SYMBOLIC REALITY AND OBJECTIVE REALITY

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Contoh penelitian media massa terdahulu tentang gambaran kenyataan sosial obyektif di antaranya dilakukan Albrecht (1956), serta Berelson dan Salter (1964). Mereka mengkaji tentang bagaimana muatan fiksi dalam majalah merefleksikan, secara berturut-turut, nilai-nilai Amerika tentang perkawinan dan sikap terhadap etnik minoritas. Beberapa peneliti dari mazhab Frankfurt School juga tertarik mengenai jenis interaksi antara kenyataan obyektif dengan kenyataan simbolik ini. Analisis Ied Lowenthal (1961) terhadap biografi yang dipublikasikan dalam majalah populer Amerika selama kurun waktu tahun 1920-an dan 1940-an sampai pada simpulan mengenai adanya perubahan nilai-nilai Amerika dari yang semula menekankan pada produktivitas berubah menjadi mementingkan konsumerisme dan waktu luang. Adorno ( 1947) menganalisis genre musik populer dari budaya massa yakni jazz. Dia berpendapat bahwa keunikan irama musik jazz mencerminkan keadaan individu dalam masyarakat modern. Adorno menuliskan dengan dramatis “ They are led to expect a climax at the end of each musical sentences, and then conditioned to accept its anticlimax and the return to the monotonous uniform rhythm that is a symbolic equivalent of mechanical work along the assembly line.”

Para peneliti Neo-Marxist tertarik pada interaksi antara muatan simbolik dengan pranata sosial yang terlembagakan, atau, dalam terminologi kita, kenyataan sosial obyektif. Mereka berpendapat bahwa isi media massa mendorong ideologi dominan, dan karenanya, melegitimasi pranata sosial serta memelihara social status quo ( Gitlin, 1979; Murdock, 1973; Hall,1997). Dalam penelitian yang dilakukan the Glasgow University Media Group ( 1976,1980) menunjukkan bahwa dengan menggunakan subtitle verbal  dan teknik visual, berita televisi menyajikan gambar yang ter-distorsi mengenai kenyataan obyektif. Misalnya, ketika mewartakan perselisihan industrial, berita televisi cenderung memfokuskan keadaan yang tampak luar dan bermacam konsekuensinya, dengan demikian menutupi sebab-sebab yang melatarbelakanginya. Lebih jauh, mereka menggambarkan kelompok-kelompok sosial dari berbagai strata sosial secara ‘membeda-bedakan’ dan cenderung bias. Representasi dari pihak managemen umumnya ditampilkan dalam sebuah interview dalam latar kantor tempat mereka bekerja yang tenang, sehingga mengesankan sebuah otoritas dan tanggung jawab. Bertolak belakang dengan, para pendemo yang digambarkan sedang ‘in action’ dalam sebuah kerumunan massa, menghadirkan kesan bahwa mereka adalah sumber dari perselisihan dan merupakan ancaman bagi keteraturan sosial yang ada.

Pertanyaan lain yang relevan berkenaan dengan interaksi antara kenyataan obyektif dengan kenyataan simbolik adalah “ Siapakah yang harus bertanggung jawab, dan apa yang menentukan modus gambaran realitas  isi media?” Domain penelitian komunikasi mencakup kajian mengenai pola-pola interaksi di dalam dan di antara organisasi media ( Breed, 1959; Tunstall,1971; Engwall,1978;Roeh et.al.,1980); norma-norma yang berhubungan dengan pekerjaan, peran, dan prakteknya ( Tuchman, 1978; Gans; Johnstone et.al.,1976; Schudson, 1978); teknologi dan kendala-kendala presentasi dari bermacam produksi dari berbagai genre media, baik yang fiksional ( Elliot,1972) dan pemberitaan (Galtung dan Ruge, 1965; Gans, 1980; Murdock,1973; Epsetin, 1973); dan tekanan-tekanan antara teknologi, institusi politik, dan ideologi ( Gouldner,1976; Gitlin, 1979, 1980; Golding, 1981).

McQuail (1983) melakukan survai terhadap temuan-temuan penting penelitian dalam bidang ini dan mendiskusikan beberapa implikasi untuk memahami hubungan antara struktur organisasi media dengan realitas obyektif. Rosengren ( 1981;1983) lebih spesifik lagi dan berpendapat tentang tipologi yang mendasari kemungkinan interaksi antara kebudayaan dan struktur sosial yang lain.

Dengan menerapkan model yang kita buat seperti dikemukakan di atas, kita bisa melihat hanya sebagian kecil darinya yang berkenaan dengan elemen sosial yang berada pada posisi “dekat” pada ujung kontinum, misalnya, peran dan norma-norma yang berhubungan dengan pekerjaan. Beberapa penelitian mengkaji elemen sosial yang bisa ditempatkan di antara posisi “the close-remote continuum” seperti perselisihan industrial dan sikap-sikap terhadap etnis minoritas. Kebanyakan studi yang memfokuskan utamanya pada elemen sosial yang abstrak, jauh dari pengalaman langsung individu. Contoh dari elemen abstrak ini misalnya sistem nilai, ideologi dominan, legitimasi terhadap pranata sosial yang ada dan struktur kekuasaan, dan pemerataan kemakmuran.

SYMBOLIC REALITY AND SUBJECTIVE REALITY

Kebanyakan mahasiswa program media massa yang memelajari hubungan di antara kedua jenis kenyataan tersebut memusatkan diri pada dampak kenyataan simbolik terhadap kenyataan subyektif individu. Pertanyaan pokoknya adalah, “ Bagaimana isi media massa berkontribusi terhadap persepsi individu tentang kenyataan sosial?”.

Survai yang mendalam terhadap penelitian mengenai dampak televisi terhadap kenyataan subyektif ( Hawkins & Pingree, 1980) dengan jelas menunjukkan bahwa sebagian besar studi memusatkan pada elemen-elemen kenyataan sosial yang dekat dengan pengalaman keseharian hidup individu, misalnya, ketakutan untuk berjalan seorang diri di malam hari, persepsi tentang peran-peran keluarga, image tentang para manula, dan ketidakpercayaan di antara individu. Beberapa studi mengkaji vaiabel-variabel yang cukup jauh dengan “here and now” individu, seperti persepsi terhadap kemakmuran dan fungsi sistem politik, atau berfokus pada persoalan rasial. Namun, variabel-variabel ini tidak dikonseptualisasikan berkaitan dengan variabel yang lebih besar, seperti struktur kekuatan sosial,  distribusi kemakmuran, atau legitimasi dari pranata sosial yang ada. Dalam tataran konsep, beberapa variabel sebagaimana didefinisikan oleh Gerbner dan koleganya ( 1976, 1977, 1978, 1979,1980) adalah pengecualian dan akan kita singgung sekilas.

Penelitian mengenai peran media massa di dalam proses sosialisasi politik dan agenda setting, termasuk yang berkaitan dengan hipotesis “kesenjangan pengetahuan”  juga relevan dengan diskusi kita ini.

Meski para peneliti tersebut tidak secara eksplisit menggunakan istilah “ social construction of reality”, penelitian tentang sosialisasi politik meneliti mengenai dampak kenyataan simbolik terhadap image subyektif individu terhadap politik dominan ( Chaffee et.al, 1973, 1977). Perbedaan antara penelitian yang dilakukan oleh Hawkins dan Pingree dengan penelitian mengenai sosialisasi politik adalah, jika yang pertama itu fokus pada elemen kenyataan sosial tataran mikro, sedangkan yang berikutnya berfokus pada elemen kenyataan sosial yang bersifat makro, seperti fungsi lembaga politik, nilai-nilai nasional dan kewarganegaraan, dam legitimasi atas otoritas politik.

Penelitian yang dilakukan oleh Adoni dan Mane sendiri (Adoni et.al, yang akan dilakukan; Cohen et.al, yang akan dilakukan) mengkaji persepsi konflik sosial dalam kehidupan pada berbagai posisi jarak dengan pengalaman langsung individu. Temuan pokok adalah bahwa persepsi terhadap konflik sosial  yang terjadi di wilayah yang lebih jauh (dengan individu) lebih dipengaruhi oleh gambaran pemberitaan televisi  berbeda dengan persepsi terhadap konflik yang terjadi dalam area kehidupan di mana bisa alami sebagai pengalaman langsung individu. Temuan ini mendukung hipotesis teori ketergantungan media dan menguatkan klaim mereka bahwa “the close-remote continuum”  adalah dimensi yang penting di dalam kajian mengenai peran media massa di dalam konstruksi realitas.

Sebagaimana telah kita ketahui, para  peneliti yang terkait dengan studi agenda-setting tidak selalu secara eksplisit menggunakan istilah “ social construction of reality” ( McCombs and Shaw, 1972; Weaver er.al., 1981). Meski demikian, tujuan utama penelitin mereka adalah menemukan bagaimana agenda media berkontribusi terhadap agenda yang dianggap isu penting oleh publik dan elite politik. Dalam perspektif makro sosial, kenyataan di lapangan menunjukkan selama momen tahun-tahun pemilu media massa menempatkan politik sebagai agenda utama nasional yang mengindikasikan kekuatan media di dalam mendikte framework bagaimana kenyataan sosial secara kolektif itu dirasakan dan akibatnya yang mewujud  dalam bentuk tindakan sosial.

Penelitian-penelitian yang berhubungan dengan efek media massa terhadap “kesenjangan pengetahuan” difokuskan pada seberapa besar informasi yang tersedia dengan (informasi yang diakses) individu yang berasal dari berbagai strata sosial. Temuan pokok  penelitian ini ( Tichenor.et.al., 1970, 1973) adalah semakin terpelajar seseorang maka akan semakin menggali lebih dalam untuk memeroleh informasi ketimbang mereka yang kurang berpendidikan.Tichenor (1973) menulis : “…mass media formation campaignes result in a wider knowledge gap among the different social groups” . Katz( 1978) dalam konseptualisasinya mengenai media effect menunjukkan bahwa para peneliti Eropa menggagas persoalan kesenjangan pengetahuan ini dalam terminologi “development of class consciousness” . Gagasan pokoknya adalah bahwa media massa tidak menyajikan kelas bawah sejenis informasi yang dibutuhkan yang menyadarkan bahwa mereka kekurangan dan dimanfaatkan. Ini merupakan efek gambaran subyektif yang terdistorsi terhadap kenyataan obyektif. Bila digabungkan, penelitian Eropa dan Amerika mengenai “kesenjangan pengetahuan” ini dapat dipahami sebagai kajian mengenai efek media massa terhadap proses tafsir sosial atas kenyataan, baik dalam level micro maupun dalam level macrosocietal. ( Bersambung ke artikel berjudul HOLISTIC APPROACH TO THE PROCESS OF THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY)

Referensi :

Adoni , Hanna & Sherrill Mane.1984. “ MEDIA AND THE SOCIAL CONSTRUCTION OF REALITY Toward an Integration of Theory and Research”. Communication Research Vol 11 No.3. July 1984 hal 328-332

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 26 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “SYMBOLIC REALITY AND OBJECTIVE REALITY”

  1. […] Klasifikasi studi yang diusulkan dalam tulisan ini penting karena melewati batas-batas yang memisahkan antara tradisi penelitian komunikasi empiris dan kritis. Lebih jauh, klasifikasi ini memungkinkan pengembangan gagasan bahwa pendekatan holistik bisa dijadikan kerangka teoritik  yang memadukan baik untuk kedua tradisi riset  maupun sebagai penelitian sistematis tentang kontribusi media massa terhadap terbentuknya tafsir sosial atas kenyataan.  ( Bersambung ke artikel berjudul SYMBOLIC REALITY AND OBJECTIVE REALITY) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: