Sekilas Tentang Film

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

 Film merupakan salah satu alat komunikasi massa, tidak dapat dipungkiri bahwa antara film dan masyarakat memiliki sejarah yang panjang dalam kajian para ahli komunikasi. Sebuah film adalah tampilan gambar-gambar dan adegan bergerak yang disusun untuk menyajikan sebuah cerita pada penonton (Montgomery, 2005:342).

Film memberikan pengalaman yang amat mengasyikkan. Film membuat orang tertahan, setidaknya, saat mereka menontonnya  lebih intens ketimbang medium lainnya.

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1992 disebutkan  bahwa,

Film merupakan karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa pandang-dengar yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita seluloid, pita video, piringan video, dan/atau bahan hasil penemuan teknologi lainnya dalam segala bentuk, jenis, dan ukuran melalui proses kimiawi, proses elektronik, atau proses lainnya, dengan atau tanpa suara, yang dapat dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dengan sistem proyeksi mekanik, elektronik, dan atau lainnya.

Sebagai salah satu media komunikasi massa, menurut M. Alwi Dahlan(1981:142), film memiliki keunggulan di antaranya:

1. Sifat informasi

Film memberikan keunggulan dalam menyajikan informasi yang lebih matang secara utuh. Pesan-pesan didalamnya tidak terputus-putus, namun memberikan pemecahan suatu permasalah dengan tuntas.

2. Kemampuan distorsi

Sebagai media informasi, film dibatasi oleh ruang dan waktu tertentu. Untuk mengatasinya media ini menggunakan “distorsi” dalam proses konstruksinya, baik di tingkat fotografi ataupun perpaduan gambar dengan tujuan untuk memungkinkan seseorang untuk menciptakan atau mengubah informasi yang ditangkap.

3. Situasi komunikasi

Film membawakan situasi komunikasi yang khas yang menambah intensitas khalayak. Film dapat menimbulkan keterlibatan yang seolah-olah sangat intim dengan memberikan gambar wajah atau bagian badan yang sangat dekat.

4. Kredibilitas

situasi komunikasi film dan keterlibatan emosional penonton dapat menambah kredibilitas pada suatu produk film. Karena penyajian disertai oleh perangkat kehidupan (pranata sosial), manusia dan perbuatannya, hubungan antar tokoh dan sebagainya yang mendukung narasi, umumnya penonton dengan mudah mempercayai keadaan yang digambarkan walaupun terkadang tidak logis atau tidak berdasar kenyataan.

Film sangat berbeda dengan seni sastra, seni rupa, seni suara, seni musik, dan arsitektur yang muncul sebelumnya. Seni film mengandalkan teknologi, baik sebagai bahan baku produksi maupun dalam hal penyampaian terhadap penontonya. Film merupakan penjelmaan terpadu antara berbagai unsur yakni sastra, teater, seni rupa, dengan teknologi canggih dan modern serta sarana publikasi (Baksin, 2003:3).  Menurut Baksin, pesan-pesan komunikasi film juga dikelompokkan dalam proses pembuatan dan penyampainnya, yang biasa disebut dengan genre.

Dalam sebuah genre film terdapat suatu unsur-unsur yang disebut repertoire of elements (Branston and Stafford, dalam; Neale, 2000), unsur-unsur tersebut meliputi:

  1. Themes, yakni ide pokok atau gagasan yang menjiwai seluruh cerita.
  2. Style, adalah cara penyajian seperti camera angels, editing, lighting, warna dan elemen-elemen teknikal lainnya
  3. Setting, seperti lokasi, periode waktu dll
  4. Narrative atau alur cerita-bagaimana cerita disajikan
  5. Iconography, berupa representasi simbolis
  6.    Characters,
  7.    Props, yakni properti yang digunakan dalam film

Film di dunia disajikan dengan beberapa tipe, dalam buku Films in Business and Industry (Gipson, 1947: 21) dijabarkan tipe-tipe film, yaitu:

  1. Hollywood Type – A picture in which direct dialogue, expensive sets, professional talent, and specially recorded music are combined with dramatic action to give considerable sugar-coating to a film with a message. (Tipe Hollywood – film dengan dialog langsung, set mahal, bakat yang profesional, dan musik rekaman dikombinasikan dengan aksi drama untuk memberikan gambaran hidup ke film dengan pesan).
  2. Narration Type – The majority of all nontheatrical films are of the narration or voice over picture type. After the picture has been taken and edited, the narration is made by reading the script with underlying music and sound effects in synchronization with the picture. (Tipe Narasi – umumnya dari seluruh film non-teater adalah penceritaan narasi atau suara diatas gambar. Setelah gambar diambil dan diedit, maka narasi dibuat dengan pembacaan naskah dan peletakan musik dan sound effects sebagai sinkronisasi gambar).
  3. To the Hollywood type but simpler in construction with a few people and few locations. A personalized talk by an executive is often used. (Tipe Dialog Langsung – film orang yang saling berbicara. Memiliki kesamaan dengan tipe Hollywood tapi lebih sederhana dipengkonstruksian dengan jumlah orang dan lokasi yang lebih sedikit).
  4. Newsreel Type – A special narration film that, in its treatment of voice and picture, is similar to the weekly theatrical newsreel. These films are often used in a reportorial type of production, trying the work of industry in with national happening. (Tipe Wartaberita – film yang menggunakan narasi khusus, menggunakan suara dan gambar, sama dengan dengan wartaberita mingguan. Film ini sering digunakan jenis pelaporan produksi, kerja industri yang sedang terjadi.
  5. Cartoon Type – Animated figures, often in full color. (Tipe Kartun – gambar animasi menggunakan banyak warna).
  6. Model and Puppet Type – Similar in many respect to the cartoon type, but less frequently used. (Tipe Model dan Boneka – sama dengan tipe kartun tapi jarang digunakan.

Bahkan dalam film juga disajikan dengan cara mengkombinasikan tipe-tipe film tersebut, memadukan film yang sudah memiliki dialog langsung dengan penambahan narasi yang dibacakan oleh naratornya.

Film menyajikan cerita, peristiwa, musik, drama, lawak, dan kajian teknis, seperti apa yang dikatakan oleh Doug William (dalam; Arifianto, 2006:19), “Film also proven to be an especially illuminating vehicle for understanding the frequently paradoxical complexities of the intermingling of space and time, environments and technologies, selves and things, that have come to be such features of our times.” ( Film terbukti sebagai sebuah kendaraan utama yang memberikan pencerahan dalam memahami kompleksitas paradoks dari pembauran ruang dan waktu, lingkungan, teknologi juga kepribadian individu maupun hal-hal lain yang ada untuk mejadi fitur pada kehidupan masa kini.)

Kemampuan film untuk menampilkan realitas memberikan pemahaman kepada khalayak tentang lingkungannya. Hal ini yang membuat film dijadikan media untuk memahami suatu peristiwa sejarah tentang kehidupan sosial modern.

REFERENSI :

Arifianto, Yuda Kurniawan. 2006. SADISME DALAM FILM (Analisis Semiotika Terhadap Konstruksi Sadisme Dalam Film Schindler’s List dan Film The Pianist Yang Dibentuk Oleh Dialog, Shot Size Dan Angle Kamera Dalam Sinematografi). UMY: Yogyakarta.

Baksin, Askurifai. 2003. Membuat Film Indie Itu Gampang. Kataris: Bandung.

Dahlan, M Alwi. 1981. Film Dalam Spektrum Tanggunga Jawab Komunikasi Massa, Seminar Kode Etik Produksi Film Nasional. Jakarta.

Gipson, Henry Clay. 1947. Films In Business and Industry. Mc Grew-Hills Book Company Inc: New York and London.

Montgomery, Tammy L. 2005. Interpretations: writing, reding, and critical thinking. Pearson Education: New York

Neale, Steve. 2000. Genre and Hollywood. Fetter Lane: Routledge: London.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 11 September 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: