MENGENAL CRITICAL THEORIES : MARXIST DAN NEO-MARXIST

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dilihat dari sejarahnya, teori kritis tampak sekali berkiblat pada pemikiran Karl Marx yang kemudian disebut marxist. Tidak bisa dipungkiri salah satu bibit pemikiran teori sosial penting di abad dua puluh memang mendasarkan diri pada pokok pikiran marxist ini.  Berawal dari gagasan Karl Marx dan Friederich Engels, tumbuh gerakan pemikiran yang membebaskan dan menentang tatanan dominan dalam masyarakat.  Kelihatannya, semua cabang ilmu sosial termasuk komunikasi telah dipengaruhi oleh garis pemikiran tersebut (baca juga Bottomore & Mattelart, 1989: 476-483).

Karl Marx

Karl Marx

Marx mengajarkan bahwa cara-cara produksi di dalam masyarakat akan menentukan sifat masyarakat tersebut (Marx dalam Littlejohn,2001:210). Inilah gagasan pokok pemikiran Marx, yakni  base-superstructure relationship. Ekonomi adalah dasar dari semua struktur sosial. Di dalam sistem kapitalisme, keuntungan akan mendorong  produksi lebih lanjut  dan pada gilirannya akan menguasai kelompok kelas pekerja atau buruh.

Kelompok kelas pekerja ditindas oleh kelompok yang lebih berkuasa yang mendapatkan keuntungan dari laba produksi. Segala institusi yang menjaga kelanggengan dominasi di dalam masyarakat kapitalis ini diuntungkan dengan adanya sistem ekonomi semacam itu. Hanya ketika kelompok pekerja bangkit dan menentang kelompok dominanlah maka cara produksi bisa diubah dan kebebasan kaum buruh bisa dicapai. Kebebasan itu selanjutnya akan menentukan perkembangan alami sejarah yang mendorong lahirnya kelas oposisi  dan melalui  proses dialektis pada gilirannya akan menempatkan mereka ke dalam posisi sosial yang lebih tinggi. Teori Marxist klasik ini kemudian dikenal sebagai  the critique of political economy.  

Hingga saat ini, teori kritis marxist masih juga berkembang, meskipun teori itu sudah  semakin bercabang dan menjadi multiteoritis. Tidak semua pengikut teori kritis adalah “Marxist” di dalam pemahaman klasik dari ajaran Marx, namun tidak perlu ditanyakan lagi bahwa Marx telah mewarnai gaya pemikiran mereka.  Meskipun sedikit dari teori kritis saat ini yang  mengadopsi gagasan Marx tentang ekonomi politik, namun perhatian khusus mengenai dialektika konflik, dominasi, dan penindasan tetap dianggap hal yang penting. Karena itulah, teori kritis sekarang ini disebut sebagai “neo-marxist” atau “marxist” (dengan huruf ‘m’ kecil).

Berbeda dengan the simple base-superstructur modelnya Marx, teori kritis kontemporer kebanyakan melihat adanya overdetermined yang bekerja di dalam masyarakat, atau adanya sebab-sebab multiple yang memengaruhi  struktur masyarakat.  Mereka melihat struktur sosial sebagai sebuah sistem di mana banyak hal saling berinteraksi dan memengaruhi satu dengan yang lainnya.

Teori kritis melihat tugas mereka adalah menyingkap kekuatan yang menindas melalui dialectical analysis, yang didesain untuk membuka kedok “an underlying struggle between opposing forces”. Meskipun pada umumnya masyarakat menerima semacam tatanan di permukaan sebagaimana adanya,  tugas teori kritislah yang menunjukkan berbagai kontradiksi yang terjadi. Hanya dengan menjadi sadar akan dialektika kekuatan yang saling beroposisi di dalam percaturan kekuatanlah maka individu dapat dibebaskan dan memiliki keleluasaan untuk mengubah tatanan yang ada.  Jika tidak, mereka akan tetap teralienasi satu dengan yang lainnya, dan terkooptasi oleh kekuatan penindas.

Marxist memberi perhatian serius  pada cara – cara berkomunikasi di dalam masyarakat. Praktik  komunikasi adalah hasil dari tarik ulur kekuatan antara kreativitas individu dan desakan sosial terhadap kreativitas tersebut. Hanya ketika individu itu sepenuhnya bebas untuk mengekspresikan dirinya dengan jernih dan beralasan maka kebebasan akan terjadi, dan kondisi itu tidak akan terwujud di dalam masyakarat yang berbasis kelas.

Sebaliknya, banyak teori kritis yang meyakini bahwa kontradiksi, tekanan, dan konflik adalah aspek-aspek yang tidak bisa dihindari dalam tatanan masyarakat dan tidak akan bisa dihilangkan. Suatu masyarakat yang ideal adalah lingkungan masyarakat  di mana semua suara bisa didengar, dengan demikian tidak akan ada satu kekuatan yang dominan di antara yang lainnya.

Bahasa menjadi pembatas yang penting di dalam ekspresi individual, karena bahasa yang dipakai kelas dominan telah membuat  kelompok kelas pekerja sulit memahami situasi yang mereka hadapi dan menangkap pokok persoalannya. Dengan kata lain, bahasa kelompok dominan mendefinisikan dan melanggengkan penindasan terhadap kelompok yang terpinggirkan. Inilah tugas dari teori kritis untuk menciptakan bentuk baru bahasa yang  memungkinkan ideologi yang tidak dominan terekspresikan dan bersaing dengan ideologi dominan untuk sama-sama didengarkan.

Konsep ideology menjadi penting dalam teori kritis. Ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk realitas kelompok, sebuah sistem representasi atau kode pemaknaan yang menuntun bagaimana individu dan kelompok memandang dunia ini. (baca Hall, 1989 :307-311) Di dalam pemahaman Marxism klasik, ideologi adalah seperangkat gagasan semu yang dijaga kelanggengannya oleh kekuatan politik dominan. Menurut paham Marxist klasik, ilmu pengetahuan harus digunakan untuk membuka tabir yang menutupi kebenaran dan memunculkan kesadaran palsu sebuah ideologi.

Teori kritis yang berkembang kemudian cenderung untuk meyakini bahwa tidak ada satu ideologi dominan namun kelas dominan yang ada di masyarakat itu terbentuk dengan sendirinya melalui pertarungan di antara beberapa ideologi. Banyak pemikir sekarang ini menolak gagasan bahwa ideologi adalah elemen terpisah dari sistem sosial;  sebaliknya, ideologi itu melekat di dalam bahasa dan proses sosial dan budaya lainnya.

Louis Althusser

Louis Althusser

Bisa jadi, teoritisi ideologi yang paling terkenal adalah ilmuwan Marxist asal Perancis Louis Althusser. Menurut Althusser, ideologi hadir di dalam struktur sosial itu sendiri dan tumbuh berkembang dari tindakan nyata yang diselenggarakan oleh lembaga-lemaba di dalam masyarakat.  ( baca Hall, 1985: 91-114). Dengan itu, ideologi sesungguhnya bentuk dari kesadaran individual dan menciptakan pemahaman subjektif individu tentang pengalaman. Di dalam model ini the superstructure (organisasi sosial ) menghasilkan ideologi, di mana pada gilirannya memengaruhi pemikiran individu tentang realitas.

Menurut Althusser, superstructure ini mencakup repressive state apparatuses, misalnya kepolisian  dan lembaga militer, dan ideological state apparatuses, seperti pendidikan, agama dan media massa. Mekanisme repressive menguatkan ideologi manakala ia terancam oleh kekuatan yang lain, dan the ideological  apparatuses  mereproduksi  kembali secara halus  melalui aktivitas komunikasi keseharian dengan membuat ideologi itu kelihatan sebagai hal yang wajar.

Kita hidup di dalam kenyataan yang dikondisikan, namun kita biasanya tidak memahami hubungan diri kita dengan kondisi seperti itu, kecuali melalui kacamata ‘ideologi’. Kondisi senyatanya dari keadaan ini hanya bisa ditemukan melalui ilmu pengetahuan, yang  oleh Althusser diposisikan sebagai oposisi dari ideologi. Gagasan ini menjadi sangat kontroversial karena itu didasarkan pada ide realis tentang kebenaran yang sekarang banyak ditentang oleh teori kritis itu sendiri.

Teori marxist cenderung melihat masyarakat sebagai lahan percaturan di antara bermacam kepentingan melalui dominasi satu ideologi terhadap yang lain. Hegemony adalah proses dominasi itu, di mana satu ideologi menumbangkan atau mengkooptasi lainnya. Inilah proses di mana satu kelompok di dalam masyarakat mendesakkan penguasaannya kepada yang lainnya. Konsep ini dengan apik dikumandangkan oleh ilmuwan Marxist asal Italia Antonio Gramsci ( 1971).

Antonio Gramsci

Antonio Gramsci

Proses hegemony bisa muncul dengan berbagai cara dan dalam berbagai latar keadaan. Intinya, hegemony  terjadi ketika peristiwa atau teks diinterpretasikan dengan cara tertentu sehingga mengedepankan satu kelompok kepentingan dibanding kelompok yang lainnya. Ini bisa terjadi secara halus melalui kooptasi kepentingan kelompok subordinat untuk mendukung kelompok yang dominan. Misalnya, pengiklan acapkali mengusung tema “Women’s Liberation”, membuatnya nampak bahwa perusahaan mendukung hak-hak kaum perempuan. Padahal yang terjadi di sini adalah kepentingan perempuan sedang diiterpretasikan kembali guna mempromosikan kepentingan ekomoni kapital. Ideologi memerankan fungsi sentral dalam proses ini karena ia  membentuk cara orang memahami pengalaman mereka,dan itulah sebabnya sangat ampuh di dalam membentuk interpretasi orang terhadap suatu peristiwa.

Dennis Mumby ( 1988:74-78) telah menyajikan teori persuasif – hegemony di dalam organisasi yang menggambarkan proses tersebut dengan sangat baik. Mumby menunjukkan bagaimana organisasi menjadi tempat di dalam mana kekuatan hegemony itu muncul. Kekuasaan dipelihara di dalam organisasi oleh suatu ideologi yang lebih dominan dibanding lainnya.  Sebagaimana kita pahami, bahwa komunikasi di dalam organisasi berfungsi di satu sisi untuk menciptakan budaya organisasi. Hal itu tampak melalui ritual-ritual, stories, dan semacamnya, dan Mumby menunjukkan bagaimana budaya dalam organisasi di sisi lain juga dilekati  proses-proses politik. Komunikasi di dalam organisasi berfungsi tidak hanya untuk menciptakan makna melainkan juga menghasilkan kekuasaan dan dominasi.

Mumby belakangan ini menjernihkan interpretasinya tentang hegemony menjadi lebih pragmatik, interaktif, dan suatu proses dialektik penegasan dan perlawanan. Hegemony tidak sekedar sebuah pertanyaan mengenai aktivitas dari  kelompok yang  berkuasa mendominasi kelompok lain yang pasif dan tidak berkuasa, melainkan sebuah proses pengaturan kekuasaan yang nampak sebagai proses aktif dari konstruksi sosial berbagai kelompok.  Hegemony adalah sebuah kesemestian — tidak selalu buruk tidak juga selalu baik— yang dihasilkan dari percaturan di antara kelompok kepentingan dalam situasi yang terjadi setiap hari ( Bersambung ).

Referensi :

Bottomore,Tom dan  Armand Mattelart. 1989. “Marxist Theories of Communication” dalam  International Encyclopedia of Communication. Vol 2. Edited by Erik Barnow dkk New York :Oxford University Press. Hal : 476-483.

Gramsci ,Antonio . 1971. Selections  from The Prison Noetbooks. Terj. Q Hoare dan G. Nowell Smith. New York: International.  

Hall, Stuart. 1985. “Signification, Representation, Ideology : Althusser and the Post Structuralism Debates. Dalam Critical Studies in Mass Commuication 2 . Hal 91-114.

Hall, Stuart. 1989. “Ideology” dalam International Encyclopedia of Communication. New York :Oxford University Press. :307-311

Littlejohn, Stephen W. 2001. Theories of Human Communication. USA: Wadsworth

Mumby, Dennis K. 1988. Communication and Power in Organizations: Discoures, Ideology and Domination. Norwood,NJ: Ablex.

sumber foto : http://en.wikipedia.org/wiki/Antonio_Gramsci

http://en.wikipedia.org/wiki/Louis_Althusser

http://en.wikipedia.org/wiki/Karl_Marx

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 28 April 2014.

2 Tanggapan to “MENGENAL CRITICAL THEORIES : MARXIST DAN NEO-MARXIST”

  1. […] Demikianlah pengantar dalam serial tulisan yang nantinya akan menyoal mendalam mengenai tiga tradisi luas critical studies  yaitu : structuralisme, postrukturalisme dan feminisme. Teori struktural membukakan mata kita tentang apa itu tradisi modern dari teori kritis, dan teori postruktural menggambarkan sosok postmodernisme.  Kedua jenis teori itu nanti juga akan hadir dalam kajian feminisme. (Bersambung). […]

  2. […] (tulisan sebelumnya) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: