HOLISTIC APPROACHES TO THE PROCESS OF THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY

adi blankon newPenelitian terdahulu yang menggunakan pendekatan teoritis holistik ditemukan dalam beberapa tulisan karya para ahli mazhab Frankfurt School yang tertarik pada “fungsi komunikasi kultural di dalam proses pembentukan masyarakat ”(Lowenthal, 1957:56). Menurut Adorno dan Horkheimer (1972), produk budaya massa berupa komoditas ekonomi yang dihasilkan oleh “industri budaya”, dan didukung oleh kekuatan finansial dan politik. Batasan kutural dari industri semacam ini termasuk sifat-sifat produk yang dihasilkannya ditentukan oleh faktor-faktor ekonomi, politik dan sosial yang lebih luas. Fungsi industri budaya di sini adalah mengabadikan pranata sosial yang telah ada dan menyediakan semacam landasan ideologi yang akan melegitimasi pranata sosial tadi. Alhasil, gambaran kenyataan sosial obyektif di dalam muatan atau isi simboliknya terdestorsi. Muatan itu hanya merepresentasikan ideologi kelas penguasa, sementara bagian-bagian negasinya yang merupakan ekspresi kultural yang tak kalah penting itu sepenuhnya dieliminasi. Fungsi utama ekspresi simbolik sebuah realita adalah memanipulasi individu sehingga terbentuk semacam kesadaran “palsu” baik pada lingkungan sosial yang terdekat maupaun lingkungan sosial yang lebih jauh termasuk pada fenomena sosial yang abstrak, seperti konflik sosial seputar kekayaan dan kekuasaan dan nilai-nilai dominan yang melegitimasi pranata sosial yang ada. Akibat dari terpaan yang terus-menerus oleh muatan yang dibawakan media massa, maka individu mengkonstruk satu dimensi kenyataan subyektif yang didasarkan pada anggapan palsu bahwa konsumerisme dan kesenangan hidup akan membawa kebahagiaan (Marcuse,1964). Dengan demikian, individu secara pasif menerima ‘posisi’ mereka di masyarakat dan menginternalisasi nilai-nilai sosial yang melegitimasi pranata sosial yang ada. Proses dialektis representasi yang bias dari kenyataan obyektif dalam ekspresi simbolik dan konsekuensi pembentukan kenyataan subyektif yang terdistorsi ini menjadi landasan dalam tindakan sosial di masa datang dan dengan demikian mengekalkan sistem sosial yang ada.

Alexander ( 1981) menyajikan analisis holistik tentang peran pemberitaan di media dalam  sistem sosial. Pembahasannya meliputi modus produksi, karakteristik isi, dan dampaknya terhadap audiens dan masyarakat sebagai sebuah ‘kesatuan’. Alexander (1981) menekankan bahwa konsepsinya mengenai peran sosial pemberitaan di media massa didasarkan pada teori fungsional dan ini secara diametris berseberangan dengan pendekatan kritis berkenaan dengan tema ini.

Pendukung lain dari pendekatan kritis yang menggabungkan kajian yang merupakan interaksi di antara ketiga jenis kenyataan di antaranya adalah Gitlin (1979,1980), Hall ( 1977), Halloran (1970), Miliband ( 1969), Murdock dan Golding ( 1977), Enzenberger ( 1973), dan anggota dari mazhab Neo-Marxist kontinental yang dipimpin oleh Althusser (1971). Penelitian mereka menelaah mengenai interaksi di antara sistem sosial,media ( struktur, praktek kerja, dan produknya) dan persepsi individual serta penerimaannya terhadap kenyataan sosial di mana mereka tinggal. Simpulan mereka berkenaan dengan dampak media dalam level makro didasarkan pada penalaran ideologis dan historis, sementara simpulan mereka terkait dengan dampak media terhadap kenyataan subyektif individu sangatlah spekulatif. Menarik untuk dicatat bahwa kaum Neo-Marxist yang lebih berorientasi empiris, seperti kalangan the Glasgow University Media Group, ternyata lebih memfokuskan utamanya pada penelitian  kenyataan simbolik pada insitusi penekan yang menentukan pilihan materi yang disajikan oleh media massa dan pada karakteristik modus representasinya. Dan meski begitu, mereka hampir sepenuhnya menolak penelitian empiris tentang dampak representasi simbolik terhadap individu. Ilmuwan yang beragam ( Connell et. All., 1976; Hartmann, 1979) tetap pada pendapat bahwa seseorang tidak bisa secara langsung menduga respons audiens berdasarkan sifat pesannya. Hampir semua studi empiris yang dilakukan oleh ilmuwan kritis masih berkiblat pada asumsi tentang jenis efek ini ketimbang didasarkan pada analisis terhadap pesan-pesan yang ada pada representasi kenyataan simbolik di media. Gitlin (1978) bahkan berpendapat bahwa studi empiris terhadap dampak media massa pada kenyataan subyektif individu tidaklah penting dilakukan pada kancah riset komunikasi.

Perkembangan yang penting selama beberapa dekade terakhir adalah munculnya trend empirik baru yang juga dicirikan oleh penerapan holistik terhadap fenomena budaya. Kecenderungan ini mencakup keinginan untuk meneliti elemen-elemen kenyataan sosial obyektif, representasi simbolik, dan berbagai kontribusinya terhadap persepsi subyektif individu tentang kenyataan sosial dalam kerangka yang bersifat umum. Hartmann dan Husband (1971), misalnya, menganalisis liputan pemberitaan tentang isu-isu rasial di Inggris Raya dan dampaknya terhadap persepsi kaum dewasa terhadap isu tersebut. Mereka menemukan bahwa di antara subyek yang tinggal di daerah imigran rendahan, kecenderungan untuk mendefinisikan relasi ras sebagaimana dikonsepsikan oleh media massa lebih tinggi dibanding mereka yang tinggal di daerah yang lebih berada.  Dalam penelitian yang lain, Hartmann ( 1979) mengkaji mengenai liputan berita tentang hubungan industrial dan persepsi terhadap berita tersebut di antara audiens dari berbagai klas sosial. Analisisnya berkaitan dengan temuan yang berkenaan kenyataan subyektif dan simbolik yang mencerminkan kenyataabn obyektif dalam konteks perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Inggris.

Upaya yang paling komprehensif untuk  menyatukan studi analisis isi simbolik dengan tafsir kenyataan subyektif dilakukan oleh Gerbner dan koleganya. Proyek ini kemudian dikenal sebagai “The Cultural Indicator Project” ( Gerbner & Gross, 1976; Gerbner et.al., 1977,1978,1979.1980), membandingkan kanyataan obyektif sebagaimana tercermin dalam data statistik dengan kenyataan sebagaimana tercermin dalam “realitas televisi” dan meneliti persepsi audiens terkait dengan satu atau beberapa kenyataan ( yang terjadi).  Sejalan dengan posisi teoritis mereka, Gerbner dan koleganya tertarik pada keseluruhan proses  “cultivation”. Penelitian tersebut mengkaji baik kecenderungan dominan dalam representasi simbolik dari kenyataan obyektif dalam program-program hiburan maupun dampak dari lingkungan simbolik ini terhadap persepsi individu terhadap kenyataan sosial. Selanjutnya, mereka bermaksud membahas temuan mereka berkenaan dengan persepsi individual terhadap kenyataan sosial yang “dekat” dengan mereka, dengan elemen-elemen microsocial seperti struktur kekuasaan dalam masyarakat, dan juga dengan elemen-elemen macrosocial. Riset ini mirip dengan yang dilakukan dalam penelitian Neo-Marxist.

Meski demikian, berdasarkan kerangka teoritis  yang dikemukakan dalam artikel ini, pendekatan tersebut tidak luput dari beberapa kritikan. Pertama, elemen-elemen macrosocial tidak dikonseptualisasikan dengan istilah sosiologis dan ekonomi yang relevan. Sebaliknya, Gerbner dkk. berasumsi bahwa contoh yang mencirikan kekerasan dan pola-pola interaksi dramatik antara “aggressors”  dan korbannya adalah representasi simbolik dari struktur kekuasaan di dalam masyarakat Amerika. Kedua,  bahwa tidak mungkin mengukur secara langsung variabel macrosocial karena sifat abstrak yang melekat di dalamnya dan karenanya juga tidak bisa individu tersebut mengaitkannya secara langsung dengan mereka. Kesenjangan konseptual antara variabel microsocial yang diukur dalam studi tersebut dengan gagasan macrosocial yang mereka hadapi demikian besar sehingga tidak memungkinkan ditarik simpulan daripadanya.

Walaupun demikian, meski ada kekurangan dalam hal konsptual dan beberapa kesalahan metodologis (Hirsch,1980), the Cultural Indicators Project tetaplah menjadi pionir pendekatan holistik terhadap studi empirik tentang kebudayaan massa. Dengan demikian, terdapat potensi dipertemukannya riset empirik  dampak media dengan pendekatan kritis terhadap fenomena budaya.

Pendekatan terhadap kajian opini publik  seperti dilakukan oleh Noelle-Neumann ( 1974,1977) dalam beberapa aspek mirip dengan the Cultural Indicators Project. Dalam penelitiannya, selain melakukan analisis isi dia juga melakukan survai pendapat secara berkala guna mengetahui kaitan antara liputan pemberitaan di media dari berbagai isu dengan perubahan opini publik terkait dengan isu tersebut. Menurut  Noelle-Neumann, penekanan publik terhadap opini tertentu yang dilansir oleh berita di media mengakibatkan kesan yang keliru bahwa itu merupakan opini dominan yang berkembang di masyarakat. Keadaan ini membawa pengaruh terhadap penilaian individu tentang naik surutnya opini. Individu menjadi salah satu dari sekian banyak subyek yang mengalami “pluralistic ignorance” — suatu keyakinan bahwa opini dominan yang ada di masyarakat berbeda dengan opini sendiri. A “spiral of silence” terjadi manakala individu , karena takut terisolasi akibat dari opini yang diekspresikan publik kemungkinan berbeda dengan opini pribadinya, memilih diam dan semakin terdistorsi gambaran kenyataan obyektifnya. Representasi media massa tentang opini publik kemudian memengaruhi baik pada konstruksi individu terhadap kenyataan subyektif dan juga perilaku memilih individu tersebut. Konsekuensi akhir dari proses tersebut adalah pada level macrosocial-nya, yakni hasil yang senyatanya diperoleh dalam pemilu.

Dalam penjelasannya mengenai studi komparasi terhadap budaya, Rosengren ( 1983) mendiskusikan tentang  kemungkinan analisis multidimensional terhadap fenomena budaya yang meliputi dimensi teoritis, substansi dan metodologinya. Dalam tataran metodologinya, dia mengemukakan tiga jenis indikator budaya  utama dan menganalisis kaitannya dengan substansi pertanyaan penelitian tertentu. Gagasan tersebut relevan dengan konteks yang kita bahas dalam artikel ini.  Tiga jenis indikator tersebut  meliputi : analisis isi yang digunakan untuk meneliti  kenyataan simbolik; penelitian survai yang menyajikan indikator kenyataan subyektif; dan analisis terhadap data sekunder yang memberikan informasi mengenai kenyataan obyektif. Rosengren ( 1981:250) mengklaim bahwa dalam kajian budaya ,

Idealy one should have acces to at least two, preferably three  or four sets of data. Data about social structure…about the values mediated by the mass media…values entertained by the population…. data about the values of the producers and controllers of media content.

Menurut Adoni dan Mane, semakin sempit definisinya mengenai domain media dan konstruksi sosial atas kenyataannya, maka tidak memungkinkan mencapai sebuah simpulan tanpa serta merta mengkaji indikator yang memusatkan pada tiga realitas tersebut.  Penelitian terbaru yang kemudian mendasarkan pada apa yang kita sebut sebagai pendekatan holistik mengarah pada satu benang merah sebagai berikut: bahwa karena pendekatan holistik menaruh perhatian baik pada level micro maupun macro kehidupan sosial dan juga memerhitungkan perbedaan interaksi di antara ketiga tipe kenyataan, maka ada kecenderungan pendekatan ini cocok bila hendak memahami peranan media massa di dalam proses tafsir sosial atas kenyataan dan juga menjadi poin penting mempertemukan antara dua tradisi yang berbeda dalam  kajian budaya dan komunikasi.

Referensi :

Adoni , Hanna & Sherrill Mane.1984. “ MEDIA AND THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY Toward an Integration of Theory and Research”. Communication Research Vol 11 No.3. July 1984 hal 332-337.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 21 Agustus 2013.

Satu Tanggapan to “HOLISTIC APPROACHES TO THE PROCESS OF THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY”

  1. […] Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan efek media massa terhadap “kesenjangan pengetahuan” difokuskan pada seberapa besar informasi yang tersedia dengan (informasi yang diakses) individu yang berasal dari berbagai strata sosial. Temuan pokok  penelitian ini ( Tichenor.et.al., 1970, 1973) adalah semakin terpelajar seseorang maka akan semakin menggali lebih dalam untuk memeroleh informasi ketimbang mereka yang kurang berpendidikan.Tichenor (1973) menulis : “…mass media formation campaignes result in a wider knowledge gap among the different social groups” . Katz( 1978) dalam konseptualisasinya mengenai media effect menunjukkan bahwa para peneliti Eropa menggagas persoalan kesenjangan pengetahuan ini dalam terminologi “development of class consciousness” . Gagasan pokoknya adalah bahwa media massa tidak menyajikan kelas bawah sejenis informasi yang dibutuhkan yang menyadarkan bahwa mereka kekurangan dan dimanfaatkan. Ini merupakan efek gambaran subyektif yang terdistorsi terhadap kenyataan obyektif. Bila digabungkan, penelitian Eropa dan Amerika mengenai “kesenjangan pengetahuan” ini dapat dipahami sebagai kajian mengenai efek media massa terhadap proses tafsir sosial atas kenyataan, baik dalam level micro maupun dalam level macrosocietal. ( Bersambung ke artikel berjudul HOLISTIC APPROACH TO THE PROCESS OF THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: