Seri Media Literacy (3) : Building Strong Knowledge Structure

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan sarana dan bahan. Sarananya adalah ketrampilan kita sedangkan bahan bakunya berasal dari informasi media dan dunia nyata. Jika kita memiliki banyak sekali informasi namun ketrampilannya lemah, maka kita tidak akan memeroleh sesuatu yang bermanfaat dari informasi tadi.  Sebaliknya, jika kita memiliki ketrampilan yang memadai namun tidak pernah memeroleh ekspose dari pesan media dengan cakupan yang luas atau memiliki pengalaman cukup di dunia nyata, maka struktur pengetahuan kita pun menjadi terbatas dan tidak seimbang.

The Importance of Information

Informasi adalah kandungan yang sangat penting dalam struktur pengetahuan kita, namun memiliki segudang informasi remeh temeh seputar show-show televisi atau musik populer tidak dengan sendirinya membuat seseorang menjadi melek media.  Jika yang kita punyai hanyalah pengenalan tentang informasi permukaan seperti lirik lagu yang menjadi theme songs di televisi, nama tokoh atau pemain, setting dari suatu acara,dan sebagainya, kita berarti hanya berada pada posisi atau level rendah dalam continuum media literacy. Supaya kita bisa beranjak ke level yang tinggi maka perlu mengorganisasikan, kita harus memusatkan perhatian sepenuhnya pada kedalaman dan keluasan informasi.  Untuk bisa memeroleh kedalaman informasi, kita perlu mencari apa yang ada dibalik informasi superfisial dan menemukan pola-pola dan kecenderungan, perbedaan dan persamaan. Kita perlu mencari jawaban untuk pertanyaan “mengapa” dan “ bagaimana” supaya bisa memahami nilai-nilai yang bekerja di dalam industri media, tema-tema dan pola-pola isinya, dan seluruh cakupan kemungkinan efek dari media tersebut pada kita dari waktu ke waktu.

Struktur pengetahuan kita juga perlu diperluas. Komponen penting apakah dari struktur pengetahuan kita supaya menjadi mumpuni secara media literacy? Pertama, kita memerlukan pengetahuan tentang konvensi yang dipakai produser media dan pola-pola isi yang dijadikan patokan para produser. Kedua, perlu pengetahuan mengenai industri media: asal muasal, pola pengenbangan, dasar-dasar ekonominya, dan konteks struktural ( pola kepemilikan dan aturan pemerintah ). Ketiga, kita perlu memahami bagaimana media memandang kita sebagai audiensnya. Keempat, mungkin ini yang paling penting, kita memerlukan sudut pandang yang lebih luas seputar efek media. Ini berarti mengenali baik efek jangka panjang maupun efek jangka pendek; mengenal efek baik terhadap masyarakat maupun individu; dan mengenali bahwa efek itu bisa dalam tataran pengetahuan, sikap, perilaku dan psikologis.

Kita juga perlu memiliki struktur pengetahuan yang memadai tentang dunia nyata— baik  factual information  maupun social information. Factual information mengacu pada karakteristik keadaan nyata yang biasanya tidak semua orang mengetahui. Misal  jumlah sesungguhnya penduduk suatu negeri, nama-nama para pemimpin politik, hasil akhir dari sebuah kejuaran, jarak antara satu kota dengan kota lain, dan sebagainya. Sebaliknya, social information mengacu pada apa yang kita pahami bersama terkait dengan interaksi antarmanusia.  Misalnya, tema-tema moral yang ada dalam sebuah kebudayaan atau lembaga, termasuk mengapa  seseorang harus berlaku sesuai peran tertentu ( seperti sebagai seorang murid, partner kekasih, sahabat, orang asing, anggota keluarga, pelamar pekerjaan, anggota kelompok atlet, dsb)

Orang yang memiliki banyak pengalaman di dunia nyata punya dasar luas yang bisa dipakai untuk mengapresiasi dan melakukan analisis media. Misalnya, mereka yang pernah membantu seseorang terjun di dunia politik akan memahami dan bisa menganalisis  secara mendalam mengenai liputan media tentang kampanye daripada mereka yang tidak berkecimpung di dunia nyata terkait dengan kampanye politik.  Orang yang pernah menjadi pemain suatu cabang olah raga akan dapat menghargai perjuangan atlit yang dia saksikan di tayangan televisi ketimbang mereka yang belum pernah mengalami latihan fisik olah raga semacam itu. Orang yang memiliki pengalaman pergaulan luas dan berkeluarga akan memiliki pemahaman dan reaksi emosi yang lebih mendalam ketika melihat kekerasan yang dia saksikan di media.

Informasi tidak lain adalah raw material di mana ketrampilan kita dilatih sehingga memiliki struktur pengetahuan yang memadai. Agar mendapat  raw material yang bermutu, kita perlu memaparkan diri kita pada pesan-pesan yang meluas dan variatif sehingga akan melebarkan pengetahuan kita pula. Kita juga perlu mencari lebih dalam informasi pada area-area di mana kita sudah memiliki pengetahuan pada permukaanya sehingga akan memerdalam pengetahuan sebelumnya itu.  Meskipun sebagian besar informasi semacam ini sumbernya adalah pada media, kita masih perlu mencari informasi lain yang asalnya tidak lain adalah keadaan di dunia nyata.

The Importance of Skills

Berbicara tentang media literacy, banyak para ahli yang kemudian memfokuskan pada ketrampilan ( Brown,1991;DeGaetano&Bander,1996; McLaren, Hammer, Sholle, &Reilly,1995) dan terdapat beberapa jenis penjelasan mengenai ‘ketrampilan’ ini.  Cakupan ‘skills’ atau kerampilan ini mulai dari yang bersifat ketrampilan dasar di dalam menggunakan media sampai dengan yang sifatnya ‘advanced’.

Ketampilan dasar adalah yang kita gunakan untuk mengendalikan terpaan kita terhadap media, mengenali simbol-simbol dan menemukan maknanya. Ketika mengakses media, kita perlu mengenal simbol-simbol yang dipakai. Beberapa simbol menggunakan kata-kata, maka kita perlu mendeteksi kata-kata yang menyusun kalimatnya, tipe tag line-nya, dsb. Sementara simbol yang lain bisa berupa gambar, maka kita perlu mencermati bentuknya, dimensi, perspektif dan semacamnya. Simbol juga bisa berupa audio, maka kita juga harus mengenali jenis suara, musik, sound effects dan lainnya. Selain itu simbol bisa diwujudkan dalam gerakan-gerakan di layar, maka kita perlu mengenali perihal bentuk cut, dissolve, pan, zoom in dan sebagainya.

Setelah kita berhasil mengenal serangkaian simbol tadi maka kita bisa mencoba menangkap makna dari simbol tersebut.Umpamanya, kita mengingat definisi dari sesuatu kata-kata dan aturan dalam tata bahasanya serta berbagai bentuk ekspresinya sehingga kita bisa membacanya dengan cermat. Berdasarkan pengalaman, ketika kita mendengarkan radio, kita perlu mengenali adanya beberapa tanda-tanda suara yang mengantarkan pada suatu berita, beberapa jenis suara tertentu mengindikasikan suasana humor atau suasana serius, juga ada jenis suara yang menggambarkan situasi bahaya atau ketololan.  Pada media film atau televisi kita belajar memaknai arti dari kilas balik, akstrim close up pada wajah pemain, stereotype pemain, dan apa yang kira-kira akan disajikan ketika detektif mulai beraksi.

Ketika masih anak-anak kita berlatih untuk menggunakan ketrampilan dasar di atas dan akan terus berkembang di kemudian hari. Ketika menginjak dewasa, kita pun akan berangsur cakap dan bertambahnya latihan tidak akan lagi menambah kemampuan seseorang karena semuanya akan berlangsung secara otomatis; itulah sebabnya kita tidak perlu lagi berpikir ketika menafsirkan atau memaknai sebuah isi media tertentu. Misalnya, ketika kita masih sangat anak-anak, pikiran kita belum cukup matang guna mengenali simbol-simbol tulisan dan mengaitkannya dengan makna tertentu. Ketika pikiran kita semakin matang kita sampai pada satu titik di mana kita menjadi pembaca yang cakap, tapi kita tetap harus berlatih untuk bisa benar-benar cakap. Kita tentu ingat ketika berumur 5 tahun, kita bersusah payah untuk bisa memahami satu baris kalimat, kita harus berfokus pada satu kata kemudian mengaitkannya dengan kata lain sekaligus berusaha memaknainya. Membaca satu halaman buku, pada saat seperti itu dibutuhkan waktu yang lama dan mengasyikkan. Sekarang, setelah bertahun-tahun kita belajar membaca seperti itu maka membaca seakan suatu kemampuan spontan dan alami. Mata kita seakan hanya menyapu kata-kata yang kita baca dan hampir-hampir hanya seperti ‘melihat’ nya saja. Dengan kata lain,  kita seakan  ‘melihat’ suatu gagasan dan kemudian suatu gambaran terbangkitkan oleh kata-kata yang kita baca.

Manfaat dari ketrampilan dasar seperti di atas adalah kita bisa efisien dalam mengkonsumsi media,  kita tidak perlu berlama-lama ketika membaca satu artikel surat kabar, atau mengikuti jalannya alur cerita film atau televisi.  Sebaliknya, ketrampilan semacaam ini juga ada ‘bahanya’ karena membuat kita tidak perlu berkonsentrasi ketika mendapat paparan media; akibatnya kita menjadi tidak terlalu berpikir dalam menangkap makna permukaan dari suatu pesan.

Sekali kita memiliki ketrampilan dasar seperti itu, biasanya kita sudah merasa menjadi orang yang melek media, dan tanpa sadar kita hanya mempraktikkan ketrampilan dasar seperti ini seumur hidup kita. Padahal ada seperangkat ketrampilan yang lebih advanced yang memungkinkan kita berkembang menjadi lebih mumpuni di dalam mengendalikan pesan media. Inilah jenis ketrampilan yang memungkinkan kita bisa menafsirkan lebih dari sebuah pesan media dan semakin membuat kita memiliki kesadaran menjadi pengendali.

Menerapkan advanced skills memang memerlukan konsentrasi dalam berpikir. Ini berarti bahwa dengan advanced skills,  kita tidak akan menerima pesan apa adanya. Bahkan, kita akan memiliki skeptisisme yang memandu interaksi kita dengan media. Kita menghadapi pesan secara kritis dan menemukan makna yang ada dibaliknya.  Advanced skills ini meliputi kemampaun di dalam menganalisis, membandingkan/ mempertentangkan, mengevaluasi, melakukan sintesis dan melakukan apresiasi (Bersambung).

Sumber :

Potter, W. James. 1998. MEDIA LITERACY. London: Sage Publication. Hal  10-13.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 27 Agustus 2013.

Satu Tanggapan to “Seri Media Literacy (3) : Building Strong Knowledge Structure”

  1. […] Respon yang paling masuk akal terhadap gelombang pesan media adalah menjadi lebih aktif di dalam mengolah pesannya supaya kita memeroleh informasi dan dengan melatih kita mengendalikan proses pengaruh media (Bersambung). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: