MENYOAL KEKERASAN SIMBOLIK PADA TAYANGAN ANAK-ANAK

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pada tahun 2006  terjadi  peristiwa yang mengharukan ketika ada seorang siswa Sekolah Dasar, namanya Reza Ikhsan Fadilah, siswa kelas IV SD Cincin 1 Ketapang Kabupaten Bandung  yang tewas akibat tubuhnya dibanting dan kepalanya dihujamkan ke lantai oleh tiga kawannya.  Meski tidak menimbulkan korban jiwa, namun kejadian serupa juga terjadi beberapa waktu lalu. Pada 26 April 2012 seorang siswa bernama Mohamad Wildan Hakiki kelas IV SD Negeri 1 Kilensari Panarukan  Situbondo Jawa Timur mengalami patah tulang kaki setelah bergulat ala Smack Down dengan temannya saat jam istirahat.

Berbagai pertanyaan muncul menyusul peristiwa tragis tersebut, yang mungkin baru kelihatan dari dua contoh ekstrim itu, meski tidak menutup kemungkinan ada juga hal serupa di tempat lain namun tidak sampai menjadi berita. Salah satu pendapat mengatakan, jangan-jangan tindakan ‘kekerasan’ yang menyertai permainan anak-anak itu terjadi karena mereka memang meniru adegan yang dipertontonkan media.Tulisan  sederhana ini hendak mengupas seputar kekerasan yang tanpa disadari oleh orang dewasa menjadi konsumsi anak-anak melalui tayangan yang mereka hadapi sehari-hari. Pertanyaan pokok adalah bagaimana sebuah tayangan anak-anak semisal film kartun ternyata menyimpan potensi adegan kekerasan di dalamnya. Kemudian jenis kekerasan yang seperti apakah yang disajikan dalam tayangan tersebut.

STUDI MENGENAI KEKERASAN DALAM TAYANGAN ANAK-ANAK

Sebuah penelitian dengan judul Analisis Isi Kekerasan Dalam Film Kartun Naruto (Chakim 2010:25) dilakukan untuk memberi gambaran maraknya adegan kekerasan dalam serial kartun. Peneliltian tersebut sampai pada simpulan, terdapat kecenderungan menampilkan adegan kekerasan verbal dan nonverbal yang didominasi oleh “memukul” di semua episode film kartun yang telah diteliti. Setidaknya, terdapt 25,83% kekerasan dilakukan secara verbal, dan 74,17% terjadi kekerasan nonverbal. Melalui jumlah persentase kekerasan verbal dan nonverbal yang berhasil diteliti, terlihat jelas ditayangkannya film kartun Naruto tampaknya lebih  mementingkan segi komersilnya dari pada kualitas isi filmnya.

Penelitian dengan tema kekerasan di televisi khususnya dalam serial kartun lainnya, dilakukan oleh Intan Novenia (2010) dengan judul Kecenderungan Isi Kekerasan Fisik dalam Film Kartun di Global TV (Studi Kasus tantang Naruto dan Avatar). Kemudian Ahmad Murtadho, Suryadi Rahmat, dan Yasril Sjaf (2011) Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia yang meneliti : Analisa Perilaku Kekerasan Fisik dalam Film Kartun Tom and Jerry. Dari beberapa  penelitian tersebut dperoleh  simpulan : terdapat muatan kekerasan dalam serial-serial kartun yang diteliti seperti Naruto, Avatar, dan Tom and Jerry. Peneliti menjelaskan kekerasan yang paling sering dilakukan dalam serial-serial kartun tersebut adalah tindakan kekerasan dengan cara memukul dengan tangan alat atau tangan kosong. Secara umum hasil penelitian menunjukkan tingginya frekuensi kekerasan yang ditunjukkan, sehingga peneliti menyimpulkan serial kartun tersebut tidak layak dikonsumsi anak-anak karena dapat membentuk karakter psikologis yang buruk pada anak-anak itu sendiri.

Sementara itu, dalam analisisnya KPI Pusat menilai, dalam episode yang tayang pada 8 Agustus 2010, serial kartun Bleach 3 di Indosiar menayangkan adegan menendang yang dilakukan tokoh Dordoni kepada Ichigo hingga mengeluarkan darah dari mulut secara jelas pada salah satu adegannya. Sedangkan dalam serial One Piece di Global TV, menayangkan adegan pembunuhan yang dilakukan oleh tokoh pengawal Karol bertangan besi kepada tokoh pembantu sang putri hingga berlumuran darah. KPI Pusat memberikan sanksi administratif berupa penghentian sementara atau pembatasan durasi terhadap program tersebut jika tidak ada perbaikan.

Meskipun sudah sering disinggung dalam berbagai forum publikasi penelitian maupun teguran dari KPI namun kenyataannya masih ada  stasiun televisi swasta yang menayangkan serial kartun yang memuat adegan kekerasan.  Seperti serial kartun Spongebob Squarepants, Woody Woodpecker, Tom and Jerry, Crayon Shin Chan, dan Doraemon. Meski adegan pembunuhan tidak digambarkan dengan jelas seperti dalam serial Bleach 3 dan One Piece, namun adegan kekerasan seperti berkata kasar, mengejek, mencelakakan, perkelahian, selalu muncul di setiap episodenya.

KEKERASAN : DEFINISI

Kekerasan mengingatkan kita pada sebuah situasi yang kasar, menyakitkan, dan menimbulkan efek merugikan atau negatif. Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta 1976:487-488) kekerasan berarti menyatakan sifat atau hal yang sangat atau lebih dari pada keadaan biasa seperti kuat, teguh, berhubungan dengan tenaga. Kekerasan berarti juga sifat, paksaan yang dapat merugikan orang lain, tindakan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau kerusakan fisik. Akibat tindakan kekerasan adalah seseorang atau kelompok, bisa kehilangan nyawa, harta, kerusakan fisik (terluka dan cedera) atau kehilangan semuanya.

Sementara menurut Noerhadi (dalam Sunarto 2009:56).kekerasan mempunyai ciri khas pemaksaan yang dapat mengambil wujud persuasif dan fisik, atau gabungan keduanya. Pemaksaan berarti terjadi pelecehan terhadap kehendak pihak lain yang mengalami pelecehan hak-haknya secara total, eksistensinya sebagai manusia dengan akal, rasa, kehendak, dan integritas tubuhnya tidak diperdulikan lagi

Mengutip bagian penjelasan tentang pengertian kekerasan dalam penelitian berjudul Tayangan Kekerasan di Televisi dan Perilaku Pelajar oleh Ida Tumengkol (2012:4), pengertian kekerasan menurut UU Anti Perdagangan Orang adalah setiap perbuatan dengan atau tanpa menggunakan sarana secara melawan hukum terhadap fisik yang meinimbulkan bahaya bagi nyawa, badan, atau menimbulkan terampasnya kemerdekaan seseorang.

Menurut Hidayati dalam Fauziyati, kekerasan memiliki arti semua bentuk perilaku, baik verbal maupun nonverbal, yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang lainnya, sehingga menyebabkan efek negatif secara fisik, emosional, dan psikologis terhadap orang yang menjadi sasarannya (Fauziyati 2009:14).

KEKERASAN DAN MEDIA

Dalam media setidaknya terdapat tiga dunia yang bisa kita ketahui, yakni dunia riil, dunia fiksi, dan dunia virtual (Wattimena 2008:1). Kekerasan juga dapat disorot dari ketiga kategori ini, yang pertama adalah kekerasan riil, kekerasan fiksi dan kekerasan virtual (Haryatmoko 2007:127).

Kekerasan riil atau kekerasan dokumen adalah bentuk kekerasan dengan mengambil gambar-gambar yang dialami oleh pemirsa sebagai fakta sosial (Haryatmoko 2007:130). Misalnnya tayangan tentang pembunuhan, perkelahian atau konflik sosial. Kekerasan riil juga tidak hanya terjadi dalam bentuk gambar, tetapi juga pemberitaan dalam bentuk tulisan. Saat ini banyak pemberitaan berita kriminal yang ditulis dengan menghakimi tersangka bahkan sebelum proses pengadilan dilakukan.

Tipe kekerasan yang kedua adalah kekerasan fiktif. Kekerasan ini sangat mudah ditemukan dalam film-film action. Kebanyakan film-film action yang tayang di televisi menyajikan konflik-konflik yang mirip dengan konflik riil. Kekerasan semacam ini mampu menimbulkan ide-ide baru yang sebelumnya tidak teprikirkan dalam realitas (Haryatmoko 2007:132). Yang ditakutkan adalah jika hal semacam ini menimbulkan trauma dan perilaku agresif bagi orang-orang yang menontonnya.

Tipe kekerasan ketiga adalah kekerasan virtual, kekerasan ini kental terjadi dalam video games, baik on line maupun off line. Misalnya saat adegan penembakkan serta membunuh musuhnya. Kejadian semacam itu seharusnya menjadi kejadian yang menakutkan, tetapi pengguna video game justru menikmati hal tersebut.

Jenis kekerasan lain yang terjadi dalam media dan sulit dicegah adalah kekerasan simbolik. Kekerasan simbolik ini terjadi melalui medium bahasa yang nantinya mempengaruhi cara berpikir, cara kerja dan cara bertindak (Haryatmoko 2007:136). Korban dari kekerasan ini adalah pemirsanya sendiri, mereka bahkan tidak menyadari bahwa mereka teleh dimanipulasi, dibohongi, bahkan dikuasai (Wattimena 2008:1).

KEKERASAN SIMBOLIK

Menurut Bourdieu (1994) dalam Roekhan, kekerasan simbolik adalah makna, logika dan keyakinan yang dipaksakan secara halus bahkan tidak terlihat, kepada pihak lain sebagai sesuatu yang benar. Kekerasan simbolik didasarkan pada harapan dan kepercayaan publik yang sudah terbentuk dan tertanam lama secara sosial. Pemaksaan tersebut dilakukan secara halus dan samar sehingga publik tidak menyadari dan merasakannya sebagai paksaan (Roekhan 2010:254).

Pengertian tentang kekerasan simbolik juga diungkapkan Kristiawan dalam (Kurnia 2010:9), menurutnya kekerasan simbolik adalah sebuah kekerasan yang tidak kasat mata dan tidak dapat dilihat dengan jelas tanpa adanya pemahaman kritis dan mendalami dari orang yang mengalaminya (korbannya). Kekerasan semacam ini oleh korbannya bahkan tidak dapat dilihat atau dirasakan sebagai suatu kekerasan, tetapi sebagai suatu yang alamiah, wajar, dan memang harus terjadi.

Konsep kekerasan simbolik (symbolic violence) milik Pierre Bourdieu berangkat dari pemikiran adanya struktur kelas dalam formasi sosial masyarakat. Bourdieu mengatakan kelas sosial dalam masyarakat terbentuk karena adanya modal-modal yang dimiliki masyarakat, yaitu modal budaya (cultural capital) seperti keahlian, ilmu pengetahuan, ijazah dan lain-lain. Modal yang kedua adalah modal sosial (social capital) seperti lingkungan kehidupan sosial dan organisasi. Ketiga adalah modal ekonomi (economic capital) seperti rumah, mobil dan lain-lain. Bourdieu mengatakan semakin banyak komposisi modal yang dimiliki seseorang semakin tinggi kelas sosial yang ditempatinya, sehingga semakin besarpula dominasi orang tersebut dalam masyarakat (Musarrofa 2012:8).

Kondisi dominasi dalam masyarakat saat ini digambarkan pula dalam media massa (dalam Hidayat, 2006:882) dengan terbentuknya sistem kekuasaan dalam media seperti mendominasi produksi, dan bahasa, dan makna yang beroperasi di dalam media tersebut. Menurut Haryatmoko (dalam Roekhan 2010:253), media adalah alat komunikasi yang seharusnya bersifat netral. Artinya media massa menyajikan berita yang bersifat objektif dan faktual.

Gerbner pernah melakukan penelitian mengenai analisis isi tayangan televisi pada saat jam tayang utama (prime time) untuk mengetahui seberapa banyak muatan kekerasan dalam berbagai tayangan televisi. Secara khusus ia memberikan perhatian pada jenis tayangan drama karena memiliki muatan kekerasan dramatik (ekspresi terbuka dari kekuatan fisik). Ditemukan beberapa adegan tentang perkelahian dengan atau tanpa sejata, pembunuhan, serta ancaman (Morissan 2010:85).

Bukan dalam serial drama saja, kekerasan juga kerap kita temui di program-program anak. Stasiun televisi swasta di Indonesia membeli serial kartun luar negeri sebagai acara dalam program anak. Kebanyakan serial kartun menceritakan kisah kepahlawanan serta petualangan yang kerap memunculkan tokoh yang dianggap sebagai lawan.  Kerap kali kita menemukan adegan perkelahian bahkan pembunuhan sebagai penyelesaian masalahnya. Namun adegan kekerasan yang dikemas dengan rapi dengan menampilkan kecanggihan teknik animasi, justru membuat penonton menikmati adegan tersebut. Akibatnya kepekaan penonton terhadap kekerasan menjadi berkurang. Jika sudah seperti itu, kekerasan pun tidak lagi dipersepsi sebagai kekerasan, melainkan sebagai sesuatu yang wajar, atau yang lebih berbahaya lagi, kekerasan sebagai sesuatu yang wajar. Jika suatu tindak kekerasan didiamkan begitu saja, maka lama-kelamaan, tindakan itu akan dianggap biasa (Wattimena 2008:1).

Beberapa contoh di atas adalah bentuk kekerasan yang ditimbulkan oleh televisi. Bentuk kekerasan yang tidak nampak dan menimbulkan berdampak secara fisik, namun dalam bentuk pemaksaan dan kekerasan terhadap keyakinan orang lain. Sehingga berdampak pada sisi psikologis penontonnya. Itulah sebabnya kekerasan yang diberikan televisi merupakan bentuk kekerasan simbolik.

KEKERASAN DALAM TAYANGAN KARTUN ANAK-ANAK

“Biar kita melihat celana dalam kecil Nene, aku sama sekali tidak merasa apa-apa ya Kazao? Nah sekarang kita main apa ya? Apa main rumah-rumahan serius lagi? Ini mengenai keluarga hasil pernikahan ketiga sang suami. Anaknya ada banyak.” Kata Nohara Shinnosuke atau Shincan, dalam serial kartun Crayon Shincan episode Tahayul Kesialan Kazao.

Crayon Shinchan merupakan serial kartun yang populer di beberapa negara. Kepopuleran serial ini ditunjukkan dengan sebuah laporan dari Kid’s Top Ten Rating periode 31 Juli hingga 6 Agustus 2005. Laporan tersebut menunjukkan serial kartun ini berada diposisi ke tujuh dari sepuluh besar program anak di televisi yang ditonton anak-anak berusia 5 hingga 14 tahun (Sunarto 2009:112).

Fenomena kekerasan dalam televisi nampaknya juga ditunjukkan dalam serial kartun, yang notabene (di Indonesia) populer di kalangan anak-anak. Kutipan dialog diatas, menunjukkan adanya kata-kata kasar yang diucapkan tokoh Shinchan, seorang anak berusia lima tahun kepada temannya Kazao. Dalam dialog itu, Shinchan sedang membicarakan tentang pernikahan dan celana dalam wanita layaknya seorang pria dewasa.

Contoh lain ialah serial kartun Tom and Jerry buatan Amerika, yang selalu menampilkan aksi si kucing Tom yang mengejar si tikus Jerry dengan menampilkan adegan pemukulan, menendang, melindas, bahkan memukul dengan alat-alat rumah tangga yang keras dan tajam. Beberapa serial kartun buatan Jepang bertemakan kepahlawanan seperti Naruto,dan Samurai X pemecahan masalahnya cenderung dengan cepat dan mudah melalui tindakan kekerasan seperti mengancam, perkelahian, hingga pembunuhan. Adegan tersebut juga ditemukan dalam serial kartun bertema petualangan seperti One Piece dan Dragon Ball.

Sebuah Penelitian terhadap  tiga serial kartun televisi, yaitu One Piece, Spongebob Squarepants dan Doraemon  dilakukan oleh Fitri Chamdli (2012). Chamdli mengambil episode Hurry! Back to the Crew-Adventure on the Island of Women, Straw Hat Team Arrives-The Battlefield Is Thrown into Chaos, dan The Beginning of the War! Ace and Whitebeard’s Past! sebagai sampel episode dari serial kartun One Piece. Selain itu dalam serial kartun televisi Spongebob Squarepants, Chamdli  memilih episode Oral Report, Suction Cup Symphony, dan Good Neighborsyang pernah  tayang di Global TV sebagai objek penelitian. Untuk serial kartun Doraemon yang telah memproduksi lebih dari tiga puluh judul  film, peneliti mengambil tiga judul film yang pernah ditayangkan di RCTI sebagai sampel penelitian. Judul serial yang diambil adalah Nobita and The Mermaid, Nobita and the Knights of Dinosaurs, dan Nobita’s New Adventure Into The Magic Planet.

Penelitian Cahmdli tersebut sampai pada simpulan sebagai berikut : Frekuensi pelanggaran adegan kekerasan ketiga judul serial kartun dalam masing-masing kategori pelanggaran cenderung tinggi yakni: kategori pelanggaran kekerasan fisik sebanyak 62,62% ditayangkan dalam serial kartun One Piece ;kategori pelanggaran kekerasan psikologis paling banyak dilakukan oleh serial kartun Doraemon, yaitu sebanyak 59,73; kategori pelanggaran Pasal 23 (Standar Program Siaran,  Bab XIII Pasal 23 tentang Pelarangan Adegan Kekerasan)  paling banyak dilakuakan oleh serial One Piece, yaitu sebanyak 49,31%.

SIMPULAN DAN SARAN

1.  KPI sebagai lembaga yang berwewenang menjaga kualitas isi tayangan televisi bersama seluruh masyarakat  hendaknya lebih memperhatikan bahwa saat ini adegan kekerasan masih banyak dijumpai pada serial kartun televisi, maka ke depan perlu mengkaji kembali serial kartun yang ditayangkan di televisi agar publik untuk mendapatkan suguhan tayangan yang sehat dan bermanfaat

2.    Orang tua harus lebih peka terhadap dampak tayangan kekerasan yang dikonsumsi anak-anak dan menghayati bahaya yang bisa saja terjadi, sehingga mengingatkan orang tua agar lebih selektif dan berhati-hati dalam menentukan tontonan untuk anak-anak

DAFTAR PUSTAKA

Chakim, Roby. 2010.  Analisis Isi Kekerasan Dalam Film Kartun Naruto, Jurnal Komunikator Volume 2 No.1 : Yogyakarta

Chamdli, Fitria . 2013. Adegan Kekerasan dalam Serial Kartun Televisi (Analisis Isi Adegan Kekerasan dalam Serial Kartun One Piece, Spongebob Squarepants, dan Doraemon).Skripsi Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Jenderal Soedirman.Tidak Dipublikasikan.

Fauziyati, Indah Anis .2009. Kekerasan terhadap Perempuan pada Masa Pacaran di Unsoed, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.

Haryatmoko .2007. Etika Komunikasi Politik, Yogyakarta: Kanisius

Hidayat, Arif Rahman .2006. Bahasa dan Hegemoni Kekuasaan (Telaah atas Kekerasan Simbolik di dalam Media), dalam Karsa, Vol IX No. 1 April 2006, diakses 28 Juni 2012

Kurnia .2010. Kekerasan dalam Tayangan Realigi Trans TV Universitas Atma Jaya: Jogjakarta, dalam http://www.scribd.com/36965346/9, diposting 21 Juni 2012

Musarrofa, Ita .2012. Menemukan Pierre Bourdieu di Sudut Unair, Universitas Sunan Ampel: Surabaya, dalam http://www.sunan-ampel.ac.id/kolom-akademisi/1482, diposting 7 Mei 2012, diakses 21 Juni 2012

Poerwadarminta, WJS (1976) Kamus Umm Bahasa Indonesia, Balai Pustaka: Jakarta

Roekhan .2010. Kekerasan Simbolik di Media Massa, Jurusan Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang dalam Jurnal Bahasa dan Seni, Tahun 38, Nomor 2  Agustus 2010 diposting 4 Juni 2012

Sunarto .2009. Televisi, Kekerasan, dan Wanita, Jakarta : Kompas.

Tumengkol, Ida .2012. Tayangan Kekerasan di Televisi dan Perilaku Pelajar, dalam   www.jurnal-skripsi3.blogspot.com, diakses 17 Juni 2012

Wattimena, Reza A .2008. Menyikapi Ciri “Estetik” Kekerasan Media: Suatu Telaah Fenomenologis, dalam http://www.rumahfilsafat.com, diakses 24 Juni 2012

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 31 Januari 2014.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: