Serial Populer : Research for Beginners (1)

Episode :  MENGANALISIS MEDIA DAN TEKS BUDAYA

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Bagi para peneliti pemula (baca:mahasiswa), memulai sebuah proyek penelitian untuk tugas akhir/skripsi bisa jadi ‘momok’ tersendiri. Pertanyaan klasik yang seringkali muncul adalah: mau meneliti apakah? Atau mau meneliti media apakah? Lalu mau menggunakan metode apakah? Tulisan ini didekasikan pada siapa saja yang merasa mengalami problem di atas : merasa galau ketika tiba-tiba sudah menginjak semester ‘tuwir’ alias menjelang finish tapi tak satu pun ide sudi hinggap di kepala ini….

Mengapa menganalisis media? Ada apa dengan teks budaya?

Judul tulisan ini sengaja langsung dipersempit ke persoalan media dan teks budaya karena memang itulah area studi yang sedang ngetrend dewasa ini.  Dan yang pasti, sejak awal blog ini memang lebih dikhususkan mengangkat tema communication and cultural studies gitu loch…

Sebelum mengawali bahasan panjang dan lebar mengenai ‘how to do’, maka sebaiknya kita memulai perbincangan dengan yang di (maaf) kepala anda semua. Pertama, bertanyalah pada diri sendiri subjek apakah yang paling membuat anda jatuh cinta selama studi di komunikasi. Atau, bidang apakah yang paling anda minati selama ini ( Jurnalistik? film? Iklan? Televisi? Atau serba serbi teknologi komunikasi, dll). Kedua, pikirkan mengenai ‘jenis media’ apakah yang sudah anda pilih dan kemudian dalam ‘konteks budaya‘ apakah yang akan anda bidik? ( catatan : yang dimaksud konteks budaya di sini sangat luas bro… coba tengok catatan mengenai berbagai varian atau subculture yang pernah anda pelajari selama ini, kalau memang anda pernah punya catatan itu he he he…). Ketiga, ini super duper penting, baca dan baca kembali literatur yang berkaitan dengan tema kajian yang akan anda teliti itu. (Usahakan rujukannya adalah jurnal yang kredibel, yang aktual terbitan 5 tahun terakhir). Keempat, tentukan subjek kajiannya ( Misal anda memutuskan akan meneliti film genre futuristik ). Kelima, diskusikan topik kajian itu dengan teman ( yang asyik diajak diskusi tentu) dan mungkin dosen ( yang nyambung diajak ngobrol gitu). Keenam, tentukan ‘tujuan penelitian ‘ atau pertanyaan pokok yang akan anda jawab dalam proyek itu. Ketujuh, tentukan design penelitiannya ( mo pakai content analysis, atau narrative analysis, atau semiotik atau visual discourse analysis or yang lain-lainnya itu)

MENENTUKAN SUBJEK STUDI

Ingat saudara-saudara!…. Bahwa area studi dalam cultural studies itu sangatlah luas. Tapi yang luas itu kadang malah tidak mencuat dengan sendirinya sebagai sebuah topik yang mudah kita tangkap. Jadi di sini berlaku semacam paradoks : karena semakin luas areanya jadi sulit memilih mana yang ‘cocok’ dijadikan topik.  Dan, ingat juga saudara-saudara!….  bahwa cultural studies memang biasanya justru mengangkat satu topik yang bagi peneliti (sosial science) lainnya dianggap ‘tidak lumrah’ ,’tidak layak’, atau ‘tidak menarik’ diteliti atau dianggap remeh-temeh. “Studi media dan cultural studies tidak akan berkembang kalau tidak ada peneliti yang berani mengambil resiko  memilih area studi atau tema yang dianggap tidak lazim dan bahkan menentang arus” , demikian saya kutipkan pernyataan Jane Stokes (2003:17).  So, tak perlu risau khawatir bin galau bahwa topik kajian itu dianggap tidak legitimate; asalkan masih berdasarkan pada suatu media dan budaya it’s fine-fine aja bro…

Menentukan subjek studi adalah tahapan yang penting dalam rangkaian proyek yang akan anda lakukan. Intinya, anda harus mensinergikan antara minat pribadi dengan tujuan akademik, so anda perlu menyesuaikan antara pengalaman anda pribadi dengan ‘kewajiban studi ‘ anda. Saran saya: pilih tema yang memang anda minati, karena itu akan anda geluti selama berbulan-bulan ke depan. Saran saya lagi: persiapkan sebaik-baiknya dengan pemahaman konseptual dan metodologis untuk menggarap tema pilihan anda tadi, agar anda terhindar dari ‘sasaran tembak’ dosen penguji….Saya punya mahasiswa bimbingan yang saya kenal betul selama ini dia begitu interest dalam hal film dan tetek bengeknya. Bahkan dia juga sempat menyabet penghargaan kategori penyutradaraan terbaik dalam sebuah kompetisi film pendek. Dan, minat terhadap film itupun menginspriasikan dia untuk memilih film sebagai subjek penelitian skripsinya. Untungnya, dia mendapat pembimbing yang bisa menyelami alam pikir dia ciehhh!

Memulai studi setelah mereview literatur

Awalan yang oke dalam merencanakan design penelitian adalah bertanya kritis terhadap ‘penelitian terdahulu’ yang sudah anda baca.  Hampir sebagian besar penelitian yang baik berawal dari upaya menguji sesuatu teori yang dilontarkan oleh peneliti sebelumnya ke dalam situasi yang baru atau berbeda : adakah sesuatu yang bisa ditandaklanjuti berdasarkan pada apa yang sudah ditemukan peneliti sebelumnya? Misalnya, David Morley pada tahun 80-an melalui bukunya yang legendaris Family Television menemukan bahwa struktur keluarga tercermin dari bagaimana kebiasaan mereka menyaksikan televisi ( Morley, 1986). Salah satu pokok simpulannya mengatakan bahwa kuasa struktur patriarki tercermin di dalam kebiasaan orang menyaksikan televisi, namun Morley mengakui keterbatasan penelitiannya, karena penelitian itu hanya menyasar pada kelompok demografi yang sempit, yakni keluarga kelas menengah kulit putih saja. Penelitian Morely ini bisa menjadi inspirasi untuk mengkaji apakah anggota masyarakat yang berbeda akan menggunakan televisi dengan kebiasaan yang berbeda. Bagaimana, misalnya, pengambilan keputusan terkait dengan menonton televisi ini untuk keluarga single parent. Atau, bagaimana pengambilan keputusan tentang menonton televisi pada keluarga yang tidak terikat tali kekeluargaan, seperti pada sebuah asrama mahasiswa? Siapa yang dominan menentukan, yang punya televisi? Atau yang sering nongkrongin televisi? Atau anda bisa memanfaatkan metode yang dipakai peneliti terdahulu tetapi diterapkan pada penggunaan media yang berbeda. Misalnya, kita adopsi model studi etnografi komunikasi Morley tadi dengan mengadakan FGD pada kelompok remaja untuk mengetahui kebiasaan mereka menonton film, dst. ( catatan : Ilustrasi di atas hanya sekedar contoh, anda bisa mulai mereview penelitian terdahulu para ahli pada tahun-tahun terakhir ini misalnya, 5 tahun terakhir ). Pendek kata, ada banyak cara untuk memanfaatkan metode yang telah dipakai peneliti sebelumnya untuk diaplikasikan kepada media atau konteks yang baru atau yang berbeda dengan situasi ketika penelitian terdahulu itu dilakukan.

Mengikuti  perkembangan mutakhir

Penelitian anda seyogyanya original. Itu berarti harus up to date alias mengikuti perkembangan zaman. Lagi-lagi saya kutipkan resep jitu yang dikemukakan John Stokes ( 2003: 20) dalam meyakinkan kita supaya tidak dikatakan generasi kuper berikut ini: Pertama, sisi teknologi : tengoklah  berbagai implikasi yang ditimbulkan oleh kehadiran teknologi mutakhir. Kedua, sisi regulatory : selidiki ketentuan perundangan atau peraturan pemerintah baru apakah yang baru muncul— karena ini akan membawa implikasi pada sistem media. Ketiga, sisi sosial : amatilah fenomena budaya apakah yang sedang nge-trend.

Ketiga sisi itu akan senantiasa berkembang. Kita seringkali memilih mengkaji fenomena terkait dengan perkembangan teknologi. Jangan terjebak pada stereotipe bahwa penelitian mengenai teknologi mutakhir ini sudah banyak diteliti. Karena banyak sekali aspek implikasi kehadiran teknologi yang membuka peluang untuk diteliti. Banyak sekali literatur mengenai impact teknologi komunikasi ini yang bisa dieksplorasi lagi.

Ups sudah jam satu lewat dini hari nich…. guwe pamit dulu ye…ntar kapan-kapan kalaow sempat guwe sambungin dech….!

Boekoe nyang gue baca:

How to do Media and Cultural Studies karangannye Jane Stokes  Sage Publication ( 2003)

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 11 April 2014.

Satu Tanggapan to “Serial Populer : Research for Beginners (1)”

  1. […] (tulisan sebelumnya) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: