MENDEFINISIKAN TEORI (1)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Para ilmuwan, baik alam maupun sosial ( cakupannya bisa dikhususkan lagi ), senantiasa berurusan dengan teori.Theories are about how and why events occur… Scientific theories begin with the assumption that universe, including the social universe created by acting human beings, reveal certain basic and fundamental properties and processess that explain the ebb and flow of events in specific processes, demikian menurut Turner ( 1988:1).  Terdapat beberapa definisi yang berbeda mengenai teori. John Browers dan John Courtright menawarkan definisinya dalam tradisi scientific demikian : “ Teori … adalah sejumlah pernyataan yang menjelaskan mengenai hubungan di antara kelompok variabel-variebal tertentu” ( 1984:13).  Definisi  senada dikemukakan juga oleh Charles Berger : “ Teori mengandung sejumlah preposisi yang saling terkait yang menggambarkan hubungan konstruk teoritis dan menjelaskan cara kerja yang menjelaskan hubungan yang ditetapkan di dalam preposisi tersebut” (2005:417). Konsepsi Kenneth Bailey mengenai teori mencakup berbagai macam cara di dalam memahami kehidupan sosial : “ Penjelasan  dan prediksi fenomena sosial — terkait dengan pusat kajian tertentu — dengan  beberapa fenomena yang lain” (1982:39).

Definisi kita mengenai teori (dalam ilmu komunikasi), akan diturunkan dari sintesis antara dua bahkan lebih beberapa pandangan umum mengenai teori itu. Dengan asumsi bahwa terdapat sejumlah perbedaan cara pandang di dalam memahami bagaimana fungsi komunikasi dalam kehidupan yang kompleks ini, Stephen Littlejohn dan Karen Foss mendefinisikan teori sebagai “ sejumlah konsep, penjelasan dan prinsip yang terorganisir mengenai beberapa aspek pengalaman manusia”. (2008:14).  Demikian juga Emery Griffin, yang memberi pandangan yang lebih luas seperti itu, menulis bahwa teori adalah sesuatu gagasan  “yang menjelaskan suatu peristiwa dan tindakan. Teori itu memberi kejelasan terhadap situasi …..; menggambarkan adanya keteraturan dari sebuah keacakan (chaos) … mensintesiskan data, yang memfokuskan perhatian kita terhadap apa-apa yang penting dan menolong kita mengabaikan apa yang hanya menimbulkan perbedaan tidak berarti “ ( 1994:34). Kedua penulis terakhir ini sama-sama menghargai pentingnya realitas komunikasi dan teori-teori komunikasi massa : ada begitu banyak teori, pertanyaan yang dilontarkan teori itu bisa diuji dalam berbagai tingkatan, teori itu melekat pada situasi tertentu, dan kadang di antara teori tersebut saling bertolak belakang bahkan chaotic. Sebagai teoritisi komunikasi, Katherine Miller menjelaskan “ Faham pemikiran yang berbeda akan mendefinisikan teori dengan cara yang berbeda bergantung pada kebutuhan teoritisi dan keyakinannya mengenai kehidupan sosial dan sifat dari ilmu pengetahuan” ( 2005:22-23).  Para ahli telah mengidentifikasi empat kategori utama dalam teori komunikasi : (1) postpositivism, (2) hermenutic theory, (3) critical theory, dan (4) normative theory — meskipun, di antara kategori-kategori tersebut “saling berbagi komitmen untuk meningkatkan pemahaman mengenai kehidupan sosial dan komunikasi dan meningkatkan keluhuran keilmuwan (  Miller, 2005:32)— mereka berbeda di dalam :

-tujuannya

-pandangannya mengenai sifat realitas, apa yang bisa diketahui ( ontologi-nya)

-pandangannya mengenai bagaimana pengetahuan itu diciptakan dan dikembangkan ( epistemology-nya)

– pandangannya mengenai peran nilai  di dalam penelitian dan bangunan teorinya ( axiology-nya).

Adanya perbedaan-perbedaan di atas tidak hanya membantu di dalam mendefinisikan beberapa jenis teori, namun juga membantu di dalam menegaskan betapa definisi Ilmu sosial di dalam teori komunikasi massa itu semestinya dipahami secara fleksibel.

POSTPOSITIVIST  THEORY

Ketika peneliti komunikasi pada mulanya mencoba membuat sistematisasi kajian mengenai kehidupan sosial, mereka menengok pada ilmu alam untuk dijadikan modelnya. Para ilmuwan yang menggeluti ilmu-ilmu alam ( fisika, kimia, astronomy, dan sebagainya) meyakini paham positivism, yaitu suatu gagasan bahwa pengetahuan hanya bisa diperoleh melalui penelitian seksama secara empiris, teramati, dan terukur dengan menggunakan pendekatan metode ilmiah. Namun sebagaimana kita maklumi, orang tidaklah identik dengan “cairan di dalam tabung kimia”. Alhasil, ilmuwan sosial kemudian bersepakat untuk menjalankan metode ilmiah dengan menggunakan postpositivism theory. Teori ini didasarkan pada observasi empiris dipandu dengan metode ilmiah, namun juga mengakui bahwa manusia dan tindakan manusia itu tidaklah se-konstan seperti halnya  pada elemen-elemen di dalam dunia fisika.

Tujuan dari teori positivism adalah menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol (dan di sini bisa anda lihat kemiripan antara ‘ilmu sosial jenis ini’ dengan ilmu fisika).  Misalnya, peneliti yang bermaksud menjelaskan cara kerja iklan politik, akan memprediksi saluran-saluran mana yang paling efektif dan kemudian bisa mengontrol perilaku memilih masyarakat sasarannya; sesuatu yang sangat khas  berdasarkan teori postpositivist. Secara ontologis, penelitian semacam itu mengakui bahwa  dunia, termasuk dunia sosial keber-ada-annya terlepas dari persepsi kita akan dunia itu sendiri; tindakan manusia secara tepat dapat diprediksi dan dipelajari secara sistematis. ( Pospositivists,meski demikian, juga meyakini bahwa dunia sosial memiliki  lebih banyak variasi ketimbang dunia fisika; misalnya, nama yang kita berikan pada sesuatu akan mendefinisikan sekaligus memengaruhi reaksi kita terhadap sesuatu itu). Secara epistemologis, teori postpositivists meyakini bahwa pengetahuan bisa disempurnakan melalui penelitian yang sistematis, dengan mengejar logika keteraturan dan hubungan kausalitas  dengan menggunakan menerapkan metode ilmiah. Kemajuan diperoleh ketika terdapat kesepakatan intersubyektif di antara para ilmuwan yang tengah mengkaji fenomena yang ada. Dengan demikian, kaum postpositivists mendapatkan kepercayaan diri di “dalam komunitas peneliti sosial” bukan” di dalam individu selaku ilmuwan sosial” ( Schutt, 2009:89).  Di sinilah dilandaskan secara hati-hati metode ilmiah yang mendefinisikan axiology dari postpositivistis sebagai obyektivitas yang melekat di dalam pelaksanaan metode ilmiah dengan cara sebisa mungkin tidak melibatkan “nilai-nilai” dari para teoritisi dan penelitinya dalam proses pencarian pengetahuan. Teori komunikasi postpositivists, dengan demikian, adalah sebuah teori yang dikembangkan melalui sistem penyelidikan  dengan meniru sedekat mungkin aturan-aturan dan pelaksanaan dari apa yang secara tradisional kita sebut sebagai science.

HERMENEUTIC THEORY

Banyak para teoritisi komunikasi yang tidak ingin menjelaskan, memprediksi dan mengontrol perilaku sosial. Tujuan dari para teoritisi golongan ini adalah memahamai (understand) mengapa dan bagaimana perilaku itu muncul di dalam dunia sosial. Inilah yang disebut hermenutic theory,  yaitu suatu studi yang berupaya memahami, khususnya melalui interpretasi yang sistematis terhadap suatu tindakan atau teks. Hermeneutics pada mulanya berawal dari studi atau interpretasi terhadap kitab suci (Bible) dan kitab-kita suci lainnya. Setelah mengalami perkembangan selama lebih kurang dua abad terakhir, menjelma menjadi studi yang berkomitmen untuk menyelidiki “objectification of the mind” ( Burrell dan Morgan, 1979:236) atau yang menurut istilah Miller “social creations” ( 2005:52).  Sama seperti dalam Bible yang merupakan “objectification” dari kebudayaan Kristen permulaan, dan mereka yang hendak memahami kebudayaan pada masa itu akan melakukan studi terhadap teks-nya, penerapan hermeneutik yang paling modern nampaknya juga memfokuskan pada pemahaman terhadap kebudayaan para penggunanya yang tercermin dalam teks tertentu.

Terdapat beberapa perbedaan pola dalam teori hermenutik. Misalnya, hermeneutik sosial , memiliki  tujuan untuk memahami bagaimana mereka yang ada dalam situasi sosial teramati menginterpretasikan diri mereka sendiri di dalam keadaan tersebut. Seorang etnografer Michael Moerman menjelaskan, teori hermenutik sosial mencoba untuk memahami bagaimana peristiwa “ di dalam dunia tersendiri memahami diri mereka sendiri, bagaimana cara hidup mereka sejalan dengan atau  memiliki  makna dan nilai bagi orang-orang yang hidup di dalamnya” (1992:23). Model hermeneutik lainnya mencoba mencari makna tersembunyi atau terdalam dari interpretasi orang-orang terhadap berbagai macam sistem simbol— misalnya, di dalam teks media. Seperti yang  bisa ditebak, dari penggambaran ini, teori hermeneutik kadang-kadang mengacu pada Interpretation theory. Gagasan pokok lainnya yang melekat di dalam gambaran di atas ialah bahwa semua teks, segala macam produk interaksi sosial—sebuah film, alamat presiden USA, serangkaian tweets dari Twitter, percakapan di antara pahlawan opera sabun,— dapat dijadikan sumber penyelidikan/pemahaman.

Ontologi dan epistemologi teori ini mengatakan bahwa tidak ada yang namanya benar-benar “real”, suatu realitas sosial yang bisa diukur. Sebaliknya, “orang membuat gambaran mengenai realitas berdasarkan preferensi dan anggapan serta reaksinya sendiri terhadap orang lain, dan ini dianggap benar secara ilmiah karena ini juga berlaku bagi setiap orang lain dalam dunia sosial” ( Schutt, 2009:92). Dengan itu, maka epistemologi teori hermeneutik mengatakan bahwa pengetahuan diperoleh berdasarkan pada interpretasi subjektif di antara pengamat ( peneliti atau teoritisi) dan komunitas yang dia amati. Dengan lain perkataan, pengetahuan itu sifatnya local; itulah sebabnya, itu bersifat khusus yang terjadi di dalam interaksi antara the knower dan the known. Dengan demikian, pada dasarnya, aksiologi teori hermeneutik memasukkan, alih-alih membatasi, pengaruh dari nilai-nilai yang dimiliki peneliti atau teoritisi. Nilai-nilai personal dan profesional, menurut Katherine Miller, adalah seperti “ lensa melalui mana fenomena sosial itu diamati”(2005:58). Minat peneliti di dalam memahami interpretasi para remaja di dalam website media sosial seperti facebook, atau peneliti  yang secara hati-hati mengamati apa yang muncul di dalam pertukaran informasi di antara fans para remaja secara online dalam game simulasi, adalah contoh penelitian yang didasarkan pada teori hermeneutik.  ( Bersambung ).

Referensi :

Baran,S.J. and Davis,D.K. 2012. Mass Communication Theory : Foundations, Ferment, and Future. USA : Wadworth.  Hal : 9-13.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 3 Februari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: