FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK *)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

It is not because the cinema is a language that it can tell us such fine stories, but rather it has become a language because it has told such fine stories” (Metz 1991; 47).

Memperbincangkan  Sinema

Sejak awal mula dalam sejarah perfilman, para pembuat film dan teoritisi  film tak henti-hentinya mencoba membandingkan antara  film dengan bahasa dengan maksud untuk mencari pembenaran bahwa film sesungguhnya jugalah medium sebagaimana sebuah bahasa. Kesulitan pokoknya adalah di dalam penerapan konseptual “language” guna menggambarkan kata dan imaji. Sungguh mengejutkan bahwa konsep “film language” telah ada  semenjak film-film jaman baheula (Thomas, 1995:1).

Sebenarnya tidak tepat jika mendefinisikan film dan televisi sebagai sebuah bahasa seperti halnya dalam bahasa sastra. Yang benar : film dan televisi itu adalah seperti bahasa dan keduanya menggunakan codes dan signs untuk membentuk struktur grammar. Apa sebenarnya yang membuat perbedaan dan persamaan di antara bahasa dan film itu? Inilah yang menjadi salah satu konsep yang didisksusikan oleh beberapa semiotikus dan telah dicoba ilustrasikan bahkan sejak dimulainya karya Levi-Strauss. Tulisan ini hendak  menelaah teori-teori tersebut dan memahami apa yang sesungguhnya dimaksudkan dengan “bahasa” dalam konsep citra visual.

Sebagaimana kita tahu, jika kita hendak membaca teks literer di dalam sesuatu bahasa tertentu maka kita harus memelajari signs dan codes – yakni huruf dan kata-kata— dari bahasa tersebut.  Itulah sebabnya, untuk bisa membaca gambaran visual yang muncul di dalam film dan televisi, kita juga harus memelajari atau memahami signs dan codes dari media film. Dalam tulisan ini akan diuraikan garis besar codes untuk membentuk pemahaman mengenai bagaimana grammar di dalam film itu. Selanjutnya, tulisan ini akan menyajikan garis besar persamaan dan perbedaan antara visual dan bahasa ujaran, sehingga bisa dipakai dalam meneliti semiotik sinema.

The Beginning of Semiotics

Kita perlu mengetahui apa dan bagaimana perdebatan di antara para semiotikus ketika mereka mengeksplorasi isi film yang tak lain dibangun melalui bahasa. Para semiotikus selalu lekat dengan pendekatan khusus dalam kajian seni sebagai suatu bahasa.

Kata “semiotics”… ..bisa diartikan teori tentang tanda. Linguistik termasuk dalam teori itu, karena ada teori bahasa-sebagai-sebuah sistem tanda. Semiotik film, sama halnya, teori tentang film-sebagai-sebuah sistem tanda (Braudy, 1998:90)

Teori semiotik tentang film bisa dilacak balik pada teori linguistiknya Ferdinand de Saussure yang  menggunakan bahasa sebagai metode analisis ( Monaco, 1981:417). Saussure berpendapat : “that language material creates meaning but that has no meaning in itself”.

Mentransfer langsug teori semiotic literer ke dalam film yang visualistis itu, terbukti senantiasa membawa persoalan tersendiri, karena menurut Saussure, sinema bukanlah tanda konvensional sebagaimana  kata-kata. Saussure berpendapat bahwa di dalam sinema penanda itu hampir-hampir  identik dengan penanda. Demikianlah misalnya, citra visual sebuah mobil sangat dekat dengan obyek nyata ketimbang dengan kata “mobil” ( Thomas, 1995:2). Kita telanjur belajar bahwa kata “mobil” itu “identik” dengan gambaran mengenai mobil, namun tanpa pemahaman  linguistik (bahasa Indonesia)  maka kata “mobil” hanyalah kumpulan huruf  m-o-b-i-l tanpa memahami apa maknanya.

Konon, sebelum semiotiknya Saussure, seorang filsuf Amerika C.S. Peirce telah mengembangkan semiology, yang memiliki perbedaan dibanding konsepnya Saussure. Peirce membedakan adanya tiga  kategori signs : the iconic sign, the idenxical sign dan the symbolic sign.

The Theories of Christian Metz

Christian Metz

Christian Metz

Mari kita awali pengenalan kita dengan menyimak beberapa teori dan pernyataan yang dikemukakan oleh Christian Metz, yang pendekatannya terhadap sinema mungkin menjadi salah satu yang sangat menyeluruh dan menarik dilihat dari sejarah teori film. Metz meyakini adanya pendekatan linguistik pada sinema, namun untuk bisa melandasi kajian mengenai film sebagai sebuah linguistik, maka pemahaman mengenai linguistik itu perlu didefinisikan ulang.

Segala bentuk komunikasi pada dasarnya adalah bahasa, namun bahasa Belanda, Inggris dan Spanyol misalnya, adalah ‘ sistem bahasa”, demikian Metz ( Monaco, 1981:157). Itulah sebabnya sinema bisa dikatakan sebagai sejenis bahasa namun itu bukanlah sistem bahasa. Seperti yang ditegaskan oleh Metz: “It is not because the cinema is a language that it can tell us such fine stories, but rather it has become a language because it has told such fine stories” (Metz 1991; 47).

Metz berpendapat bahwa film itu adalah sebuah sinema, sedangkan novel adalah literatur. Lebih jauh, Metz mengindikasikan bahwa denotasi itu dikaji sebelum konotasi. Menurutnya, denotasi –lah yang merupakan basic dari material sinematik, karena ia hadir, dan ia tidak perlu diinterpretasikan. Denotasi adalah citra imaji yang menghasilkan sebuah cerita.

Konotasi senantiasa menjadi yang ‘kedua’, demikian katanya, karena apa yang dikonotasikan oleh citra visual tidaklah secara langsung dihadirkan di dalam materi dasar sebuah film dan konotasi hanyalah salah satu bagian yang diindikasikan oleh denotasi ( Braudy, 1998:91).

Metz berpendapat bahwa tidak ada satuan di dalam film yang setara dengan kata di dalam bahasa. Imaji, yang ia yakini sebagai satuan terkecil di dalam sinema, sudah ber-ada dalam level yang setara dengan kalimat atau paragraf. Kenyataan inilah yang mendorongnya untuk membandingkan sebuah ‘shot’  dengan sebuah ‘kata’, yang menggambarkan hubungan kuat antara film dengan semiotika lingusitik.

Apa yang  ingin dikemukakan oleh Metz adalah : bahwa di dalam literatur anda bisa membayangkan, anda bisa menciptakan gambaran visual anda sendiri, sementara di dalam sinema anda tidak bisa melakukan itu, karena gambaran alias imaji itu sudah hadir dan dipilihkan untuk anda. Misalnya, tidak banyak pembaca  trilogi The Lord of the Rings yang akan menciptakan gambaran visual yang sama mengenai sosok Frodo, sebagaimana telah diciptakan oleh sang sutradara di dalam filmnya.

Dalam konteks ini, film tidak mengindikasikan: ia menyatakan. Ia menaruh gambaran visual tepat di depan kita. Metz menjelaskan bahwa semua pengguna bahasa Inggris dalam usia tertentu telah memelajari kode-kode yang berlaku dalam bahasa Inggris — mereka bisa menciptkan sesuatu kalimat tertentu. Meski demikian, ia mengatakan bahwa sinema tidak menghadirkan bahasa yang telah ada sebagai sebuah kode, karena kemampuan untuk menciptakan sinema lebih dilandasi oleh bakat dan pelatihan ( Stam 2000:111). Metz menulis “…when a ‘language’ does not already exist, one must be something of an artist to speak it, however poorly. For to speak it is partly to invent it, whereas to speak the language of everyday is simply to use it” (Monaco 1981; 163).

Salah satu teori Metz mengatakan, film dibentuk melalui rangkaian satuan bagian terkecil yang ia sebut sebagai syntagmas. Misalnya:”…. rangkaian dari berbagai sudut pandang mengenai sebuah rumah…bisa dibentuk menjadi apa yang Metz sebut  a descriptive syntagma — menggambarkan bagaimana wujud rumah itu sebenarnya dan tidak dihadirkan sebagai sesuatu yang tidak sungguh ada dalam sesuatu waktu tertentu ( Braudy, 1998:92). Dengan cara demikian maka syntagmas bisa didefinisikan sebagai dasar dari sebuah montage dan bagaimana montage itu kemudian diramu sedemikian rupa.

Perbedaan lain antara sinema dengan bahasa verbal adalah bahwa di dalam sinema seseorang bisa dialihkan  menuju tren yang baru, misalnya, berkat adanya teknologi atau melalui keputusan terkait dengan sisi artistik. Itulah yang diperkenalkan oleh Dogme95, misalnya, yang menciptakan pembaharuan di dalam bahasa sinematik dengan memangkas semua hal terkait pemolesan dalam film dan hadir ke tengah audiens dengan sebuah ‘kebenaran’

Meski seperti yang disimpulkan Metz bahwa sinema tidaklah identik dengan ‘sistem bahasa’, karena dia meyakini bahwa sinema tidak memiliki unit terkecil dan berartikulasi ganda,  akan tetapi dalam film masih terlihat jejak sistematisasi yang memiliki kemiripan dengan bahasa.  Dengan cara yang sama seperti bahasa literatur mengekspresikan dirinya melalui material tulisan, sinema  mengekspresikan dirinya sendiri melalui : citra fotografis yang bergerak, vokal suara yang terekam, suara musik yang terekam dan naskah.  “Cinema is a language…an artistic language, a discourse or signifying practice characterised by specific codifications and ordering procedures” (Stam 2000; 112). Pernyataan di atas mengindikasikan bahwa ketika kita belajar untuk memahami film, kita secara otomatis belajar untuk men-decode citra visual juga. (Bersambung)

*) tulisan ini hanyalah review semata, hak cipta sepenuhnya akan isi karya  dalam bahasa Inggris ada pada ©Jensen, Rikke Bjerg(2002). Do we learn to ‘read’ television and film and do televisual and filmic codes constitute a ‘language’?

http://www.phillwebb.net/history/Twentieth/Continental/(Post)Structuralisms/Structuralism/Metz/Metz.htm

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 April 2014.

Satu Tanggapan to “FILM, BAHASA DAN SEMIOTIK *)”

  1. […] (tulisan sebelumnya ) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: