THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (2)

(tulisan sebelumnya)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Hipertext

Salah satu fitur menakjubkan dari WWW adalah penggunaan hyperlinks: seorang pengguna bisa mengklik penanda dalam sebuah laman yang kemudian mengarahkannya ke beberapa tujuan—baik dalam dokumen yang sama, dalam website yang sama, atau di dalam site yang lain dalam sebuah Web. Hyperlinks sebenarnya bentuk khusus dari hypertext, suatu istilah yang diperkenalkan pada tahun 1965 oleh Ted Nelson (Nelson, 1987). Nelson mendefinisikan hipertextsebagai tulisan yang berkesinambungan. Nelson menulis,” Unrestricted by sequence, in hypertext we may create news forms of writing which better reflect the structure of what we are writing about; and readers, choosing a pathway, may follow their interests or current line of thought in a way heretofore considered impossible “(Hal 1-3).

Kita sekarang baru mengetahui bagaimana efektifnya pemakaian hypertext. Sebagian besar penggunaan hyperlinks yang bisa kita temukan di dalam WWW adalah pemanfaatan lebih jauh dari apa yang sebelumnya sudah bisa dilakukan dalam hipertext ini. Sementara para ahli berpendapat bahwa hypertext dapat mengubah pola asosiasi di dalam otak manusia (Bush, 1945; Devlin dan Berk, 1991), namun sampai sejauh ini belum ada contoh yang bisa mengilustrasikan hal tersebut.

Salah satu kesulitan yang ditemui dalam hypertext terkait dengan problem nafigasi (navigation problem), yakni kemungkinan menjadi tersesat dan tidak mengetahui di mana text itu akan tertuju. Konsep yang terkait dengan itu adalah fear of disorientation, yakni ketakutan akan tersesat di dalam hyperspace. Beberapa ahli dalam bidang hyperspace menyarankan kepada para kreator  hypertext agar mengikuti aturan tertentu dan menyediakan struktur atau bahkan jika memungkinkan peta yang membantu para user terhindar dari kemungkinan disorientasi. Di sisi lain, menghindari struktur yang rumit sebenarnya justru menjadi salah satu bagian dari tujuan diciptakannya hypertext. Idealnya, penulis hypertext berusaha menyediakan ‘pengalaman yang memperkaya’ sejalan dengan struktur yang dia buat (Grice, Ridgway, dan See, 1991).

Satu variabel menarik di dalam penggunaan hypertext berkaitan dengan seberapa besar kontrol yang diberikan kepada user. Seorang web designer bisa merancang suatu laman sedemikian rupa sehingga user  hanya bisa berselancar ke dalam alur yang sudah direncanakan sebelumnya oleh designer, atau desainer juga bisa merancang sebuah site di mana user diberi kebebasan lebih untuk mengeksplorasi sesuka pengguna (Gay, 1991: 169). Variabel ini cukup penting untuk dikaji oleh peneliti komunikasi.  Riset analisis isi bisa dilakukan untuk mengetahui seberapa besar kontrol diberikan kepada user dalam berbagai situs. Selain itu penelitian eksperimen bisa juga dipakai untuk meneliti bagaimana user bereaksi di dalam website yang memberi mereka berbagai variasi kontrol.

Multimedia

Multimedia adalah sebuah sistem komunikasi yang menyediakan paduan antara teks, grafik, suara,video, dan animasi. Semakin ke sini, dalam WWW juga terdapat fitur streaming multimedia, atau live audio dan video yang tersedia melalui website.

Perkembangan terbaru adalah video hotlinks, penanda yang muncul ketika video sedang diputar. Dengan mengklik penanda tersebut maka user akan bisa menyaksikan video lainnya atau potongan video atau mengarahkan user kepada suatu halaman (text) tertentu ( Alvear, 1998).

Multimedia bekerja dengan baik berkat pemaduan dengan fungsi hipertext atau hyperlinks. User bisa mengklik untuk mencicipi suara atau sampel video.

Interactivity, hypertext, dan mulimedia adalah sebagian dari fitur utama dalam sebuah cyberspace yang perlu dikaji lebih lanjut oleh para peneliti.

PENERAPAN TEORI YANG TELAH ADA DI DALAM CYBER COMMUNICATION

Apakah tantangan yang dihadapi oleh para peneliti dan teoritisi komunikasi  terkait dengan perubahan  sangat cepat  dalam teknologi komunikasi? Peneliti harus memfokuskan pada sisi manusia di dalam perkembangan baru teknologi komunikasi ini. Mereka seharusnya meneliti area di mana para perancang software tidak menggarapnya. Bagaimana orang sekarang menggunakan berbagai tools ini, termasuk dalam hal interactivity, hypertext dan multimedianya? Apakah efek yang ditimbulkan— dari internet dan berbagai fiture dari cyberspace — terhadap individu dan masyarakat pada umumnya? Bagaimana internet kemudian mendorong  perubahan dalam media komunikasi lama ?

Salah satu cara di dalam mengupayakan jawaban atas pertanyaan di atas adalah dengan menerapkan teori-teori komunikasi yang telah ada ke dalam bentuk komunikasi (media) baru. Cara lainnya adalah dengan mengangkat beberapa pertanyaan pokok terkait dengan new media dan melaksanakan penelitian serta mengembangkan teori baru untuk bisa menjawab pertanyaan di atas.

Sejauhmana teori-teori komunikasi massa yang telah ada bisa diterapkan dalam konteks internet? Pertanyaan mengenai efek dan penggunaan internet langsung mengarahkan kita pada beberapa area riset komunikasi massa sebelumnya.

Agenda Setting

Sudah banyak penelitian mengenai efek agenda setting terkait dengan media massa konvensional yang telah didokumentasikan.  Namun apakah kemudian agenda setting juga bisa diterapkan dalam konteks kajian internet atau pada bentuk-bentuk lain dari cyber communication ? Salah satu kemungkinan yang muncul adalah bahwa audiens pada situs berita di dalam WWW itu terlampau terfragmentasi jika hendak dikaji dengan agenda setting.  Meski di sisi lain, ada juga kemungkinan beberapa situs bisa dikaji atau setidaknya cukup menarik untuk bisa dikaji dengan agenda setting. Dan, sesungguhnya, efek agenda setting sudah dianggap terjadi manakala hanya satu orang yang mengalami perubahan prioritas (pentingnya isue).

Salah satu uji teori agenda setting di dalam WWW dilakukan oleh Myung-ho Yoon ( 1998), mahasiswa pasca sarjana di University of Texas. Yoon mencoba melihat apakah penggunaan situs berita Korean di kalangan mahasiswa Korea di University of Texas terpengaruh pemikirannya tentang  isu ekonomi yang dianggap penting di Korea. Para mahasiswa Korea tersebut disurvai via telepon mengenai apa yang menurut mereka anggap penting secara personal terkait dengan isue perekonomian di Korea. Yoon juga melakukan content analysis  pada halaman ekonomi/bisnis pada tiga koran utama Korea yang ada di web. Peng-coding melakukan kategorisasi masing –masing headline di bagian ekonomi/ bisnis ke dalam salah satu dari sembilan isu yang teridentifikasi melalui survai telepon sebelumnya.  Hasil penelitian menunjukkan kecenderungan rangking isu kategori tinggi terjadi pada satu agenda isu (korelasi tata jenjang adalah .83) – yang dengan demikian terbukti atau mendukung  efek agenda setting dalam kasus situs berita online ini.

Salah satu implikasi dari hipotesis agenda setting terhadap individu adalah : dengan semakin tinggi terpaan terhadap media massa seharusnya mencerminkan agenda media lebih kuat terjadi pada mereka ketimbang individu yang kurang mendapatkan terpaan dari media tersebut. Yoon (1998) pun meneliti hipotesis tersebut dengan menguji apakah mahasiswa dengan terpaan tinggi pada berita online juga akan lebih menghasilkan ‘agenda media sebagai agenda pribadi’ mereka dibanding dengan mahasiswa yang terpaannya lebih kecil terhadap berita online ini.  Hasil penelitian tersebut menunjukkan korelasi positif antara terpaan media dengan kecondongan terhadap agenda media, di mana mahasiswa dengan terpaan tinggi terhadap situs berita dalam WWW mengindikasikan kemiripan tinggi antara agenda personal mereka dengan agenda berita WWW.

Salah satu arah baru riset agenda setting adalah mencoba mengidentifikasi fitur-fitur isi media yang mengindikasikan bahwa sesuatu isue memiliki arti penting. Di dalam Web, salah satu fiture yang bisa menjadi semacam mekanisme framing atau indikator-arti penting isu adalah hyperlinks.

Riset eksperimental guna membuktikan efek dari hyperlinks terhadap arti pentingnya isue pernah dilakukan oleh Wang (1999). Dia meneliti apakah hiyperlinks di dalam berita online akan menghasilkan arti penting terhadap isu mengenai rasisme. Dia mendesain empat versi situs berita online : satu versi yang tidak memiliki fitur berita halaman muka mengenai rasisme; satu versi lagi dengan fitur tersebut tapi sederhana— tidak ada link berita tentang kasus pembunuhan Jasper, Texas; satu versi dengan one-link berita tentang pembunuhan Jasper; dan satu versi lagi dengan berita mengenai pembunuhan Jasper dengan beberapa links di dalamnya. Setelah mendapat terpaan terhadap salah satu dari versi berita online, subjek diminta memberikan ranking arti penting terhadap delapan isue, termasuk isu rasisme.

Hasil menunjukkan bahwa pembaca dari webpages memiliki ketertarikan dalam berbagai tingkatan terhadap pentingnya isu rasisme bergantung pada versi news web mana yang menerpa mereka. Kelompok yang membaca situs tanpa berita rasisme memberi rating paling rendah mengenai pentingnya isu rasisme. Dua kelompok yang melihat situs dengan beberapa links, one-link  dan kelompok yang melihat situs dengan links yang ekstensif, memberikan penilaian tinggi pada arti penting  isu mengenai rasisme.  Hal ini mengindikasikan bahwa penggunaan hyperlinks di dalam situs berita diinterpretasikan oleh user online sebagai indikator bahwa berita yang disajikan dianggap penting dibanding jika berita tersebut tidak disertai hyperlinks.

(Bersambung).

Disarikan dari :

Severin, W.J., dan James W.T,Jr. 2001. Communication Theories: Origins, Methods, and Uses in the Mass Media. Fifth edition.  USA : Longman

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 30 Maret 2014.

4 Tanggapan to “THEORIES OF CYBER COMMUNICATION (2)”

  1. […] Penelitian menunjukkan dengan memasukkan fitur interactivity di dalam sistem media akan mendorong orang lebih bisa menerima media tersebut, lebih memuaskan pengguna, memberi kesempatan lebih dalam penguasaan dan pembelajaran, dan menciptakan perasaan saling bekerja sama ( Rafaeli, 1988) (Bersambung). […]

  2. terus menulis seputar ilmu komunikasi pak!🙂

  3. […] (tulisan sebelumnya) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: