Menafsir Madonna dengan Kacamata Reception Theory

What do I think when I hear “Madonna”? Well, I should be struck by Catholic religious images, but I’am not. I picture the sassy, crotch-grabbing, blonde on MTV – Male 21.

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Satu perangkat yang bisa kita andalkan guna menyingkap misteri dramatik pemikiran seseorang ketika berinteraksi dengan sesuatu obyek budaya media tak lain adalah teori resepsi. Teori ini menyoal studi tentang bagaimana kita selaku subyek menerima dan menginterpretasikan teks yang tersajikan dalam alam budaya media ini.

Apa yang pertama terlintas di pikiran anda ketika membaca kata “Madonna” dalam judul di atas? Gambaran apa yang muncul — sebuah ikon dari Bunda Yesus atau citraan mengenai tingkah polah keterlaluan seorang selebriti  dunia? Ketika anda membaca atau melihat atau mendengar si super star pop Madonna itu, apakah anda enjoy dengannya atau justru muak karenanya? Kutipan testimoni atau pendapat seorang pria 21 tahun sebagaimana saya tuliskan di awal tulisan di atas  menggambarkan betapa satu penanda kata “Madonna” ternyata punya kuasa ikonik pembangkitan kemungkinan makna tertentu, yang elok atau yang seronok, yang suci atau yang dinilai najis; semua bisa hadir menyeruak di pikiran seseorang.

Madonna

Madonna

Layakkah  media dalam hal ini film, televisi, musik atau majalah dsb. menyajikan hal-hal yang berbau umbaran seksualitas, atau kekerasan ? Dan lalu bagaimana kemudian kita menerima teks-teks media semacam itu?

Studi resepsi mengkaji cara-cara tatkala sebuah teks itu diterima oleh khalayak, misalnya ketika seseorang sedang membaca novel roman ( Radway, 1984), ketika menginterpretasikan siaran dari BBC ( Morley, 1980), ketika asyik menelaah sastra Jerman klasik ( Iser,1978;Jauss, 1982), ketika menyaksikan acara live di media (Dayan& Katz, 1992) atau ketika sedang berienteraksi dengan teks media apapun. Wacana yang diraup melalui berbagai media itu lalu menjadi wacana personal dan berkontribusi terhadap konsepsi kita terhadap “makna “ teks tersebut. Sebagai subyek yang membaca , kita bisa saja memberikan sejumlah pemaknaan yang beragam terhadap teks itu. Dengan cantik Abercrombie, Hall & Turner (1980:17) menegaskan “ The meaning of a film is not something to be discovered purely in the text itself  but is constituted in the interaction between the text and its users “ .

The Many Madonnas

Salah satu ikon media dalam beberapa decade terakhir  yang membangkitkan pembacaan penuh konflik dan bahkan memicu debat akademik penting adalah wanita asal Detroit  bernama Madonna Ciccone yang  menanggalkan nama belakangnya dan tak jarang juga “menanggalkan pakaiannya” sehingga jadilah dia orang yang tersohor (atau justru tidak sih?) dengan sebutan “Madonna” itu.   Madonna pertama kali muncul sebagai penyanyi pop dalam dunia rekaman dan radio di awal  1980-an. Dia pun segera meroket menjadi bintang video music, melakoni tour-tour konser agung dan terjun pula di layar kaca dengan selalu mendapat sorotan luar biasa dari majalah, surat kabar dan beragam media lainnya. Self-promotion dan kelihaian bisnis senantiasa menyertainya  dengan berbagai strategi penampakan reinkarnasi. Misalnya, dia menjadi jelmaan “Marilyn Monroe” dalam klip video Material Girl dan Dict Tracy; dalam dandanan  fashion wanita karir  dia pun merepresentasikan sosok “Evita”. Dia tahu betul bagaimana memanipulasi citraannya, memadukan feminism dan postmodernism dengan kehausan sangat akan  perhatian publik.

Rolling Stone menjuluki Madonna sebagai “ the world’s most famous woman” (Zehme, 1989:51). Woman Review melabeli Madonna sebagai “ the most successful female solo pop performer ever “ (Garrat, 1986:12). Bagaimana sesungguhnya orang “menerima”  Madonna dan apa “arti”  Madonna bagi mereka   ? Berikut beberapa kutipan yang diambil dari serangkaian survey selama tiga tahun melalui kuesioner terbuka di tahun 1990-an dalam sebuah studi kasus mengenai representasi seksualitas dan peran yang dilakoni bintang pop ini.

What does Madonna make me think of? Belly button ( or lower), untalented, inept, ignorant, bi-sexsual, hussy, has-been chick — Male, 24.

Sex, blonde, Hollywood, Emptiness, vulgarity, uneducated, has no style — Female, 42.

I don’t believe her music or her “image” portray anything “positive” about our society. What she does and what she stands for is almost always in poor taste — Female, 21.

She is what’s wrong with our society — people like her that are vulgar, immature, crude and only out to get very rich off our stupidity — Female, 22.

Banyak yang merespon Madonna secara positif dan beberapa di antaranya bersifat ambivalent.

Madonna is a double-edge sword. She is loud, opinionated, and does not put up with a man’s world. She is the boss. On the other hand, she makes sex look too easy. It’s not. AIDS is out there, and in her videos I don’t see a condom being pulled out. She shows stupidity by doing it — Female, 20.

She is doing exactly what she wants and is getting paid obscene amounts of cash. I do not enjoy her work as much as I respect risks she takes. She is self-determined and yet she is a sex object. She is paradox. She is in charge, yet she is a slave to record company profitmaking. Again a paradox— Male, 21.

Apa (makna) sesuatu itu bagi anda? Itulah Tujuan dan Fokus dari Reception Studies

Studi resepsi membantu kita di dalam mengeksplorasi budaya media, dengan menyediakan landasan analisis tentang berbagai cara yang begitu kompleks, bervariasi dan menantang ketika pembaca men-decode dan menginterpretasi teks media.  Pendekatan ini berseberangan dengan studi “efek” media tradisional yang berdasarkan pada model transmisi teori peluru.  Bila tidak mendasarkan pada studi resepsi, maka  riset media cenderung berasumsi adanya kesesuaian total antara khalayak dengan pesan media, seperti diisyaratkan dalam tradisi mitos “hypodermic needle” dalam efektivitas media;  riset media juga berasumsi bahwa khalayak itu makhluk yang bebal sehingga kebal terhadap pengaruh (media) seperti diacu dalam teori “limited effects”;  atau dibangun dalam konsepsi yang  bersifat “mixed effects”. Pandangan yang pertama itu melihat media sepenuhnya punya efek — sehingga misalnya dalam kasus Madonna, maka seksualitas yang diusung Madonna diasumsikan mengubah khalayak menjadi budak atau pemuja sex.  Dan pandangan kedua, mengasumsikan media umumnya tidak memberi efek, maka, nafsu eksibisionisme Madonna tentu tak ada artinyaa pa-apa. Satu persoalan terkait dengan studi yang menekankan mengenai “ efek” itu adalah pada gagasan yang terlampau menyederhanakan tentang pesan media yang tidak jelas,  apakah kemudian efektif atau tidak, dan juga gagasan yang terlalu menyederhanakan  mengenai persoalan ukur-mengukur efek perilaku yang ditimbulkan media.  Dibalik debat mengenai efek ini selalu saja tersembunyi adanya stereotype mengenai khalayak yang bersifat pasif.

Padahal dalam kenyataannya, ada  juga  khalayak yang  bersikap  waspada dan kritis— berbeda dengan yang diimplikasikan dalam riset efek perilaku media itu.   Seperti yang dikemukakan oleh dua khalayak  perempuan ketika mereka diminta menganalisis Madonna berikut ini :

Madonna itu sungguh provokatif dan wanita yang seksi. Dia suka mengekspresikan dirinya dengan cara yang sangat memikat. Dalam konser dengan musiknya dia mengekspose dirinya dan apa yang diyakininya.  Saya percaya  apa yang dia lakukan itu baik. Banyak orang yang takut menjadi dirinya sendiri dan bersembunyi dibalik topeng samaran. Madonna memberikan dorongan pada orang agar secara bebas mengekspresikan hasratnya dan melakukan apa yang memang ingin dia  lakukan.  Madonna adalah sosok jaman ini dan yang benar-benar memiliki tekad kuat. Dia mengambil keputusan atas dirinya sendiri dan lebih sebagai pemimpin ketimbang hanya sebagai pengikut….”—- Female, 21.

“Ketika saya memikirkan tentang Madonna, rasa ingin tahu  saya terusik karena dia secara terus- menerus mengubah citraannya dan melakukan sesuatu untuk membuat orang lain tersingggung. Ia adalah seorang entertaintment.  Dia tampil dengan nilai-nilai yang mengejutkan dan saya menjadi korban dari hal-hal yang dia lakukan itu…. “ — Female, 22.

Pernyataan di atas adalah artikulasi kesadaran diri yang tidak bakalan bisa mengemuka ketika mereka hanya  disodori kuesioner dengan alternatif  pilihan yang terbatas, atau ketika mereka  sedang “diukur menurut takaran tertentu” sebagaimana dilakukan dalam riset efek media itu.

Model encoding –decoding ala Stuart Hall memberikan keunggulan teoritis ketika diterapkan dalam kajian resepsi terhadap budaya media.  Model ini berada pada posisi  yang bertolak belakang baik dengan model arus searah maupun penerimaan pasif dari model efek transmisi yang lama (Hall, 1994:253). Pengirim sebagai asal pesan, pesan itu bersifat one-dimensional, dan dia membawa efek pada perilaku penerima.  Berlawanan dengan model di atas, Hall mengajukan model yang menegaskan bahwa baik penciptaan maupun penerimaan sebuah pesan itu tidaklah “transparent” dan “one-dimensional” seperti itu.  Hall menulis, “the message is a complex structure of meanings” (1994:254). Makna itu tidaklah tetap melainkan berlapis-lapis (polysemic) dan multireferential.  Madonna bisa saja menempatkan dirinya baik sebagai “good girl”  atau “bad girl “ dalam video music, dan khalayak bisa saja merespon terhadap aspek-aspek yang berbeda dari pesan tersebut dan dengan cara yang berbeda-beda pula.  Semiotik dan strukturalisme, sejalan dengan gagasan Althuser dan Gramsci, memungkinkan Hall untuk mengidentifikasi kompleksitas di dalam teks media dan dalam bagaimana orang menerima dan menginterpretasikan teks media tersebut.

Di dalam analisis resepsi, teks Madonna diambil oleh pembaca/pendengar/penonton sebagai wacana yang penuh makna dan ditafsirkan dengan makna tertentu. Menurut Hall ( 1980, in During 1993: 93) “ it is this set of decoded meanings which ‘have an effect’, influence, entertain, instruct or persuade, with very complex perceptual, cognitive, emotional, ideological or behavioral consequences”.  Secara khusus, individu yang berada di  dalam posisi yang berbeda di dalam struktur sosial masyarakat baik dilihat dari klas, ras atau jenis kelamin akan mengambil kode-kode yang berbeda dan sub kultur akan berperanan di dalam decoding dan interpretasi teks. Misalnya, dalam survai yang dilakukan terhadap 168  mahasiswa ( 81 orang di antaranya adalah pria atau hampir 50,9% dari seluruh sampel) yang ditanya : Apa makna Madonna bagi anda? Meski hampir 28 % baik pria dan wanita cenderung melihatnya dalam kaitannya dengan music dan bisnis, lebih banyak wanita ( 30% dari total sampel) ketimbang pria ( 21%) yang menggambarkan Madonna utamanya dalam kaitannya dengan “kepribadiannya”. Lebih banyak pria ketimbang wanita  ( 38% : 24%) yang menggambarkan makna Madonna sebagai “bad girl” yang menciptakan budaya popular yang buruk . Tidak heran, dalam kasus pertanyaan ini dan yang lainnya, bahwa gender tampaknya membawa implikasi yang berbeda dalam decoding dan penilaian terhadap Madonna. Gender, kelas ekonomi, identitas diri berbasis ras, dan perbedaan sosial lainnya memainkan peran penting di dalam decoding kita terhadap teks media.

Reception studies adalah payung yang dipakai oleh Janet Staiger ( 1992:7) dalam mengelompokkan tiga cabang  teori interpretasi yang berpusat pada pembaca. Teori pembacaan berbasis pembaca ini menjadi akar intelektual dalam  analisis resepsi terhadap pengalaman di dalam budaya media. Salah satu cabangnya yakni “reception aesthetics”  berasal dari Jerman ditandai dengan karya Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser dengan menggunakan  tradisi fenomenologi Edmund Husserl  untuk  menguji “the decoding experience”.  Sementara cabang lainnya yaitu “ reader-response criticism” muncul melalui karya Stanley Fish, Jonathan Culler, Norman Holland dan lainnya yang telah mengkaji tentang interaksi teks dengan pembaca secara umum. Dan cabang yang ketiga ialah “reception theory”  yang telah diaplikasikan secara beragam  untuk melihat bagaimana  “pembacaan” dengan memadukan antara tradisi Jerman dengan “reader-response criticism”.   Supaya tidak bingung dengan percabangan ini, Stiger menyarankan label yang secara generic sebut saja “ reception theory” .  Teori resepsi mencoba untuk bagaimana sebuah teks di-decode, dengan demikian studi resepsi tidak berurusan dengan kisah hidupnya Madonna, dan penampilan Madonna tersebut melainkan lebih pada bagaimana audiens menerima  (teks) Madonna.

Kajian resepsi berdasar pada teori sastra  dan ilmu sosial , dan menandainya sebagai titik pergeseran fundamental  dari teori sastra sebelumnya. Paradigm humanis klasik (Holub, 1984) muncul karena perhatian lebih pada the author, khususnya di abad 19 pada zaman Romanticism ( Eagleton, 1983:74).  Menyusul adanya revolusi ilmu  pengetahuan tentang sejarah dan formalism, menjelang PD II, menuju New Criticisim, maka  perhatian khusus para ahli beralih  text. Hanya dalam beberapa decade terakhir ini, telah muncul tiga  pergeseran perhatian  terhadap pembaca . Masing-masing penekanan  telah memiliki pengikut yang semakin eksklusif sempit.  Pada periode pertama, budaya adiluhung  karya sastra telah dikritik oleh para ahli terlalu bergantung pada latar belakang , maksud dan estetika penciptanya.Dalam New Criticisim, tidak ada satu pun di luar teks yang dianggap penting; si pengarang telah (dianggap) mati dijauhkan dari proses  interpretasi, dan tugas pembaca tidak lain adalah mengungkapkan kerumitan  yang tersembunyi dibalik teks tersebut. Sekarang, dalam teori respons pembaca ( reader-response theory) Stanley Fish menekankan hanya pada interpretasi pembacanya, dan teks lenyap. Ia menambahkan bahwa  meski detail interpretasinya tidak lebih benar dibandingkan orang lain, namun yang lebih penting adalah pada serba kemungkinan-kemungkinannya itu.

Tingkatan sejauhmana kita bisa mengisi kesenjangan di dalam teks bagi para ahli dianggap sebagai sumbangan penting di dalam teori resepsi. Robert Allen ( 1992) merangkumkan teori resepsi melalui gagasan mengenai “gap filling” : “ Gap filling is the process by which the imaginary world suggested by words in the text is constructed in the mind of the reader” (hal. 104).  Kita membaca kata-kata, membangkitkan imaji dan kesan, membandingkannya dengan teks yang lain, dan membuat gambaran  berdasar pengalaman kita sendiri.  Apa  yang kita lakukan akan  sangat beragam dikarenakan perbedaan budaya, pengalaman kelompok, dan  psikologis kita.  Penonton  dari latar belakang budaya yang beragam  akan mengisi kesenjangan dengan cara yang sangat berbeda ketika mereka menyaksikan serial Dallas, opera sabun tentang millioner pengusaha minyak Texas itu.  Sama halnya dengan studi mengenai soap opera Inggris Brookside  dan Eastender ( Root, 1986) , Crossroads (Brunsdon, 1981) atau Corronation Street ( Dyer et. al,1981)  kajian mengenai  Dallas menemukan bahwa perempuan mengisi kesenjangan lebih efektif dalam  soap opera ini ( Ang, 1985) dan interpretasi atas berbagai variety show lebih meluas, khususnya di antara berbagai kelompok etnik yang berbeda — Israeli, Arab, Russian, American, dan lainnya ( Liches dan Katz, 1990).

Studi resepsi diuntungkan dengan  gagasan mutakhir yang menekankan  bahwa  masing-masing teks media itu berlapis-lapis atau polysemic. Karena setiap teks adalah polysemic, apakah itu opera sabun, video Madonna , atau narasi pemberitaan, maka ia akan memiliki begitu banyak pesan yang bisa disarikan . Kajian resepsi meneliti bagaimana individu memilih dari sekian banyak kemungkinan pemaknaan yang terkubur di dalam teks dan menyediakan diri untuk disantap pembaca.

Model encoding-decoding  menaruh perhatian pada penerimaan, meskipun sebagai model cenderung berusaha untuk menjaga keseimbangan dalam setiap tahapan di dalam pemrosesan budaya media ini. Makna tidak bisa serta merta dibaca secara langsung dari karakteristik teks, namun teks tetap dianggap penting.  Pengarang atau pemroduksi teks tidaklah menjadi penentu tunggal bangkitnya sesuatu makna melalui interaksi teks dengan pembacanya , namun demikian proses kreatif produksi juga  tetaplah penting.  Baik pemroduksi teks maupun teks itu  menyediakan makna-makna dan  pembacaan  dengan cara yang spesifik.  Di dalam kacamata resepsi, Madonna selaku  pencipta teksnya memicu proses diskursif. Teks yang diujudkan dalam lagu-lagu, video music,konser, film, buku-buku,dan penampilannya di televisi  telah mendorong terciptanya sebuah wacana tersendiri.  Celaan terhadap sikapnya yang “semau gue” dan ketidaksenangan pembaca  kemudian berinterkasi dengan teks Madonna sehingga melahirkan sebuah makna tersendiri. Tahapan terakhir inilah yang menjadi wilayah kajian studi resepsi.

Sumber Tulisan :

Real, Michael R. 1996. “Reception Theory: Sex, Violence and (Ms. ) Interpreting Madonna” . Dalam Exploring Media Culture A Guide. California : Sage Publications, Inc. Hal. 92-97.

Sumber ilustrasi : http://www.nydailynews.com

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 12 Desember 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: