APA ITU ETNOGRAFI KOMUNIKASI?

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Etnografi komunikasi adalah salah satu dari sekian metode penelitian bidang komunikasi yang beranjak dari paradigma interpretative atau konstruktivis. Metode ini mengkhususkan diri pada kajian mengenai pola komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat tutur.

Sebagai sebuah metode yang relatif ‘baru’ di Indonesia, metode penelitian etnografi ini sebenarnya sudah diperkenalkan jauh-jauh hari, tepatnya pada tahun 1962 oleh penggagas awalnya yakni Dell Hymes. Konon, pendekatan ini lahir sebagai kritik dari ilmu linguistik  yang lebih menekankan pada segi fisik bahasanya saja.

Definisi

Definisi etnografi komunikasi secara sederhananya adalah pengkajian peranan bahasa dalam perilaku komunikasi suatu masyarakat, yaitu cara-cara bagaimana bahasa dipergunakan dalam masyarakat yang berbeda-beda kebudayannya ( Koentjaraningrat, dalam Kuswarno, 2008:11).

Dell H Hymes

Dell H Hymes

Etnografi komunikasi (ethnography of communication) juga bisa dikatakan salah satu cabang dari Antropologi, lebih khusus lagi adalah turunan dari Etnografi Berbahasa ( ethnography of speaking). Dalam artikel pertamanya, Hymes ( 1962) memperkenalkan ethnography of speaking ini sebagai  pendekatan baru yang memfokuskan dirinya pada pola perilaku komunikasi sebagai salah satu komponen penting dalam system kebudayaan dan pola ini berfungsi di antara konteks kebudayaan yang holistic  dan berhubungan dengan pola komponen system yang lain( Muriel, 1986). Dalam perkembangannya, rupanya Hymes lebih condong pada istilah etnografi komunikasi karenanya menurutnya, yang jadi kerangka acuan dan ‘ditempati’ bahasa dalam suatu kebudayaan adalah pada ‘komunikasi’nya dan bukan pada ‘bahasanya’.  Bahasa hidup dalam komunikasi, bahasa tidak akan mempunyai makna jika tidak dikomunikasikan.

Menurut sejarah lahirnya, maka etnografi komunikasi tentu saja tidak bisa berdiri sendiri. Ia membutuhkan dukungan ilmu-ilmu lain di antaranya adalah sosiologi karena nantinya akan berkenaan dengan analisis interaksional dan persoalan identitas peran; ia juga memerlukan kehadiran antropologi karena dalam tataran tertentu bersentuhan dengan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan bahasa dan filosofi yang melatarbelakanginya; dan tentu saja tidak bisa melupakan disiplin sosiolinguistik karena melalui ilmu ini kita bisa mengetahui bagaimana penggunaan bahasa dalam interaksi sosial. Kini etnografi komunikasi telah menjelma menjadi disiplin ilmu baru yang mencoba untuk merestrukturisasi perilaku komunikasi dan kaidah-kaidah di dalamnya, dalam kehidupan sosial yang sebenarnya.

Ruang lingkup kajian etnografi komunikasi

Menurut Hymes  (Syukur dalam Kuswarno,2008:14), ada enam lingkup kajian etnografi komunikasi yaitu :

  1. Pola dan fungsi komunikasi ( patterns and functions of communication)
  2. Hakikat dan definisi masyarakat tutur ( nature and definition of speech community).
  3. Cara-cara berkomunikasi ( means of communicating).
  4. Komponen-komponen kompetensi komunikasi (component of communicative competence)
  5. Hubungan bahasa dengan pandangan dunia dan organisasi sosial ( relationship of language to world view and sosial organization)
  6. Semesta dan ketidaksamaan linguistic dan sosial (linguistic and sosial universals and inqualities )

 Etnografi komunikasi juga memiliki dua tujuan yang berbeda arah secara sekaligus. Etnografi komunikasi bisa bersifat spesifik karena mencoba menjelaskan dan memahami perilaku komunikasi dalam kebudayaan tertentu  sehingga sifat penjelasannya terbatas pada suatu konteks tempat dan waktu tertentu; etnografi komunikasi juga bisa bersifat global karena mencoba memformulasikan konsep-konsep dan teori untuk kebutuhan pengembangan metateori global komunikasi antarmanusia.

Obyek penelitian etnografi komunikasi

Ada beberapa istilah-istilah yang akan menjadi kekhasan dalam penelitian etnografi komunikasi, dan istilah ini nantinya akan menjadi ‘obyek penelitian ‘ etnografi komunikasi:

  1. Masyarakat tutur ( speech community). Apa itu masyarakat tutur ? Hymes memberi batasan mengenai masyarakat tutur adalah suatu kategori masyarakat di mana anggota-anggotanya tidak saja sama-sama memilliki kaidah untuk berbicara, tetapi juga satu variasi linguistik tertentu.  Sementara menurut Seville –Troike, yang dimaksud masyarakat tutur tidak harus memiliki satu bahasa, tetapi memiliki kaidah yang sama dalam berbicara ( Syukur, dalam Kuswarno, 2008:39,40). Jadi batasan utama yang membedakan masyarakat tutur satu dengan yang lain adalah kaidah-kaidah untuk berbicara. Sehingga suatu suku bangsa atau kebudayaan bisa saja memiliki dua atau lebih masyarakat tutur.
  2. Aktivitas komunikasi. Setelah menemukan atau mengidentifikasi masyarakat tutur, maka tahap selanjutnya bagi etnografer adalah menemukan aktivitas komunikasi-nya. Atau mengidentifikasi peristiwa komunikasi atau proses komunikasi. Menurut Hymes, tindak tutur atau tindak komunikasi mendapatkan statusnya dari konteks sosial, bentuk gramatika  dan intonasinya. Untuk mendeskripsikan dan menganalisis aktivitas komunikasi dalam etnografi komunikasi, maka kita memerlukan pemahaman mengenai unit-unit diskrit aktivitas komunikasi. Hymes mengemukakan unit diskrit komunikasi itu adalah (Syukur dalam Kuswarno, 2008:41):
  1. Situasi komunikatif dan konteks terjadinya komunikasi
  2. Peristiwa komunikatif atau keseluruhan perangkat komponen yang utuh yang meliputi tujuan umum komunikasi, topic umum yang sama, partisipan yang secara umum menggunakan varietas bahasa yang sama, dengan kaidah-kaidah yang saya dalamberinteraksi dan dalam setting yang sama.
  3. Tindak komunikatif, yaitu fungsi interaksi tungga seperti pernyataan, permohonan, perintah ataupun perilaku non verbal.

Pendeknya, yang dimaksud aktivitas komunikasi dalam etnografi komunikasi tidak lagi bergantung / bertumpu pada pesan, komunikator, komunikan, media, dan efeknya melainkan aktivitas khas yang kompleks di mana di dalamnya terdapat peristiwa-peristiwa khas komunikasi yang melibatkan tindak-tindak komunikasi khusus dan berulang.

  1. Komponen Komunikasi.  Komponen komunikasi merupakan bagian yang paling penting dalam kajian etnografi komunikasi. Yang dimaksud komponen komunikasi dalam etnografi komunikasi adalah ( Syukur  dalam Kuswarno,2008: 42,43):
  1. Genre atau tipe peristiwa komunikasi ( misal lelucon, salam, perkenalan, dongen, gossip dll)
  2. Topik peristiwa komunikasi.
  3. Tujuan dan fungsi peristiwa secara umum dan juga fungsi dan tujuan partisipansecara individual.
  4. Setting termasuk lokasi, waktu, musim dan aspek fisik situasi yang lain
  5. Partisipan, termasuk usianya, jenis kelamin, etnik, status sosial, atau kategori lain yang relevam dan hubungannya satu sama lain.
  6. Bentuk pesan, termasuk  saluran verbal, non verbal dan hakikat kode yang digunakan, misalnya bahasa mana dan varietas mana.
  7. Isi pesan, mencakup apa yang dikomunikasikan termasuk level konotatif dan referensi denotative.
  8. Urutan tindakan, atau urutan tindak komunikatif atau tindak tutur termasuk alih giliran atau fenomena percakapan.
  9. Kaidah interaksi.
  10. Norma-norma interpretasi, termasuk pengetahuan umum, kebiasaan, kebudayaan, nilai dan norma yang dianut, tabu-tabu yang harus dihindari, dan sebagainya.
  1. Kompetensi Komunikasi.  Tindak komunikasi individu sebagai bagian dari suatu masyarakat tutur dalam perspektif etnografi komunikasi lahir dari integrasi tiga ketrampilan yaitu ketrampilan linguistik, ketrampilan interaksi dan ketrampilan kebudayaan.  Kompetensi inilah yang akan sangat memengaruhi penutur ketika mereka menggunakan atau menginterpretasikan bentuk-bentuk linguistik. Kompetensi komunikasi ini meliputi ( Syukur dalam Kuswarno,2008: 43,44):
  1. Pengetahuan dan harapan tentang siapa yang bisa atau tidak bisa berbicara dalam setting tertentu?
  2. Kapan mengatakannya?
  3. Bilamana harus diam?
  4.  Siapa yang bisa diajak bicara?
  5. Bagaimana berbicara kepada orang-orang tertentu yang peran dan status sosialnya berbeda?
  6. Apa perilaku non verbal yang pantas?
  7. Rutin yang bagaimana yang terjadi dalam alih giliran percakapan?
  8. Bagaiamana menawarkan bantuan?
  9. Bagaimana cara meminta informasi dan sebagainya?
  1. Varietas Bahasa.  Pemolaan komunikasi ( communication patterning) akan lebih jelas bila diuraikan dalam konteks varietas bahasa. Hymes menjelaskan bahwa dalam setiap masyarakat terdapat vaietas kode bahasa ( language code) dan cara-cara berbicara yang bisa dipakai oleh anggota masyarakat atau sebagai repertoire komunikatif masyarakat tutur.  Variasi ini akan mencakup semua varietas dialek atau tipe yang digunakan dalam populasi sosial tertentu, dan factor-faktor sosiokultural yang mengarahkan pada seleksi  dari salah satu variasi bahasa yang ada.  Sehingga pilihan varietas yang dipakai akan menggambarkan huubungan yang dinamis antara komponen-komponen komunikatif dari suatu masyarakat tutur, atau yang dikenal sebagai pemolaan komunikasi (communication patterning).

Bagaimana memulai penelitian etnografi komunikasi?

Sebagaimana dikemukakan di depan, etnografi komunikasi adalah salah satu kajian komunikasi yang memfokuskan pada pola komunikasi yang digunakan oleh manusia dalam suatu masyarakat tutur. Sehingga ‘tugas’ pertama seorang etnografer (komunikasi) adalah mengidentifikasi apakah fokus kajiannya itu memang bisa sebagai sebuah masyarakat tutur, atau sebagai sub masyarakat tutur tertentu dst.  misalnya peneliti memilih masyakat Jawa –Solo  sebagai konteks masyarakat tutur yang hendak di teliti.

Kemudian, setelah memilih masyarakat Jawa- Solo sebagai fokus kajiannya, maka tugas berikutnya adalah menemukan ‘aktivitas komunikasi’ apa yang akan diteliti.  Bagi yang sedikit banyak mengenal segala seluk beluk mengenai kultur Jawa lebih-lebih Jawa yang berpusat di seantero Keraton Solo dan mungkin juga Keraton Jawa – Jogja tidak akan kesulitan memilih satu dari sekian puluh bahkan ratus aktivitas komunikasi yang berlangsung di masyarakat tersebut. Mulai dari pernak-pernik adat ritual yang melingkupi kehidupan  wong Jowo dari lahir sampai mati, atau pun segala lika -liku tata cara berbahasa dalam konteks pertemuan(event) tertentu. Sebut saja misalnya ritual prosesi lamaran, ritual prosesi menjelang dan selama berlangsungya upacara pengantin adat, dst. Sampai bentuk –bentuk ritual tertentu yang dilakukan dalam siklus selama ibu mengandung calon jabang bayi misal, ngupati dan mitoni dsb. Bahkan ada juga aktivitas atau situasi komunikasi khas Jawa yang menarik dalam konteks lelucon atau guyon atau kemudian dikenal dengan humor khas Jawa. Misalnya, dulu tahun 80-an sampai ada genre guyonan gaya Mataraman dsb.

Mengapa menurut saya hal yang demikian ini menarik ? Karena di dalam situasi atau peristiwa komunikasi ( dalam contoh ini yang berlangsung dalam masyarakat tutur Jawa ) berlangsung peristiwa yang terjadi secara berulang ( recurrent events). Dalam peristiwa komunikasi itu juga akan ditemui komponen-komponen yang membangun komunikasi yang berulang tersebut. Dan ini tugas ketiga peneliti yakni menemukan komponen-komponen komunikasinya. Dan tahap selanjutnya adalah  menemukan hubungan antara komponen komunikasi yang membangun peristiwa komunikasi, yang akan dikenal kemudian sebagai pemolaan komunikasi ( communication patterning).

Bagaimana merumuskan penelitian komunikasi dengan pendekatan etnografi komunikasi?

Kekhasan penelitian dengan pendekatan etnografi komunikasi sudah akan tampak pada pilihan tema atau topik. Pada tahap ini biasanya calon peneliti etnografi komunikasi ( biasanya terjadi pada  para mahasiswa S1) sudah cukup pintar mengidentifikasikannya. Yang kurang tepat justru bagaimana mengemas fokus kajiannya itu sehingga menjadi sebuah penelitian yang bercirikan etnografi komunikasi. Dalam hal ini maka kata  kunci yang sudah harus muncul dalam fokus masalah adalah : “Bagaimana pola komunikasi …. Dst.” Dengan perumusan yang demikian tadi maka masih perlu  dirinci lagi atau diidentifikasi  masalahnya dengan berpatokan pada obyek-obyek penelitian etnografi komunikasi seperti yang sudah dipaparkan di depan.  Misalnya: Pertama, mengidentifikasi apa saja peristiwa komunikasi yang terjadi secara berulang ( recurement events) pada ……dst. ; Kedua, apa saja komponen komunikasi yang membentuk peristiwa komunikasi tersebut?; Ketiga, bagaimana hubungan antarkomponen komunikasi yang ada dalam suatu peristiwa komunikasi ?

Identifikasi masalah di atas nantinya bisa dijabarkan lagi dalam uraian metodologinya dengan menguraikannya lagi dengan lebih detil di bawah sub judul ‘Obyek Penelitian’.  Bagaimana kita merencanakan penelitian  etnografi komuniasi dan prosedur pelaksanaannya akan kita bahas lain kesempatan ( Bersambung )

Referensi:

Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi : Suatu Pengantar dan Contoh Penelitiannya. Bandung : Widya Padjajaran.

Muriel, Saville-Troike. 1986. The Etnography of Communication : An Introduction. Southampton: The Camelot Press.

Sumber Foto:

http://blog.aaanet.org/2009/11/19/aaa-mourns-passing-of-dell-hymes-past-president/

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 31 Oktober 2013.

2 Tanggapan to “APA ITU ETNOGRAFI KOMUNIKASI?”

  1. Bisa minta sambungannya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: