Seri Media Literacy (1) : WHAT IS MEDIA LITERACY?

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Media literacy is a perspective from which we expose ourselves to the media and interpret the meaning of the message we encounter. We build our perspective from knowledge structure ( Potter,1998:3).

Dalam benak kebanyakan orang, kata literacy umumnya dikaitkan dengan media cetak, dengan arti kemampuan untuk membaca ( Scribner&Cole, 1981; Sinatra,1986). Sebagian orang kemudian mengembangkan konsep itu sebagai visual literacy karena mereka mengaitkannya dengan media lain seperti film dan televisi ( Goodwin& Whannel, 1990; Messaris,1994). Para penulis lain bahkan memodifikasinya sehingga konsep itu dipahami sebagai computer literacy ( Adams&Hamm,1989). Dalam tulisan ini, istilah itu akan mencakup penerapan pada semua jenis media.

Tentu saja pesannya akan berubah ketika diterjemahkan dari satu media ke media lainnya.  Misalnya, posisi politik seorang kandidat akan tampil secara berbeda jika kita membacanya melalui pemberitaan di surat kabar ketimbang kalau kita mendengarnya ketika dia menyampaikannya melalui siaran radio atau ketika kita lihat dia menyampaikan pidatonya melalui layar televisi.  Kita memerlukan seperangkat pengetahuan khusus untuk bisa memroses pesan dari berbagai jenis saluran, meski tetap saja ada semacam pengetahuan standar yang kita jadikan dasar dalam memroses segala jenis tipe pesan media —– inilah yang akan menjadi fokus kita dalam tulisan media literacy ini.

The Definition

Media literacy adalah perspektif yang dipakai ketika kita memaparkan diri pada media dan menafsirkan makna dari pesan yang kita tangkap dari media tersebut. Kita membangun perspektif ini berdasar struktur pengetahuan kita. Untuk membangun struktur pengetahuan, kita memerlukan sarana dan bahan baku.  Sarana itu adalah ketrampilan kita, sementara bahan bakunya tidak lain adalah informasi yang didapatkan dari media dan dari dunia nyata.

Orang yang  memiliki tingkatan media literacy (melek media) yang tinggi akan memiliki perspektif yang kokoh dan luas. Mereka secara aktif menggunakan seperangkat ketrampilan yang sudah sangat terlatih sehingga bisa menempatkan pesan media di dalam konteks struktur pengetahuana yang sangat cangggih dan juga memiliki kemampuan untuk menerjemahkan pesan dari berbagai dimensi yang berbeda. Hal ini memberi kemungkinan baginya lebih banyak pilihan pemaknaan. Apakah semua pilihan makna itu sama-sama bagus? Tentu saja jawabnya tidak. Orang dengan melek media tinggi tahu bagaimana menyeleksi semua pilihan makna itu dan memilih salah satu darinya yang paling bermanfaat dari serangkaian cara pandang —kognitif, emosional,moral dan estetis. Dengan demikian, orang dengan kemampuan media literacy memiliki kendali yang lebih besar terhadap pesan media.

Sebaliknya, orang yang memiliki kecakapan media literacy rendah memiliki perspektif yang lemah dan terbatas  terhadap media. Mereka memiliki struktur pengetahuan yang terbatas dan lebih dangkal serta kurang terorganisir yang mengakibatkan mereka menafsirkan pesan media secara tidak adekuat dan seringkali membingungkan mereka. Orang-orang ini juga seringkali segan atau tidak mau menggunakan ketrampilan mereka  yang akibatnya semakin tidak berkembang dan semakin tidak mampu menjadi penafsir media yang cakap. Alhasil, orang dengan kecakapan media literacy rendah tidak mungkin bisa mengkonstruks makna secara beragam dari pesan media, dengan demikian mereka hanya akan menangkap makna permukaan dari pesan tersebut. Dengan kata lain, orang dengan media literacy rendah menjadi tidak begitu jeli menangkap ketidakakuratan, tidak bisa memilah berbagai gagasan kontroversi, menyadari sebuah ironi atau satire dan bahkan memiliki pandangan pribadi tentang realitas dunia ini.

Pendeknya, sangat bermanfaat kalau kita mau meningkatkan kecakapan melek media karena dengan itu akan memberi kita lebih banyak pilihan.  Pilihan ini pada gilirannya akan memberi kita kemampuan lebih sehingga memampukan kita mengontrol keyakinan dan perilaku kita. Dengan sedikit atau bahkan tidak ada pilihan, maka dunia ini seakan tertutup dan kita akan dipaksa untuk menerima ide-ide dominan, nilai-nilai, dan keyakinan tanpa mempertanyakannya serta kemampuan untuk menginterpretasikan apa yang disodorkan media ( bersambung )

Sumber :

Potter, W. James. 1998. MEDIA LITERACY. London: Sage Publication. Hal  4-6.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Agustus 2013.

2 Tanggapan to “Seri Media Literacy (1) : WHAT IS MEDIA LITERACY?”

  1. […] Definisi media literacy sebagaimana dikemukakan dalam artikel terdahulu, bersandar pada beberapa gagasan utama sebagai berikut: […]

  2. […] Communication and Media Literacy – Studi tentang bagaimana bentuk-bentuk komunikasi massa, seperti media cetak, radio dan televisi […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: