STUDYING CHANNELS THROUGH NETWORK ANALYSIS

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Dalam sebuah penelitian tahun 1963 berjudul The Nerves of Governmment : Models of Political Communication and Control, ilmuwan politik Karl Deutsch menyebut saluran politik komunikasi internal dan eksternal sebagai “urat syaraf” pemerintahan.  Sistem politik tidak dapat berfungsi tanpa adanya jaringan yang efektif yaitu kemampuan saluran di dalam menyampaikan pesan politik mulai dari perintah yang bersifat langsung sampai dengan pesan yang disandi dan dikirimkan secara elektronik.  Namun, meski nilai dan perkembangan pentingnya jaringan komunikasi politik di dunia di mana jaringan seperti itu sudah meng-global, para ahli komunikasi politik masih saja belum begitu tertarik dengan analisis jaringan. Metode khusus yang diterapkan di dalam analisis jaringan telah dikembangkan oleh para sosiolog dan mereka yang memelajari organisasi bisnis. Karenanya, petunjuk penelitian yang mutakhir yang bisa digunakan untuk melakukan penelitian jaringan  sebenarnya sudah cukup tersedia ( misal Degenne & Forse, 1999; Scot,2000).

Analisis jaringan difokuskan pada aspek interaksi dari komunikasi sebagaimana dinyatakan dalam definisinya, komunikasi mencakup setidaknya dua pihak, pengirim pesan dan penerima. Tidak seperti penelitian survai, yang memerlakukan individu seakan dia berada dalam sebuah pulau yang tidak terhubung satu sama lain dalam semesta kehidupan sosial, analisis jaringan menempatkan  individu sebagai simpul  di dalam seatu jaringan dalam sebuah hubungan yang saling memengaruhi ( William, Rice, & Rogers, 1988). Analisis jaringan dengan demikian, tidak menumpukan informasi yang digali dari individu anggota jaringan untuk menggambarkan situasi politik. Melainkan, lebih memilih data yang diperoleh dari individu sebagai bagian dari jaringan dan menggambarkan bagaimana individu tersebut dan informasi yang diperoleh darinya itu berfungsi sebagai bagian tak terpisahkan dari sebuah jaringan.

Pola-pola interaksi di dalam sebuah kelompok dan index yang diturunkan dari semacam analisis sosiometrik dari jaringan komunikasi baik formal maupun nonformal  cukup stabil sifatnya, meskipun perilaku komunikasi dari masing-masing anggota jaringan itu dari waktu ke waktu mungkin berubah-ubah ( Knoke, 1990). Meski demikian, data yang diperoleh dalam satu waktu tertentu mungkin tidak bisa menggambarkan perilaku interaksi. Juga mungkin akan luput menggambarkan perilaku jaringan terkait dengan isu-isu tertentu atau individu tertentu. Krisis baik besar maupun kecil akan bisa mengubah pola jaringan sementara atau permanen. Oleh karenanya, idealnya  studi jaringan harus dilakukan berulang pada beberapa kesempatan.

Studi jaringan bisa difokuskan pada saluran-saluran komunikasi di dalam unit politik yang besar seperti negara, atau pada sebuah agensi publik atau pada sejumlah kelompok yang telah menciptakan suatu jaringan lobi-lobi organisasi dalam rangka mendorong diterimanya sebuah undang-undang tertentu.  Atau, peneliti  juga bisa memfokuskan pada jaringan personal dari individu-individu tertentu, merujuk pada orang-orang dengan siapa mereka sering menjalin relasi. Analisis jaringan tertarik pada interaksi di dalam sebuah kelompok-kelompok kecil seringkali dikonsentrasikan pada klik-klik di antara 5 sampai 25 orang. Karena banyak interaksi penting di dalam organisasi seperti perencanaan dan pengambilan keputusan, biasanya berada dalam lingkup kelompok kecil. Itulah sebabnya, tidak heran jika cara-cara tertentu seperti yang diterapkan oleh Robert Bales (1950) dalam Interaction Process Analysis telah digunakan untuk menganalisis saling memengaruhi dari pertukaran pesan di antara anggota kelompok. Teknik Bales ini mengklasifikasikan interaksi verbal di dalam 12 kategori wilayah dan memprediksi rata-rata keberhasilan di dalam melakukan lobi di dalam kelompok-kelompok kecil yang didasarkan pada data tadi (Bales, 1950).

Dalam menentukan level analisis manakah penelitian dilakukan harus difokuskan pada rancangan pertanyaan besar tentang analisis jaringan yang akan peneliti hadapi karena tidak ada batasan jelas tentang  jaringan sosial (Baybeck & Huckfeldt,2000;Knoke,1990; Knoke &Kuklinski,1987). Analysis bisa didasarkan pada persepsi dari anggota jaringan terhadap suatu hal khusus yang tengah diteliti.  Misalnya, dalam sebuah penelitian mengenai kegagalan komunikasi dari  US State Departement selama krisis, analisis bisa dibatasi pada jaringan pegawai negeri pada tingkat jabatan tertentu. Jika peneliti menggunakan pengambilan sampel secara snowball dalam analisis jaringannya, di mana mereka melacak dengan siapakah responden tertentu berkomunikasi dan kemudian melacak kontak dari kontak tersebut, mereka harus memastikan dalam tahap mana harus menghentikan pencarian data mereka. Bergantung  pada sumber daya yang tersedia, fokus yang lebih luas lebih baik karena terlampu sempit fokus yang dipilih mungkin hanya akan menangkap struktur jaringan yang terpotong. Sebaliknya, jika fokusnya terlampau luas, akan kesulitan atau mustahil untuk mengumpulkan data dan memproses semua data tersebut. Misalnya, jaringan yang mencakup 5000 orang akan memiliki kemungkinan terjalin 25 juta relasi.  Meskipun kapasitas komputer dalam menganalisis data sebesar itu memungkinkan, namun menangani seperangkat data yang demikian besarnya tetap saja menjadi kesulitan tersendiri (Scott, 2000).

Data mengenai struktur jaringan biasanya diperoleh melalui kuesioner, interview,diaries, FGD, dan observasi di lapangan untuk mengamati bagaimana pesan itu berpindah dari pengirim ke penerima. Data semacam ini umumnya dikumpulkan dari masing-masing anggota organisasi, tidak  hanya dari sampel yang diacak. Peneliti mencari tahu seberapa sering anggota jaringan berkomunikasi dengan individu tertentu dan jenis informasi seperti apa yang mereka cari. Peneliti juga bisa menyelidiki tentang siapakah yang berinisiatif di dalam mempertukarkan pesan. Untuk memudahkan mengingat, peneliti bisa memberikan responden daftar nama dari masing-masing responden yang biasanya menjadi partner untuk dikontak  di dalam jaringan tersebut.

Dalam menempatkan “self-reports” dari anggota jaringan, yang oleh beberapa peneliti biasanya tidak dipercayai karena berpotensi tidak reliabel, maka jaringan itu bisa dikaji melalui observasi langsung dengan cara membaca catatan tentang peristiwa komunikasi di masa lalu. Data-data berupa arsip bisa juga ditambahkan untuk mengcover peristiwa yang sudah terjadi dalam periode yang cukup lama (berlalu). Peneliti juga bisa menggunakannya untuk melihat lebih detil jaringan dalam berbagai seting dan dalam berbagai keadaan di luar, seperti pada periode pertumbuhan atau penurunan situasi ekonomi dan politik.

Setelah berbagai data  tentang hubungan (links) dalam rantai komunikasi itu diperoleh, maka program komputer mengidentifikasi jaringan formal dan informalnya. Ada berbagai analisis yang mungkin dilakukan seperti analisis sosiometrik, spatial analysis, matrix analysis, factor analysis, block-modeling techniques, multimedimensional scaling techniques, dan cluster analysis ( Scot,2000). Metode statistik konvensional bisa digunakan untuk menggambarkan keragaman dari berbagai aspek struktur jaringan. Meski demikian, karena data jaringan  melanggar asumsi random sampling  yang menjadi dasar statistik inferensi, analisis statistik konvensional mungkin akan menimbulkan persoalan ( Knoke, 1990).

Analisis jaringan akan memunculkan karakteristik jaringan yang tidak terhingga nilainya bagi kepentingan pelacakan hubungan kekuasaan dan pengaruh di dalam sistem dan organisasi politik.  Misalnya, hasil penelitian tersebut dapat menunjukkan  seberapa sentral posisi berbagai individu, kelompok atau organisasi di dalam jaringan komunikasi tertentu dan siapa yang berperan sebagai gatekeeper yang akan mengontrol akses ke beberapa anggota jaringan.  Analisis jaringan juga akan menampakkan kekuatan, frekuensi dan kecepatan interaksi. Analisis ini bisa digunakan untuk mengukur kohesivitas jaringan dengan melihat proporsi relasi jaringan yang bersifat timbal balik. Dengan itu juga bisa diukur bagaimana jenis sirkulasi informasi dan siapa yang termasuk atau tidak termasuk dalam arus  komunikasi.  Dengan melacak pola-pola semacam ini akan memungkinkan analis untu menentukan seberapa baik koordinasi dalam jaringan komunikasi secara umum dan dalam sub unit di bawahnya dan seberapa adekuat berbagai peran komunikasi telah dijalankan.  Tentu saja, diperlukan standartisasi untuk menilai kecukupan/keberhasilan bergantung pada perspektif dari mana organisasi tersebut dilihat. Karena analisis jaringan memerlukan multiple pemilih, maka multiple perspektif juga menjadi pertimbangan ( Provan & Milward, 1995).

Dalam beberapa tahun terakhir, peneliti telah melangkah lebih jauh tidak sekedar melacak channels melalui mana pesan bergerak dan arahnya secara umum, dan mulai memfokuskan lebih dekat pada isinya sebagai indikator dari tingkat hubungan (linkages). James Danowski (1991) telah menjadi pioner dalam menggunakan teknik yang disebut Word Network Analysis  yang menggunakan komputer dalam melakukan analisis isi guna mendeteksi kata-kata yang dipakai bersama-sama dan konsep-konsep yang digunakan oleh pengirim. Pendekatan ini akan menghasilkan pemahaman yang baru mengenai sirkulasi di dalam organisasi dan cara yang digunakan organisasi di dalam mengembangkan konsep umum dan mencapai konsensus.

Referensi :

Doris A Graber.  2004. “METHODOLOGICAL DEVELOPMENTS IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH” Dalam Kaid,Lynda Lee (ed).  Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates. Hal 60-62.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 18 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “STUDYING CHANNELS THROUGH NETWORK ANALYSIS”

  1. […] Artikel ini merupakan bagian akhir dari sub bab “content analysis “ yang diterapkan pada kajian komunikasi politik.  Yang menarik dari tulisan ini adalah tawaran model/pendekatan analisis isi yang selama ini kita kenal hanya sebatas model kuantitatif.  Model analisis isi “gestald coding “ dari Graber ini selain sifatnya yang kualitatif juga memiliki nilai lebih karena dalam proses tidak sepenuhnya mengandalkan interpretasi intuitif peneliti (terhadap apa yang mungkin tersembunyi dalam pesan), melainkan mendasarkan pada proses pemahaman pesan audiovisual oleh audiens. Dengan kata lain, peneliti berusaha menangkap makna yang dipahami audiens terhadap pesan audiovisual dengan mendasarkan pada teori gestald.  Dengan demikian melakukan analisis isi terhadap pesan audiovisual dengan pendekatan ini tidak semata mencatat (meng-coding) apa yang di-tanda-kan oleh petunjuk audiovisual melainkan lebih jauh menangkap implikasi pesan audiovisual itu ketika sampai pada audiens. Makna pesan diperoleh melalui rekonstruksi dengan melibatkan pengirim pesan, pesan itu sendiri dan penerima. Analisis isi  model Gestald coding dari Graber ini sekaligus mengawinkan antara  konsepsi psikologi kognitif dan perspektif interpretatif, yang menurut saya, pendekatan ini  masih baru dalam penelitian analisis isi, khususnya dalam ranah komunikasi politik di Indonesia. (Bersambung dalam artikel dengan tema lanjutan dalam sub judul Studying Channels Through Network Analysis ). […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: