KETIKA FILM MENGKOMUNIKASIKAN ARTI

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dua cara dilakukan film ketika ia mengkomunikasikan arti, yaitu secara denotatif  dan secara konotatif. Seperti pada bahasa tulisan, tapi dengan ukuran lebih tinggi, sebuah imaji film atau suara memiliki arti denotatif : dia adalah sebagaimana adanya dan kita tidak perlu berusaha banyak untuk mengenalinya. Faktor ini mungkin kelihatan bersahaja sekali, tapi tidak boleh diremehkan: di sini letak kekuatan besar dari film. Antara penggambaran seorang tokoh atau suatu peristiwa dengan kata-kata (bahkan dengan foto-foto) dan rekaman sinematik dari tokoh dan peristiwa yang itu juga, terdapat perbedaan yang besar. Karena film dapat  memberikan kita sesuatu yang mirip dekat sekali dengan kenyataan : ia dapat mengkomunikasikan pengetahuan yang tepat teliti yang jarang bisa dilakukan oleh bahasa tulisan ataupun lisan. Sistem-sistem bahasa mungkin berkemampuan untuk mengemukakan dunia ide dan abstraksi yang tidak konkrit ( misalnya, buku yang saya review karangan James Monaco ini difilmkan: tanpa ulasan yang lengkap ia tidak akan dapat dipahami) tapi sistem bahasa tidak begitu sanggup untuk menyampaikan terinci tepat tentang realita-realita fisik.

Pada dasarnya, bahasa lisan atau tulisan itu bersifat menganalisis. Menuliskan kata “ mawar” ialah untuk mengemukakan secara umum dan meringkaskan ide bunga mawar. Kekuatan sebenarnya dari bahasa-bahasa linguistik tidak pada kesanggupan denotatifnya, tapi pada segi konotatif bahasa: kekayaan arti yang bisa kita sangkutkan pada sepatah kata yang melebihi denotatifnya. Jika misalnya, denotasi adalah satu-satunya ukuran kekuatan bahasa, maka bahasa Inggris — yang memiliki perbendaharaan kata yang terdiri dari lebih kurang satu juta kata dan merupakan bahasa terbesar dalam sejarah — akan menjadi tiga kali lebih kuat dari bahasa Perancis — yang hanya memiliki kurang lebih 300.000 kata. Tapi bahasa Perancis mengatasi perbendaharaan kata-katanya yang “terbatas” itu dengan penggunaan konotasi yang nyata jauh lebih besar. Film juga memiliki kesanggupan-kesanggupan konotatif.

Jika dipertimbangkan kualitas denotatif suara dan imaji film sangat kuat, maka menarik sekali untuk mengetahui bahwa kemampuan konotatif ini juga merupakan bagian dari bahasa film. Nyatanya, sebagian besar dari kemampuan itu berasal dari kesanggupan denotatif  film.  Film dapat menyadap segala macam efek dari seni-seni lainnya, semata-mata karena ia dapat merekamnya. Dengan demikian, maka semua faktor konotatif dari bahasa lisan dapat dimasukkan  ke dalam sebuah jalur suara film, sedangkan konotasi dari bahasa tulisan dapat dimasukkan ke dalam title ( belum lagi faktor konotatif dari tari, musik, lukisan dan sebagainya). Konon film merupakan produk kebudayaan, maka ia memiliki gema yang melampaui apa yang disebut ahli semiologi diegesis-nya yaitu jumlah denotasinya. Sebuah imaji kembang mawar tidak sekedar sekuntum mawar sebagaimana adanya sebagai disajikan dalam film Richard III,misalnya, karena kita menyadari tentang konotasi mawar putih dan mawar merah sebagai lambang York dan Lancaster. Konotasi-konotasi ini merupakan konotasi yang ditentukan oleh kebudayaan.

Di samping pengaruh dari kebudayaan umum ini, film memiliki kesanggupan konotatifnya sendiri yang khas. Kita tahu  ( biarpun kita tidak sering mengingatnya secara sadar), bahwa pembuat  film telah melakukan pilihan tertentu : mawar itu diambil gambarnya dari sudut tertentu, kamera bergerak atau tidak bergerak, warna menyala atau putih, mawar itu segar atau layu, duri-durinya kelihatan jelas atau tersembunyi, latar belakang terang ( sehingga mawar itu dilihat dalam hubungan dengan sesuatu ) atau kabur ( sehingga ia terpisah ), shot itu panjang atau pendek, dan sebagainya. Dan biarpun kita dapat memperkirakan efeknya dalam kesusateraan, kita tidak dapat mencapainya dengan ketepatan dalam efesiensi sinematik. Seperti kata pemeo, kadang-kadang sebuah gambar nilainya sama dengan seribu kata. Jika perasaan kita tentang konotasi sesuatu shot yang khas tergantung pada kenyataan bahwa ia sudah dipilih dari serentetan kemungkinan shot-shot yang lain, maka kita mengatakan , bahwa ini ialah — dalam bahasa semiologi— sebuah konotasi paradigmatik. Artinya, rasa konotasi yang kita pahami berasal dari shot itu sesudah diperbandingkan  — hal ini tidak harus dilakukan secara sadar— dengan iringannya dalam contoh atau model ( paradigm) yang tidak direalisasikan, atau dengan model umum dari tipe shot ini.  Sebuah shot ‘low-angle’ ( sudut pengambilan bawah) dari sekuntum mawar misalnya, menyampaikan suatu perasaan bahwa mawar itu oleh karena suatu sebab bersifat dominan, amat berkesan, karena kita secara sadar atau tidak sadar, membandingkan, katakanlah, dengan sebuah shot dari atas mawar itu yang akan membuat bunga itu berkurang arti pentingnya.

Sebaliknya, jika arti dari mawar itu bukan tergantung dari perbandingan shot itu dengan shot-shot lain yang potensial, tapi tergantung pada perbandingan shot itu dengan shot-shot yang mendahului atau yang sesudahnya, maka kita dapat bicara tentang konotasi syntagmatiknya; artinya, makna yang ia peroleh ialah karena shot itu diperbandingkan dengan shot-shot lain yang memang kita lihat. Kedua macam konotasi yang berbeda ini juga punya padanan dalam kesustraan. Sebuah kata saja pada selembar halaman kertas tidak memililiki konotasi tertentu, secara potensial kita  juga tahu apa konotasinya, tapi kita tidak bisa mengemukakan konotasi khusus yang dimaksudkan  penulis kata tersebut sebalum kita melihat kata itu dalam hubungan dengan sesuatu. Barulah kita tahu nilai konotatif apa yang ada pada kata itu, karena kita menilai artinya dengan jalan secara sadar atau tidak memperbandingkannya dengan ( a) semua kata seperti itu yang mungkin bisa cocok dalam konteks ini tapi telah tidak terpilih untuk dicantumkan, dan (b) kata-kata yang mendahuluinya atau yang mengiringinya.

Kedua poros arti ini – yang paradigmatik  dan yang syntagmatik— memiliki nilai nyata sebagai alat untuk memahami apa arti film. Sesungguhnya, sebagai suatu seni, film hampir seluruhnya tergantung dari kedua perangkat pilihan ini. Setelah seorang pembuat film memutuskan apa yang akan di-shot, maka dua pertanyaan yang mendesak adalah : bagaimana men-shot –nya ( shot yang mana yang dipilih untuk dilakukan: paradigmatik) dan bagaimana caranya menyajikan shot tersebut ( bagaimana mengeditnya : sintagmatik ). Dalam kesusastraan, sebaliknya, pertanyaan pertama ( bagaimana cara mengatakannya) yang terpenting, sedangkan yang kedua ( bagaimana menyajikan apa yang sudah dikatakan ) adalah soal kedua saja. Sampai sejauh ini, semiotika memusatkan perhatian pada segi syntagmatik dari film, karena alasan yang sangat bersahaja : di sinilah paling jelas film berbeda dari seni-seni lainnya, sehingga kategori syntagmatiknya ( editing, montase) merupakan sesuatu yang paling ‘sinematik’.

Film menarik sebagian besar kekuatan konotatifnya dari seni-seni lain  dan juga menumbuhkan kekuatan konotatifnya sendiri, baik secara paradigmatik maupun  secara syntagmatik. Tapi, ada lagi arti konotatif yang lain. Sinema bukan hanya suatu medium inter komunikasi. Dalam film jarang orang terus melakukan dialog. Kalau untuk interkomunikasi dipergunakan bahasa lisan dan tulisan, film seperti seni non-representatif umumnya ( seperti bahasa jika dipergunakan untuk tujuan artistik), merupakan komunikasi satu arah. Sehingga, film-film yang untuk tujuan paling praktis sekalipun dalam arti tertentu masih bersifat artistik. Film berbicara dengan neo-logisme. Jika suatu “bahasa” belum lagi ada” demikian Metz menulis,” maka orang haruslah kurang lebih menjadi semacam seniman untuk menggunakannya, biar bagaimana pun buruknya.  Karena mengucapkan bahasa itu sebagian berarti menemukannya sedangkan mengucapkan bahasa sehari-hari yang sudah ada sebetulnya sekadar memakainya. Maka, pada pernyataan yang paling bersahaja sekalipun dalam film terdapat konotasi. Sebuah olok-olok lama yang jadi ilustrasi bagi hal itu : dua orang filosof bertemu, yang seorang mengucapkan “ Selamat pagi!”. Yang seorang lagi menyambut dengan senyuman, lalu berjalan terus dengan mengerutkan kening dan bertanya dalam hatinya : “Apa maksud ucapannya itu?”. Pertanyaan ini merupakan lelucon jika yang jadi subyek adalah bahasa lisan; tetapi pertanyaan ini pertanyaan wajar sekali jika diajukan mengenai setiap pernyataan dalam film.

Apa ada lagi cara lain bagi kita untuk lebih jauh membedakan berbagai modus denotasi dan konotasi dalam film? Dengan meminjam sebuah ‘trikotomi’ dari ahli pikir C.S. Peirce, Peter Wollen menyarankan dalam bukunya Sign and Meaning in the Cinema ( 1969) yang sangat berpengaruh, bahwa isyarat-isyarat sinematik ada tiga macam :

 Ikon : sebuah isyarat di mana penunjuk ( signifier) menggambarkan apa yang ditunjuk ( the signified) terutama melalui kemiripannya, kesamaannya.

Index : yang mengukur kualitas, bukan karena ia sama atau identik dengan itu, tapi karena ia mempunyai hubungan yang erat dengannya.

Symbol (lambang): suatu isyarat bahwa di mana penunjuk tidak memiliki hubungan langsung atau hubungan index dengan yang ditunjuk, tapi menyajikan dengan cara lazim yang telah disepakai ( konvensi).

Walaupun Wollen tidak memasukkannya ke dalam kategori-kategori denotatif dan konotatif— Ikon, index dan symbol dapat dianggap sebagai sesuatu yang pada umumnya bersifat denotatif.  Potret-potret tentu saja merupakan ikon, tapi begitu juga diagram-diagram dalam sistem Peirce. Index lebih sulit untuk dirumuskan. Dengan mengutip Peirce, Wollen menyarankan dua macam index, satu yang bersifat teknis — gejala-gejala medis adalah index kesehatan, jam dan jam matahari adalah index waktu — dan yang satu lagi bersifat metafora: jalan mengangkang bisa merupakan tanda bahwa orang itu pelaut. ( Dalam satu hal ini kategori Perice – Wollen mendekati sifat konotatif).Simbol, kategori ketiga, lebih mudah dirumuskan. Dilihat dari cara Peirce dan Wollen memergunakannya, maka kata ini malahan memiliki perumusan yang luas : kata-kata  adalah symbol ( karena penunjuk menyajikan yang ditunjuk dengan konvensi dan bukan dengan kesamaan ) . ( Bersambung )

Dikutip  dari :

Monaco ,James, 1984. Cara Menghayati Sebuah Film. Terj. Asrul Sani. Jakarta: Penerbi Yayasan Citra. Hal 156-161.     

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 18 September 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: