Mengkaji Komunikasi Dengan Pendekatan Historis

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pendahuluan

Sistem komunikasi telah berkembang menjadi sebuah ‘sejarah’ tersendiri, meski demikian amat disayangkan  bidang ini kurang mendapat perhatian dari para akademisi (komunikasi). Demikian ditulis Darnton (1990) dalam bukunya The Kiss of Lamourette. Pernyataan ini seakan mengamini apa yang sudah dikemukakan Elizabeth Eisenstein (1979) hampir sedekade sebelumnya, yang mengeluhkan belum adanya studi sistematis mengenai dampak teknologi mesin cetak terhadap kebudayaan, kendati para sejarawan begitu antusias terhadap potensi perubahan masyarakat semenjak ditemukannya teknologi ini.

Secara umum, para ahli komunikasi mengakui kajian mengenai sejarah komunikasi memang tidaklah begitu berkembang. “The writing of communication history is woefully underdeveloped” demikian Schudson (1999). Salah satu sebabnya, meski hingga saat ini media komunikasi telah berkembang menjadi institusi yang demikian besar,  namun apa yang “diusung” oleh medianya itu justru  jauh lebih menjadi pusat perhatian ketimbang media yang menjadi pengusungnya. Sebagai sebuah lembaga, media memiliki perbedaan karakter dibanding lembaga lain seperti ‘negara’ atau ‘gereja’, karena memiliki tingkat otonomi tersendiri dan media  bisa   menjadi “ independent influence” terhadap perubahan politik, sosial dan kebudayaan. Meski demikian, pada kenyataanya, media lebih dilihat sebagai latar belakang dan bukan sebagai pelaku atau subjek historis utama.

Trend dan Cakupan Kajian Komunikasi Perspektif Historis

Menurut  Nerone ( 2006), di antara para ahli komunikasi, ilmuwan yang berkecimpung dalam studi komunikasi perspektif  historis terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, terkait dengan aliran  “Canadian School” dan pioner Amerika Serikat seperti James W. Carey dan Neil Postman, yang memfokuskan pada narasi agung perkembangan teknologi komunikasi. Kedua,  terkait dengan ilmuwan yang menekuni  sejarah jurnalistik klasik dan sejarah kebebasan pers, yang  fokusnya mengenai  seputar kontribusi lembaga media terhadap perkembangan kebebasan demokrasi.  Kecenderungan yang pertama tadi cakupannya  menjadi sangat besar dan menekankan pada “bentuk”, sementara yang kedua terkesan lebih konkrit dan  menekankan pada “isi” .

Sementara menurut Schudson (1999),  dalam ranah kajian komunikasi perspektif historis dikenal ada tiga bidang  atau kategori yang  disebut : “macro-history, history proper dan “institutional history. Schudson mencatat,  dilihat dari sisi metodologi dalam kajian komunikasi historis maka isu utamanya justru bukan pada metodenya melainkan pada persoalan cakupan studinya.

Macro-history of communication merupakan bidang cakupan yang paling luas dalam studi sejarah komunikasi. Studi ini menyoal hubungan antara media dan perkembangan evolusioner manusia dengan pertanyaan pokok: Bagaimana sejarah komunikasi telah membawa pencerahan terhadap kehidupan manusia?   Harold Innis (1951, dalam Schudson 1999) dan tentu saja tak ketinggalan Marshal McLuhan (1962;1964, dalam Schudson 1999) adalah tokoh kunci kategori ini.  Melalui karyanya yang visioner, kedua tokoh ini telah menarik perhatian dunia terhadap disiplin ilmu komunikasi, meski di sisi lain justru kemudian muncul skeptisme tentang keseriusan studi sejarah komunikasi mengingat klaim agung visinya tersebut.

Bidang cakupan  kedua adalah  “the history proper of communication”. Kajian  ini memusatkan perhatian pada hubungan antara media dengan kebudayaan, politik, ekonomi dan sejarah sosial. Pertanyaan pokoknya: bagaimana perubahan komunikasi membawa pengaruh pada aspek-aspek lain  dalam masyarakat yang pada gilirannnya membawa dampak perubahan sosial; begitupun sebaliknya. Bila sejarah komunikasi makro hanya memusatkan perhatian pada bagaimana komunikasi bisa menjelaskan hal-hal yang lain ( sifat manusia, perkembangan dan modernisasi ); maka “the history proper of communication”  mengarah tidak saja pada bagaimana sejarah komunikasi bisa bercerita tentang kemasyarakatan melainkan juga bagaimana masyarakat bisa membawa pengaruh  pada “sejarah komunikasi”.

Karya  Elizabeth Eistein (1979) adalah contoh dari kajian komunikasi perspektif historis dalam kategori ini. Ia meneliti mengenai pergeseran dari masyarakat yang belum mengenal  percetakan menuju budaya cetak dan dampaknya dalam transformasi dalam bidang  politik, ilmu pengetahuan dan pemikiran sosial.  Karya lain dalam kategori ini tercermin dalam studi Chandra Mukerij (1983) yang melihat industri percetakan sebagai salah satu elemen dalam  lingkaran timbal balik yang kemudian mencetuskan kapitalisme. Dan yang tak ketinggalan adalah karya fenomenal Jurgen Habermas (1989) yang mendiskusikan tentang peran komunikasi dalam perkembangan demokrasi; ini yang kemudian kita kenal sebagai konsep ruang publik ( public sphere).  Selanjutnya,  penelitian komunikasi dalam perspektif sejarah dalam kategori ini adalah karya Schudson (1978) tentang lahirnya konsep jurnalisme objektif dan implikasinya terhadap perubahan politik, ekonomi, sosial dan budaya di Amerika Serikat.

Kategori ketiga dalam kajian sejarah komunikasi adalah sejarah kelembagaan komunikasi  (“institutional history “) yang memfokuskan pada perkembangan media, utamanya adalah media massa meski kemudian berkembang juga ke sejarah perkembangan bahasa, perkembangan genre tertentu media tercetak seperti novel, sampai dengan sejarah perfilman. Pertanyaan pokok bidang ini : bagaimana media-media tersebut berkembang, lebih khusus lagi adalah perhatiannya pada kekuatan sosial yang mendorong perkembangan industri media. Contoh kajian sejarah kelembagan komunikasi  sangatlah banyak  mulai dari sejarah surat kabar, majalah, perusahaan penerbitan, sejarah  penyiaran sampai dengan sejarah perkembangan film.  Asa Briggs (1961-1979) misalnya, meneliti tentang sejarah perkembangan BBC. Sementara Eric Barnow (1966-1970) meneliti perkembangan kepenyiaran di Amerika Serikat.

Sejarah Komunikasi Kontemporer

Selain tiga kategori kajian komunikasi dalam perspektif sejarah seperti dikemukakan oleh Schudson di atas,  kita bisa memasukkan kategori lain sebagaimana dikemukakan oleh Richard Butsch (2003) yakni sejarah komunikasi kontemporer, misalnya melihat bagaimana karakteristik   perilaku menonton  film atau televisi  dalam keseharian mereka, dalam suatu konteks historis waktu tertentu. Butsch (2003) dalam tulisannya berjudul  “A Historical Research Agenda” mengemukakan keunggulan perspektif historis bila digunakan untuk mengkaji khalayak media kontemporer: Pertama,  karena perspektif historis  bersifat  kontekstual.  Ia berfokus pada khalayak aktual dalam setting alamiah dan bukan pada hasil kajian teoritis yang diatur dalam sebuah “laboratorium” penelitian tentang penonton. Dengan menempatkan penonton dalam konteks sosial dan sejarah, kita dapat memahami penggunaan media serta interpretasi kontemporer dari penggunaan media tersebut. Hal ini membantu   kita  mengkaji bagaimana “praktek penonton” dan bukan sekedar melihat efek media bagi penonton.  Hal ini juga membantu untuk melihat apakah  penonton yang  diantarai oleh media  terikat dalam sebuah hubungan secara sosial dengan individu lainnya  sebagai sebuah praksis  kebudayaan.

Kedua,  penelitian historis bersifat komparatif. Penelitian komunikasi historis dapat membandingkan penonton dari era yang berbeda, seperti radio di tahun 1920-an televisi pada 1950-an dan internet pada 1990-an. Pendekatan komparatif membantu untuk mengungkapkan karakteristik praktek menonton dengan membandingkan praktek menonton dari waktu ke waktu dalam media yang sama atau dalam media yang berbeda.

Ketiga, penelitian  komunikasi historis   dapat mengungkapkan perkembangan karakteristik perilaku bermedia dari waktu ke waktu. Pendekatan ini  mengingatkan kita bahwa penonton tidak statis tetapi bervariasi dilihat dari  identitas mereka dan kaitannya praktek menonton mereka dalam konteks waktu dan tempat yang berbeda.

Keempat,  penelitian komunikasi historis  membantu untuk mengklarifikasi asumsi-asumsi, konsep, dan kategori. Laporan penelitian mengenai “khalayak media” acapkali secara implisit mengandung asumsi dari kondisi hisoris sebelumnya. Sebagai contoh, adanya hipotesis yang mengkhawatirkan bahwa televisi atau internet telah menggantikan aktivitas tertentu  yang mungkin lebih bermanfaat yang dilakukan oleh anak-anak sebelum mereka kecanduan televisi atau internet. Selama bertahun-tahun, umumnya diskusi tentang “khalayak media” telah berasumsi tentang “atensi penonton”, tidak memedulikan kenyataan bahwa orang seringkali tidak begitu  intens dalam menonton televisi atau malah tidak menonton sama sekali. Dengan mengkritisi kajian terdahulu tentang khalayak, setidaknya akan membantu kita lebih memahami  dan memformulasikan kembali konsep-konsep yang kita pakai saat ini.

Terkait dengan kajian komunikasi perspektif historis kontemporer  yang memfokuskan pada perfilman,  Daniël Biltereyst dkk (2012: 4 ) mengkategorikannya sebagai berikut:

Bidang  kajian historis yang pertama dikenal sebagai film exhibition. Di sini para ahli meneliti mengenai “sejarah “peredaran  film  yang sedang berlangsung, data ini  nantinya akan menjadi dasar pada penelitian khalayak film.

Kategori kedua,  terkait dengan “studi resepsi historis”. Sebuah model penelitian yang diarahkan pada pengembangan kajian film yang bersifat  “context-activated theory” sebagai lawan dari  “text-activated”  sebagaimana pernah dilakukan oleh  Janet Staiger ( 1992:57). Dengan memanfaatkan bahan studi resepsi historis, Staiger kemudian menganalisis dan merekonstruksi bagaimana “pembacaan” penonton ketika menyaksikan film dengan menggunakan analisis kontekstual wacana publik terhadap film tersebut. Dengan penelitian semacam ini, maka akan diperoleh rentang kemungkinan model pembacaan dalam periode historis tertentu.  Hasil penelitian seperti ini kembali menegaskan betapa pengalaman kontekstual sangat berperan di dalam praktek  “pembacaan menonton” terhadap film. Model penelitian ini menggunakan sumber seperti ulasan dari berbagai surat kabar, hasil wawancara, artikel dan surat kepada editor dalam majalah-majalah film. Salah satu tujuan dari penelitian ini adalah menggali  berbagai rentang kemungkinan analisis  wacana sejarah, politik dan yang lainnya sekitar film , genre, sutradara film atau bioskop pada umumnya.

Kategori penelitian yang ketiga dikenal sebagai riset yang mencoba menggali “the social composition of the audience”. Memusatkan perhatian pada bagaimana sebuah film menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pemirsanya. Sebagian besar penelitian seperti ini berkaitan dengan komposisi sosio demografis khalayak film. Perdebatan yang menarik di seputar ini terkait dengan film sebagai ruang publik dan persoalan inter-racial, inter-gender, dan etnik campuran dalam audiens film terkait dengan isu mengenai  pembedaan klas.  Banyak  dari penelitian  seperti ini yang  berkonsentrasi pada wacana yang berkembang di antara penonton film  dalam masyarakat tertentu, organisasi lembaga atau kelompok (misalnya lembaga sensor,  para orang tua, kelompok kepentingan keagamaan), dan lebih khusus lagi, menyoal  kepedulian mereka terhadap apa yang disebut kelompok rentan seperti anak-anak , imigran, pekerja dan wanita (misalnya Uricchio dan Pearson 1999, Butsch 2000).

 Korpus Penelitian dan  Persoalan Metodologi

Salah satu persoalan mendasar dalam mengkaji sejarah komunikasi adalah pada ketersediaan data dasar dalam penelitian. Di Amerika Serikat misalnya, hanya sedikit tersedia berita televisi sebelum tahun 1968, ketika Vanderbilt University menyelenggarakan Vanderbilt Television Archives dan mulai merekam berita yang disiarkan tiap malam.  Materi yang dijadikan korpus penelitian inipun harus diperoleh dengan ongkos yang mahal dan prosedur yang rumit.

Sejarah  kelembagaan komunikasi seringkali mengandalkan catatan dan arsip kegiatan organisasi/lembaga media dengan pemerintah ( lebih lanjut mengenai metode lacakan historis media lokal lihat Kyvig dan Martin, dalam James D. Startt and William David Sloan,1989). Studi sejarah kelembagaan komunikasi memang bisa  mengambil keuntungan dari sumber-sumber tersebut untuk melihat bagaimana perhatian  internal  produsen media serta dinamika dan konsekuensi dari pertumbuhan dan perubahan organisasi. Namun, dokumen  lembaga media seperti itu  hanya dapat mengungkapkan sedikit tentang dampak yang lebih luas dari media pada kesadaran individu atau struktur politik dan sosial. Sejarah lembaga komunikasi terlalu sering hanya menjadi catatan pribadi-pribadi yang duduk dalam lembaga tersebut serta  perombakan organisasi yang terjadi.

Dalam kajian “the history proper of communication “  memang bukanlah hal yang mudah menemukan bukti yang mantap mengenai  dampak budaya yang lebih luas yang diakibatkan oleh eksistensi sebuah lembaga media, di mana data survei untuk itu umumnya kurang atau tidak memadai bahkan tidak tersedia sama sekali. Satu contoh pertanyaan yang paling mendasar siapakah golongan masyarakat dalam kurun waktu tertentu di masa lalu yang membaca suatu surat kabar A?Untuk ini peneliti  seringkali harus menggali sumber lain yang terkait sumber sastra misalnya. Kalau di Amerika, pertanyaanya, siapa yang membaca koran penny New York tahun 1830-an?  ( Bandingkan kalau di Indonesia, pertanyaannya, siapakah golongan orang-orang yang membaca koran pertama nasional Medan Prajaji di tahun 1900an misalnya? )

Relatif  belum  ada studi sosiologis kontemporer yang bisa kita jadikan petunjuk mengenai pertanyaan di atas. Mungkin ada data mengenai klaim catatan  editor tentang siapa yang membaca koran mereka, namun “klaim” semacam ini tentu dimuati promosi terselubung sehingga perlu peneliti  untuk mengkritisi dan memvalidasinya. Salah satunya dengan melakukan validasi dengan data dari editor saingan media tersebut yakni “York Herald New”. Dalam kasus penelitian penny New York tahun 1830-an, beruntunglah ada buku harian Philip Hone (1889), New Yorker terkemuka yang mencatat begitu banyak tentang kehidupan sehari-hari kotanya. Juga ada sumber sekunder lain berupa catatan harian PT Barnum (1871 dalam Schudson ,1999: 180 ), yang mencatat dalam otobiografinya bahwa “ia mengambil York Herald New membaca iklan baris ketika ia datang ke New York untuk mencari pekerjaan”.  Meski demikian, belum ada  potret komprehensif yang menggambarkan siapa pembaca koran penny New York tahun 1830-an itu.

Menurut Schudson (1999), saat ini  para peneliti sejarah komunikasi telah membuat beberapa kemajuan metodologis dalam mendapatkan data mengenai publik pembaca dalam periode tersebut. Dalam bukunya  Knowledge Is Power (1989), Richard Brown meneliti sejumlah kecil orang Amerika yang dianggap memiliki pengetahuan mengenai surat kabar tersebut pada abad kedelapan belas atau awal kesembilan belas. Ia memanfaatkan beberapa detail buku harian atau rangkuman dari buku harian dan dokumen terkait yang menyajikan semacam catatan sejarah kehidupan mengenai pembaca dan sekelumit tanggapan (respon pembaca) mereka mengenai sebuah surat kabar pada masanya.

Sementara itu, William Gilmore (1989), alih alih berfokus pada individu, ia lebih memusatkan perhatiannya pada wilayah geografis, yakni di suatu wilayah pedesaan Vermont, dan berusaha menemukan data yang komprehensif yang ia bisa peroleh dalam periode 1770-1830. Ia meneliti dokumentasi kepemilikan perpustakaan keluarga dari berbagai kelompok masyarakat yang berbeda latar belakang sosio ekomoninya, koran yang mereka langgani, dan toko buku yang ada di  kota tersebut. Pelacakan pengguna surat kabar baginya jauh lebih sulit ketimbang meneliti pengguna buku karena surat kabar itu biasanya tidak disimpan atau dibuang sedangkan buku cenderung dipertahankan dan dianggap sebagai dokumen perpustakaan keluarga.

Contoh lain pelacakan pembaca surat kabar di masa lalu dilakukan oleh David Nord (1986). Ia menemukan  sesuatu yang menarik dari kelas pekerja pembaca dengan memanfaatkan data individu keluarga dari survei sosial Komisaris Tenaga Kerja AS pada tahun 1891. Dia sampai pada simpulan adanya korelasi antara daerah, etnis, dan pendapatan dengan perilaku pembaca serta menemukan bukti bahwa keluarga yang lebih terintegrasi ke dalam lembaga-lembaga Gesellschaft merupakan golongan pembaca yang lebih spesifik ketimbang  mereka yang lebih termasuk dalam  Gemeinschaft.

 Bagaimana dengan kajian sejarah komunikasi di Indonesia?

Dari sekian banyak studi komunikasi perspektif historis, tulisan mengenai sejarah pers memang mendapat perhatian yang cukup serius dari para ahli. Meski beberapa buku yang menulis mengenai sejarah pers kebanyakan terbitan  sebelum atau pertengah tahun 90an. Sebut saja misalnya  tulisan IN. Soebagijo, Sejarah Pers Indonesia ( Dewan Pers, Jakarta) terbitan rahun 1977. Kemudian  tulisan Abdurrachman Surjomihardjo berjudul Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia, yang diterbitkan tahun 1980 oleh LEKNAS –LIPI Jakarta. Kemudian tulisan S. Probohardjono berjudul  Sejarah Pers dan Wartawan di Surakarta: PWI Solo  terbit tahun 1995. Sementara sumber historis mengenai asal mula pers awal di Indonesia ( zaman VOC)  ditulis oleh pengarang barat, yakni Von Faber dalam bukunya  A Short History of Journalism in The Dutch East Indies ( Sourabaya: 6 Kloff & Co.tanpa tahun ). Dua pengarang asing lain yang kemudian juga mengabadikan sejarah pers di Indonesia adalah Eduard JJM Kimman  dalam bukunya  Indonesian Publishing ( Holland, Baarn, 1981) dan Edward C Smith dengan tulisannya Pembreidelen Pers di Indonesia yang diterbitkan oleh Grafiti Pers, 1986).

Sementara itu sebuah buku berjudul Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1015) karya Bedjo Riyanto, menurut  penulis cukup memberikan gambaran mengenai sejarah perkembangan iklan yang tidak bisa dilepaskan dari lahirnya surat kabar di Indonesia. Buku yang merupakan hasil riset magister ini menyuguhkan informasi mengenai awal mula pertumbuhan iklan sekaligus menggambarkan peran penting lembaga periklanan terhadap pertumbuhan industri surat kabar, demikian juga  sebaliknya. Menurut buku tersebut: penggunaan media periklanan sebagai alat penyampaian informasi atau pesan (message) perdagangan, dan pemerintahan Hindia Belanda dirintis sejak Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai Gubernur Jenderal (1619-1629) di Batavia. Ia dapat dikatakan sebagai tokoh perintis periklanan yang pertama di Indonesia. Disamping sebagai pemrakarsa iklan pertama di Indonesia, Coen  juga bertindak sebagai pemasang iklan dan pendiri perusahaan perikanan. Iklan pertama yang diprakarsainya berupa pengumuman-pengumuman pemerintah VOC yang berkaitan dengan mutasi (perpindahan) pejabat-pejabat penting di beberapa wilayah Hindia Belanda. Berita tentang mutasi para pejabat tersebut disampaikan dengan metode dan teknik periklanan sehingga pada masa itu hakekatnya antara berita dengan iklan tidak ada bedanya. Fakta ini membuktikan bahwa penerbitan pers dan periklanan lahir tepat besamaan dan keduanya akan saling membutuhkan (simbiosis-mutualistis). Mesikpun hanya bertahan dua tahun, kehadiran surat kabar lembaran iklan ini semakin menyadarkan pemerintah kolonial akan pentingnya suatu sistem informasi yang mendukung kegiatan pemerintahan dan perekonomian. Pendapatan iklan merupakan tulang punggung finansial bagi kehidupan suatu industri penerbitan pers. Hampir di seluruh surat kabar yang terbit di kota-kota besar seperti Batavia, Bandoeng, Semarang, Vorstenlanden (Soerakarta dan Djogjakarta), Soerabaja, dan Malang (terutama pulau Jawa) baik yang menggunakan bahasa pengantar Belanda, Melayu, maupun bahasa daerah, periklanan selalu menempati posisi besar dalam lembaran pemberitaannya.

Seperti halnya di Amerika Serikat, pelacakan pembaca pertama koran  York Herald New yang terbit tahun 1880an bisa memanfaatkan sumber sekunder berupa tulisan autobiografi dari Barnum, maka di Indonesia kita bisa melacak pembaca koran pribumi pertama Medan Prijaji terbitan tahun 1900an  melalui karya tetralogi Pramudya Ananta Tour. Melalui tokohnya Minke, dalam roman sejarah khususnya di buku ketiga Jejak Langkah, Pramudya mengisahkan bagaimana Minke melakukan perlawanan menghadapi kolonial Hindia tidak dengan jalan senjata melainkan jalan jurnalistik.  Roman sejarah ini menceritakan dengan menawan perkembangan awal koran pribumi di tahun 1900an. Terdapat informasi mengenai siapa golongan pembaca dan berapa tiras awal koran ini, seperti dikutip dalam halaman 297 buku tersebut:

Empat bupati telah berlangganan “Medan” : lebih dari seluruh nilai yang dikandung oleh modal  nyata. Hanya dalam tiga bulan telah terdaftar seribu limaratus langganan tetap, tersebar di seluruh Jawa, beberapa kota besar di Sumatra dan Celebes. Lebih dari duaribu percetakan tak mampu melayani ( Toer, 2012: 297)

Demikian sekelumit “sejarah koran pribumi awal” di Indonesia, yang kemudian bisa dibaca sebagai jejak awal pergerakan pribumi melawan pendudukan Hindia Belanda di Indonesia, sebuah contoh betapa lembaga pers surat kabar tak bisa dilepaskan dari sejarah pergerakan politik pada masa itu.

Penutup

Sebagai simpulan uraian paper ini bisa digarisbawahi bidang kajian sejarah komunikasi masih memungkinkan dikembangkan termasuk  di Indonesia. Memang dibutuhkan semacam karakter keilmuawan yang agak berbeda dibanding pengkaji komunikasi pada umumnya karena ia harus memiliki kemampuan “intrinsik” dan bersedia memasuki serta menelaah pada hampir seluruh bidang pengalaman manusia. Melengkapi metode yang dipakai oleh ilmuan sosial /perilaku yang tidak dapat sepenuhnya memelajari kehidupan manusia, penelitian sejarah komunikasi dapat menggabungkan metode penelitian komunikasi dengan metode unik studi sejarah sehingga bisa membantu kita memahami manusia dalam dimensi seutuhnya.

Dan yang tidak kalah penting, pangkaji sejarah komunikasi seperti halnya ilmuwan sejarah pada umumnya harus memiliki keinginan mutlak menemukan “kebenaran”.  Komitmen terhadap filosofi, ideologi dan kerangka teoritik harus menjadi bekal yang utama, dan tidak ada toleransi lain selain komitmen pada kebenaran. Selanjutnya, penulisan sejarah sudah pasti membutuhkan ketelitian yang tinggi. Para penelitinya harus tak kenal lelah dalam upaya mengumpulkan dan menganalisis sumber/ bahan, yang kadang memakan waktu jam demi jam hanya untuk menemukan detil yang kecil sekalipun. Tidak seperti peneliti komunikasi yang menggunakan metode penelitian sosial dan perilaku, sejarawan jarang memiliki sistem rumus matematika dan statistik yang bisa diandalkan. Dalam menilai dan menganalisis bahan penelitian, mereka harus bergantung pada kematangan penilaian mereka sendiri, kemampuan  berpikir kritis, dan kemampuan analitis yang tajam.

Akhirnya, sejarawan  harus memiliki kekuatan imajinasi. Fakta-fakta sejarah tinggalah fakta sejarah yang “mati” kecuali dia dihidupkan oleh pikiran dan kearifan sejarawan yang dapat melihat hubungan antara materi dan makna di dalamnya. Adalah tugas sejarawan yang kemudian memberikan   nafas hidup di dalamnya, dengan tidak meninggalkan metode dan prosedur penelitian serta pikiran yang senantiasa jernih, tajam, terbuka dan fair terhadap subjek kajiannya.

DAFTAR PUSTAKA

Barnouw, Eric. Et.all. 1989. A History of Broadcasting in United States, 3 vols. New York: Oxford University.

Biltereyst,  Daniël,  Kathleen Lotze & Philippe Meers. 2012. “Triangulation in historical audience research: Reflections and experiences from a multi-methodological research project on cinema audiences in Flanders “ . Journal of Adudience and Reception Studies. Volume 9, Issue 2  November 2012

Brigga,A..1961-1979. The History of Broadcasting in The United Kingdom, 4 vols, Oxford: Oxford University

Brown, R. 1989. Knowledge is Power, New York: Oxford University Press.

Butsch, Richard. 2003. “Popular Communication Audiences: A Historical Research Agenda”. POPULAR COMMUNICATION, 1(1), Lawrence Erlbaum Associates, Inc. pp. 15–21

Darnton, R. 1990. The Kiss of Lamourette, New York: W.W.Norton.

Eisenstein, E. .1979. The Printing Press as an Agent of Change, New York:

Cambridge University Press.

Faber , Von. Tanpa tahun.  A Short History of Journalism in The Dutch East Indies Sourabaya: 6 Kloff & Co.

Gilmore, W. (1989) Reading Becomes a Necessity of Life, Lexington: University of Kentucky Press.

Habermas , Jurgen .1989. The Structural Transformation of the Public Sphere: an Inquiry into a Category of Bourgeois Society, Cambridge, MA: MIT Press.

Kimman, Eduard JJM. 1981. Indonesian Publishing. Holland: Baarn.

Mukerji, C. 1983. From Graven Images, New York: Columbia University Press.

Nerone,John. 2006.”Critical Forum The Future of Communication History ” Dalam Jurnal Critical  Studies in Media Communication .Vol. 23, No. 3, August 2006, Hal. 254_262

Nord, D. .1986. “Working-class readers: family, community, and reading in late nineteenth-century America,” Communication Research 13: 156–81.

Probohardjono, S. 1995. Sejarah Pers dan Wartawan di Surakarta: Solo: PWI

Riyanto, Bedjo. 2000. Iklan Surat Kabar dan Perubahan Masyarakat di Jawa Masa Kolonial (1870-1915). Yogyakarta: Tarawang Press

Schudson .1999. “Historical Approaches to Communication Studies Dalam Jensen, Klaus Bhuhn & Nicholas W Jakowski. (eds) A Handbook of Qualitative Methodologies for Mass Communication Research. London: Roudledge.

Schudson, M. 1978. Discovering the News, New York: Basic Books.

Smith. Edward C .1986. Pembreidelen Pers di Indonesia . Jakarta: Grafiti Pers.

Soebagijo, IN. 1977. Sejarah Pers Indonesia  Jakarta : Dewan Pers

Staiger, Janet, 1992. Interpreting Films: Studies in the Historical Reception of American Cinema, Princeton: Princeton UP.

Surjomihardjo,Abdurrachman. 1980. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers di Indonesia. Jakarta: LEKNAS –LIPI

Toer, Pramoedya Ananta. 2012. Jejak Langkah.  Jakarta: Lentera Dipantara

Uricchio, William and Pearson, Roberta. 1999 “The Formative and Impressionable Stage”: Discursive Constructions of the Nickelodeon’s Child Audience’, in Stokes, Melvyn and Maltby, Richard (eds.), American Movie Audiences: From the Turn of the Century to the Early Sound Era, London: British Film Institute, pp. 64-75.

NB : Artikel ini pernah dimuat dalam Jurnal Komunikasi Acta Diurna Vol 9  No 1 /2013

Tulisan ini saya dedikasikan kepada almarhum kakak sepupu saya, Drs. Sudarmono,SU., sejarawan Solo, yang sangat mencintai “sejarah” dan mendedikasikan seluruh hidup untuk bidang kajian sejarah sampai akhir hayatnya….

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 Maret 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: