METODOLOGI PENELITIAN DALAM SEBUAH MULTI-PARADIGM SCIENCE

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Metodologi penelitian bukan hanya sekedar kumpulan metode atau teknik penelitian, melainkan suatu keseluruhan landasan nilai-nilai ( khususnya yang menyangkut filsafat keilmuan), asumsi-asumsi, etika dan norma yang menjadi aturan –aturan standar yang dipergunakan untuk menafsirkan serta menyimpulkan data penelitian, termasuk juga kriteria untuk menilai kualitas hasil penelitian. Pembedaan antara metode dan metodologi tersebut dikemukakan oleh Baley ( 1987:32-33) sebagai berikut :

By “method” we simply mean the research technique or tool used to gather data… By “methodology” we mean the philosophy of the research process. This include the assumptions and values that serves as a rationale for research and the standars or criteria the research uses for interpreting data and reaching conclusions.

Metodologi penelitian, dengan demikian, sebenarnya tidak terlepas dari suatu paradigma keilmuan tertentu, lebih spesifik lagi, metodologi penelitian merupakan implikasi atau konsekuensi logis dari nilai-nilai, asumsi-asumsi, aturan-aturan serta kriteria yang menjadi bagian integral dari suatu paradigma.

Berbeda dengan ilmu-ilmu alam serta fisika yang pada era tertentu hanya memiliki satu paradigma — seperti paradigma Newtonian, yang kemudian digantikan oleh paradigma relativitas-nya Einstein—maka ilmu-ilmu sosial merupakan suatu multi-paradigm science, di mana berbagai paradigma bisa tampil bersama-sama dalam suatu era.

Usaha untuk mengelompokkan teori-teori dan pendekatan ke dalam sejumlah paradigma yang dilakukan sejauh ini menghasilkan pengelompokkan yang amat bervariasi. Kinloch ( 1977), contohnya, mengidentifikasi sekurangnya ada 6 (enam) paradigma atau perspektif teoritikal (Organic paradigm, Conflict paradigm, Social Behaviorism, Structure Functionalism, Modern Conflict Theory, dan Social-Psychological paradigm). Tetapi Crotty ( 1994) mengelompokkan teori-teori sosial antara lain ke dalam Positivism, Interpretivism, Critical Inquiry, Feminism, dan Postmodernism.

Burrel dan Morgan ( 1979), telah mengelompokkan teori-teori dan pendekatan dalam ilmu-ilmu sosial ke dalam 4 ( empat) paradigma :

1.       Radical Humanist Paradigm

2.      Radical Structuralist Paradigm

3.      Interpretive Paradigm, dan

4.     Functionalist Paradigm.

 Sementara itu Guba dan Lincoln ( 1994) mengajukan tipologi yang mencakup 4 (empat) paradigma :

  1.       Positivism
  2.       Postpositivism
  3.      Critical Theories et. al. dan
  4.       Constructivism

Tetapi sejumlah peneliti menyatukan positivism dan postpositivism sebagai classical paradigm karena dalam prakteknya implikasi metodologi keduanya tidak jauh berbeda. Karena itu pula, untuk kepentingan mempermudah bahasan tentang metodologi penelitian komunikasi, maka teori-teori dan penelitian ilmiah komunikasi cukup dikelompokkan ke dalam 3 ( tiga ) paradigma, yaitu :

  1. Classical paradigm ( yang mencakup positivism dan postpositivism)
  2. Critical paradigm, dan
  3.  Constructivism paradigma.

Terlepas dari variasi pemetaan paradigma yang ada, pada intinya setiap paradigma dapat dibedakan dari paradigma lainnya atas dasar sejumlah hal mendasar, antara lain konsepsi tentang ilmu-ilmu sosial, ataupun asumsi-asumsi tentang masyarakat, manusia, realitas sosial, keberpihakan moral, dan juga commitment terhadap nilai-nilai tertentu.

Tabel 1

PARADIGMA KLASIK

PARADIGMA KONSTRUKTIVISME

PARADIGMA

TEORI-TEORI KRITIS

Menempatkan ilmu sosial seperti ilmu-ilmu alam, dan sebagai metode yang terorganisir untuk mengkombinasikan deductive logic dan pengamatan empiris, guna secara probabilistik menemukan – atau memperolah konfirmasi tentang — hukum sebab-akibat yang bisa dipergunakan memprediksi pola-pola umum gejala sosial tertentu. Memandang ilmu sosial sebagai analisis sistemstis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan rinci terhadap pelaku sosial dalam setting keseharian yang alamiah, agar memapu memahami dan menafsirkan bagaimana cara pelaku sosial yang bersangkutan menciptakan dan memelihara/mengelola dunia sosial mereka. Mendefinisikan ilmu sosial sebagai suatu proses yang secara kritis berusaha mengungkap “ the  real structures” dibalik ilusi, false needs, yang dinampakkan dunia materi, dengan tujuan membantu membentuk suatu kesadaran sosial agar memperbaiki dan mengubah kondisi kehidupan manusia.

Sumber : Hidayat, 1999:2

(Bersambung)

Dikutip dari :

Hidayat, Dedy N.1999. Bahan Penunjang Kuliah Metodologi Penelitian Komunikasi dan Latihan Penelitian Komunikasi : Bagian I Paradigma Klasik dan Hypothetico –Deductive Method Dalam Penelitian Komunikasi . Jakarta : Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP UI, Hal 1-2.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 10 September 2013.

Satu Tanggapan to “METODOLOGI PENELITIAN DALAM SEBUAH MULTI-PARADIGM SCIENCE”

  1. […] telah mengidentifikasi 3 paradigma, yang kurang lebih identik dengan pengelompokkan paradigma dalam Tabel 1 ( lihat artikel sebelumnya). Paradigma 1 dalam Tabel 2 di atas kurang lebih adalah paradigma Klasik […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: