MENGENAL CULTURAL STUDIES, TEORI POSTCOLONIAL DAN POSTRUKTURALISME

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Cultural studies sering diterjemahkan menjadi “kajian budaya kontemporer”,merupakan suatu pendekatan yang mengemuka saat ini, muncul sebagai suatu respon intelektual dalam menganalisis perubahan politik, ekonomi dari budaya global, transformasi kebudayaan di berbagai tempat di dunia yang memengaruhi identitas suatu masyarakat, klaim atas politik etnisitas dan tuntutan bagi pluralisme kebudayaan, yang semuanya  mengarah pada wujud-wujud toleransi baru dan negosiasi baru.

Setidaknya ada dua paradigma utama yang mewarnai perkembangan cultural studies sebagai pendekatan kontemporer dalam studi sosial humaniora. Pertama, pengaruh melalui paradigma postrukturalisme dengan fokus dekonstruksi wacana terhadap modernitas, yang dianggap telah melahirkan distorsi-distorsi baru di dalam hubungan sosial dan kemanusiaan lewat penciptaan pengetahuan dan kekuasaan. Kedua, pengaruh dari teori postkolonial yang memfokuskan analisisya pada representasi dan kekuasaan sebagai suatu konstruksi sosial. Studi mengenai representasi inilah yang kemudian menjadi inti dari analisis kajian budaya kontemporer (cultural studies) yang banyak memengaruhi berbagai fields of study atau disiplin ilmu sosial dan humaniora.

Stuart Hall

Stuart Hall

Menurut Stuart Hall representasi merupakan media penyampaian pesan, berekspresi dan mengkomunikasikan ide, konsep atau perasaan kita, yang kesemuanya merupakan transmisi penyampai makna ( Stuart Hall, 1997:4-5). Berangkat dari paradigma postrukturalisme dan teori postkolonial ,pendekatan cultural studies memposisikan pengetahuan bukan sebagai suatu kebenaran obyektif, melainkan sebagai suatu produk kita mengkategorisasikan dunia melalui pengertian yang dibangun secara diskursif ( Kristeva, 1986). Postrukturalis, dalam pandangan Michel Foucault melihat pengetahuan lahir dari suatu proses diskursif.

Michel Foucault

Michel Foucault

Menurut Foucault, pengetahuan berkenaan pula dengan relasi kekuasaan, seperti yang dikatakannya : “ Power produces knowledge, in the sense that what is considered ‘true’, knowledge about a topic is constructed through discourse. It is discursive knowledge which has the power to make itself true” ( Stuart Hall, 1997: 49). Jadi, dalam pengertian ini, kekuasan telah menciptakan pengetahuan mengenai apa yang kita anggap sebagai suatu “kebenaran”, pengetahuan dikonstruksikan melalui wacana yang kemudian secara diskursif telah menciptakan kekuasan untuk menjadikannya sebagai kebenaran. Foucault kemudian melanjutkan analisisnya mengenai relasi antara pengetahuan dan kekuasaan sebagai berikut : “ Knowledge produced by discourse is a kind of power because ‘those who known in a particular way will be subject (i.e. subjected) to it “ ( Stuart Hall, 1997 : 295). Konstruksi sosial dalam pandangan postrukturalis menurut Foucault ini telah memberi pengaruh yang besar dalam analisis konteks  yang secara spesifik melatarbelakangi suatu wacana dan terutama relasi yang dinamis antara pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan bukan hanya diciptakaan melalui relasi kekuasaan tetapi juga melahirkan bentuk kekuasaan baru.

Sementara itu, melanjutkan analisis konstruksi sosial postrukturalis, teori postkolonial membahas bagaimana wacana memeroleh kekuasaan dan menggunakannya sebagai alat. Stuart Hall membedakan setidaknya ada tiga fungsi kekuasaan yang telah mencipakan relasi tentang keberbedaan ( differences). Pertama, kekuasaan sebagai cara untuk mengkategorikan masyarakat ke dalam kategori dikotomis seperti “ western non western”. “developed third world”, “civilised-uncivilised”; Kedua, kekuasaan sebagai cara membandingkan kedua kondisi dikotomis tersebut; Ketiga, sebagai framework atau bingkai untuk mengorganisasikan relasi kekuasaan dan menentukan bagaimana kita berpikir serta berbicara.

Homi K Bhabha

Homi K Bhabha

Stuart Hall memang dianggap oleh banyak kalangan sebagai salah satu tokoh intelektual yang amat mewarnai perkembangan cultural studies, cara pandangnya banyak dipengaruhi oleh pemikiran intelektual postrukturalis seperti Edward Said, Homi Bhabha dan Gayatri Spivak. Berdasarkan karya Edward Said, “Orientalism”, dunia direpresentasikan secara polaris sehingga menciptakan kategori “ the others” atau mereka yang lain, yang berbeda  dan karenanya juga menciptakan pembedaan antara “ mereka” dan “kita”. Karya Said sendiri memamg mengundang banyak polemik dikarenakan thesis-nya yang mengatakan bahwa “ Timur”telah menjadi subyek yang pasif bagi proyek modernitas “Barat”.

Edward Said

Edward Said

Studi Said ini dibangun melalui studi interpretatif terhadap karya kesustraan “Barat “ (Western) yang memfokuskan setting narasinya pada konteks Asia ( Orientalism). Edward Said ( lewat studi atas novel-novel Barat yang dihasilkan antara lain oleh Flaubert, Austen, Conrad, de Nerval ) menggagas teori mengenai Orientalisme dengan asumsi bahwa ada kaitan erat antara imperialisme Barat dengan unsur-unsur yang didukung oleh kebudayaan Barat. Melalui analisis Foucauldian tentang relasi kekuasaan, Said ( 1995) mencoba memetakan bagaimana “Timur” telah menjadi subyek yang pasif bagi proyek imperialisme Barat, di mana kehendak untuk menguasai ( dominasi) dijalankan secara manipulatif bahkan seringkali melalui proses inkorporasi secara laten dimiliki oleh kelompok  sub-ordinan ( Timur). Thesis Said mengenai Orientalisme ini dianggap terlalu berlebih-lebihan dalam memposisikan ”Timur” sebagai proyek pasif yang sama sekali tidak  memiliki ruang ataupun bentuk-bentuk artikulasi dalam melakukan perlawanan terhadap dominasi peradaban Barat, meski begitu setidaknya Said telah membuka cakrawala baru mengenai  “ bagaimana kita mengkategorisasikan dunia melalui pengalaman kita melihat dunia “.

Gayatri Spivak

Gayatri Spivak

Homi Bhabha dan Gayatri Spivak, kemudian mengembangkan gagasan mengenai studi pasca kolonial dengan fokus studi representasi, yakni apa yang kini dihadirkan sebagai bagian dari wajah dunia. Bhabha menekankan bahwa, apa yang dihadirkan saat ini di dunia merupakan perwujudan representasi dari budaya hybrid (cultural hybrids). Hybridity mendeskripsikan bagaimana wacana mengenai kolonial dan imperial secara inheren bersifat tidak stabil bahkan “split”, sehingga setiap praktek dari dominasi, bahasa menjadi wujud dari hybridity itu sendiri ( Bhabha, 1994). Analisis Bhabha ini didasari oleh studinya mengenai stereotype kolonial di mana dalam konteks persebaran otoritas imperial, misalnya stereotype kekejaman kebangsawanan (the nobel savage) dan kecurangan timur (the wily oriental) dikonstruksikan sebagai suatu “ sifat yang alamiah “ dan konstruksi ini dikonfirmasikan terus-menerus oleh para kolonialis (colonialiser). Dalam penjelasan yang lain, Bhabha menggambarkan stereotype tersebut seringkali bersifat kontradiktif, di mana subyek kolonial ( colonial subject) yang “kejam” digambarkan sebagai “ para abdi yang patuh dan taat” ( karena mereka adalah the bearer of food), mereka seringkali berjiwa mistis dan berfikir secara primitif sehingga karenanya adalah subyek yang tidak berdosa (innocent).

Ambivalensi relasi yang dilahirkan dalam konteks kolonialisme ini melahirkan struktur agensi baru sebagaimana yang ditegaskan oleh Spivak sebagai suatu transformasi yang memungkinkan kondisi dari suatu yang mustahil menjadi niscaya ( the transformation of condition of impossibility into possibility). Suatu gambaran menarik mengenai bagaimana suatu kondisi yang mustahil menjadi suatu yang mungkin terjadi diilustrasikan oleh Bhabha dalam interpretasinya terhadap sekelompok orang-orang desa di luar kota Delhi pada tahun 1817. Para penduduk desa bertahan pada tradisi vegetarian meskipun mereka telah masuk Kristen, dikarenakan argumen bahwa mereka hanya layak menerima sakramen apabila mereka beriman pada hari akhir ( evangelical utterance) dan mereka yang beriman bukan muncul dari sekelompok orang pemakan daging (Bhabha, Sign Taken for Wonders, 1994:102). Bhabha menggambarkan situasi ini sebagai suatu perlawanan yang luar biasa, karena ketika penduduk lokal (native) menginginkan Gospel yang bersifat lokal ( an Indianised Gospel), mereka menggunakan unsur hibridity sebagai cara mempertahankan kekristenan mereka; yang ini diartikan sebagai suatu transformasi dari bentuk konversi yang mustahil menjadi niscaya. Dari konteks ini teori mengenai hibridity dipahami bukan hanya sebagai suatu peralihan dua wujud yanh menjadi suatu wujud baru, melainkan juga melahirkan bentuk-bentuk resistensi yang baru dan juga bentuk-bentuk negosiasi baru ( Spivak, sebagaimana yang dikutip dalam Bart Moore Gilbert, 1997). Melalui struktur agensi baru ini, relasi kekuasaan tidak lagi dikacamatai sebagai bentuk hegemoni lama di mana unsur budaya dominan secara represif memaksakan pengaruhnya secara total terhadap unsur budaya subordinan, karena relasi kekuasaan didalamnya bersifat dinamis sehingga kompetisi antara unsur-unsur kebudayaan memusatahilkan absolutisme dalam praktek kebudayaan.

Ambilavensi relasi dalam konteks postkolonialisme juga melahirkan bentuk-bentuk wacana mengenai “perbedaan” sebagai suatu medan bagi perjuangan identitas (a field of identity struggle). Perspektif postkolonial secara metodologis telah memungkinkan (enabling ) dikotomi kategori orientalis mengenai “majikan-budak (master-slaves), penjajah-yang dijajah (coloniser-colonised), kulit hitam-putih (white-black), mereka yang beradab-tidak beradab (civilsed-uncivilsed)” Kategori “ the other” yakni mereka yang marginal secara artikulatif merupakan fokus bagi analisis kritis ketika konteks modernitas lebih dimaknai sebagai wilayah pertentanagan bagi eksistensi kelompok marginal ( subaltern group). Spivak menggambarkan “subaltern group” sebagai orang-orang biasa yang jauh dari pusaran pertentangan wacana. Kepentingan artikulatif mereka senantiasa dimediasi dan diartikulasikan oleh kelompok-kelompok lain yang lebih dominan misalnya, kalangan intelektual (akademisi ), politisi, para administrator dan isntitusi lain (Spivak, Can the Subaltern speak?, 1988). Dalam studinya mengenai “disenfrancised women” ( Kaum wanita yang kehilangan suara/haknya) Spivak mengilustrasikan bahwa dalam sekelompok perempuan India “Sati”( yakni para janda yang mengorbankan dirinya melalui kematian/bunuh diri), seringkali diam dan tidak berdaya, tidak lain karena suara mereka tidak pernah diberdayakan. Dari situ, ada suatu mata rantai yang hilang ketika kepentingan artikulasi seringkali terdistorsi dan bahkan lenyap dari wacana dominan karena tergantikan oleh media artikulasi lain ( intelektual, institusi patriarkhis, administrator, politisi dan lain-lain) yang memiliki kepentingan kekuasaan terhadap kompetisi wacana dominan. Studi Spivak inilah yang kemudian menginisiasi wacana mengenai kritik postkolonial untuk “merekam suara mereka yang diam” ( to record the silence) sehingga “perbedaan”   (differences) memiliki ruang artikulasi bukan hanya untuk dipahami tetapi juga untuk diakui, pada konteks inilah perjuangan bagi identitas dimunculkan.

Sumbangan teori postrukturalis dan teori postkolonial di dalam kajian budaya kontemporer telah memungkinkan penelusuran lebih jauh mengenai bagaimana wacana dominan atau sebaliknya wacana kelompok subaltern telah membentuk konfigurasi setting sosial kita saat ini. Melalui kajian budaya kontemporer, kita melihat berbagai wujud ekspresi kebudayaan sebagai respon atas perubahan sosial yang demikian deras, serta munculnya bentuk-bentuk ekspresi kebudayaan baru ( dalam pengertian hibridity) dan ruang-ruang artikulasi baru yang seringkali tidak hanya berhenti pada proses refleksi semata, melainkan juga bagaimana bentuk-bentuk kebudayaan mampu memotivasi perubahan sosial.

Dikutip dari:

Arie Setyaningrum, 2002. “Kajian Budaya Kontemporer”. Dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Volume 6, Nomor 2 Hal. 233-238. 

Sumber foto :

http://culturalstudiesresearch.org/?page_id=86

esel.at

studioriley.com

universityprograms.columbia.edu

en.wikipedia.org

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 20 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “MENGENAL CULTURAL STUDIES, TEORI POSTCOLONIAL DAN POSTRUKTURALISME”

  1. […] dan Perdebatan Seputar Teori Pascakolonial.                       Tentang istilah […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: