UNDERSTANDING COMMUNICATION TECHNOLOGIES (2)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Critical Mass Theory

Pernahkah anda memikirkan siapakah yang memiliki alamat email atau memiliki telepon pertama kali? Dengan siapa kira-kira mereka berkomunikasi? Teknologi interaktif seperti telepon dan e-mail sekarang menjadi sesuatu yang lumrah dimiliki dan digunakan oleh banyak sekali orang. Orang –orang yang telah mengadopsi teknologi itu. Ada orang-orang yang pada masa itu menjadi innovators, menjadi early adopters yang bersedia mengambil resiko mencoba teknologi interaktif baru. Para pengguna ini bisa disebut sebagai “critical mass”, sekelompok kecil dari populasi yang memilih “ to make big contributions to the public good” demikian istilah yang dipakai Markus (1987).  Dalam istilah umum, segala proses sosial yang melibatkan tindakan-tindakan individu yang membawa kemanfaatan bagi yang lainnya dikenal sebagai “collection action”. Dalam kasus ini, teknologi akan menjadi semakin bermanfaat jika setiap orang di dalam suatu sistem menggunakannya, kondisi  yang dikenal sebagai universal access. Universal acces terwujud jika seseorang bisa menghubungi semua orang lain dengan menggunakan sesuatu teknologi komunikasi. Misalnya, di Amerika Serikat, saluran telepon hampir sudah menjangkau ke semua wilayah, dan setiap orang bisa merasakan manfaat dari teknologi itu walaupun pada mulanya hanya sebagian kecil dari populasi yang memilih mengadopsi telepon dan makin lama makin membesar seperti fenomena bola salju. Ada satu tahapan di dalam proses difusi di mana media interaktif harus dicapai agar adopsi itu bisa terjadi. Inilah yang disebut “critical mass”.

Konsepsi lain yang relatif baru tentang critical mass adalah “tipping point” ( Gladwell, 2002). Ini contohnya: mengapa teknologi videophone tidak pernah mendunia? Salah satu sebabnya, karena teknologi ini tidak pernah mencapai tahapan critical mass. Videophone tidak pernah menjadi sesuatu yang “lebih” dibanding telepon biasa kecuali jika orang yang akan anda hubungi memang memiliki perangkat tersebut.  Jika tidak banyak orang yang anda kenal yang  memiliki teknologi itu, maka anda tidak akan mengadopsinya karena toh tidak ada gunanya bagi anda.  Sebalilknya, jika hampir semua kontak anda memiliki videophone, maka “critical mass of users” ini akan mendorong anda untuk mengadopsi videopohone. Critical mass adalah aspek yang terpenting di dalam kita mempertimbangkan adopsi segala teknologi interaktif.

Contoh bagus lainnya adalah facsimile atau fax. Cara mula-mula dalam berkirim gambar melalui kabel ditemukan tahun 1840-an olah Alexander Bain, yang menemukan penggunaan sistem elektrikal pendulum untuk mengirim gambar melalui kawat (Robinson, 1986).  Dalam beberapa dekade, teknologi itu diadopsi oleh perusahaan surat kabar untuk mengirimkan foto melalui kabel, namun tekologi ini masih terbatas hanya untuk sebagian kecil lembaga pemberitaan. Perkembangan teknologi di tahun 1960-an akhirnya membawa mesin fax menjadi standar bagi perusahaan di Amerika.

Adopsi terhadap teknologi  fax memelukan dua perangkat sekaligus dalam satu waktu, dengan kedua mesin tersebut dimiliki oleh dua penggunanya untuk saling berkomunikasi. Menjelang 1980-an, cukup banyak pebisnis yang memiliki mesin fax sehingga bisa berkomunikasi dengan rekan-rekannya, dan  mendorong pelaku bisnis lainnya membeli mesin itu.  Segera setelah poin “critical mass” dicapai, adopsi mesin fax berkembang pada  titik di mana ia menjadi rujukan pertama dalam adopsi teknologi, karena takut atau malu jika ada orang yang bertanya “ What’s your fax number?” ( Wathne & Leos, 1993). Dalam waktu kurang dua tahun, mesin fax menjadi hal yang sangat penting dalam dunia bisnis.

Social Information Processing

Teori lain yang bisa menjelaskan tentang bagaimana dan mengapa orang mau mengadopsi teknologi adalah teori social information processing. Teori ini dimulai dengan mengkritisi model rasional pemilihan, yang berasumsi bahwa orang mengambil keputusan untuk mengadopsi atau mengevaluasi teknologi didasarkan pada karakteristik objektif teknologinya.  Untuk memahami social information processing, pertama-tama anda harus melihat teori-teori dalam model pilihan rasional.

Salah satunya, adalah social presence theory, yang mengelompokkan media komunikasi dalam kontinum tentang bagaimana media itu “ facilitates awarness of the other person and interpesonal relationships during the interaction” demikian istilah yang dipakai  Fulk, et.al,( 1990:118). Komunikasi semakin efisien ketika tingkatan “the social presence” dari medianya sesuai dengan fungsi yang dijalankan dalam memenuhi relasi interpersonal yang dibutuhkan.  Model pilihan rasional lainnya adalah information richness theory. Teori ini menjelaskan, bahwa media dikategorikan dalam kontinum kecanggihannya dalam empat hal : kecepatan memberikan umpan balik, tipe saluran yang dipakai, sumber personal, dan kemampuannya dalam mentransfer bahasa (Fulk,et.al,1990). Komunikasi tatap muka terkategorikan dalam model yang paling canggih dilihat dari social presence dan information richness-nya. Dalam teori information richness, media komunikasi dipilih ditinjau dari ambiguitas pesannya. Artinya, jika pesannya ambiguous maka a richer medium-lah yang dipilih.

Social information processing theory lebih dari sekedar model pemilihan rasional di atas karena ia menempatkan persepsi terhadap media di satu sisi sebagai konstruksi subjektif dan di sisi lain merupakan konstruksi objektif.  Meskipun orang mungkin menggunakan standar objektif di dalam menentukan media komunikasi, penggunaan juga ditentukan oleh faktor-faktor subjektif seperti sikap teman sekerja terhadap media tersebut dan pembelajaran melalui orang lain, atau mengamati bagaimana pengalaman orang lain. Pengaruh sosial lebih kuat dalam situasi yang ambiguous. Misalnya, semakin sedikit orang mengetahui tentang sesuatu media, maka semakin kuat ia melandaskan diri pada informasi sosial di dalam menentukan untuk menggunakan atau tidaknya media tersebut ( Fulk,et.al, 1987).

Sebagai ilustrasi, pikirkan tentang apakah anda memilih Macintosh atau Windows dalam pilihan operasi dasar komputer. Meskipun anda dapat menyusun daftar perbedaan objektif di antara kedua sistem tersebut, banyak faktor di dalam pilihan anda berdasarkan pada faktor subjektif seperti sistem operasi komputer apa yang telah dipunyai oleh teman-teman anda atau teman sekerja anda atau  persepsi mengenai kegunaan komputer dan saran yang anda terima dari orang yang bisa membantu anda di dalam memilih dan merakit komputer anda. Pada akhirnya, faktor sosial ini mungkin yang lebih berperan atau mempunyai peranan penting di dalam anda mengambil keputusan ketimbang faktor objektif seperti kecepatan prosesor, kapasitas memory dan sebagainya. (bersambung )

Referensi :

Meadows, Jennifer H. “Understanding Communication Technologies“. Dalam Grant, August. E and Jennifer H. Meadows. 2008. Communication Technology Update and Fundamentals. 11th edition.   USA:

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 13 Februari 2014.

Satu Tanggapan to “UNDERSTANDING COMMUNICATION TECHNOLOGIES (2)”

  1. […] Adopsi inovasi biasanya tidak menampakkan gejalanya pada keempat  kategori tersebut pada waktu yang bersamaan, hal itu terjadi dalam kurun waktu tertentu. Inilah yang disebut the rate of adoption. The rate of adoption biasanya mengikuti bentuk S “kurva difusi” di mana sumbu X adalah waktu dan sumbu Y adalah persentase adopternya.  Bisa anda lihat kategori adopter yang berbeda dengan mengikuti kurve difusinya.  Gambar (INNOVATION ADOPTION RATE) menunjukkan kurve difusi ini. Bisa dilihat posisi para innovators adalah berada pada titik awal kurve, dan the laggards ada pada posisi akhir. Curam tidaknya  kurve bergantung pada seberapa cepat inovasi itu diadopsi. Misalnya, DVD menghasilkan kurve difusi yang lebih curam kerimbang VCD karena DVD players diadopsi lebih cepat daripada VCD players. (Bersambung) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: