RESENSI BUKU: Metode Riset Kuantitatif KOMUNIKASI

buku metode riset kuantitatif komunikasi MunawarDATA BUKU:

Judul  : Metode Riset Kuantitatif KOMUNIKASI

Penulis : Munawar  Syamsudin  AAN

Penerbit : PUSTAKA PELAJAR Jogjakarta

Cetakan : I, Juli 2013

Tebal : xiv+208 halaman

ISBN: 978-602-229-239-5

Ditengah riak gelombang semangat fenomenologi dan hermeneutik yang sedang nge-tren di jagat ilmu komunikasi  negeri ini kelahiran buku metode riset komunikasi berperspektif positivistik tentu cukup ‘mengagetkan ’—kalau bukan disebut sebagai melawan arus. Meski demikian, hadirnya buku ini tentu patut diapresiasi  karena dia lahir tak sendirian, bersamaan dengan terbitnya buku ini juga turun ke bumi  buku satunya yang  juga merupakan buku metode riset tapi perspektifnya intrerpretatif. Hal demikian seakan mengingatkan kita bahwa  bangunan suatu ilmu memang tak kan kokoh bila tak disusun  dari paradigma yang beragam. Bukankah  ilmu komunikasi itu sendiri sejatinya juga multifaset? 

Demikianlah kesan pertama ketika saya membaca judul buku baru, setidaknya baru saya lihat langsung di depan mata karena buku ini tergeletak dalam tumpukan buku-buku  sumbangan alumni baru- baru ini.

Membaca buku ini, bagi saya, bagaikan membuka lembaran-lembaran memori masa lalu. Munawar  Syamsudin  AAN ,penulis buku ini, memanglah guru saya semasa saya studi S1 di Universitas Sebelas Maret  tahun 90-an. Tentu sudah bukan subjek asing bagi beliau menuliskan hak ikhwal  metode penelitian bidang komunikasi karena beberapa buku yang pernah beliau tulis (setidaknya yang dulu saya tahu) adalah juga buku terkait dengan metodologi, walaupun buku itu ditulis dalam rangka  ‘menemani’ mahasiswa mengikuti mata kuliah teknik penulisan karya ilmiah; jadi semacam modul kuliah yang di UNS  jaman dahoeloe dikenal sebagai ‘buku pegangan kuliah’ (BPK). Kalau tidak salah buku (BPK)itu menjadi embrio buku pengantar praktis metodologi diterbitkan UNS Press tapi saya lupa apa judul persisnya.    Belakangan minat, kecintaan dan kepakaran beliau dalam bidang komunikasi tercermin melalui judul buku buah karyanya seperti  Anatomi dan Taksonomi Konsep Ilmu Komunikasi, Pengantar Ilmu Komunikasi, Pengantar Ilmu Komunikasi Massa dan Ensiklopedi Mini Ilmu Komunikasi ,serta judul Sosiologi Komunikasi.

Lahir, di Cirebon 6 November 1950, Munawar  Syamsudin AAN, atau dalam buku ini beliau menyebut dirinya sebagai “AAN” adalah sosok yang unik. Saya masih ingat betul bagaimana style mengajar beliau di depan kelas : postur tubuhnya yang agak gemuk pendek Pak Munawar, tak henti-hentinya berkeliling di dalam kelas sembari berkotbah mengenai “bagaimana menjadi peneliti/ penulis ilmiah yang piawai”, di hadapan kami sambil memencet-mencet tombol OHP, sorotan matanya  tajam walau terkesan cenderung meilirik bukan menatap, seakan mengajak  para siswanya jeli melirik  gejala komunikasi di sekeliling kami dan mendorong kami melahirkan dalam bentuk tulisan  — dalam diskursus media massa yang maujud dalam tulisan opini maupun kolom. Maklum, dosen senior yang sudah mantan dan sekarang menjadi Direktur Insititut Makiwa Indonesia di  Jakarta ini, dulunya juga dikenal sebagai kolumnis di beberapa surat kabar daerah ternama di Surakarta dan DIY.  Selain dosen senior  pengajar bidang ilmu komunikasi dan kolumnis,  beliau juga seorang  pegiat sastra. Tidak sedikit  cerpen karangannya yang menghiasi majalah sastra nasional ternama  periode tahun 80-an ( kalau tidak salah). Melihat background yang demikian itulah maka tidak heran bila gaya bahasa beliau sungguh unik. Acapkali, penggunaan frase, istilah yang tak lazim dan struktur kalimat yang nyentrik-pun menjadi ciri kekhasan beliau. Meski begitu, beliau bukanlah penulis genit yang gemar merusak tatatan bahasa, bahkan lebih tepat: AAN adalah seniman kata-kata yang cintanya pada EYD tak perlu diragukan lagi!

Buku berjudul Metode Riset Kuantitatif Komunikasi ini konon lahir bersamaan dengan kembarannya yang berjudul Resolusi Neo-Metode Riset Komunikasi Wacana. Lahirnya dua buku secara berbarengan  tentu bukan karena kebetulan. Ada alasan rasional logis yang bisa terjawab melalui uraian awal dalam prakata beliau demikian : “Memosisikan secara proporsional-adil-berimbang antara teori –praktik paradigma metode riset kuantitatif dengan paradigma metode studi-riset-komunikasi kualitatif, adalah salah satu tujuan penting penulisan-penerbitan “duet dwilogi” ….dst”

Quantitative Rather Than Speculative

Sumbangan pertama berharga dari buku AAN ini adalah dalam hal penyajiannya akan suatu buku ilmiah yang mengkhususkan titik pembahasannya kepada kategori penelitian komunikasi yang mengandalkan pengukuran dengan angka-angka atau lebih mengandalkan yang bersifat kuantitatif daripada spekulatif (quantitative rather than speculative). Seperti sudah saya singgung di awal tulisan ini, bahwa meskipun dunia komunikasi di tanah air ini masih sedang menggandrungi pendekatan yang serba kualitatif, fenomenologi atau interpretatif, tapi menurut saya buku penelitian bidang komunikasi yang berlogika deduktif tetap juga diperlukan. Buktinya, pengalaman dan kesaksian para almuni yang sekarang sudah berkiprah di berbagai-bagai lembaga itu, seringkali membutuhkan kemampuan analisis media dengan pendekatan kuantitatif. Selain alasan metodologis, kebutuhan yang demikian itu  juga disebabkan oleh kondisi  pragmatis situasional. Misalnya, seorang analisis isi media yang harus memberi pelaporan kepada atasannya mengenai respon publik terhadap kebijakan suatu kementerian yang dipimpinnya — di mana laporan itu harus dibuat dalam tempo yang sangat singkat misalnya — maka mau tidak mau dia harus mengandalkan amatan isi media secara kuantitatif. Atau melihat gejala kemunculan content berita dan atau respon masyarakat yang dilansir media dengan metode kuantitatif isi media ( content analysis).  Dengan demikian, maka penguasaan analisis terhadap seluk beluk metode riset analisis isi tentu tidak boleh dianggap tidak dibutuhkan lagi.  Dan itulah salah satu materi isi yang ditawarkan buku AAN ini, selain materi lain semisal Metode Riset Agenda Setting, Riset Uses and Gratifications, Metode Riset Ekologi Media, Metode Riset Eksperiman bidang Komunikasi, dan Riset Analisis Jaringan Komunikasi.  

Saya yakin, bagi para mahasiswa komunikasi generasi tahun 2010-an dst. akan merasa asing dengan kata ‘eksperimen’ dan ‘jaringan’  di atas. Memang, selain untuk keperluan riset terapan (seperti dalam test  case produk baru) metode eksperimen dalam komunikasi sebagai penelitian dasar —ini menurut saya — agak kurang diminati, kalau bukan ingin mengatakan “dibutuhkan” . Tetapi riset eksperimen akan sangat bermanfaat, misalnya, untuk melihat respon seketika dari publik mengenai sesuatu ide produk baru misalnya, atau desain baru atau content  dalam desain branding tertentu. Sehingga kehadiran buku metode riset yang mengajarkan seluk beluk eksperimen dalam komunikasi tentu juga masih diperlukan. Semantara riset model agenda setting, uses and gratification dan ekologi media bahkan jaringan, menurut saya sebenarnya juga tidak perlu ditinggalkan. Bahkan kalau kita rajin menengok jurnal ilmiah asing, masih sangat banyak penelitian dilakukan dengan model, misalnya uses and gratification, atau agenda setting. Hanya saja, media yang dikaji mungkin bergeser dari media komunikasi “kuno” menuju “new media”.  Sehingga, relevansi hadirnya buku ini adalah memberi background metodologis dan teoritis supaya bisa mengembangkan model penelitian komunikasi seperti uses and gratifications pada generasi berikutnya, di mana media yang dihadapi sudah berbeda sifat karakternya misalnya.  Kemudian tema analisis jaringan, sebetulnya juga amat disayangkan bila kemudian tidak pernah dijamah oleh para pengkaji komunikasi. Karena metode ini justru sekarang menjadi lebih relevan mengingat sifat publik audiens media itu sudah tidak mungkin lagi terbebas dari sebuah network, baik dalam media network maupun social network Bahkan metode yang awalnya dikembanagkan oleh ilmuwan sosiologi ini pun kembali dihidupkan oleh para ahli di bidang ilmu lain seperti ilmu pendidikan misalnya, dengan menerapkannya secara aplikatif sebagai bagian penting dalam keberhasilan proses pengajaran, mengingat individu peserta didik — lagi-lagi tak bisa lepas dari network,  dst.   Sehingga, hadirnya  analisis jaringan tentu masih diperlukan utamanya untuk melihat fenomena komunikasi yang sangat rumit dan terikat dalam jaringan komunikasi/media yang makin ruwet itu.

Pun sama halnya dengan metode riset ekologi media dan agenda setting, keduanya masih bisa dieksplorasi lebih lanjut, tentu dengan mengingat sejarah perkembangan metode dan bangunan teorinya yang dari dekade ke dekade sudah bergeser. Dalam lingkup kajian komunikasi politik misalnya, studi agenda setting masih relevan diterapkan, meskipun pemahaman kita mengenai agenda media sebagai suatu independent variabel justru dipertanyakan, dan melihat agenda publlik justru malah—misal— menjadi independent variabel, selain menyertakan juga analisis mendalam mengenai agenda kebijakan yang tak bisa lepas dari proses terbentuknya “agenda” dalam masyarakat yang dimediasi oleh media dst. dan lagi-lagi, kita juga harus melihat bahwa definisi media dan penggunaan media sudah sangat berbeda dengan ketika metode ini dilahirkan sekian puluh tahun silam.

Sayanagnya, dalam buku ini saya belum menemukan uraian mengenai implikasi perubahan metode penelitian dengan mempertimbangkan perkembangan  karakter media dan media use seperti yang saya singgung dalam paragraf di atas. Buku ini, nyaris memang sepert album masa lalu yang berisi catatan penting bagaimana melaksanakan penelitian komunikasi dengan perspektif  positivis tanpa memberi arahan mengenai bagaimana menerapkannya dalam abad infomasi dan dunia daring yang dahsyat ini.

Terlepas dari ketidaklengkapan suatu buku metode untuk citarasa jaman sekarang, buku ini tetap merupakan buku yang sangat bermanfaat utamanya bagi para peneliti pemula (baca :mahasiswa) Dengan uraian yang sederhana dan menyertakan langkah-langkah praktis aplikasi metode riset kuantitatif—bahkan sampai uraian mengenai bagaimana menyusun laporan hasil karya ilmiah(bab VIII)– buku ini memberi pengantar yang komprehensif bagi mereka yang hendak menjadi analisis media dan atau analisis komunikasi massa pada umumnya. Selain itu, sebagai pemanasan, dalam bagian I buku ini tersaji uraian yang sangat sistematis, singkat padat dan jernih mengenai apa itu ilmu, bagaimana itu filsafat ilmu (dalam) mengkaji metode riset kuantitatif. Berikut saya kutipkan kalimat awal bab I buku ini yang menyapa sidang pembaca bagaikan bait pertama fatwa pujangga :
“Barangsiapa ingin sukses melalukan riset ilmiah, ia harus tahu syarat-syarat ilmiah atau lebih tepat lagi ia harus tahu syarat-syarat ilmu. Barangsiapa, individu atau tim, ingin sukses melaksanakan riset ilmiah atau penelitian ilmiah, ia atau mereka harus  tahu dan sadar apakah sesungguhnya ilmu. Riset atau penelitian keilmuan (ilmiah) sumbernya dari ilmu…..dst”

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Nah, bisa merasakan sengatan kata-kata sugestif manjur itu kan? Sehingga, bab I buku ini saja sebenarnya sudah merupakan dosis tepat yang bisa dicerna mahasiswa ketika mereka baru belajar metode riset dalam mata kuliah Metode Penelitian Sosial ( MPS ) misalnya.

Terakhir, dengan teriring salam hormat saya kepada beliau guru inspirator dan mentor saya, maka saya simpulkan bahwa buku Metode Riset Kuantitatif KOMUNIKASI  made in Munawar Syamsudin AAN ini adalah buku yang bermanfaat demi kemaslahatan umat pengkaji komunikasi mulai dari yang sedang mengawali karir akademik di tahun –tahun awal perkuliahan komunikasi pun sampai mereka yang sudah merasakan asam garam lapangan pekerjaan lahan komunikasi.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 1 Maret 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: