FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK (2)

(tulisan sebelumnya )

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

“…when a ‘language’ does not already exist, one must be something of an artist to speak it, however poorly. For to speak it is partly to invent it, whereas to speak the language of everyday is simply to use it” (Monaco 1981; 163).

Metz vs Wollen

Semiotikus lainnya, Peter Wollen, menunjukkan  salah satu dari sekian persoalan dalam teori Metz : ia meletakkan perhatiannya sepenuhnya pada aspek denotation daripada aspek connotation sebagai bagian terbesar dalam bahasa sinematik. Sebagian besar  aspek  plot film — bagaimana karakter seseorang, apa yang mereka lakukan— adalah segala sesuatu yang diindikasikan oleh petunjuk lainnya dari sebuah plot. Menurut Metz, aspek tersebut adalah connotation, sementara pendapat ahli lainnya, termasuk Jensen (2002)  memahami itu sebagai bagian dari denotation.

Inilah juga yang menyebabkan kita semestinya melihat pentingnyanya mengamati baik aspek  denotation maupun connotation agar bisa memahami film, televisi, bahkan lukisan sekalipun — pokoknya segala bentuk seni.  Denotation  dan  connotation tidak bisa hadir sendiri-sendiri tanpa kehadiran satu dengan lainnya.

Metz dikritik karena terlalu “programmatic “  :…..A theoretical program that leads to so little in practice is clearly suspect” (Braudy 1998; 92-93).  Wollen juga meyakini adanya aspek  semiotik yang terkandung dalam  sinema. Namun demikian, alih-alih mendasarkan pada konsep syntagmas-nya Metz, dia lebih condong pada teori tanda-nya C.S. Peirce.

Peter Wollen

Peter Wollen

Menurut Wollen, sinema utamanya tersusun dari tanda-tanda iconic dan indexical.  Ia mengatakan pentingnya kode-kode di dalam sinema lebih berkaitan dengan  the  poetic-nya ketimbang the linguistic-nya, yang kemudian membuat dia meninggalkan gagasan Metz dalam pencariannya perihal “unit” (satuan terkecil ) dalam sebuah sinema, yang memiliki kesetaraan dengan  unit terkecil dalam linguistik itu.  Wollen tidak sepakat dengan gagasan Metz, yang mengatakan tujuan dari semiotika sinema adalah untuk  “melakukan studi tatanan dan fungsi dari unit-unit penandaan pokok yang digunakan di dalam pesan filmis” ( Baudy, 1998:95).

Ia menegaskan bahwa sinema memiliki baik makna dan signifikansinya  namun itu tidak mengusung  pesan, sementara languange seringkali digunakan untuk mengkomunikasikan pesan. Meskipun Metz dan Wollen sama-sama tidak  setuju tentang  ‘the actual nature of semiotics’, keduanya masih meyakini bahwa studi sinema adalah bagian dari semiotik itu. Metz lebih tertarik pada pendekatan lingusitik : semiotika bahasa menjadi semiotik sinema. Wollen melihat kekuatan filmis dalam bentuk yang berbeda dari kekuatan linguistik.

Penolakan Pendekatan Linguistik : Gregory Currie

Teoritisi lainnya, Gregory Currie, berpendapat “ cinematic representationis not linguistic, quasi-linguistic or even remotely linguistic” ( Currie, 1995:114).  Pernyataan di atas dilatarbelakangi oleh ketidaksepakatannya baik terhadap Metz maupun Wollen. Ia menolak kecenderungan untuk menganalisis bahasa sinematik didasarkan atas bahasa literary. Ia menguatkan argumen ini dengan pernyataan bahwa bahasa sinematik hanya menggunakan satu medium : penglihatan, sementara bahasa literary dapat dilihat, didengar dan diraba.

Sangat bertolak belakang dengan teori Metz bahwa bahasa sinematik terdiri dari lima tracks, sebagaimana telah disinggung dalam tulisan sebelumnya. Ia juga mengabaikan fakta bahwa film dan televisi bisa dilihat maupun didengar…. the soundtracks adalah bagian terbesar dari sebuah film. Walaupun demikian, meski dia menolak sinema  sebagai bahasa dia sepakat bahwa sinema  merupakan salah satu sarana dalam berkomunikasi: “There is no set of conventions that function to confer meaning on cinematic images in anything like conventions confer (literal) meaning in language” (Currie 1995; 130). Currie berpendapat tidak ada unit terkecil yang memiliki arti di dalam film. Baginya, tidak ada interaksi antara dua buah shot dan karenanya sebuah shot bukankah  bahasa. Currie tidak yakin bahwa gambar bisa disetarakan dengan sebuah kalimat – seperti layaknya ‘struktur’ karena mereka tidak memiliki grammar.

Pertanyaan Seputar Artikulasi Ganda

Kita kembali ke pertanyaan awal dalam tulisan sebelumnya tentang ‘artikulasi ganda’….. Pada tahap awal perdebatan mengenai pertanyaan apakah unit terkecil dalam  film sebagai sebuah bahasa dan artikulasi di dalam  konsepsi Andre Martine mengenai artikulasi ganda tentang unit terkecil yang adalah sound (phonemes) dan unit terkecil dari sense (morphemes) muncul ( Stam 2000:112).

Christian Metz

Christian Metz

Seperti telah dikemukakan, Metz  tidak sepakat dengan asumsi bahwa sinema memiliki artikulasi ganda (double articulation). Kerja sinema melalui shots dari realitas yang dikonstruksi sedemikian rupa dan tidak memiliki sesuatu yang mirip dengan phoneme (fonem) dalam bahasa. Meski demikian, dia mengatakan  montage  bisa dilihat sebagai sejenis artikulasi dari penggambaran suatu realitas. Namun bukan seperti artikulasi yang dikaitkan dengan pengertian articulation dalam bahasa. Sekali lagi, dia menegaskan adanya hubungan yang kuat dengan  pendekatan linguistik dan mengacu pada perbedaan antara ‘shot’ dalam film  dengan ‘kata’ dalam literary.

Melalui analisisnya Metz tidak menemukan sesuatu unit di dalam sinema yang memiliki kemiripan dengan fonem dalam bahasa, yang artinya bahwa sinema tidak mungkin memiliki artikulasi ganda ( double articulation ). Alih-alih mencoba mengidentifikasi sebuah  shot sebagai unit terkecil, Pier Passolini justru melihat unit terkecil dibentuk melalui penandaan objek di dalam shot, dan karenanya maka sinema bisa dikatakan memiliki artikulasi ganda. Konsep artikulasi ganda sinematik menurut Passolini ini meliputi cinemes (sebagai ganti dari phonemes) dan im-signs ( sebagai ganti dari morphemes). Kenyataan bahwa unit terkecil itu hadir di dalam sebuah shot, itu artinya bahwa cinemes berbeda dengan fonem (phonemes), karena tidak ditemukan jumlah yang tertentu dari cinemes di dalam satu shot.

Umberto Eco

Umberto Eco

Semiotikus semacam Eco dan Garroni tidak sepakat dengan Passolini dan mereka mengkritik  konsepnya yang membingungkan mengenai  double articulation. Eco mengatakan bahwa objek tidak bisa memiliki artikulasi kedua karena mereka sudah membentuk elemen yang berarti ( Stam, 2000 :113), dan itu berarti tidak mungkin memisahkan makna dengan elemennya. Menurut Eco tidak ada unit di dalam citra sinematik yang memiliki kemiripan dengan fonem atau morfem, dan karenanya juga tidak ada double articulation.

The Grammar of Cinema

Metz mengatakan justifikasi dalam analisis mengenai persamaan antara film dengan bahasa dikarenakan persamaan sifatnya secara umum dalam syntagmatic. Di dalam bahasa phonemes dan morphemes dipadukan  sehingga membentuk sebuah kalimat, di dalam sinema gambar  dan suara dipadukan sehingga menciptkan syntagmas ( Stam, 2000:115)

Dengan bergerak dari satu gambar  ke gambar lainnya, film ‘berbicara’ kepada menontonnya dan itu berarti berkomunikasi. Metz menegaskan bahwa tidak ada gambar yang memiliki kesamaan dengan gambar lainnya namun hampir semua narasi film memiliki kemiripan satu dengan lainnya dalam strukturnya. Meski demikian, jika kita melihat  film  Alfred Hitchcock’s dalamThe Birds (1963) — sebagaimana Messaris telah kemukakan  dalam bukunya Visual Literacy: Image, Mind and Reality— teori di atas tidak berlaku. Misalnya, di dalam adegan di mana pemeran wanita selaku protagonis duduk di lapangan sekolah, kita melihat shots burung-burung berkumpul membelakanginya, kemudian intercut pada shot wanita itu ketika dia sedang duduk merokok. Akhirnya ketika dia melihat sekeliling,  shot langsung memperlihatkan  wanita tersebut dengan latar belakang dipenuhi  dengan burung-burung.  Penggalan editing yang seperti itu telah melanggar ‘aturan’ yang mengatakan bahwa jika karakter tampak menoleh ke luar  frame of shot, maka shot berikutnya semestinya menggambarkan apa yang karakter itu lihat ( Messaris, 1994:75).

Hal yang demikian tadi mendorong kita bertanya mengenai the grammar di dalam film dan televisi. Adakah semacam ‘aturan’ umum  di dalam pembuatan film sehingga membuat para penonton bisa ‘membaca’ gambar dengan cara tertentu? Dalam buku Messaris, dia merujuk pada pernyataan Monaco di dalam How to Read a Film, di mana dia mengatakan bahwa film hanyalah ‘seperti’ bahasa dan itulah sebabnya tidak mungkin meng-gramatikal-kan sinema. Messaris berpendapat bahwa jika pernyataan tersebut benar, maka penonton akan selalu dapat mengenali yang dimaksudkan oleh si pembuat film dan interpretasi terhadap gambar —   terlepas dari struktur sebuah film. Untuk memerinci pernyataan tersebut dia mengilustrasikan contoh dari New Wave, yang memperkenalkan jump cuts, misalnya, yang tidak membawa pengaruh besar terhadap ‘pemahaman ‘penonton. Mesaaris menjelaskan:    “… the viewer’s interpretation of edited sequences is largely a matter of cross-referencing possible interpretations against a broader context… rather than a matter of decoding formal devices. To put this more compactly: Interpretation is driven by the narrative context, not the code (Messaris 1994; 79).

Perlu kita pahami apa yang di-konotasi-kan sebuah gambar agar kita pun bisa memahami plot. Kita telah belajar bagaimana ‘membaca’ dan memahami sebuah film meskipun film tersebut tidak mematuhi apa yang disebut struktur ‘gramatical’ dalam sebuah film. Itulah sebabnya, sebagaimana telah disinggung di depan, memelajari bagaimana men-decode tanda dalam sinema sesungguhnya sama dengan kita belajar membaca.

Persamaan dan Perbedaan

Ketika membandingkan antara bahasa literary dengan sinema kita pun terdorong untuk mencari persamaan dan perbedaanya. Perbedaan : Dalam sinema tidak terdapat tanda-tanda yang memiliki kemiripan dengan kata. Di dalam sinema signifier dan signified itu hampir-hampir identik, berbalikan dengan bahasa verbal. Sinema tidak seperti bahasa, misalnya bahasa Denmark atau Inggris, dan praktis tidak mungkin menerapkan struktur gramatikal dalam sinema. Tidak perlu memelajari kosa kata. Dalam sinema sulit untuk mengidentifikasi unit terkecil sebagaimana sebuah kata.

Sejumlah kata tertentu dapat menghasilkan sejumlah interpretasi tertentu. Sinema dan bahasa tidak tidak memiliki metode ekspresi yang sama. Sinema tidak mengindikasikan: ia menyatakan ( Thomas, 1995:2). Di dalam bahasa kita dapat memilih gambaran kita sendiri, di dalam sinema kita telah disodori gambar-gambar yang terpilih.  Kita belajar ‘membaca’ sinema bahkan sebelum kita mengetahui  bahasa verbal.  Persamaan : Di dalam batas tertentu, memang ada struktur yang mirip dalam bahasa literary. Itu  hadir kepada penonton dengan sejumlah kemungkinan pemaknaan. Anda bisa belajar ‘membaca’ sinema. Baik sinema maupun bahasa adalah sama-sama cara berkomunikasi ( Thomas, 1995:3). Keduanya bisa hadir dalam beberapa tingkatan, bergantung pada latar belakang usia, gender, budaya, sosial dan akademik.

Simpulan

So, apakah sinema (film dan televisi) bisa dikatakan sebagai bahasa? Menurut pendapat saya, sinema memang merupakan bentuk komunikasi, suatu komunikasi satu arah yang berbeda dengan bahasa literary dalam hal-hal sebagaimana sudah kita diskusikan di depan.

Melalui penjelajahan  dalam esai ini sudah dicoba untuk dirumuskan pergolakan pemikiran  mengenai apa yang dimaksudkan oleh para semiotikus ketika mereka mengatakan bahwa sinema ‘sebagai’ suatu bahasa, dengan fokus utama pada teori Christian Metz.  Tulisan ini sudah mengeksplorasi bagaimana para ahli itu memiliki pendekatan yang berbeda terkait dengan gagasn tersebut, dan telah pula kita diskusikan bagaimana mereka sama-sama sepakat atau tidak sepakat dalam beberapa poin terkait dengan bahasa sinematik.

Menarik dicatat bahwa hampir semua ahli tersebut secara ekstrim mencoba mencari pembenaran terhadap pemikiran mereka. Mereka yang berniat menghadirkan sinema sebagai sebuah bahasa berarti menempatkan sinema setara dengan bahasa literary. Mereka berusaha mati-matian menempatkan sinema ke dalam semacam struktur dan meng-gramatikal-kannya sehingga bisa dipahami dalam tingkatan yang berbeda; sebagai justifikasi bahwa sinema adalah medium yang bisa diteliti dan dikaji.  Meski demikian, melalui eksplorasi tulisan ini, hal demikian itu sangat sulit dilakukan karena bahasa sinema secara tiba-tiba bisa berbelok arah (tidak taat pakem/’struktur’) seperti yang terjadi dalam contoh kasus Dogme95  dan The New Wave.

*) tulisan ini hanyalah review semata, hak cipta sepenuhnya akan isi karya  dalam bahasa Inggris ada pada ©Jensen, Rikke Bjerg(2002). Do we learn to ‘read’ television and film and do televisual and filmic codes constitute a ‘language’?

sumber foto :

http://www.cinepedia.cn/w/peter_wollen/

http://en.wikipedia.org/wiki/Umberto_Eco

http://www.phillwebb.net/history/Twentieth/Continental/(Post)Structuralisms/Structuralism/Metz/Metz.htm

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 24 April 2014.

Satu Tanggapan to “FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK (2)”

  1. […] Meski seperti yang disimpulkan Metz bahwa sinema tidaklah identik dengan ‘sistem bahasa’, karena dia meyakini bahwa sinema tidak memiliki unit terkecil dan berartikulasi ganda,  akan tetapi dalam film masih terlihat jejak sistematisasi yang memiliki kemiripan dengan bahasa.  Dengan cara yang sama seperti bahasa literatur mengekspresikan dirinya melalui material tulisan, sinema  mengekspresikan dirinya sendiri melalui : citra fotografis yang bergerak, vokal suara yang terekam, suara musik yang terekam dan naskah.  “Cinema is a language…an artistic language, a discourse or signifying practice characterised by specific codifications and ordering procedures” (Stam 2000; 112). Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa ketika kita belajar untuk memahami film, kita secara otomatis belajar untuk men-decode citra visual juga. (Bersambung) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: