SERIAL TEORI KOMUNIKASI (1) : MENGHIDUPKAN KEMBALI TRADISI MEMBACA LITERATUR KOMUNIKASI

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Pengantar :

Mahasiswa yang menetapkan diri memelajari ‘komunikasi’ sebagai pokok kajian atau jurusan atau program studi di perguruan tinggi sudah pasti harus akrab dengan literatur pokok yang harus dipelajari, dijadikan pegangan diskusi dan selanjutnya digeluti ketika mereka akan menyelesaikan tugas akhir nanti. Sayangnya, tradisi atau kebiasaan membaca buku literatur dalam beberapa tahun belakangan ini mulai memudar justru seiring dengan makin gencarnya penetrasi teknologi  komunikasi dalam kehidupan ini, setidaknya inilah yang saya rasakan sebagai fasilitator dalam pembelajaran di perguruan tinggi. Gejala ini nampak ketika suatu ketika mahasiswa ditanya dalam sebuah sesi ujian pendadaran skripsi, buku apa yang sekiranya sudah ‘tamat’ mereka baca, maka hanya segelintir yang bisa menyebutkan judul bukunya dan juga bisa memberikan garis besar intisari isi buku tersebut.

Membaca buku adalah kesemestian yang tidak bisa dielakkan kalau mau menguasai ilmu dengan tuntas dan mendalam. Sayangnya, akitivitas membaca buku ini tergantikan dengan aktivitas berselancar di dunia maya sehingga ilmu yang diserap pun sifatnya hanya selayang pandang; sehingga tidak heran kalau mahasiswa diminta membuat paper maka referensi yang dipakainya semuanya adalah daftar kutipan dari dunia ‘www’ yang dahsyat itu. Paper sekarang ini nyaris hanyalah bentuk lain dari gado-gado copas ( copy paste) yang tidak jelas perspektif dan kedalaman analisisnya, karena memang berasal dari pemikiran beberapa ‘kepala’ yang berbeda-beda.  Belum lagi urusan pelanggaran hak cipta yang pasti menjadi perkara ke-27, bagi saya paper yang dibuat hanya dari copas sana sini hanya membuat kita malas dan tidak tuntas memelajari ilmu.

Memang ada kalanya kita bisa menemukan sebuah e-book yang asyik berkaitan dengan ilmu yang kita pelajari, namun membaca e-book lain ‘rasanya’ dengan membaca buku;  bukan karena isinya, tapi karena modus berinteraksi dengan media ini yang kadang kita belum siap. E-book yang bagus-bagus biasanya cuma kita download kemudian kita simpan dalam folder entah di mana sehingga hampir pasti lupa kita baca kemudian. Padahal, sesuai sifatnya, e-book dibuat untuk melayani karakter bermedia manusia canggih yang mobile supaya bisa mengisi waktu dalam setiap kesempatan untuk membaca. Nah, di sinilah, persoalannya, orang Indonesia lebih memilih main game atau bersosialita melalui facebook atau bbm-an ketika duduk menanti giliran dipanggil periksa dokter, atau duduk di kursi bus kota… bukan membaca buku!!!

Tulisan serial teori komunikasi ini saya dedikasikan kepada siapa saja yang masih mencintai buku sebagai sahabat sekaligus guru terbaiknya dalam belajar.Tulisan ini tidak hendak menguraikan atau bahkan menelorkan sebuah teori dalam komunikasi, melainkan mengajak pembaca untuk mengenali dan mengakrabi beberapa literatur pengantar yang berisi informasi mengenai seluk-beluk ilmu komunikasi. Tulisan ini dengan demikian bisa menjadi semacam pemandu bagi mahasiswa tingkat satu yang hendak menyeriusi studi mereka. Begitulah kira-kira.

 Mengenal buku karangan Stephen W Littlejohn yang legendaris

Stephen W Littlejohn

Stephen W Littlejohn

Siapa tidak kenal Littlejohn ( bagi yang belum pernah dengar sebaiknya pura-pura kenal deh! ). Pengarang ini menjadi tokoh yang paling sering dikutip, setidaknya berlaku jaman saya kuliah dulu, karena bukunya  berjudul Theories of Human Communication memang dikenal oleh publik di Indonesia sebagai buku suci yang wajib dibaca. Buku ini bahkan telah mengalami cetak ulang berkali –kali, dengan revisi berkali-kali pula. Sampai sekarang buku klasik ini telah mengalami revisi hingga edisi ke-10.

Membaca buku ini akan terkesan gagah  karena memang, membaca buku ini tidaklah mudah. Sebelum ada edisi terjemahan bahasa Indonesia yang dikeluarkan oleh penerbit Salemba Humanika untuk edisi 9 itu, maka buku suci Littlejohn adalah buku teks bahasa Inggris yang perlu ketekunan dalam memelajarinya. Maka sangat bersyukur mahasiswa sekarang yang bisa membacanya dalam edisi yang langsung bisa dicerna tanpa harus sering-sering buka kamus.

Yang menarik dari buku ini setiap kali direvisi saya merasakan jumlah halamannya juga semakin menipis. Pembabakan buku juga sering berubah sehingga menjadi semakin simple dan mungkin juga makin memudahkan pembaca menarik garis besar materi keseluruhan tentang komunikasi yang demikian kompleks.  Dari edisi pertama hingga ke tujuh mungkin tidak terlalu banyak perubahan substansialnya. Tapi ketika memasuki edisi ke delapan, ada perubahan drastis di mana pada edisi ini Littlejohn tidak lagi menggarap atau merevisinya sendirian, melainkan memasukkan Domenici Littlejohn istrinya sebagai partner diskusi dan  Karen A. Foss sebagai  formal contributor. Gaya pemaparan edisi kedelapan dan seterusnya ini juga sangat berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya. Apa dan bagaimana perbedaannya nanti kita bedah satu demi satu.

Saya kutipkan ‘brief contents’ di buku edisi ketujuh. Buku setebal 376 an halaman ini terbagi menjadi IV bagian, masing-masing bagian terbagi menjadi beberapa chapter. Bagian I mengantarkan pembaca pada asal muasal komunikasi sebagai sebagai sebuah teori dan ilmu. Bagian ini ditutup dengan uraian mengenai metateori-nya komunikasi dengan melihat dari landasan filosofis keilmuan mulai dari isu epistemology, ontology dan axiology.  Secara keseluruhan bagian I  ini terbagi dalam dua chapter berjudul Communication Theory and Scholarship dan Theory in the Process of Inquiry. Yang penting dari chapter 1 ini adalah uraian mengenai bidang-bidang teori komunikasi di mana di dalamnya terdapat tujuh  bidang atau domain meliputi tradisi retorika, semiotik, fenomenologi, cybernetic,sosiopsikologi, sosiocultural, dan tradisi kritis. ( Ketujuh tradisi ini nantinya akan sangat memengaruhi pembabagan chapter untuk edisi delapan dan seterusnya).

Bagian kedua dan ketiga edisi ini menguraikan berbagai ‘topik’ dan ‘konteks’ komunikasi. Chapter 3 sampai dengan 11 menguraikan topik-topik komunikasi mulai dari sistem teori, teori tentang tanda dan bahasa, teori wacana, teori produksi pesan, teori penerimaan(reception) dan pemrosesan pesan,teori interaksi simbolik-strukturasi dan convergens,teori realitas sosial dan kultural, teori tentang pengalaman dan interpretasi, dan terakhir teori kritis.  Sementara itu chapter 12 sampai dengan 15 menguraikan seputar konteks komunikasi meliputi : komunikasi dalam konteks relationship, komunikasi di dalam pembuatan keputusan kelompok, komunikasi dan jaringan komunikasi, dan terakhir komunikasi dan media.

Bagian ketiga buku ini merupakan sebuah simpulan “bagaimana sebuah teori komunikasi itu memiliki keunggulan –keunggulan tertentu” dan arahan bagi pembaca jika tertarik untuk mengkaji lebih lanjut komunikasi dalam riset-riset mereka.

Pengalaman saya menggunakan buku sebagai bahan ajar maupun sebagai bahan untuk saya pelajari sendiri adalah pada kedalaman pembahasan tiap chaper dalam bentuk catatan kakinya. Kadangkala membaca catatan kaki dalam uraian bab –bab buku ini justru mengantarkan saya pada telaah yang sangat mendalam dan memancing diskusi atau tematik untuk ‘mencari judul riset’  berdasarkan perspektif teori yang tengah kita pelajari. Tapi tentu saja dibutuhkan ketekunan yang lebih untuk membaca catatan kaki apalagi kemudian melacaknya pada buku-buku lain yang seabrek itu.

Theories of Human Communication edisi ke delapan

theories of human communication 8 edSeperti saya singgung di muka, edisi kedelapan ini memiliki citarasa yang berbeda dibanding dengan edisi sebelumnya. Penulisnya sendiri menyebut edisi ini sebagai ‘a creative new format and approach to communication”.  Revisi ini rupanya dilakukan secara khusus diawali dalam sebuah diskusi  di Italia  bukan di negara tempat Littlejohn bermukim, New Mexico. Brainstorming dilakukan oleh pasangan suami istri Littlejohn dan Karen A Fos yang kemudian sangat mewarnai gaya pembahasan buku ini. Model pemaparan dalam edisi ini terkesan lebih ‘santai’ karena kita sebagai pembaca seakan senantiasa dilibatkan untuk turut berpikir, membayangkan dan merumuskan apa yang sedang didiskusikan.

Edisi ini mengkerangkai teori komunikasi dalam dua bagian yang saling bersilangan yakni konteks dan tradisi teoritiknya.  Berbeda dengan edisi sebelumnya di mana ada pembabakan berdasarkan konteks dan topik, dalam edisi ini sudah tidak disinggung lagi kata ‘topik’. Ada tujuh pembabakan yang semua itu disebut dalam sub- sub judul bernama ‘konteks’.  Kemudian ketika membahas setiap konteks komunikasi senantiasa dikaitkan dalam masing-masing tradisi teoritiknya. Inilah yang dimaksud persilangan di antara konteks dan tradisi teoritik.  Dari sini saja sudah mulai kelihatan bahwa edisi kedelapan ini menaruh perhatian khusus pada bahasan mengenai tradisi teoritik dalam komunikasi sebagaimana dirumuskan oleh Robert Craig (2005:35). Bila dalam edisi sebelumnya, tradisi teoritik itu hanya dibahas sekilas dalam chapter 1 bagian I, maka dalam edisi ini tradisi teoritik dibahas lebih mendalam dalam satu bab tersendiri yakni chapter 3 bagian I. Model uraian seperti ini mengingatkan kita pada satu chapter dalam buku A First Look at Communication Theory karangan EM Griffin, yang juga memberi perhatian khusus pada materi ini dibawah judul Mapping  The Theory ( Seven Tradition in the Field of Communication Theory) hanya urutannya saja yang berbeda dan satu tradisi dalam tulisan Griffin yang tidak dibahas dalam edisi delapan Littlejohn yakni tentang tradisi etis dalam komunikasi.

Edisi ke delapan buku Theories Of Human Communication karangan Stephen W. Littlejohn/Karen A.Foss ini mengesankan disusun untuk kalangan pembelajar teori komunikasi tahun-tahun pertama. Bagi anda yang tertarik untuk secara serius menelaah bagian demi bagian konteks  komunikasi sebaiknya mengawalinya dengan melakukan mapping teori dulu. Untuk ini anda akan sangat dibantu dengan uraian chapter 3 Traditions of Communication Theory, dibawah sub judul Framing Communication Theoy.  Dalam sub bahasan ini anda akan diperkenalkan betapa teori komunikasi atau fenomena komunikasi itu bisa dibahas menurut tradisi teori dan pendekatan keilmuwan yang dipakai oleh penulisnya.

Robert Craig

Robert Craig

Litttlejohn menggunakan pembagian teori komunikasi menurut tujuh tradisi menurut Robert Craig yaitu : ( 1) the semiotic; (2) the phenomenological ;(3) the cybernetic; (4) the sociopsychological ;(5) the sociocultural; (6) the critical; dan (7) the retorical.  Beberapa dari tradisi teori ini memang terkesan saling bertolak belakang, sementara beberapa di antaranya justru agak saling tumpang tindih. Adalah tugas para pembelajar teori komunikasi di tahap awal untuk memahami masing-masing tradisi tersebut dalam membicarakan mengenai “komunikasi” . Dengan memahami pemetaan teori komunikasi maka kita akan bisa memahami komunikasi secara lengkap (BERSAMBUNG).

Referensi :

Littlejohn, Stephen W. & Karen A.Foss. 2005. Theories  Of Human Communication. 8 ed. Canada: Wadsworth.

_______________________________. 2002. Theories  Of Human Communication. 7 ed. Canada: Wadsworth.

Sumber foto :

http://cjdept.unm.edu/people/faculty/profile/stephen-littlejohn.html

http://www.natcom.org/DistinguishedScholars/

http://img2.imagesbn.com/p/9780534638733_p0_v2_s260x420.jpg

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 11 Oktober 2013.

4 Tanggapan to “SERIAL TEORI KOMUNIKASI (1) : MENGHIDUPKAN KEMBALI TRADISI MEMBACA LITERATUR KOMUNIKASI”

  1. […] buku karangan Stephen W. Littlejohn Theories of Human Communication yang legendaris  itu, ada beberapa literatur pokok yang menguraikan dengan komprehensif mengenai […]

  2. trims, masih belajar ilmu komunikasi🙂

  3. […] Littlejohn, Stephen W. &  Karen A. Fos. 2005. Theories of Human Communications. 8th ed. New Yor… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: