MENDEFINISIKAN TEORI (2)

CRITICAL THEORY

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Ada ilmuwan yang tidak ingin sekedar menemukan penjelasan, prediksi dan melakukan kontrol terhadap dunia sosial. Mereka pun juga tidak berhasrat untuk hanya memahami dunia sosial seperti yang dicita-citakan kaum hermeneutik. Ilmuwan ini beranjak dari asumsi bahwa beberapa aspek kehidupan sosial di dalamnya menyimpan ketidaksempurnaan dan memerlukan perubahan. Tujuan kelompok ilmuwan ini adalah menggali pengetahuan dalam dunia sosial sehingga kemudian mereka bisa mengubahnya. Ada nuansa politis dengan tujuan seperti itu, karena berarti mereka menantang cara-cara yang telah ada di dalam menata dunia sosial dan orang-orang serta institusi-institusi yang telah memiliki kekuasaan di dalam penataan tersebut. Teori kritis secara terbuka bersifat politis (itulah sebabnya secara axiology dengan agresif teori ini  sarat dengan nilai). Diasumsikan bahwa dengan menata ulang dunia sosial, kita bisa memberi penekanan pada apa yang paling penting di dalam hal nilai-nilai manusiawi. Teori kritis mengkaji hal-hal yang bersifat ketidaksetaraan dan penindasan. Teori ini lebih dari sekedar mengamati, mendeskripsikan, atau menginterpretasikan; mereka mengkritisi!. Teori kritis melihat “media sebagai ajang dari (dan juga senjata untuk) pertarungan kekuatan – kekuatan sosial, ekonomi, simbolik, dan politik ( termasuk juga pertarungan di dalam kendali atas dan akses untuk media itu sendiri) “ (Meyrowitz, 2008 :652). Secara epistemologis, teori kritis meyakini bahwa pengetahuan hanya bisa dikembangkan jikalau pengetahuan itu berhasil melayani  kepentingan pembebasan orang dan komunitas dari pengaruh mereka yang memiliki kekuasaan atas diri mereka. Sementara secara ontologis, teori ini lebih kompleks lagi sifatnya.

Menurut teori kritis, apa yang nyata, apa yang bisa dipahami di dalam dunia sosial ini adalah produk interaksi antara struktur ( aturan-aturan yang ada di dalam dunia sosial, norma-norma, dan keyakinan-keyakinan) dan  agency (bagaimana orang berperilaku dan berinteraksi di dalam dunia sosial).  Realitas, menurut teori kritis dengan demikian,  terus-menerus dibentuk dan dibentuk ulang oleh suatu dialektika ( pergulatan atau debat yang tak berkesudahan) di antara keduanya. Jika  kaum elite mengontrol percaturan kekuasaan itu, mereka pun lalu mendefinisikan realitas (dengan kata lain, kendali mereka atas percaturan itu menentukan definisi orang-orang atas relitas). Sementara itu, jika orang-orang memiliki keterlibatan, mereka mendefinisikan realitas melalui perilaku mereka dan interaksi mereka ( agency). Para peneliti dan teoritisi berminat dalam kemerosotan ( dan pemulihan) kekuasaan dalam gerakan kaum buruh di dalam negara-negara industri. Mereka juga menaruh perhatian pada pembatasan pengaruh iklan komersial anak-anak guna mengendalikan laju perkembangan konsumerisme.  Beberapa teoritisi berhaluan kritis ini, disibukkan oleh keprihatinan mereka akan adanya kekuasaan yang tak terkendali yang dimiliki kaum kapitalis yang menggurita di dunia ini.  Mereka melihat media sebagai sarana yang sangat penting yang bisa dipakai oleh elite corporate untuk memaksa bagaimana orang melihat dunia dan membatasi perilaku orang-orang.

NORMATIVE THEORY

Teoritisi sosial melihat teori postpositivist dan hermeneutic sebagai bersifat representational. Artinya, mereka mengartikulasikan —gambaran dunia— dari realitas lainnya ( bagi postpositivist, representasinya bersifat umum mencakup berbagai realitas lainya yang senada, dan bagi interpretive, representasi ini bersifat lokal dan spesifik). Teori kritis, sebaliknya, bersifat nonrepresentational. Tujuan teori ini adalah mengubah realitas yang telah ada.

Terlepas dari itu semua, ada lagi satu tipe teori yang lain. Teori yang bisa diterapkan untuk segala jenis bentuk komunikasi namun kebanyakan diterapkan dalam konteks komunikasi massa. Teori ini tidak ditujukan pada bentuk representasi maupun juga dalam reformasi realitas.  Sebaliknya, tujuan teori ini adalah menciptkan standar ideal dengan cara menilai cara kerja sistem media yang telah ada selama ini.  A normative media theory, julukan teori  ini, bertujuan untuk menjelaskan bagaimana sistem media seharusnya bekerja sehingga bisa tercipta atau mewujudkan standar ideal nilai-nilai sosial.  Dengan itu maka secara ontology, mereka beranggapan bahwa apa yang diketahui itu bersifat situasional ( atau menurut bahasa interpretative theory bersifat local). Dengan kata lain, apa yang sesungguhnya nyata atau bisa dilihat tentang sistem media itu adalah kenyataan yang bisa dikenali hanya dalam sistem sosial tertentu di dalam mana sistem (media) itu berada. Secara epistemology, bagaimana pengetahuan itu dikembangkan, didasarkan pada  analisis komparatif — kita hanya bisa menilai ( dengan demikian memahami) baik buruknya  sistem media yang ada dengan cara membandingkan dengan tatanan ideal  yang seharusnya dari sistem sosial tertentu di mana media itu beroperasi.

Akhirnya,  secara axiology, sifat teori normatif adalah tidak  bebas nilai. Mengkaji sistem media, atau bagian–bagian dari sistem media dilakukan dalam suatu keyakinan yang eksplisit bahwa ada suatu model ideal yang mendasari cara kerjanya media berlandaskan nilai-nilai yang dianut dalam sistem sosial.  Permasalahan akan muncul, jika sesuatu sistem media yang didasarkan pada satu teori normatif dievaluasi berdasarkan norma-norma yang berlaku sebagai tatanan ideal atau normative theory lainnya.

EVALUATING THEORY

Teori yang baik itu mendorong, menyempurnakan dan mengimprovisasi dunia sosial. Ada beberapa cara untuk menimbang nilai dari berbagai macam teori.

Dalam mengevaluasi teori postpositivist kita bisa menanyakan hal-hal berikut:

  1. Sejauhmana  teori itu menjelaskan sesuatu peristiwa, perilaku dan hubungan di antara hal-hal yang dikaji?
  2. Sejauhmana teori bisa memprediksi peristiwa, perilaku,dan hubungan-hubungan  antarunsur yang dikaji itu kemudian hari?
  3. Sejauhmana teori itu bisa diuji? Dengan kata lain, apakah pernyataan dalam teori tersebut cukup spesifik sehingga  bisa secara sistematis didukung atau ditolak berdasarkan observasi di lapangan?
  4. Bagaimana dengan kadar parsimoni-nya? Dengan kata lain, apakah teori itu sudah merupakan penjelasan mengenai fenomena yang dipertanyakan dengan cara yang sesimpel mungkin ?Ada yang menyebutnya sebagai “elegance”. Perlu dicatat,  bahwa teori-teori komunikasi itu umumnya cenderung tidak terlampau parsimoni. Kenyataannya, salah satu alasan dari banyak ilmuwan sosial menghindari kajian komunikasi karena fenomena komunikasi itu tidak mudah dijelaskan secara parsimoni.
  5. Seberapa praktis atau bergunakah teori tersebut? Jika tujuan dari teori komunikasi adalah penjelasan, prediksi dan mengontrol, sejauh mana teori kemudian benar-benar bisa mencapai tujuan yang diharapkan?

Untuk mengevaluasi hermeneutic theory,  kita perlu mengajukan beberapa pertanyaan berikut ini:

  1. Sejauh mana teori tersebut memberikan pandangan yang baru atau segar terhadap peristiwa, perilaku atau hubungan antaraunsur yang tengah dikaji? Dengan kata lain, sejauh mana teori itu bisa meningkatkan pemahaman kita (terhadap fenomena ) tersebut?
  2. Sejauh mana teori itu bisa memberikan klarifikasi nilai-nilai yang melekat di dalam interpretasi, tidak hanya nilai-nilai yang melekat di dalam fenomena yang dikaji, melainkan juga nilai –nilai yang dimiliki oleh peneliti atau teoritisi?
  3. Seberapa banyak  dukungan dari kalangan ilmuwan komunikasi yang juga tertarik mengkaji fenomena berdasarkan teori tersebut?
  4. Seberapa menarikkah teori itu? Dengan kata lain, apakah teori itu menantang antusiasme atau menginspirasi para pengikutnya?

 

Kemudian untuk mengevaluasi critical theory, kita perlu menanyakan beberapa pertanyaan yang diajukan pada kelompok teori hermeneutik, dengan menambahkan pertanyaan berikut :

  1. Sejauhmana teori itu bermanfaat di dalam mengkritisi status quo? Dengan kata lain, apakah teori itu menyediakan pemahaman yang memadai tentang elite kekuasaan sehingga mampu berhadapan secara efektif terhadap pemegang kekuasaan?

 

Sementara itu untuk mengevaluasi  normative theory, kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan berikut :

  1. Seberapa stabil dan definitif standar ideal operasional yang diterapkan terhadap sistem media ( atau terhadap bagian-bagian sistem media) yang bisa dijadikan patokan dalam penelitian di lapangan?
  2. Apakah dan sejauhmana pengaruh kekuatan ekonomi, sosial, kultural dan realitas politik yang melingkupi cara kerja dalam sebuah sistem media ( atau bagian-bagiannya) yang harus dipertimbangkan di dalam evaluasi kinerjanya?
  3. Sejaumana dukungan dari para ahli komunikasi yang juga mengkaji sistem media tertentu ( atau bagian-bagiannya) tersebut?

Referensi :

Baran,S.J. and Davis,D.K. 2012. Mass Communication Theory : Foundations, Ferment, and Future. USA : Wadworth.  Hal : 15-17.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 5 Februari 2014.

Satu Tanggapan to “MENDEFINISIKAN TEORI (2)”

  1. […] online dalam game simulasi, adalah contoh penelitian yang didasarkan pada teori hermeneutik.  ( Bersambung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: