terus di Amerika Serikat.  Habermas  merupakan juru bicara terpenting dari Frankfurt School saat ini. Teorinya menggambarkan luasnya pemikiran dan mewakili paduan  pandangan kritis tentang komunikasi dan masyarakat. Tulisan selanjutnya akan mengurai kontribusi penting pemikiran Habermas ini.

Habermas mengajarkan bahwa masyarakat harus dipahami sebagai perpaduan tiga kepentinganutama : kerja, interaksi dan kekuasaan.  Ketiga kepentingan itu sama-sama penting. Kerja, sebagai kepentingan pertama, meliputi kemampuan menghasilkan sumberdaya material. Karena sifatnya yang highly instrumental nature — yang hasilnya adalah objek-objek konkrit, maka kerja pada dasarnya adalah “technical interest”, kepentingan teknis.  Di dalamnya berlaku rasionalisasi instrumental dan diwakili oleh ilmuwan empiris-analitis.  Dengan kata lain, teknologi digunakan  sebagai alat guna mencapai tujuan praktis dan itu diasarkan pada riset ilmiah.  Misalnya desainer  komputer , pembangun jembatan, para ahli yang menempatkan satelite di dalam orbitnya, pelaku organisasi/ kementerian, dan para ahli dengan kemampuan penanganan medis.

Kepentingan utama kedua adalah interaksi, atau penggunaan bahasa dan sistim simbol komunikasi lainnya.  Karena kerjasama sosial merupakan suatu keharusan untuk bisa bertahan hidup, Habermas menyebut item yang kedua ini sebagai “practical interest” atau kepentingan praksis. Ini mencakup rasionalisasi praksis dan diwakili oleh ilmu pengetahuan historis dan hermeneutik.  Kepentingan interaksi dapat dilihat dalam berbagai pidato, konferensi, psychoteraphy, hubungan antarkeluarga, dan segala bentuk usaha kerjasama.

Kepentingan utama yang ketiga adalah power, atau kekuasaan.  Tatanan sosial biasanya mengarahkan pada pembagian kekuasaan, namun kita juga berkepentingan untuk terbebas dari dominasi. Kekuasaan cenderung mendistorsi komunikasi, namun dengan kesadaran akan ideologi yang mendominasi di dalam masyarakat, kelompok-kelompok bisa memberdayakan mereka sendiri menuju transformasi sosial.  Akibatnya, kekuasaan menjadi “kepentingan emansipatory”.  Rasionalisasi  yang terjadi dalam kepentingankekuasaan ini berupa ‘self-reflection’ dan jenis ilmu pengetahuan  yang berkaitan dengan hal ini adalah  critical theory. Menurut Habermas, jenis pekerjaan yang dilakukan oleh teoritisi kritis yang selanjutnya akan didiskusikan dalam bahasan nanti termasuk emancipatory  karena ia bisa memberdayakan kelompok-kelompok lain yang tidak memiliki kekuasaan.

Sebagai ilustrasi jenis-jenis kepentingandalam pekerjaan bisa kita lihat dari kajian yang dilakukan oleh Steven Early, yang melakukan survai klasifikasi pekerjaan di Negara Bagian Georgia di tahun 1970-an (Early, 1981) Pada saat itu, di Georgia terikat tanggung jawab untuk mengklasifikasikan 45.000 posisi pekerjaan. Menurut Early, hasilnya menunjukkan adanya communiction breakdown yang memprihatinkan.  Pemerintah mempekerjakan perusahaan konsultan untuk mengadakan survai yang sangat penting itu dan perencanaan telah  dibuat untuk memeroleh informasi tentang masing-masing posisi pekerjaan, mengembangkan spesifikasi pekerjaan dan mengklasifikasi posisi dan kemudian menentukan berapa besar gaji untuk tiap posisi pekerjaan.

Panduan teknis pekerjaan yang rigit telah dibuat untuk menjalankan survai tersebut.  Ada rangkaian tugas yang harus dilakukan oleh konsultan dengan menggunakan metode tertentu untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Mereka menerapkan seakan-akan tugas tersebut bisa diatasi dengan menggunakan prosedur scientific yang “objective” — pengumpulan data, klasifikasi pekerjaan dan sejenisnya.

Para karyawan dan departemen yang disurvai memandang metode yang dipakai dalam survai seharusnya tidaklah demikian.  Para konsultan ini  melihat studi  tersebut sebagai persoalan praktis, sesuatu yang memengaruhi kerja keseharian  dan gaji mereka. Sementara menurut kalangan departemen, di dalam pengumpulan data dan implementasi hasilnya harus  telah melibatkan interaksi dan sehingga menciptakan kesepakatan konsensus yang optimal; kenyataannya tidak demikian.

Karena mereka memiliki kekuasaan,kepentingan  teknis organisasi pengambil keputusan lebih diutamakan;  metode  konsultan dipaksakan diterapkan dan segala kepentingan praktis dieliminasi.  Dengan kata lain, para pekerja diharapkan mengikuti jalannya survai tanpa ada diskusi tentang apa sesungguhnya kebutuhan mereka dan persoalan praktis yang timbul seperti gangguan operasional, permasalahan management,  pertanyaan moral yang mungkin timbul karena adanya klasifikasi ulang pekerjaan tersebut.

Pendeknya, para partisipan tidak sama kedudukan di dalam kekuasaan dan pengetahuan, dan kepentingan para pekerja telah dikalahkan oleh pihak management. Kajian ini menggambarkan kurangnya semacam komunikasi terbuka seperti yang disinggung oleh Habermas bahwa  itu menjadi keharusan di dalam masyarakat yang bebas.  Alhasil, sistem klasifikasi yang baru itu tidak diterima oleh kalangan pekerja dan hanya bisa dilaksanakan sebagian setelah melalui penundaan berulang kali, melakukan kajian ulang, tuntutan hukum dan permohonan naik banding.

Kasus di atas menggambarkan, kehidupan manusia tidak bisa dijalankan hanya dengan menggunakan satu perspektif dari satu jenis kepentingan —kerja, interaksi atau kekuasaan.  Segala aktivitas tampaknya merupakan rentang dari ketiga kategori tersebut. Dengan demikian ketiganya sama-sama penting.

Contohnya, pengembangan obatan-obatan baru jelas merefleksikan kepentingan teknis, namun itu  tidak bisa dilakukan tanpa kerjasama dan komunikasi, dengan melibatkan  interkasi kepentingan juga. Di dalam ekonomi pasar, obat-obatan dikembangkan melalui kerjasama guna mencapai kemanfaatan yang kompetitif  yang  jelas merupakan kepentingan kekuasaan juga.

Tidak ada aspek kehidupan yang terlepas dari kepentingan, bahkan di dalam ilmu pengetahuan sekalipun. Masyarakat yang emansipatory terbebas dari dominasi yang tidak perlu dari kepentingan apapun dan setiap orang memiliki kesamaan kesempatan berpartisipasi di dalam pengambilan keputusan. 

Habermas  (1975) secara khusus menaruh perhatian pada dominasi kepentingan teknis di dalam masyarakat kapitalis kontemporer . Di dalam masyarakat semacam itu, wilayah public dan private saling beririsan sehingga mencapai satu titik di mana sektor publik tidak bisa bertahan  melawan penindasan private, yakni kepentingan teknis.  Idealnya, public dan private harus seimbang, dan sektor publik cukup kuat sehingga menciptakan iklim yang memberi kebebasan orang untuk mengekspresikan ide dan perdebatan. Di dalam masyarakat modern, meski demikian, iklim tersebut masih perlu diperjuangkan ( Bersambung ).

Referensi :

Early, Steven D. 1981. Communication, Speech and Publics : Habermas and Political Analysis. Washinto DC: University Press of America.

Farrell,  Thomas B & James A.Aune. 1979. “ Critical Theory and Communication: A Selective Literature Review “ Dalam Quarterly Journal of Speech hal 93-120.

Habermas, Jurgen. 1975. Legitimation Crisis. terj. Thomas McCarty. Boston : Beacon.

Kellner, Dauglas. 1995. “Media Communications vs Cultural Studies: Overcoming the Divide” Dalam Communication Theory 5  Hal 162-177.

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

 

Sumber foto : Sipa Press / Rex Features

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 6 Mei 2014.

Satu Tanggapan to “MENGENAL CRITICAL THEORIES : The Frankfurt School & Jurgen Habermas”

  1. […] dihasilkan dari percaturan di antara kelompok kepentingan dalam situasi yang terjadi setiap hari ( Bersambung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: