THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (4)

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

TEORI BARU DAN RISET YANG TERKAIT DENGAN CYBER COMMUNICATION

Hingga saat ini, kita belum menemukan banyak teori baru dikembangkan terkait dengan internet dan the World Wide Web. Banyak riset dalam cyber communication yang diarahkan oleh pertanyaan spesifik, khususnya pertanyaan tentang efek dan penggunaan media baru. Konsep pokok tentang interactivity, hypertext, dan multimedia juga telah menjadi fokus pada beberapa studi. Salah satu teori yang telah dikembangkan adalah gagasan Roger Fidler (1997) mengenai mediamorphosis, yang mencoba menjelaskan hubungan  antara media baru dan lama.

MEDIAMORPHOSIS

Perubahan di dalam media tampaknya menjadi kian pesat saja. Pertumbuhan dramatis internet hanyala salah satu contohnya. Perubahan dramatis ini memunculkan pertanyaan mendasar mengenai darimana media baru berasal dan apa dampaknya terhadap media yang telah ada sebelumnya. Roger Fidler ( 1997) telah mempresentasikan gagasan mengenai mediamorphosis yang bisa membantu kita memahami jenis-jenis  perubahan di dalam media.  Ia mendefinisikan mediamorphosis sebagai “ the transformation of communication media, usually brought about by the complex interplay of perceived needs, competitive and political pressures, and social and technological innovations “ (hal 22,33). Intisari dari mediamorphosis adalah gagasan bahwa media bersifat “complex, adaptive systems”. Itulah sebabnya, media, seperti halnya sistem yang lain, menanggapi tekanan eksternal dengan proses spontan pengaturan kembali dirinya sendiri.  Dan seperti halnya makhuk hidup, media ber-evolusi untuk mencari peluang supaya bisa bertahan hidup di dalam lingkungan yang berubah. Fidler berpendapat bahwa media baru tidaklah berkembang secara spontan dan independent — mereka bergerak secara bertahap dalam  metamorphosis dari media lama. Seperti McLuhan, Fidler juga berpendapat bahwa munculnya bentuk-bentuk media komunikasi merupakan perkembangan  karakter menonjol dari bentuk media sebelumnya.

Research on Hypertext

Penelitian tentang efek dari hypertext telah dilakukan dalam berbagai model. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk mengetahui efek hypertext dalam pembelajaran. Satu penelitian (McDonald dan Stevenson, 1998) meneliti efek dari beberapa struktur hypertext yang berbeda dalam pembelajaran di kalangan para user. Satu pesan yang pada dasarnya sama disiapkan dalam struktur hirarki, di mana di tiap halaman dihubungkan (link) dengan yang sebelumnya dan yang sesudahnya; struktur yang non-linier, di mana halamannya dihubungkan ke dalam jaringan yang kompleks; dan struktur gabungan, yang memiliki struktur hirarki dasar tapi juga mencakup link-link lainnya sehingga memungkinkan user melompat keluar dari hirarki. Peneliti memprediksi bahwa teks yang non-linier adalah yang paling mengakibatkan disorientasi bagi user dan teks dengan struktur gabungan akan memberi kesemptan browsing yang efisien — lebih baik daripada model struktur hirarki yang kaku. Para responden dalam peneitian tersebut diminta untuk menggunakan dokumen hypertext  tersebut dan menjawab sepuluh pertanyaan.  Peneliti mencatat waktu yang diperlukan untuk menemukan jawaban dan jumlah halaman yang dibuka untuk mencari setiap jawaban tersebut.  Mereka menemukan bahwa user yang menggunakan teks gabungan paling cepat menemukan jawaban dan dengan paling sedikit membuka halaman, disusul user yang menggunakan teks hirarki dan baru kemudian teks yang bersifat non-linier. Mereka menyimpulkan bahwa user lebih menyukai pilihan teks yang sifatnya non-linier hypertext  dan bahwa teks gabungan paling banyak memberikan user kebebasan serta  tidak membatasi dalam browsing.

Penelitian lain yang dilakukan ( Lee, 1998) menguji bagaimana pembaca memelajari informasi dari berbagai artikel yang dihadirkan baik dalam teks tradisional maupun dalam hypertext.  Dengan satu buah artikel, subjek yang membaca dari teks tradisional memeroleh score ingatan lebih tinggi dibanding  mereka yang membaca informasi yang sama dalam hypertext.  Dengan artikel yang berbeda, format teks tidak memengaruhi ingatan. Salah satu temuan dalam penelitian ini adalah belum ada kejelasan  bagaimana nantinya  bentuk hypertext book (berapa banyak links– nya? Bagaiamana itu dipilih? Kemana itu akan ditempatkan ? dan seterusnya )

Penelitian selanjutnya tentang efek dari hypertext mungkin perlu lebih dispesifikan tentang aspek aspek apa dari hypertext itu yang akan dikaji.  Perlu juga mempertibangkan konteksnya, isi dari pesan, ketrampilan apa yang diciptakan oleh hypertext, pengetahuan sebelumnya dari user, dan sebagainya. Tampaknya, hypertext mungkin sesuai untuk beberapa jenis tujuan dibanding  tujuan tertentu lainnya. Dan apakah ada cara-cara (penelitian) lain di mana hypertext itu bisa diterapkan;  mencoba menggeneralisasi  efek hypertext  hanya berdasarkan pada riset satu atau beberapa dokumen hypertext  tertentu tidak akan memberikan pemahaman lebih baik—-  sama halnya dengan mencoba menggeneralisasikan efek sebuah foto dengan mendasarkan diri hanya pada kajian dari satu atau dua foto saja.

Research on Multimedia

Bagaimana para siswa menggunakan multimedia interaktif? Satu penelitian pernah dilakukan memfokuskan pada bagaimana siswa menggunakan program instruksional multimedia mata pelajaran kimia ( Jones dan Berger, 1995). Satu paket program disajikan kepada para siswa dengan pokok pertanyaan dan peta konsep, termasuk teks, foto,video, animasi , dan simulasi eksperimental. Hasil menunjukkan bermacam pendekatan yang berbeda dipakai oleh para siswa. Satu siswa bergerak dari pertanyaan menuju jawaban dengan 104 events, dimana satu events  di sini sama dengan satu tindakan seperti  gerakan ke kartu berikutnya, gerakan ke peta konsep, atau membuka sumber media. Siswa lainnya yang menghabiskan waktu yang sama dengan serangkaian gerakan maju dan mundur antara pertanyaan dan isi kartu melakukan 585 events. Sedangkan siswa yang ketiga juga bergerak maju dan mundur antara pertanyaan dan isi kartu tetapi menggunakan lebih banyak media seperti video.

Research on Interface Design

Design antar muka human-cumputer adalah satu area penelitian yang juga siap untuk digali lebih dalam lagi. Dalam jenis penelitian seperti ini para peneliti mencoba mengkaji lebih seksama efek dari berbagai bentuk screen ( Wearden, Fidler, Schierhorn, dan Schierhorn, 1998) dan rata-rata waktu  loading informasi dari bermacam laman ( Sundar dan Wagner, 1998).

Satu pertanyaan yang belum terjawab adalah bagaimana interface itu seharusnya dibentuk supaya bisa meningkatkan kemudahan bagi manusia dalam berinterkasi, termasuk “personality”-nya Pemanfaatan agen atau bots untuk memfasilitasi komunikasi  dengan user manusia adalah satu tahapan yang akan dituju. Apa faktor-faktor yang membuat jenis komunikasi seperti ini bisa berjalan lebih lancar lagi? Haruskah komputer menggunakan semacam personalities seperti halnya sifat manusia?

Satu penelitian terkait dengan “personality type” pada komputer pernah dilakukan oleh Moon dan Nass ( 1996). Mereka melakukan beberapa eksperimen di mana subjek berkomunikasi dengan komputer tentang persoalan upaya penyelamatan di sebuah padang gurun di suatu pulau tertentu. Untuk sebagian subjek, komputer menggunakan gaya personality yang lebih dominan, yang mengatakan demikian ,” Anda harus dengan tepat mengukur tinggi flashlight.” Sebagian subjek lagi, komputernya menggunakan gaya personality yang submissive, mengatakan demikian,”Mungkinkah jika  flashlight-nya harus diletakkan lebih tinggi lagi? ”. Subjek juga diberi  test untuk menguji kepribadian mereka sendiri apakah cenderung dominan atau submissive.  Penelitian menunjukkan bahwa subjek yang dominan bereaksi lebih senang dengan gaya komputer yang juga dominan, sedangkan subjek yang submissive beraksi lebih cocok dengan gaya komputer yang submissive juga. Peneliti mengatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan user menerima personality  komputer ini sebagai sesuatu yang “real”.

Research on Digital Eros , or Love Online

Beberapa terbitan populer berisi laporan mengenai  “love online” khususnya hubungan intens yang dibentuk melalui email atau chat rooms ( Gregory,1993). Gagasan ini mirip dengan gambaran dalam film berjudul You’ve Got Mail, dibintangi oleh Meg Ryan dan Tom Hanks.

Situasi ‘komunikasi—yang— dimediasi— oleh— komputer’ yang bagaimanakah yang  kemungkinan mengarah terbentuknya  hubungan emosional yang intens? Dengan kata lailn, mengapa relasi melalui internet kadang lebih menarik ketimbang relasi tatap muka?

Walter (1996) memberi nama hyperpersonal communication untuk computer-mediated communication yang secara sosial lebih dianggap  memikat daripada komunikasi tatap muka. Dia mengemukakan ada tiga faktor yang mendorong partner dalam computer-mediated communication lebih menarik : (1) e-mail dan jenis computer communication lainnya memungkinkan memilih self-presentation  dengan sangat selektif, dengan lebih sedikit  penampakan perilaku yang tidak dikehendaki ketimbang jika dilakukan secara tatap muka.  Dengan kata lain, anda tidak harus tetap menjadi ‘diri’ anda ketika berkomunikasi  melalui e-mail. (2) Orang menggunakan computer-mediated communication kadang  berlaku ‘over-attribution’ di dalam membentuk kesan stereotipe terhadap partnernya. Impresi atau kesan ini seringkali mengabaikan informasi negatif, seperti salah ketik, salah eja, dan sebagainya. (3) lompatan intensif  dapat terjadi di mana pesan positif dari satu partner mendorong pesan positif dari partner lainnya.

Research on Internet Addiction

Dalam beberapa tahun terakhir ini, kita lihat mulai berkembang perdebatan mengenai kemungkinan efek buruk internet seperti halnya  zaman debat  tak berkesudahan mengenai efek merugikan televisi dahulu kala.  Salah satu kemungkinan efek buruk pengggunaan internet adalah kecanduan internet (internet addiction). Internet addiction bisa diartikan penggunaan berlebihan internet yang dicirikan seperti halnya gejala-gejala klinis kecanduan , termasuk keasyikan terhadap suatu objek addiction, semakin sering menggunakan objek addiction daripada yang dimaksudkan, pengabaian konsekuensi fisik dan psychology dari penggunaan objek tersebut dan sebagainya (Young, 1996). Kimberly S.Young salah satu peneliti yang mengkhususkan mengenai internet addiction telah memperkirakan bahwa ada lebih dari lima juta pengguna internet yang terikat pada internet. Young, psikolog dari University of Pittsburgh’s Bradford campus, memiliki sebuah “virtual clinic” di nettaddiction.com yang menawarkan konseling melalui email, chat room, maupun telepon kepada orang yang terlibat cyber affairs, compulsive online gambling, online auction addiction,dan problem lain terkait dengan cyber.

Penelitian Young (1996) mengisyaratkan bahwa chat rooms adalah sumber utama kecanduan internet. Yaoung menyatakan “ many times, chat rooms allow indviduals the opportunity to meet certain unmet real-life needs such as social support, a sense of belonging in a group, or bringing out hidden parts of one’s personality” (Stanley, 1997).

Young (1996) menyamakan  internet addiction dengan, misalnya, kecanduan judi, dan memerlukan 14 tahun untuk bisa diterima dalam leksikon medis sebagai salah satu bentuk ‘addiction’(Nash, 1997). Meski demikian, ada juga para ahli yang mengkritisi  gagasan Young tentang internet addiction ini. Psikolog John Grohol mengatakan ,” People no more suffer an addiction to the internet than someone…who reads books all time suffer from ‘book addiction disorder’” ( Stanley, 1997).

Psikolog Storm A.King ( Levy, 1996) menulis,” Using the internet is no more inherently addiction than any other human activity that someone might find pleasure-producing, valuable, or productive.”

Kritik dilayangkan pada Young (1996) yang telah mempublikasikan sebagian dari hasil penelitiannya dalam jurnal ilmiah ( Kiernan, 1998). Young membuat kuesioner yang dia sebut sebagai ukuran internet addiciton dan tersedia dalam website-nya.  Kritik diajukan karena karena kuesioner Young belum benar-benar teruji dan tervalidasi.

Peneliti lainnya keberatan dengan nama internet addiction, mereka mengatakan hal itu tidaklah realistik membandingkan berselancar dalam Web dengan kecanduan seperti misalnya kecanduan heroin atau alkohol. Pendekatan yang lain yang bisa dipertimbangkan adalah internet dependency, fenomena yang dikaji di University of of Texas oleh Scherer (1997). Scherer berpendapat individu secara psikologi tidak mengalami kecanduan terhadap internet seperti halnya dengan kecanduan orang terhadap alkohol dan obat-obatan. Meski demikian, dia  mengatakan internet addiction bisa saja muncul jika penggunaan internet secara berlebihan dengan disertai perilaku ketergantungan dan emosional seperti yang diidap oleh mereka yang mengalami kecanduan makan atau kecanduan pada perjudian.  Psikolog mengirim mahasiswa yang menjadi sampel email kuesioner yang menanyakan apakah mereka mengalami gejala-gejala seperti yang terjadi pada kasus ketergantungan internet ( internet dependency). Beberapa mahasiswa yang melaporkan tiga gejala atau lebih diklasifikasikan mengalami ketergantungan. Dengan menggunakan kriteria tersebut, 13 persen dari mahasiswa ternyata mengalami ketergantungan internet. Prosedur ini juga memungkinkan peneliti membandingkan antara mereka yang mengalami ketergantungan internet dengan yang tidak— sesuatu yang oleh peneliti lain tidak diperhatikan.

Scherer (1997) menemukan ketergantungan biasanya terjadi pada mereka yang lebih menyukai menggunakan layanan internet  untuk newsgroups, games, chat rooms, multi user dungeons, dan bulletin boards dibanding  mereka yang  tidak mengalami ketergantungan.  Dua kelompok juga menampakkan pola yang berbeda dalam hal alasan menggunakan internet. Kelompok yang mengalami ketergantungan lebih menyukai menggunakan internet untuk bertemu dengan orang baru, untuk memeroleh pengalaman sosial, mencari materi sensual, atau mencari materi ‘ilegal’ maupun yang ‘immoral’. Kelompok yang alami ketergantungan internet juga mayoritas pria (71 %) dibanding wanita (29%).  Perlu dicatat bahwa mayoritas siswa yang ketergantungan internet melihat diri mereka sebagai pribadi yang bersifat  sosial, bukan introvert atau orang yang tersingkirkan secara sosial.

Research on Internet Use and Depression

Beberapa fokus penelitian yang kemudian terungkap mengenai internet sudah tidak lagi berkaitan dengan addiction semata namun juga memerhatikan kemungkinan efek psikologis yang buruk. Misalnya, pengguna internet kelas berat mungkin akan kehilangan banyak waktu yang bisa digunakan untuk keluarga atau teman-teman;  jenis ketertarikan sosial semacam ini pada gilirannya akan mengurangi dukungan sosial, dan akhirnya mengarah pada depresi.  Pemikiran seperti ini berseberangan dengan ide Howard Rheingold (1993) dan ahli lainnya yang mengatakan bahwa jaringan komputer  bisa menguatkan komunitas.

Efek psikologis dan sosial penggunaan internet telah diteliti secara mendalam oleh tim peneliti di Carnegie Mellon University ( Kraut dkk., 1998).  Mereka memberikan fasilitas gratis komputer yang terkoneksi dengan internet kepada kelompok keluarga yang tinggal di Pittsburgh. Mereka melakukan test psikologis pada partisipan sebelum  memeroleh komputer dan mengujinya lagi satu kelompok setahun kemudian dan kelompok lainnya dua tahunkemudian. Mereka juga memonitor semua penggunaan komputer dan internet untuk semua partisipan selama penelitian berlangsung.  Desain penelitian dengan demikian adalah menggunakan desain panel riset, dengan pengukuran sebelum dan sesudah diperkenalkan dengan internet.

Peneliti menemukan semakin tinggi penggunaan internet berkorelasi dengan pengurangan kontak dengan anggota keluarga, mengurangi kontak sosial di luar keluarga dan dengan pertumbuhan depresi dan kesepian.  Mereka mengajukan teori kemungkinan ada dua penjelasan yang berbeda mengenai efek negatif penggunaan internet yang bisa diamati. Internet bisa mengurangi waktu untuk melakukan kontak sosial face to face di antara manusia. Dan internet bisa memungkinkan  orang menggantikan kelemahan hubungan sosial yang telah terbentuk melalui web menjadi relasi sosial yang lebih kuat yang terbangun dalam suatu komunitas.

Peneliti mengindikasikan satu cara untuk mengurangi efek negatif adalah dengan mendorong layanan internet yang mendukung komunitas yang ada dan membantu menguatkan hubungan yang telah ada. Misalnya, fasilitas on-line yang disediakan oleh sekolah bisa memberikan sarana kepada siswa untuk mengerjakan pekerjaan rumah secara bersama-sama daripada hanya menyediakan sumber-sumber referensi secara on-line.

Panel studi ini, meski demikian, telah dikritisi oleh peneliti lainnya. Misalnya, profesor Donna L Hoffman dari Vanderbilt University yang juga pemimpin riset penggunaan internet, mengatakan bahwa studi di atas tidak memiliki dua standar pengamanan — yakni kelompok kontrol dan pemilihan subjek penelitian secara acak ( Caruso, 1998). Disamping yang telah dikemukakan di dalam penelitian terdahulu, ada juga kasus-kasus di mana individu yang merasa bahwa penggunaan internet membantu mereka keluar dari depresi ( Robert, 1998).

SIMPULAN

Tulisan ini adalah bagian terakhir dalam rangkaian bahasan mengenai theories of cyber communication. Satu simpulan yang bisa kita petik dari serial  ini adalah : bahwa konsep cyberspace mengacu pada realitas metaphorical di mana bentuk baru komunikasi elektronik berperanan.  Salah satu bagian besar dari cyberspace tidak lain adalah internet, suatu networks  yang berkembang pesat dalam suatu jaringan komputer. Internet  dalam beberapa hal telah mengubah cara-cara mendasar di dalam komunikasi, termasuk meningkatkan interaktivitas yang kian tinggi di antara komunikator dan user. Dengan demikian, internet juga mendorong pendefinisian ulang tentang komunikasi massa.

Cyberspace memungkinkan kesempatan terbentuknya komunitas virtual, yakni orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan bertemu hanya secara elektronik.  Perlu dicermati disini dengan cara bagaimana virtual community memiliki kesamaan dengan komunitas sesungguhnya dan dalam hal apa memiliki perbedaaan.

Media elektronik baru memungkinkan  terjadinya perubahan besar di dalam masyarakat. Peneliti baru mengeksplorasi beberapa saja terkait dengan efek positif dan negatif dari berbagai macam bentuk cyber communication yang sedang berkembang  dan  telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam  masyarakat  saat ini.

Disarikan dari :

Severin, W.J., dan James W.T,Jr. 2001. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media. Fifth edition.  USA : Longman

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 9 April 2014.

Satu Tanggapan to “THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (4)”

  1. […] (Bersambung). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: