Seri Media Literacy (4) : TYPOLOGY OF MEDIA LITERACY

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dalam artikel terdahulu, telah kita diskusikan bahwa media literacy itu bersifat continuum. Ini berarti orang  berada pada rentang continuum berdasarkan pada ketrampilan dan pengetahuan yang melekat dalam dirinya meliputi aspek kognitif, emosional, estetik, dan moral,  yang dia pergunakan di dalam mengendalikan sekaligus memroses pemaknaan pesan.  Di sepanjang continuum itu, kita bisa mengidentifikasi beberapa posisi kuncinya sebagaimana tampak dalam Tabel 1.

Tabel 1: Typologi of Media Literacy

Stage Characteristics
Acquiring Fundamental Belajar bahwa ada orang dan benda-benda fisik lain yang berada di luar dirinya, benda-benda tersebut kelihatan berbeda dan memiliki fungsi yang berbeda pula;

Belajar memaknai ekspresi wajah dan suara-suara alami;

Mengenal bentuk,  ukuran, warna, gerakan dan bermacam hubungan;

Memelajari konsep-konsep dasar seperti waktu , pola-pola keteraturan.

Language Acquisition Mengenali suara-suara ujaran dan memaknainya;

Kemampuan meniru suara ujaran;

Memiliki orientasi terhadap media visual dan audio;

Membuat respon emosi dan tindakan terhadap suara dan music;

Mengenal beberapa karakter di dalam media visual dan menirukan gerakannya;

Narrative Acquisition Mengembangkan pemahaman terhadap hal-hal yang berbeda (berlawanan) misalnya :

Fiksi vs non fiksi;

Iklan vs hiburan;

Memahami bagaimana mengaitkan bagian-bagian dari jalan cerita:

Berdasarkan pembagian waktu;

Berdasarkan motif tindakan.

Developing Skepticism Mengabaikan klaim yang dinyatakan dalam iklan;

Menajamkan perbedaan antara suka dan tidak suka terhadap suatu tayangan, karakter dan action;

Menikmati  karakter tertentu meskipun pembawaan karakter itu tidak ditampilkan sebagaimana semestinya;

Intensive Development Memiliki motivasi yang kuat untuk mencari informasi tentang sesuatu topik;

Mengembangkan seperangkat informasi detil tentang topik tertentu (olah raga, politik dsb.);

Kesadaran tinggi dalam menggunakan informasi dan dengan cepat memroses /menilai informasi yang bermanfaat.

Experiental Exploring Mencari berbagai bentuk/media isi (pesan) dan narasi;

Fokus pada pencarian reaksi emosi yang baru dan mengejutkan, reaksi moral dan estetis.

Critical Appreciation Menerima pesan menurut konsepi mereka sendiri, kemudian mengevaluasinya;

Mengembangkan pemahaman yang mendalam dan detil dalam hal konteks system pesan berdasar aspek sejarah, ekonomi, politik, dan artistik;

Mengembangkan kemampuan untuk membuat pembandingan di antara bermacam elemen pesan yang berbeda secara simultan;

Mengembangkan kemampuan untuk mengkonstruksi penilaian terhadap kelemahan dan kekuatan sebuah pesan.

Social Responsibility Secara moral berada pada posisi menilai apakah sebuah pesan lebih bermanfaat pada masyarakat atau tidak; ini merupakan perspektif multidimensional yang mendasarkan pada analisis terhadap media;

Mengenali bahwa pengambilan keputusan seseorang berimbas pada masyarakat ;

Mengenali bahwa ada beberapa tindakan individu akan membawa dampak konstruktif terhadap masyarakat.

Tiga tahap paling rendah atau tahap awal kita lalui semasa kita masih kanak-kanak. Acquiring Fundamentals terjadi selama kita melewati tahun pertama kehidupan kita; Language Acquisition tampak ketika kita menginjak usia 2 dan 3, dalam memasuki usia ke 3,4  dan 5 kita melewati masa Narrrative Acquisition. Inilah tahapan di mana akan segera ditinggalkan oleh kanak-kanak sejalan dengan bertambah usia dan kedewasaan mereka.

Tahap The Development Skepticism terjadi pada saat kita berusia 5 sampai dengan 9 tahun yang kemudian segera disusul dengan perkembangan tahap Intensive Development. Banyak dari kita yang kemudian tetap hanya berada pada tahap ini hingga dewasa. Tahapan ini memang sangat fungsional, itulah sebabnya orang dalam tahap ini merasa bisa memeroleh pesan dari paparan informasi media yang mereka lakukan. Mereka bahkan merasa sudah sepenuhnya melek media dan tidak perlu lagi belajar memahami atau membaca media dengan lebih cakap.

Tiga tahapan selanjutnya sebagaimana terlihat dalam Tabel 1 bisa dikategorikan sebagai tahap advanced,  karena di rentang ini memerlukan ketrampilan lebih tinggi dan upaya aktif untuk senantiasa mengembangkan struktur pengetahuan. Orang yang berada dalam tahap Experiental Exploring menyadari terpaan media yang terjadi padanya itu terasa sangat terbatas dan mereka mencari terpaan media yang mengandung pesan lebih luas. Umpamanya,  orang yang semula hanya menonton aksi atau petualangan dan tayangan komedi situasi di prime time akan mulai merasa perlu menonton program berita, dokumenter, feature perjalanan,  fiksi ilmiah, MTV,olahraga, dan lainnya.  Mereka akan mencari majalah-majalah khusus dan buku-buku tentang topik yang tidak bersifat umum.

Orang yang berada pada tahap Critical Appreciation memandang diri mereka sebagai “pecinta/pemerhati media”. Mereka menelisik pesan media dengan kecakapan kognitif, emosional,estetik dan moral lebih baik.  Mereka memiliki pendapat tersendiri mengenai siapa-siapa penulis yang bermutu, produser yang bagus. Dan mereka juga banyak bukti yang mendukung pendapat yang rasional tersebut.  Mereka bisa berbicara panjang lebar tentang bagaimana seharusnya menjadi penulis yang ideal dan bagaimana kriteria tersebut sudah ditampilkan atau belum di dalam karya penulis yang dinilainya.

Terakhir, orang  yang berada di tahap Social Responsibility memiliki ciri-ciri mampu melakukan apresiasi secara kritis terhadap semua bentuk  pesan media, namun bukan hanya karena punya interest atau perspektif pribadi melainkan sudah menggunakan perspektif eksternal. Orang yang sudah berada dalam tahapan ini tidak sekedar bertanya “ Apa yang terbaik menurut kacamata saya dan mengapa?” ; namun juga memusatkan perhatian pada pertanyaan seperti ,” Jenis pesan apa yang terbaik menurut orang lain  dan masyarakat ?”.

Perlu diingat bahwa posisi orang dalam continuum melek media sebagaimana dikemukakan di atas tidaklah bersifat tetap, dengan tahapan yang terpisah satu dengan yang lain; melainkan kita harus melihatnya sebagai posisi yang saling tumpang tindih dalam sebuah proses yang senantiasa mengalir. Ini berarti posisi kita dalam satu tahap continuum tidak statis. Kita bisa saja bergerak naik atau turun bergantung pada media yang  kita konsumsi. Umpamanya, ketika kita membaca sebuah novel yang terkategorikan sebagai novel klasik yang menjadi bacaan wajib di perkuliahan, kita bisa menelaahnya dengan perspektif tahap Critical Appreciation. Namun ketika kita tengah asyik menyaksikan televisi seperti MTV Beach Party untuk sekedar rileks, kita bisa saja “turun” untuk hanya sekedar pada tahapan Intensive Development Level. Tidak ada yang salah dengan pergeseran semacam ini. Ada kalanya kita hanya sekedar mencari tontonan yang remeh temeh dan tidak berniat berada pada posisi atau tahapan yang tertinggi. Yang perlu diperhatikan adalah ada beda antara mereka yang berada pada tahap rendah karena memang tidak memiliki kecakapan atau ketrampilan untuk menjadi penanggap media pada tahap tinggi dan orang yang bisa bekerja dalam semua tahapan secara simultan dan terkadang memilih untuk hanya  berada di level rendah.

Kita semua memiliki  “tingkatan” sebagaimana sering kita rasakan kalau berada di rumah. Inilah tempat di mana kita merasa nyaman ketika berinteraksi dengan media. Kita biasanya akan bergerak ke tahapan yang lebih tinggi satu atau dua tahap dari posisi awal ini, namun dengan bergerak ke tahapan di atasanya memerlukan usaha sadar dan kita mesti mengeluarkan energi agar bisa bekerja dalam tahapan yang makin tinggi, itulah sebabnya kita tidak akan bergerak ke level lebih tinggi jika memang kita tidak memiliki dorongan yang kuat untuk itu.

SIMPULAN

Dalam serial Media Literacy ini, bahasan mengenai melek media sengaja mencakup batasan yang sangat luas. Tidak hanya dibatasi pada aktivitas membaca atau ketrampilan mengonsumsi media lainnya, dan tidak juga dibatasi hanya pada kanak-kanak. Media Literacy lebih dipahami sebagai sebuah perspektif melalui mana kita melihat pesan media. Terdapat berbagai perspektif berbeda yang tersedia bagi kita, bergantung tingkatan kecakapan bermedia yang kita miliki dan struktur pengetahuan yang kita punya. Kita semua telah berkembang dari tahapan kecakapan dasar yang menjadi modal di dalam kita berinteraksi dengan media dan melakukan pemaknaan terhadap pesan media itu secara mendasar pula. Dengan beranjak ke tahap melek media yang lebih tinggi itu berarti kita secara aktif menerapkan ketrampilan yang lebih advanced dan menggunakan struktur pengetahuan yang lebih luas untuk bisa mengakomodasi  multiple meanings dalam berbagai jenis media.  Semakin besar kesadaran kita, maka  semakin banyak pilihan terhadap pemaknaan yang bisa kita ambil dan ada pilihan dalam menerjemahkan pesan sehingga  bisa mengendalikan terbentuknya efek kognitif, emosional, estetik dan moral sebagaimana kita inginkan.

Perkembangan media literacy bisa diilustrasikan dengan menggunakan delapan tahapan continuum yakni  Acquiring Fundamentals, Language Acquisition, Narrative Acquisition, Developing Skepticism, Intensive Development, Experiental Exploring, Critical Appreciation dan Social Responsibility. Pergerakan kita dari tahap rendah ke tinggi menuntut penerapan secara aktif kecakapan bermedia yang canggih dan pengembangan struktur pengetahuan.  Karena kekuatan dari struktur pengetahuan kita itu bervariasi dari satu topik ke topik yang lain, kita akan menyadari bahwa kita akan bergerak dari satu tahap ke tahap yang lain sejalan dengan paparan kita terhadap pesan media yang beragam itu.

Sumber :

Potter, W. James. 1998. MEDIA LITERACY. London: Sage Publication. Hal 13-17.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 8 September 2013.

Satu Tanggapan to “Seri Media Literacy (4) : TYPOLOGY OF MEDIA LITERACY”

  1. […] Menerapkan advanced skills memang memerlukan konsentrasi dalam berpikir. Ini berarti bahwa dengan advanced skills,  kita tidak akan menerima pesan apa adanya. Bahkan, kita akan memiliki skeptisisme yang memandu interaksi kita dengan media. Kita menghadapi pesan secara kritis dan menemukan makna yang ada dibaliknya.  Advanced skills ini meliputi kemampaun di dalam menganalisis, membandingkan/ mempertentangkan, mengevaluasi, melakukan sintesis dan melakukan apresiasi (Bersambung). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: