SEJARAH PERKEMBANGAN RECEPTION STUDIES : DARI GENERASI PERTAMA HINGGA KETIGA

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pada saat teori yang memusatkan pada khalayak mulai menarik perhatian para ilmuwan sosial empiris di Amerika, maka pada saat yang bersamaan, para peneliti cultural studies di Inggris juga mengembangkan perspektif teori yang berbeda namun memiliki kemiripan yang juga berkaitan dengan aktivitas khalayak. Para peneliti budaya yang sangat inovatif di Inggris itu tengah menantang berbagai perspektif  yang dominan pada waktu itu. Sama halnya dengan munculnya perspektif uses and gratification di Amerika yang juga menjadi perspektif baru penentang pandangan dominan kaum postpositivistik.

Birmingham  University Center for Contemporary Cultural Studies dan karya Stuart Hall, menjadi tonggak sejarah lahirnya studi yang kemudian dikenal sebagai Reseption Studies. Tahun 1973, Hall menyajikan mimeografik yang berisi laporan mengenai pentingnya perkembangan dan fokus kajian baru dalam pusat studi tersebut. Mimeografik itu lalu dipublikasikan dalam sebuah buku (Hall,1980a) yang berisi pandangan bahwa peneliti (media) seharusnya memusatkan perhatiannya pada : (1) analisis konteks sosial dan politis di mana isi (media) itu dihasilkan (encoding), dan (2) pada konsumsi  isi media (decoding). Peneliti seharusnya tidak mengabaikan asumsi-asumsi baik mengenai encoding maupun decoding-nya, dan menjalankan penelitiannya dengan menyertakan asumsi-asumsi tersebut secara cermat ketika mengkaji konteks sosial dan politik di mana isi media itu dihasilkan serta konteks keseharian tempat isi media itu dikonsumsi khalayak.

Menurut Shaun Moores ( 1993), Hall mengembangkan pendekatan itu sebagai bagian dari reaksinya menentang tradisi kritik Marxist yang ia cermati dalam jurnal perfilman berjudul Screen, yang memandang film popular mainstream seakan-akan mendukung status quo kalangan elite dominan. Para penulis Screen menjunjung film-film “avant-garde” yang isinya tidak menganggap perlu penggambaran akan sesuatu yang “nyata” mengenai kehidupan ini.  Hall menolak elitism kultural yang melekat di dalam perspektif tersebut.

[……]

Dalam menyusun pandangan mengenai decoding, Hall mengajukan pendekatan penelitian khalayak media yang dikenal sebagai reception studies, atau reception analysis. Salah satu ide pokok studi ini adalah fokusnya terhadap bagaimana beragam karakteristik audiens memahami sesuatu bentuk isi pesan (media) tertentu. Hall mengadopsi teori semiotik Prancis yang berpendapat bahwa semua isi media dapat dipandang sebagai sebuah teks yang dibentuk oleh serangkaian tanda. Tanda-tanda ini dibentuk dalam satu struktur; dan karenanya, saling berkaitan satu dengan yang lainnya dengan cara tertentu. Untuk bisa memahami arti tanda-tanda— untuk membaca tanda itu —anda harus bisa menginterpretasikan tanda – tanda dan strukturnya. Misalnya, ketika anda sedang membaca suatu kalimat anda tidak hanya  men-decode kata demi kata secara individual, namun juga menginterpretasikan sktruktur kalimatnya sehingga bisa memahami makna keseluruhan kalimat tersebut. Beberapa teks pada dasarnya bisa saja ambigu dan bisa secara sah diinterpretasikan menurut bermacam cara; teks dengan demikian bersifat polysemic.  Kembali pada contoh sebelumnya, Rebecca Keegan—penulis biografi James Cameron— menuliskan sutradara Avatar itu mengatakan : “  Dalam beberapa segi penonton memahami film sejalan dengan apa yang dimaksudkan oleh Cameron, dan sebagian lagi memahaminya menurut apa yang penonton pikirkan tentang film itu “. Produser film, Jon Landau, menambahkan, “ Film yang berhasil adalah film-film yang memiliki tema yang lebih besar ketimbang yang bisa diberikan dalam film sejenisnya. Tema adalah apa yang anda peroleh setelah menonton film tersebut, dan anda akan dapatkan melalui jalan cerita yang ditawarkan film itu” ( Itzkoff, 2010:A1)

Menurut Hall, meski kebanyakan teks itu bersifat polisemic, namun pembuat pesan umumnya memiliki maksud agar pembaca menangkap atau memahami pesan itu sebagaiamana yang diinginkan oleh pembuatnya. Inilah yang dimaksud dengan “a preferred  atau dominant reading”.  Sebagai seorang teoritisi berhaluan kritis, Hall berasumsi hampir semua isi media populer memiliki kecenderungan “preferred reading” yang menguatkan status quo. Namun perlu ditambahkan mengenai “dominant reading” ini,  bahwa audiens masih memiliki kemungkinan alternatif interpretasi. Mereka bisa saja memilih untuk tidak sepakat dengan preferred reading  atau dalam beberapa aspek penting memiliki interpretasi lain terhadap  preferred reading yang kemudian menghasilkan interpretasi alternatif atau disebut sebagai negotiated meaning yang berbeda dengan preferred reading itu. Dalam kasus lainnya, audiens bahkan membuat interpretasi yang berlawanan terhadap dominant reading. Dengan kasus seperti itu maka muncullah apa yang disebut dengan oppositional reading.  Seperti yang dikemukakan oleh Jesus Martin-Barbero (1993), meskipun orang rentan terpapar dominant reading berkat teknologi komunikasi, “ mereka mampu mengeskploitasi kontradiksi sehingga memungkinkan mereka tetap bertahan, mendaur ulang, dan mendesain ulang teknologi itu… dan orang memiliki kemampuan untuk men-decoding dan menyesuaikan pesan yang diterima dan tidak harus selalu dikibuli oleh teknologi”

Murid dan kolega Hall, yakni David Morley, menerbitkan salah satu dari kajian penting yang pertama kali  mengaplikasikan gagasan Hall ( Morley, 1980).  Penelitian Morley itu layak menjadi model analisis recepsi. Morley menghimpun 29 kelompok diskusi (FGD) yang merupakan orang-orang yang mewakili berbagai tingkatan sosial masyarakat di Inggris. Mereka mulai dari manager bisnis, sampai dengan anggota serikat dagang dan para pengusaha. Kelompok-kelompok ini diminta untuk menyaksikan salah satu episode acara Nationwide, yaitu  news magazine show dalam sebuah staisun televisi Inggris yang sedang menyajikan mengenai laporan keungan pemerintah dan implikasinya secara ekonomi bagi keluarga-keluarga di Inggris.  Setelah acara itu selesai, kelompok-kelompok tersebut berdiskusi mengenai apa yang telah mereka saksikan dan mempersilakan mereka memberikan interpretasi. Nationwide dipilih karena  berdasarkan analisis sebelumnya telah diidentifikasi bahwa acara itu secara rutin menyodorkan penjelasan para status quo tentang isu-isu sosial ( Brunsdon dan Morley, 1978). Lebih jauh, acara itu dibuat dengan desain tertentu sehingga menarik audiens kalangan kelas bawah dan menengah. Dengan demikian penelitian ini berasumsi bahwa acara ini akan mampu mengkomunikasikan perspektif status quo  kepada audiens tersebut.

Morley merekam jalannya diskusi dalam FGD dan menganalisisnya, menempatkannya dalam tiga kategori : (1) dominant, (2) negotiated, atau (3) oppositional decoding. Ia menemukan, meskipun kelompok kelas atas yang terdiri dari para manager bisnis tidak sepakat bahwa  acara itu hanya hiburan belaka, namun mereka tidak keberatan dengan pandangan yang ditawarkan.  Morley memberi label docoding mereka itu sebagai dominant reading. Pada sisi yang berseberangan, kelompok yang merupakan anggota serikat pekerja para pelayan toko menyukai format acara tersebut namun tidak sepakat dengan pesan yang ditawarkan.  Mereka melihat acara itu terlalu memihak pada kaum manager menengah dan tidak bisa mengusung isu-isu ekonomi yang mendasar. Morley memberi label decoding mereka itu sebagai oppositional. Pada decoding yang terkategorikan negotiated terjadi pada kelompok yang berasal guru magang dan mahasiswa seni liberal. Hanya sedikit kelompok yang menyuarakan semata-mata dominant reading acara tersebut. Disamping dari kalangan para manager, hanya kelompok pengusaha yang terkesan lebih menguatkan pandangan yang ditawarkan oleh acara itu.

Sebagai pendekatan studi resepsi yang dikembangkan di kalangan cultural studies, para peneliti membedakan riset khalayak empiris ini dengan yang dilakukan oleh para peneliti postpositivis. Mereka menekankan kelebihannya di dalam memadukan research encoding makro dengan studi decoding mikro. Mereka juga menekankan bahwa penelitiannya lebih bersifat kualitatif ketimbang metode penelitian kuantitatif. Studi resepsi seringkali dilakukan dengan menyertakan Focus Group Discussion (FGD). Misalnya, orang-orang yang sering mengkonsumsi isi media tertentu (fans) kadang-kadang membawa di dalam diskusi tentang bagaimana mereka memahami isi media itu. Dalam kasus lain, kelompok orang-orang yang merupakan anggota dari kelompok etnis tertentu dipilih sehingga peneliti bisa dapat meneliti bagaimana kelompok etnis tertentu  secara rutin menginterpretasi isi media. Dalam beberapa kasus, peneliti menyelenggarakan wawancara mendalam untuk mengetahui lebih jauh mengenai bagaimana individu melakukan pemaknaan. Sementara dalam studi lain, peneliti mencoba meneliti bagaimana FGD mencapai suatu kesepakatan mengenai makna sebuah pesan.

Sosiolog Pertri Alasuutari (1999) mengatakan penelitian resepsi telah memasuki perkembangan pada tahap ketiga. Tahap pertama diawali dengan pendekatan encoding dan decoding dari Hall. Tahap kedua didominasi oleh karya Morley yang menjadi pionir dalam studi etnografi khalayak. Alasuutari menulis :

Tahap ketiga ditandai dengan kerangka kerja yang lebih luas untuk mengkaji bagaimana seseorang memahami media dan menggunakannya. Peneliti tidak perlu terikat pada studi kasus etnografi audiens atau analisis terhadap program tertentu. Dan yang menjadi fokus utama juga tidak terbatas pada temuan tentang apa yang diresepsi atau di-”reading” dari suatu program oleh kelompok tertentu. Tujuan penelitian resepsi generasi ketiga lebih pada pemahaman mengenai “media culture” kontemporer, khususnya dilihat pada peranan media di dalam kehidupan keseharian, baik sebagai topik maupun sebagai aktivitas yang dibangun oleh wacana (dan juga membentuk wacana) di mana topik itu didiskusikan…. Gambaran besarnya demikian: peneliti ingin mendapatkan pencerahan, atau jawaban: di manakah posisi media dalam kebudayaan dalam dunia kontemporer ini? Hal ini ditandai pertanyaan tentang makna dan kegunaan dari suatu program tertentu bagi kelompok masyarakat tertentu, dengan juga menyertakan pertanyaan mengenai frame di dalam mana kita menerima media dan isinya sebagai realitas dan sebagai representasi — atau mendistorsi — realitas. Program riset besar ini juga mencakup pertanyaan mengenai peranan riset media itu sendiri. (hal 6-7)

Dengan demikian generasi ketiga studi resepsi agaknya mencoba kembali pada beberapa perhatian makro yang dahulu menjadi motivasi teoritisi kritis. Studi ini merepresentasikan upaya memadukan perhatian teori kritis dengan analisis resepsi sehingga menawarkan agenda riset yang lebih menantang.  Kecenderungan ini sejalan dengan perkembangan dari bagian lain teori media. Yang suatu saat akan kita bahas dalam forum ini….

Referensi :

Baran,S.J. and Davis,D.K. 2012. Mass Communication Theory : Foundations, Ferment, and Future. USA : Wadworth.  Hal : 257-260.

 

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 9 Februari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: