Seri Media Literacy (2) : FOUNDATIONAL IDEAS

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Definisi media literacy sebagaimana dikemukakan dalam artikel terdahulu, bersandar pada beberapa gagasan utama sebagai berikut:

Media Literacy is a Continuum, Not a Category. Ini berarti tidak ada orang yang mutlak sama sekali tidak melek media, sebaliknya juga tidak ada yang menjadi sepenuhnya melek media. Semua kita bisa berada dalam posisi di antara pada posisi rentang melek media tertentu dan selalu ada ruang-ruang yang memungkinkan kita senantiasa berkembang. Dengan kata lain melek media (media literacy) lebih dimaknai sebagai suatu keadaan yang bersifat continuum, ada tingkatan yang membentang di dalam continuum tersebut.

Media Literacy Needs to Be Developed. Posisi kita dalam tingkatan continuum melek media tadi bisa saja bergerak dari tingkatan kurang menjadi tinggi, dengan jalan proses pendewasaan (maturation) atau memang karena melakukan ‘latihan’ secara intens. Proses pendewasaan terjadi sejalan dengan bertambah dewasanya seseorang. Ketika masih anak-anak, pemikiran masih belum matang sehingga belum bisa menangkap konsep yang abstrak. Our minds mature as we grow through childhood ( Smith&Cowie,1988). Kedewasaan juga dalam arti emosial (Goleman, 1995) dan moralnya (Kohlberg, 1981).Pada saat kita sudah matang secara intelektual, emosional dan moral maka kita akan mampu menangkap lebih dari pesan media.

Meski kedewasaan meningkatkan kemampuan kita dalam memahami pesan media, namun kita harus senantiasa mengembangkan ketrampilan dan struktur pengetahuan kita sehingga meningkatkan potensi yang kita punya. Hanya sekedar ‘memaparkan’ diri pada pesan media tidak serta merta membuat kita sampai pada level melek media yang mumpuni kecuali kalau kita mau secara aktif memroses pesan media tersebut. Jika kita tetap pasif, mungkin kita masih bisa memeroleh sesuatu yang bermanfaat jika budaya medianya memang sudah matang, akan tetapi informasi yang kita dapat mungkin belumlah seimbang atau tidak lengkap.

Orang yang berada pada posisi level ‘rendah’ kemampuan melek medianya, maka relatif tidak akan terlalu berpikir panjang ketika mendapat paparan pesan media; itulah sebabnya kenapa mereka tidak terlalu memusatkan perhatiannya pada ‘pesan’nya dan juga tidak secara aktif memikirkan makna dari pesan tersebut. Sebaliknya, mereka akan dengan gampang menerima penekanan di permukaan yang dibuat oleh desainer pesan.  Jika mereka menyaksikan sebuah iklan dan memberikan respon positif terdapat  produk yang ditawarkan, sesungguhnya mereka hanya melakukan interpretasi permukaan seperti yang dimaui oleh desainer. Dalam jangka panjang, karena mereka telah menyaksikan ribuan iklan yang menawarkan segala macam produk, mereka pun menginterpretasi dengan tanpa sikap kritis bahwa segala persoalan bakalan terpecahkan dengan cara membeli sesuatu (produk-produk itu).

Orang yang berada pada posisi level melek media ‘lumayan’ biasanya lebih aktif di dalam memroses pesan dan membangun interpretasi mereka sendiri. Namun karena mereka belum memiliki struktur pengetahuan yang cukup mapan mereka hanya memiliki sedikit pilihan di dalam memaknai pesan yang mereka dapat. Pilihan mereka masih terbatas,karena mereka tidak memiliki rentang pengalaman dan pengetahuan yang cukup luas sehingga memungkinkan mereka melihat keseluruhan pesan dari berbagai perspektif yang berbeda.

Orang yang memiliki kecakapan melek media ‘tinggi’, senantiasa tanggap berpikir selama mendapat paparan pesan. Mereka menginterpretasikan apa yang dilihatnya dengan sikap skeptis dan secara aktif memroses pesan. Proses ini acapkali berujung pada bangunan makna mereka sendiri. Kadang-kadang mereka akan menerima gagasan yang ditawarkan media, namun penerimaan ini bukan tanpa dipikirkan terlebih dahulu; sebaliknya penerimaan itu adalah hasil dari rasionalisasi, proses penuh kesadaran di mana mereka menyadari bahwa apa yang ditawarkan media (media interpretation) adalah yang terbaik di antara pilihan yang ada.

Hanya jika kita senantiasa aktif memroses pesan, maka posisi kita di dalam continuum melek media itu bisa semakin meningkat. Tanpa latihan yang terus menerus tidak mungkin kita bisa memiliki kecakapan melek media yang berkembang. Strukur pengetahuan kita itu juga harus selalu di- update, karena sifatnya memang mudah ketinggalan jaman. Misalnya, kepemilikan, kontrol, pola ekonomi dan organisasi industri media selalu berubah sepanjang waktu. Setiap minggu tersajikan kepada kita gelombang informasi baru. Setiap tahun para ilmuwan mengadakan ratusan kajian penting yang menuntut kita untuk mengikuti dan mengembangkan pengetahuan kita kalau kita tidak mau terkena imbas atau implikasinya.

Media Literacy Is Multi-Dimensional. Ada empat dimensi yang saling terkait di dalam media literacy: kognitif, emosi, estetik dan dimensi moral. Masing-masing dimensi itu juga bersifat continuum—kemampuan individu berada pada rentang continuum dari tiap dimensi itu. Domain atau dimensi ini bisa saling tidak terikat satu dengan yang lain, misalnya, seseorang mungkin berada pada posisi tinggi pada satu dimensi dan rendah pada dimensi lain. Seseorang yang memang sudah matang di dalam media literacy-nya nantinya akan menyadari bahwa ada sinergy di antara keempat dimensi tadi; ini berarti perkembangan yang cukup tinggi dalam satu dimensi biasanya juga akan menghasilkan perkembangan dari ketiga dimensi yang lain.

Domain kognitif mengacu pada pemikiran dan proses mental seseorang. Kemampuan kognitis membentang mulai dari kesadaran yang sederhana akan simbol hingga pemahaman yang kompleks tentang bagaimana sebuah pesan itu diproduksi dan bagaimana itu ditampilkan dengan cara demikian. Inilah dimensi intelektual seseorang. “It relies heavily on strong knowledge structure to provide a rich context in the construction of meaning ( Potter, 1998:8).

Domain emosional adalah dimensi perasaan. Tidak semua orang memiliki kepekaan untuk menghayati dimensi perasaan ketika mereka tereskpose oleh pesan media. Sementara mungkin ada  sementara orang yang sangat peka sehingga bisa menangkap tanda-tanda yang membangkitkan semacam perasaan tertentu bagi mereka. Beberapa jenis emosi diasosiasikan dengan efek negatif. Misalnya, anak kecil yang menyaksikan film horor penuh kekerasan akan mengalami ketakutan yang ekstrem yang mungkin akan membekas sehingga meninggalkan trauma ketakutan yang menahun. Dimensi emosional tidak harus hanya yang bersifat menonjol seperti kemarahan, takut, nafsu, kebencian, dan yang lainnya. Produser mengetahui betul bagaimana menggunakan simbolisasi guna memicu dimensi perasaan semacam itu, makanya tidak perlu memiliki kecakapan melek media yang tinggi untuk bisa menangkap dan memahami dimensi emosional seperti itu. Masih ada beberapa bentuk emosi yang lebih halus seperti ambivalensi ( perasaan bertentangan), kebingungan, kewaspadaan, dan sebagainya. Kemasan pesan dengan muatan emosi semacam ini memerlukan kecakapan lebih bagi si pembuanya, dan diperlukan tingkatan kecakapan melek media yang lebih juga bagi audiens untuk bisa mengenali simbol-simbol yang mengindikasikan emosi tersebut serta merasakan emosi sebagaimana produser ingin sampaikan.

Domain estetik mengacu pada kemampuan untuk bisa menikmati,memahami dan menghargai isi media dari sudut pandang artistik. Penghargaan semacam ini menuntut kesadaran akan ketrampilan yang digunakan dalam mengemas pesan media dengan berbagai bentuk media— termasuk kemampuan untuk mendeteksi perbedaan antara seni dan hal-hal yang artifisial belaka. Ini berarti juga kemampuan menempatkan gaya artistik yang unik dari para penulis, produser atau sutradara.

Domain moral diartikan sebagai kemampuan untuk menyimpulkan  nilai-nilai yang ada dibalik pesan. Dalam situasi komedi, nilai-nilai yang diprotret di dalam pesan biasanya terletak pada kemasan humor yang dipakai sebagai sarana menyampaikan sesuatu persoalan; dengan kemamapuan yang dimiliki humor itu maka persoalan seakan tidak pernah menjadi sesuatu yang serius dan semuanya akan terpecahkan hanya dalam kurun waktu  setengah jam saja. Dalam action drama, nilai-nilai dipotret di dalam kemasan pesan bahwa kekerasan biasanya adalah sarana yang ampuh untuk mencapai apa yang kita inginkan dan dunia ini tak lain adalah tempat yang penuh bahaya.  Untuk dimensi moral ini memang diperlukan kecakapan melek media yang tinggi agar seseorang bisa menangkap tema moral ini. Kita harus menengok ke latar belakang karakter individu untuk bisa memfokuskan pada pemaknaan dari berbagai level naratif.

The Purpose of Media Literacy Is to Give Us More Control Over Interpretations. Semua pesan yang disodorkan oleh media sesungguhnya adalah interpretasi. Jurnalis menyajikan kita interpretasi mereka tentang ‘apa’ yang mereka anggap penting dan ‘siapa’ yang dianggap penting. Seorang pencerita yang berorientasi hiburan akan memamerkan pada kita interpretasi mereka tentang segala sesuatu yang memiliki arti bagi kemanusiaan, dengan tujuan membangun relasi, untuk terlibat dalam konflik, dan untuk mendapatkan kesenangan. Para pengiklan tak lelah-lelahnya meyakinkan kita bahwa kita ‘memiliki persoalan’ dan produk yang mereka tawarkan adalah solusi jitu untuk mengatasinya.  Demikian juga kita, sebagai bagian dari audiens kita juga bisa membentuk interpretasi kita sendiri mengenai pesan media yang hadir di hadapan kita.

Kunci dari media literacy bukanlah  upaya untuk menguak satu pertanyaan mustahil yakni seputar kebenaran seutuhnya atau obyektivitas pesan. Hal semacam itu tidak pernah kita temukan. Sebaliknya, kita hanya  perlu untuk senantiasa sadar dalam proses interpretasi dan menjadi waspada di dalam mengenali pola-pola interpretasi di dalam  pesan media. Ini berarti kita menghindari memeroleh terpaan media tanpa dipikir, yang akibatnya secara otomatis kita menerima dengan sikap tidak kritis terhadap interpretasi media.

Proses efek media akan berlanjut baik itu kita sadari atau tidak. Kita bisa terus menggali lebih dalam dan mengontrol media (tidak hanya melalui terpaan media tapi juga melalui interpretasi), kita bisa menguatkan efek yang kita harapkan dan mengeliminasi efek yang mesti kita hindari.

Untuk bisa memeroleh apa yang kita harapkan di atas, kita perlu memiliki kemampuan mengenali keseluruhan kemungkinan efek media yang bakal terjadi dan bagaimana media itu memengaruhi kita. Ini bukan pekerjaan yang gampang. Hampir semua efek media itu bekerja dengan cara yang halus, efek terjadi secara perlahan, dan sebagian besar efek memerlukan jangka waktu yang panjang baru bisa nampak. Dan ketika efek itu disadari, kekuatan media telanjur mengakar dalam alam ketidaksadaran kita dan sulitlah kita mengubahnya.

Efek media seringkali juga bekerja secara tidak langsung, melalui orang-orang atau lembaga. Meskipun kita dalam batas-batas tertentu berusaha menghindari paparan langsung semua pesan media, tapi tetap saja kita dipengaruhi secara tidak langsung melalui pesan-pesan yang sudah menancap pada institusi kenegaraan, keluarga, pendidikan dan agama. Satu-satunya cara agar kita bisa sepenuhnya bebas dari semua pengaruh media adalah dengan memisahkan diri kita dari lembaga dan masyarakat. Tapi, ironisnya, yang demikian ini justru menjadi efek terbesar yang memengaruhi kita — yakni mendorong kita untuk mengubah gaya hidup dan memilih tidak mendapatkan kemanfaatan menjadi bagian dari budaya ini.

Respon yang paling masuk akal terhadap gelombang pesan media adalah menjadi lebih aktif di dalam mengolah pesannya supaya kita memeroleh informasi dan dengan melatih kita mengendalikan proses pengaruh media (Bersambung).

Sumber :

Potter, W. James. 1998. MEDIA LITERACY. London: Sage Publication. Hal  4-6.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 23 Agustus 2013.

Satu Tanggapan to “Seri Media Literacy (2) : FOUNDATIONAL IDEAS”

  1. […] tanpa mempertanyakannya serta kemampuan untuk menginterpretasikan apa yang disodorkan media ( bersambung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: