THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (3)

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

User and Gratifications

Apakah manfaat menggunakan internet atau media baru lainnya bagi audiens? Pertanyaan seperti inilah yang  berulang kali dicobajawab  melalui pendekatan uses and gratifications tradisional selama ini.

Perse dan Dunn ( 1995) meneliti penggunaan komputer rumah dan media-media lainnya guna menemukan berbagai variasi kebutuhan akan media (oleh penggunanya). Mereka tertarik pada penelitian uses and gratifications sebelumnya ( Greenberg, 1974) mengenai apa yang orang dapatkan dari media massa yang kemudian diterapkan dalam kemungkinan motivasi yang mendorong orang menggunakan komputer. Data survai nasional mengindikasikan bahwa di antara mereka yang memiliki komputer sekalipun, hanya sedikit user yang mencantumkan komputer sebagai : sumber utama dalam mencari informasi mengenai peristiwa yang terjadi di dunia,  sebagai hiburan, untuk bersenang-senang, sebagai sarana relaksasi, untuk melupakan persoalan, untuk menghindari perasaan kesepian, sebagai sarana untuk menjaga tetap sibuk, untuk melakukan sesuatu terkait dengan hobi, dan sebagai sarana kegiatan bersama teman atau keluarga.

Bagian tertentu dari WWW yang kini menunjukkan perkembangan adalah situs berita on-line. Pertanyaan yang mengemuka : apakah ada user yang kemudian menjadi ‘audiens khusus’ situs berita on-line tersebut? Siapakah orang-orang yang menggunakan situs berita tersebut dan untuk tujuan yang bagaimana? Sebuah penelitian terhadap mahasiswa suatu perguruan tinggi mengindikasikan beberapa jawaban terhadap pertanyaan di atas. Chang ( 1998) mengirimkan email kuesioner kepada para mahasiswa menanyakan mengenai tiga kategori alasan mereka mengunjungi situs: media attributes, exposure situations, dan accesibility.

Hasil menunjukkan (Chang,1998) bahwa media attributes dalam hal ini immediacy ( mengetahui sesuatu dengan segera) dan stability ( memeroleh berita ketika mereka membutuhkannya) menjadi motivasi yang paling tinggi bagi user di dalam mereka menggunakan situs berita on-line.   Interactivity (komunikasi dengan jurnalis) adalah media attributes yang paling tidak dipentingkan bagi userTo learn things menjadi alasan yang paling penting dalam kategori exposure situations. For companionship menjadi alasan paling tidak penting dalam penggunaan situs berita on-line. Sementara dalam kategori accesibility, baik economics maupun convenience dari surat kabar on-line, keduanya menjadi alasan-alasan utama yang dianggap penting bagi user di dalam mengunjungi situs berita on-line .

Interactivity  yang seringkali diperkirakan sebagai salah satu fitur paling menonjol di dalam internet justru menjadi salah satu motivasi yang tidak begitu penting bagi user di dalam mereka mengunjungi situs berita on-line. Dengan demikian, mahasiswa universitas tersebut secara khusus tidak terlampau tertarik menggunakan situs berita on-line sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan editor.

Kadangkala internet menjadi bahan diskusi menyoal apakah media ini menjadi media utama yang digunakan oleh kalangan muda.  Apakah kemudian berlaku semacam generasi internet?  Sebuah survai yang dilakukan oleh  Gallup Organizations untuk tujuan riset pemasaran on-line mengindikasikan bahwa kalangan muda menggunakan internet secara berbeda dibanding bagi kalangan orang tua (Nando Times, 1998). Pengguna yang lebih tua cenderung menggunakan internet umumnya untuk tujuan memeroleh  berita dan informasi, sementara kaum muda cenderung menggunakan internet untuk tujuan yang lebih bervariasi.

Diffusion of Innovation

Umumnya di antara para ahli sepakat bahwa internet dan WWW telah tumbuh lebih pesat dibanding media massa sebelumnya. Ha dan James ( 1998) membuat daftar yang mengemukakan alasan pernyataan tersebut: The Web memberikan lebih banyak kemanfaatan kepada user karena internet tidak hanya menyediakan informasi melainkan juga pengetahuan. Ditambah dengan kemudahan akses maka the web memiliki tiga kelebihan langsung bagi penggunanya.

Rogers ( 1995) mengatakan bahwa inovasi dalam interactivity, atau media yang memberikan kemungkinan komunikasi dua arah, akan mempercepat proses adopsi karena mendorong percepatan terjadinya ‘a critical mass’ di kalangan penggunanya.

Sebuah studi tentang adopsi produk elektronik baru yang dilakukan oleh surat kabar metropolitan ( Weir, 1998) menemukan bahwa penggunaan media baru berkorelasi dengan opini pemimpin, persepsi terhadap kemanfaatan internal, dan persepsi terhadap kemanfaatan eksternal namun tidak berkorelasi  dengan pengetahuan tentang komputer atau keadaan umum sebagai sebuah inovator.

The Knowledge Gap

Salah satu problem yang dihadapi masyarakat adalah bahwa kemanfaatan optimal dari internet  belum  merata bagi setiap orang. Para peneliti telah mencatat adanya kesenjangan pengetahuan atau informasi di dalam (pemanfaatan) media tradisional. Beberapa peneliti telah menunjukkan perhatian khusus tentang kemungkinan adanya digital divide, suatu bentuk kesenjangan pengetahuan di dalam cyberspace (Novak dan Hoffman,1998). Kesenjangan dalam bentuk  ‘digital divide’  ini bisa terjadi pada kelompok orang yang dibedakan menurut gender, race,pendapatan, dan pendidikan, selain variabel-variabel lainnya.  Ada semacam gurauan  bahwa internet adalah wilayahnya para orang muda, kulit putih, laki-laki berpendidikan dengan kemampuan mengetik yang canggih — meski dalam beberapa hal gurauan  itu ada benarnya juga.

Meskipun kesenjangan gender di dalam penggunaan Internet secara dramatis sirna, perbedaan dalam hal race rupanya tetap ada. Komputer di rumah dimiliki oleh 44,2 % kalangan kulit putih dibanding 29% -nya yang adalah penduduk African Americans ( Novak dan Hoffman, 1998).

[………..]

Media Credibility

Kredibilitas (credibility) telah lama menjadi persoalan dalam riset komunikasi massa. Dibandingkan dalam media tradisional, dalam Internet isue  ini bahkan lebih gencar lagi dengan bertambahnya persoalan accuracy, reliability dan adequacy of information. Dalam fiture/aplikasi chat rooms dan games multiplayer muncul persoalan mengenai apakah orang yang berinteraksi adalah benar-benar orang yang sebagaimana ditampilkan. Dorongan untuk mengutamakan kecepatan di dalam internet membuat hampir sebagian besar lembaga pemberitaan me-release informasi tanpa terlebih dahulu men-cek keakuratannya dengan cermat.

Banyak situs yang tampaknya bisa menjadi sumber informasi yang netral dan bermanfaat sesungguhnya juga dikendalikan oleh kalangan bisnis yang berusaha menjual produknya. Misalnya, situs yang didaftarkan sebagai “Anxiety Relief Center” ternyata juga dikeluarkan oleh perusahaan obat-obatan ( Sellers, 1999).

Tidak sedikit pula situs berita on-line yang sekarang mulai mengaburkan batas yang membedakan antara isi yang bersifat editorial dengan advertising, perbedaan yang sudah sejak dahulu didasarkan pada aturan jelas mengenai jurnalisme.  Misalnya, sebuah surat kabar on-line menurunkan berita mengenai anak-anak dengan penyakit astma yang ternyata disertai  link pada laman yang dilabeli “Medical/Dental Advertiser” ( Sellers, 1999).

Kondisi yang ditemui oleh pengunjung webpage seperti di atas telah digambarkan sebagai salah satu bentuk cognitive submission  (Hanssen, Jankowski, dan Etienne, 1996). Dalam kondisi seperti di atas, bahkan ketika dilakukan dalam kategori keterlibatan yang aktif, user bisa saja tidak berpikir  kritis tentang apa yang mereka lihat dan dengar.  Pengguna web tampaknya perlu memeroleh ‘pelatihan’ untuk meningkatkan kecakapan dalam mengevaluasi informasi.

Meskipun banyak pertanyaan yang muncul menyoal reliabilitas  informasi yang berasal dari internet, beberapa penelitian hingga saat ini menemukan bahwa user menilai publikasi Web sebagai lebih kredibel dibandingkan dengan informasi dari media tradisional pada level yang sama ( Johnson dan  Kaye, 1998).

GAGASAN McLUHAN MENGENAI ‘NEW MEDIA’

Tulisan-tulisan Marshal Mc.Luhan ( 1964;McLuhan and Fiore, 1967, 1968) masih merupakan sumber yang sangat inspiratif yang bisa dijadikan rujukan dalam riset mengenai ‘new media’. Gagasan pokok McLuhan  mengenai ‘ the medium is the message’ bisa diterapkan di dalam internet atau bentuk-bentuk khusus mengenai WWW, seperti situs berita on-line ( Treymayne,1997).

Lebih jauh lagi, banyak dari tulisan McLuhan yang berkaitan dengan efek psikologis dan kultural media baru. Seperti penelitian Sherry Turkle yang mengkaji bagaimana Web bisa mengubah identitas seseorang ( Turkle, 1995) termasuk dalam salah satu tradisi penelitian tersebut.

Pemikiran McLuhan bahwa media baru seringkali masih menggunakan ‘media lama’ sebagai isinya juga bisa diterapkan dalam internet. Beberapa studi mendokumentasikan kecenderungan dalam  surat kabar on-line yang mengemas kembali materi dari surat kabar catak ( Gubman dan Greer, 1997:Tankard dan Ban, 1998).

Dan yang jelas, gagasan McLuhan tentang “the global village” tampaknya akan mendekati kenyataan melalui internet. Banyak pertanyaan menarik yang diajukan oleh peneliti tentang bagaimana wujud dari “the global village” ini. Ide McLuhan mengenai matinya atau kemuncuran media cetak juga merupakan hal yang menarik. Dengan lahirnya ‘hypertext’, kita sudah tidak lagi dibatasi oleh model teks linier yang disebut McLuhan sebagai fiture dasar buku dan bentuk-bentuk media cetak lama lainnya.

McLuhan juga mengajukan gagasan lain yang menantang  mengenai perbedaan antara bentuk media. Kajian yang membandingkan antara media on-line dengan media tradisional — di dalam mentransmisikan informasi, misalnya— merupakan penelitian yang mengikuti tradisi tersebut. Satu penelitian pernah dilakukan untuk menguji seberapa besar yang bisa dipelajari/ditangkap user dari berita maupun iklan ketika di-release dalam surat kabar on-line maupun media surat kabar tradisional (Sundar, Narayam, Obregon dan Uppal, 1998). Mereka sampai pada simpulan tidak ada perbedaan seberapa besar yang dipelajari pembaca dari sisi artikel berita, namun juga terindikasi bahwa pembaca memelajari lebih sedikit dari iklan yang di-release di dalam laman web ketimbang yang dimuat melalui halaman media cetak. Para peneliti ini berspekulasi bahwa user Web mungkin mengira bahwa Web sebagai sumber yang sifatnya free information dan dengan demikian tidak begitu memerhatikan pada iklan yang ada di laman web.

(Bersambung).

Disarikan dari :

Severin, W.J., dan James W.T,Jr. 2001. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media. Fifth edition.  USA : Longman

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 7 April 2014.

2 Tanggapan to “THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (3)”

  1. […] (Bersambung). […]

  2. […] (tulisan sebelumnya) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: