TENTANG PERSEPSI

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

1. Persepsi

Persepsi merupakan inti komunikasi, melalui persepsi kita berusaha menafsirkan informasi yang berhasil kita tangkap melalui panca indra. Secara definitif, persepsi dapat diartikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif objek eksternal (Cohen, dalam Fisher, 1994). Rakhmat (2002) menerjemahkannya sebagai pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan meyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan, sehingga memberikan makna pada stimuli inderawi. Mulyana (2007) menambahkan, melalui pengindraan, stimuli indrawi tersebut dikirimkan ke otak untuk kemudian dipelajari untuk selanjutnya ditafsirkan.

Secara konsepsi, persepsi terdiri dari dua bagian, yakni persepsi atas lingkungan fisik dan persepsi atas manusia. Kedua tipifikasi ini, merupakan inti dari komunikasi di mana hakikat dari komunikasi adalah bagaimana kesesuaian makna dan ekspektasi yang kita tangkap secara indrawi dengan substansi dari objek atau manusia sesungguhnya.

1.a. Persepsi Fisik

Wirawan (2000) mengungkapkan, bahwa objek-objek di sekitar kita ditangkap melalui indra dan diproyeksikan pada bagian tertentu di otak sehingga kita dapat mengamati objek tersebut. Seiring perkembangan manusia, maka semakin bertambah usia, maka akan bertambah pengalaman dan kemampuannya membedakan, mengelompokkan, memfokuskan dan mengorganisasikan hal-hal di luar dirinya.

Persepsi bekerja dalam prinsip-prinsip psikis sebagai berikut :

  • Wujud dan Latar

Objek yang diamati dianggap sebagai wujud dan yang di luar amatan namun berada di sekelilingnya di sebut latar. Sebagai contoh, ketika kita sedang berduaan dengan kekasih di restoran, maka kekasih kita adalah wujudnya. Sedangkan orang-orang di luar dirinya dan bangunan restoran itu sendiri merupakan latar

  • Pola pengelompokkan

Manusia cenderung mengelompokkkan apa yang diamatinya. Pola ini dapat merujuk pada prinsip kedekatan, kesempurnaan, kesamaan atau kelangsungan

  • Ketetapan

Sifat manusia yang selalu belajar atas apa yang pernah dialaminya, maka dia akan menterjemahkan pengamatan berdasarkan sifat yang menetap dan melekat atas objek yang diamatinya. Ketetapan dapat berbentuk warna, bentuk, ukuran dan letak

1.b. Persepsi Sosial

Persepsi sosial merupakan proses mengangkap arti objek-objek sosial, dalam hal ini manusia. Laing, dalam Mulyana (2007) menandaskan, manusia selalu memikirkan orang lain dan apa yang orang lain pikirkan tentang dirinya, serta apa yang orang lain pikirkan mengenai apa yang dia pikirkan mengenai orang lain itu.

Persepsi sosial sesungguhnya dibangun melalui mekanisme-mekanisme :

  • Pengalaman

Individu menafsirkan aktivitas diri sendiri maupun manusia lain berdasarkan atas apa yang pernah dialaminya

  • Seleksi

Individu tidak pernah secara sekaligus menafsirkan seluruh objek yang ada melainkan apa-apa saja yang dianggapnya menarik perhatian secara khusus

  •    Pendugaan / Asumsi

Kecendrungan informasi yang diindrawi tidak bersifat lengkap, maka kita akan melakukan pendugaan untuk melengkapi gambaran atas realitas sosial yang ada

  • Evaluatif

Individu senantiasa merasa bahwa apa yang dinilainya sebagai sesuatu yang nyata

  • Kontekstual

Seluruh perilaku manusia tidak pernah diterjemahkan tanpa mengaitkan dengan konteks apa, mengapa dan bagaimana perilaku tersebut dilakukan

2. Faktor-faktor Penentu Persepsi

Menurut Rakhmat (2000), faktor fungsional berasal dari kebutuhan, pengalaman masa lalu dan hal-hal yang memenuhi kepentingan personalnya. Dengan kata lain, bahwa objek yang mendapat tekanan dalam persepsi kita biasanya objek-objek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi. Bila pada faktor fungsional, manusia yang memberikan makna atas objek yang dipersepsikan, maka faktor struktural memandang bahwa sifat stimuli objeklah yang menentukan mengapa kita menafsirkannya.

3. Perbedaan Persepsi

Ketika objek yang dipersepsi adalah identik, kemudian orang-orang yang mempersepsikannya memiliki kesamaan fungsionalisasi persepsi namun tetap saja menghasilkan perbedaan persepsi, maka sesungguhnya kondisi tersebut disebabkan oleh :

  • Derajat Atensi & Ekspektasi atas Objek
  • Derajat Kepentingan
  • Karakteristik Kepribadian

Referensi :

Widjanarko, Wisnu & Tri Nugroho Adi .Modul Kuliah Psikologi Komunikasi. Jurusan Ilmu Komunikasi Unsoed. Tidak diterbitkan.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 29 Oktober 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: