Serial Populer : Research for Beginner (2)

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Episode :  DARI DUGAAN MENUJU HIPOTESIS

Kira –kira tiga minggu lalu saya sudah memulai menulis dalam serial populer ini tentang hal ikhwal mengawali studi akhir alias menulis skripsi alias memenangkan keraguan melawan momok tugas akhir itu. Saya memulai bahasan tentang menentukan topik dan bagaimana mengawalinya dengan riset awal atau mengkaji penelitian terdahulu untuk itu. Bagian kedua ini saya akan menulis mengenai langkah awal memulai kajian teks media.

Subjek Kajian

Mungkin dari sekian banyak media yang bergentayangan di kehidupan kita, ada beberapa yang sering menggoda perhatian kita sehingga jadi pilihan riset.  Misalnya: film, program atau acara televisi dan musik. Meski tidak menutup kemungkinan media atau subjek lainnya juga tak kalah menarik, tapi setidaknya yang saya sebut itulah yang sering nongol di antara tumpukan proposal yang masuk di komisi skripsi dan siap untuk diadili apakah layak dilanjutkan “kasus”nya atau langsung masuk kotak.

Nah, antusiasme terhadap subjek kajian yang sudah tumbuh kadang  dibunuh oleh rasa ketidakpastian atau malah ketidaktahuan yang parah mengenai pilihan metode yang bisa dipakai. Namun, sebelum bicara mengenai pilihan metode alangkah baiknya anda rumuskan terlebih dahulu sebenarnya pertanyaan besar apakah yang akan anda jawab atau anda gali lebih mendalam  terkait dengan subjek kajian tersebut! Ok, silakan berpikir dulu bro, apa itu pertanyaan pokok yang mo dijadikan ‘sumber persoalan hidupmu selama pengerjaan skripsi’ ini.  Sementara anda berpikir, anda boleh menutup layar monitor ini…. saya akan melanjutkan menulis tentang konsep teks atau teks budaya itu terlebih dahulu.

Teks media

Apa yang saya contohkan di atas, yakni film, program televisi atau musik dalam dunia cultural studies lazim disebut sebagai media text  atau teks media. Studi terhadap teks menjadi bagian yang penting dalam wilayah kajian film, media dan cultural studies. Kalau di luar negeri sono nich, baik yang kelas undergraduated maupun yang graduated  sudah pasti memasukan analisis teks sebagai bagian penting dalam kurikulum yang ditawarkan. Kalau di mari, biasanya tidak disebutkan dengan eksplisit analisis teks, jadi masih malu-malu kucing gitu istilah itu muncul…paling pol disisipkan sebagai bagian pembahasan dalam matakuliah metode penelitian komunikasi, khususnya yang membahas ‘analisis media’.  Dalam tulisan episode ini, analisis teks menjadi pokok perhatian karena dari sana kita bisa mengetahui bagaimana sebuah teks itu bekerja.

Apa untungnya (atau tidak untungnya?) mengkaji teks

Pertama, teks itu sendiri sifatnya mudah ‘dibaca’. Mudah dikaji. Zaman digital dan teknologi telah memudahkan kita mencomot berbagai produk budaya itu dalam rupa misalnya, videotapes, CD-ROM, DVD dan seterusnya. Kalau misalnya, media itu program acara TV ya  tinggal di-capture begitu, asal modal storage-nya gede gampang urusannya.

Kedua, selain gampang dicari dan dianalisis barangnya, teks media itu adalah bagian dari kehidupan sehari-hari kita. Dalam bahasa keren-nya, teks media itu tidak lain adalah social phenonemon, suatu gejala sosial di mana di dalamnya seringkali didiskusikan para cendekiawan sebagai rekaman dari realitas sosial itu sendiri. So, mengkaji teks media lalu menguatkan argumentasi mengenai pentingnya relevansi kajian kita dengan realitas sosial yang tengah hangat terjadi di kehidupan ini.

Mengkaji teks akan menambah pemahaman kita mengenai cultural life— bagaimana makna teks itu, dan makna menjadi bagian penting dalam penggunaan media  (media use).  Tambahan lagi, ketika anda menganalisis suatu program acara televisi misalnya, anda bisa memperkirakan khalayak juga menikmati program acara tersebut, sehingga kita bisa mengetahui bagaimana frame of reference umum di kalangan penonton itu kayak apa.

Hampir sebagian besar bentuk teks media itu menyaratkan penelitinya untuk mengkajinya ( melihat, mengamati dan mencatat) secara berulang-ulang, sehingga mungkin ini yang membuat kajian terhadap teks media “tidak gampang” karena menuntut pengorbanan waktu yang tidak sedikit. Juga perlu antisipasi untuk memiliki record-nya, kalau itu siaran TV, sehingga ya itu tadi kita bisa berulang-ulang mengamati dan mencatatnya.

Nah, sekarang saya mulai menyinggung soal metode yang akan saya perkenalkan dalam tulisan ini. Hampir semua metode analisis yang akan kita pelajari ini sifatnya subjektif, yang melandaskan pada kemampuan kita membangun argumentasi dalam menangani tiap-tiap kasus. Semiotik misalnya, sudah pasti sangat interpretatif di mana pembaca yang berbeda tidak mungkin akan memiliki kesamaan interpretasi. Sementara metode analisis yang mendasarkan diri kecakapan analisis (interpretatif) memang menyaratkan penelitinya memilki kemampuan menulis yang lebih dari rata-rata. Artinya, jika memang anda merasa ketrampilan dalam retorikanya kurang maka sebaiknya anda memilih metode yang lain dech…. ( misal, pilih yang kuantitatif gitu!).  Tapi tunggu dulu, segala sesuatunya bisa dipelajari koq… termasuk dalam hal analisis tekstual yang interpretatif ini. Hal pertama yang perlu diingat bahwa  analisis tekstual yang baik memang sedikit banyak bergantung pada kemampuan menyajikan argumentasi yang memikat. Di sini anda bisa memamerkan kecakapan analisis namun dari sini jugalah anda akan kelihatan jika kurang terampil sebagai seorang yang ‘a good writer

Dari dugaan menuju hipotesis

Dalam bahasa Inggris hunch  bisa diartikan firasat atau dugaan atau anggapan.  Sinonim dengan feeling, persumption.  Ternyata sesuatu kata yang artinya ‘tidak ilmiah’ karena toh hanya dugaan itu punya peran penting di dalam studi analisis teks media. Mengapa ? Begini sejarahnya…. salah satu persoalan mendasar di dalam mengawali analisis interpretatif dalam kajian teks media adalah kemampuan kita membuat argumentasi mengapa kajian tersebut penting dilakukan. Disinilah persoalannya, bagaimana kita bisa bisa  berargumentasi bahwa sesuatu teks itu layak untuk ditliti padahal  kita  belum menelitinya? Untuk mengawalinya maka penting melakukan tahapan awal dalam analisis teks yaitu membangun argumentasi analitis itu. Taruh kata misalnya, kita memang beranjak dari dugaan atau hunch tadi. Ini sama dengan cara berpikir awam yang hanya menduga ini dan itu. Tapi pada saat pertama kali dugaan itu muncul, maka jangan langsung membuat proposal hanya berdasar pada hunch.  Sebaliknya, ujilah dulu dugaan itu dengan riset awal. Kita bisa membuat draft catatan, kita cari referensi ilmiah terkait dengan dugaan tersebut. Kita diskusikan dengan teman-teman atau dosen (yang tahu seluk beluk mengenai kajian teks media tentu!). Read, think, and write down your ideas on paper to see how they work ! Begitu istilah kerennya bro… dari situ anda bisa menyaring seberapa banyak yang anda akan kerjakan itu hanya dugaan berdasarkan perasaan atau dugaan karena memang anda punya basic knowledge mengenai teks media tersebut.

Misalnya, setelah sekian banyak anda menonton film-film science fiction futuristik maka anda punya dugaan jangan-jangan salah satu film  science fiction futuristik itu merepresentasikan teks feministik? Nah itu salah satu dugaan di antara sekian dugaan lain yang muncul. Kita tahu bahwa dalam riset ilmiah kita harus menaikkan derajad  sesuatu yang hanya dugaan itu menjadi sebuah hipotesis. Di sini pengertian hipotesis adalah suatu pernyataan awal yang perlu diuji atau dibuktikan dalam penelitian. Tahap awap penelitian, seperti yang telah saya singgung di depan, adalah memilih dari sekian banyak hunches  kemudian kita ubah menjadi sebuah hipotesis yang bisa diuji. Dalam analisis teks tahap ini berati dilalui dengan mengajukan pertanyaan kritis terkait dengan ‘embrio proyek’ yang akan kita garap. Penting sekali anda menengok penelitian terdahulu, teori konsep dsb yang terkait dengan konsep pokok calon riset anda.

Jika memang hunch anda itu  menunjukkan tanda-tanda bisa diuji maka langsung kerjakan proyek tersebut. Bisa jadi, dugaan awal kita malah tidak terpakai, dan di sepanjang uji hunch awal kita justru menemukan dugaan lain yang lebih rasional. Untuk itu anda perlu terus menguji dan menguji dan menyempurnaan hunch yang sudah jadi hipotesis tadi. Anda tidak perlu merasa gagal jika memang dugaan awal itu justru terlempar di tempat sampah, karena revisi yang terus menerus merupakan tahapan penting untuk bisa mencapai tahap discovery!.

Ada orang yang beruntung dengan sekali menemukan hunch kemudian bisa langsung menggorengnya menjadi sebuah hipotesis yang siap uji atau test di dalam penelitian, tapi ada juga yang harus mencoba merumuskannya dua atau tiga kali.  Bagi orang yang kurang beruntung ini, dengan mengikuti hunch pertama kali, anda lalu berkesempatan membaca banyak hal mengenai itu, mendiskusikan banyak hal terkait itu pula dan membuat catatan yang lumayan mengenai hunch itu. Menurut saya justru langkah yang maju terus pantang mundur inilah yang akan mendewasakan kita sebagai calon peneliti dan kita menemukan hipotesis yang ‘bermutu’ untuk kita geluti berbulan kemudian. (Bersambung )

Boekoe nyang gue baca:

How to do Media and Cultural Studies karangannye Jane  Stokes  Sage Publication ( 2003)

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 30 April 2014.

3 Tanggapan to “Serial Populer : Research for Beginner (2)”

  1. […] sudah jam satu lewat dini hari nich…. guwe pamit dulu ye…ntar kapan-kapan kalaow sempat guwe sambungin […]

  2. Selamat Siang, saya boleh minta bantuan untuk TA (tugas akhir). Saya jurusan Bahasa Inggris yang memilih Literatur. Sedang banyak pertanyaan mau mulai dari mana utk teori2 yang ingin dgunakan… Bs bantu? thanks before

    • selamat siang juga,… saya lebih memahami domain bidang saya ilmu komunikasi, tapi untuk kajian literer pada prinsipnya mungkin ada irisan yang hampir sama dengan kajian di ilmu komunikasi, khususnya yang menggunakan pendekatan hermeneutik. Juga bisa menggunakan pendekatan resepsi, karena sebetulnya kajian resepsi juga asalnya dari studi literer. coba anda kemukakan tujuan riset dan pokok masalahnya apa, mungkin saya bisa bantu-bantu dikit…. ok semoga bermanfaat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: