UNDERSTANDING COMMUNICATION TECHNOLOGIES

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Selama lebih dari satu abad lamanya para peneliti memelajari  adopsi, efek dan aspek-aspek lainnya terkait dengan teknologi, mengidentifikasi pola-pola yang biasa terjadi di dalam perkembangan di antara teknologi yang sejenis, dan mengajukan teori berkenaan dengan efek serta proses adopsi teknologi (komunikasi). Teori- teori tersebut terbukti bermanfaat khususnya bagi para interpreneur yang sedang mencari pedoman di dalam mengembangkan teknologi baru, juga berguna bagi para pembuat kebijakan yang mencoba melakukan kontrol terhadap teknologi tersebut, dan bagi siapa saja yang memang ingin mengetahui lebih mendalam mengenai hal ikhwal teknologi komunikasi. Kegunaan teori ini di antaranya  kita bisa mengambil pelajaran  jatuh bangunnya satu teknologi ke teknologi lain, dari teknologi yang “kuno” sampai yang “baru”. Cara yang paling mudah untuk memahami peran yang dimainkan oleh teknologi tersebut adalah dengan mengeksplorasi teori-teori yang nanti akan kita bahas dalam artikel ini.

The Information Society and the Control Revolution

Beberapa teoritisi  tertarik mengkaji perkembangan teknologi termasuk sebab-sebab terjadinya  masyarakat informasi. Beniger ( 1986) mengatakan tentang adanya revolusi atas kontrol sosial: “ Perubahan yang pesat dan kompleks di dalam teknologi dan tatanan perokonomian di mana informasi dihimpun, disimpan, diproses, dan dikomunikasikan  dan melalui pengambilan keputusan-keputusan  formal dan terencana telah memungkinkan terjadinya pengaruh atas kontrol sosial” (hal 5). Dengan kata  lain, sejalan dengan perkembangan masyarakat, teknologi  diciptakan untuk membantu di dalam mengontrol informasi. Misalnya, informasi disentralisasi oleh media.  Selain itu, semakin banyak informasi diciptakan dan didistribusikan, teknologi baru harus dikembangkan untuk mengendalikan informasi tersebut. Contoh paling gampang, dengan adanya ledakan informasi yang disediakan oleh internet maka diperlukan mesin pencari yang diciptakan untuk membantu kita mencari informasi yang melimpah tadi.

Poin penting lain yang perlu dicatat : informasi itu identik dengan kekuasaan. Ada semacam kuasa yang dibawakan oleh informasi.  Kuasa dipegang  ketika kita bisa “menguasai informasi”. Misalnya, pada suatu masa di dalam sejarah masyarakat modern, pemerintah melakukan blokir akses terhadap informasi atau mengontrol penyebaran informasi guna kepentingan mempertahankan status quo.

Adoption

Mengapa satu jenis teknologi diadopsi sementara yang lainnya gagal? Pertanyaan ini bisa dijawab dengan sejumlah pendekatan teoritis termasuk diffusion of innovations, social information processing theory, dan critical mass theory.

Diffusion of Innovations

The diffusion of innovations, juga disebut sebagai teori difusi, dikembangkan oleh Everett Rogers ( 1962,2003). Teori ini mencoba menjelaskan bagaimana inovasi dikomunikasikan dalam kurun  waktu tertentu melalui saluran-saluran yang berbeda kepada anggota masyarakat di dalam suatu sistem sosial. Ada empat aspek utama yang tercakup dalam pendekatan ini. Pertama,adanya inovasi. Dalam kasus teknologi komunikasi ini, inovasi berarti adalah sesuatu teknologi  yang dipersepsikan  sebagai “baru” . Rogers mendefinisikan karakteristik inovasi sebagai berikut: sesuatu itu relatif bermanfaat,  adanya kesesuaian, ke-kompleks-an, dapat dicoba, dan dapat diobservasi. Ambil contoh, ketika seseorang memutuskan untuk membeli sebuah iPod, maka barang tersebut dianggap sebagai inovasi karena sifatnya yang memberi kemanfaatan lebih ketimbang pemutar digital yang lain atau cara-cara yang lain untuk mendengarkan musik seperti CD, juga apakah iPod itu sesuai dengan kebutuhan si pembeli, atau se-kompleks apakah barang tersebut, apakah penggunanya bisa mencobanya, dan apakah calon pengguna itu bisa mengobservasi pengguna lain dan melihat kemanfaatan dari teknologi ini.

Informasi tentang inovasi dikomunikasi melalui beberapa saluran yang berbeda. Media massa cocok bila dipakai untuk menciptakan kesadaran akan pengetahuan (baru). Misalnya, iPod tadi yang diiklankan melalui televisi dan media cetak dengan menampilkan fitur dan kehadirannya.  Saluran interpersonal juga menjadi  media yang penting di dalam mengkomunikasikan  inovasi. Interaksi tersebut umumnya melibatkan  semacam evaluasi subjektif terhadap inovasi. Misalnya, seseorang mungkin akan bertanya kepada teman-teman lainnya mengapa mereka menyukai atau memakai iPod tadi.

Rogers ( 2003) menguraikan proses pengambilan keputusan yang potensial akan dilalui oleh pengguna sebelum mengadopsi inovasi. Ini yang kemudian disebut proses lima langkah ( five-step process ). Langkah pertama adalah pengetahuan. Misalnya, anda mengetahui adanya iPod baru dan memelajari fitur-fiturnya.  Tahap selanjutnya adalah persuasi. Yakni ketika anda membentuk sikap positif terhadap inonasi. Mungkin anda menyukai barang baru tersebut. Langkah ketika adalah ketika anda memutuskan untuk menerima atau menolak inovasi. Yes, misalnya, anda akan membeli iPod tersebut. Implementasi menjadi langkah yang keempat. Anda menggunakan inonasi, dalam hal ini  sebuah iPod. Akhirnya, konfirmasi muncul ketika anda memutuskan apakah keputusan membeli iPon tersebut sebagai langkah yang tepat bagi anda. Yes, iPod tersebut ternyata memang seperti yang anda bayangkan semula, maka keputusan anda ,dalam hal ini, telah dikuatkan.

Tahapan inovasi lain yang didiskusikan oleh Rogers ( 2003) dan yang lainnya adalah soal “reinvention”, yakni proses di mana seseorang mengadopsi teknologi dan mulai menggunakannya namun dengan tujuan yang berbeda dengan tujuan yang direncanakan oleh si pencipta teknologi. Misalnya, iPod yang pada mulanya didesain untuk memperdengarkan musik dan merekam suara, oleh penggunanya  ternyata digunakan untuk hal lain misalnya untuk jam alarm atau kalender pribadi.

Pernahkah anda menemui beberapa orang yang menjadi pemiliki gadget teknologi komunikasi pertama sementara yang lainnya menolak untuk mangadopsi meski terbukti bermanfaat? Para adopter itu bisa diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok bergantung pada seberapa cepat atau lambat mereka mengadopsi inovasinya. Orang yang pertama kali mengadopsi disebut sebagai innovators.  Inovator memiliki peran penting karena mereka berani mengambil resiko mengadopsi sesuatu yang baru yang bisa saja tidak sesuai dengan yang diharapkan.  Selanjutnya di antara para adopter awal ini disebut early majority dan kemudian baru the late majority , kemudian kelompok terakhir adalah the laggards. Adopters juga bisa diklasifikasikan menurut ideal types. Para Innovators disebut sebagai venturesome. Mereka ini adalah orang-orang yang suka mengambil resiko dan berani menanggung kegagalan.  Early adopters adalah para respectable.  Mereka adalah para pemimpin opini yang dihargai dalam komunitas tertentu dan menjadi role model bagi yang lainnya. Early majority adalah kelompok deliberate. Mereka mengadopsi inovasi sebelum orang-orang lain mengadopsi dan menjadi link yang penting yang menghubungkan antara inovator, early adopters dan yang lain-lainnya.  Sementara itu the late majority adalah kelompok skeptical. Mereka adalah kelompok yang ragu-ragu untuk mengadopsi inovasi dan acapkali mengadopsi karena mereka dipaksa. Laggards adalah orang-orang yang terakhir kali mengadopsi dan biasanya adalah orang-orang yang terisolir dan tidak memiliki opinion leader. Mereka senantiasa curiga dan menolak adanya perubahan. Faktor-faktor lain yang memengaruhi adopsi adalah pendidikan, status sosial, mobilitas sosial, keuangan, dan kesediaan untuk menggunakan credit (Rogers, 2003).

Adopsi inovasi biasanya tidak menampakkan gejalanya pada keempat  kategori tersebut pada waktu yang bersamaan, hal itu terjadi dalam kurun waktu tertentu. Inilah yang disebut the rate of adoption. The rate of adoption biasanya mengikuti bentuk S “kurva difusi” di mana sumbu X adalah waktu dan sumbu Y adalah persentase adopternya.  Bisa anda lihat kategori adopter yang berbeda dengan mengikuti kurve difusinya.  Gambar (INNOVATION ADOPTION RATE) menunjukkan kurve difusi ini. Bisa dilihat posisi para innovators adalah berada pada titik awal kurve, dan the laggards ada pada posisi akhir. Curam tidaknya  kurve bergantung pada seberapa cepat inovasi itu diadopsi. Misalnya, DVD menghasilkan kurve difusi yang lebih curam ketimbang VCD karena DVD players diadopsi lebih cepat daripada VCD players. (Bersambung)

Referensi :

Meadows, Jennifer H. “Understanding Communication Technologies“. Dalam Grant, August. E and Jennifer H. Meadows. 2008. Communication Technology Update and Fundamentals. 11th edition.   USA: Focal Press. Hal 41-44.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 12 Februari 2014.

Satu Tanggapan to “UNDERSTANDING COMMUNICATION TECHNOLOGIES”

  1. […] Dan alasan terakhir mengapa kita perlu memelajari teknologi komunikasi adalah untuk mengidentifikasi pola-pola adopsi, efek, kesempatan ekonomi dan kompetisi sehingga kita bisa memahami, menggunakan  dan atau bersaing dengan adanya generasi teknologi baru di masa datang. Untuk itu kita perlu mengkajinya dengan pendekatan teoritis yang lebih komprehensif yang akan dilanjutkan dalam artikel mendatang. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: