AUDIOVISUAL CONTENT ANALYSIS CHALLENGES

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Untuk mengimbangi semakin dirasa pentingnya media audiovisual sebagai media yang memberitakan kehidupan politik kepada masyarakat dan elit politik, analisis isi audiovisual semestinya menjadi metode yang mem-booming.  Namun, kenyataanya tidak demikian halnya. Karena ciri khas yang melekat media ini, ternyata analisis isi audiovisual hanya sedikit ditemukan dalam laporan penelitian analisis isi yang direview di sepanjang tahun 2000 dan 2001(e.g.Dixon&Linz,2000). Padahal, banyak  para peneliti komunikasi politik mengetahui pentingnya ilustrasi dalam content analysis yang isinya berkenaan dengan politik, seperti kampanye pemilu, dengan sampelnya berupa rekaman aktual audiovisual.  Memang, dalam Jurnal Political Communication disajikan  tema khusus elektronik dengan judul “Multi-Media Politics” dalam bentuk CD di tahun 1998. Hampir sebagian besar tema penelitian dalam jurnal itu berkaitan dengan kajian kampanye pemilu yang disajikan dan dianalisis dengan sampelnya berupa klip-klip televisi (Boynton & Jamieson,1998).  Juga, buku teks, termasuk banyak buku teks pemerintahan Amerika, yang sekarang memasukkan video dan CD. Contoh yang bagus dari genre ini adalah Video Rhetorics:Televisied  Advertising in American Politics, yang diterbitkan tahun 1997 oleh John Nelson dan G. Robert Boynton.  Penulis buku tersebut menggunakan video untuk menggali informasi yang tidak bisa tercover dalam  bentuk berita cetak.

Lalu apa yang menyebabkan para ahli komunikasi politik menghindari penggunaan analisis isi audiovisual dan hanya menggunakan berita televisi —ini pun diperlakukan sebagai layaknya ‘radio’ karena kurang memerhatikan aspek isi visualnya?  Jawabnya terletak pada mitos bahwa audiovisual terlampau sulit untuk di-coding— padahal sesungguhnya bisa di-coding , karena mereka tidak  menggunakan bahasa yang memungkinkan dianalisis — suatu keteraturan tertentu menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaan tertentu kepada yang lain ( Hall,1980).

Sebenarnya kombinasi antara kata-kata dengan gambar menghasilkan makna-makna  yang berbeda dibanding dengan pesan yang disampaikan dalam verbal atau elemen visual secara terpisah sehingga memerlukan analisis kompleks lebih lanjut. Kata-kata umumnya memengaruhi makna sebuah gambar dan gambar bisa menggantikan makna dari kata-kata. Foto yang menggambarkan tentara tergolek di rerumputan mengandung makna yang berbeda jika digambarkan dengan kata-kata: “tentara tengah tertidur setelah pelatihan yang berat”  atau “tentara yang tewas karena tertembak penembak jarak jauh”. Komentar seorang politisi yang terlihat dan terdengar tenang mungkin menjadikan para audiens tidak mengetahui bahwa jari-jari si politisi tersebut nervous ketika ia  sedang direkam dan ada kilasan tremor di wajahnya. Kesulitan lebih lanjut, rangkaian penanda verbal terdiri dari unit-unit yang terpisah seperti kata-kata dan kalimat-kalimat yang memiliki makna denotatif yang berbeda pula. Sebaliknya, rangkaian foto-foto akan tampak mengalir sehingga sulit untuk ditentukan unit atau elemen manakah yang membawakan makna yang dimaksud. Sebuah foto setara dengan banyak kata dan kalimat ( Salvaggio, 1980).

Bagi para peneliti, terlepas dari hambatan-hambatan  dalam analisis isi audiovisual, tidak satu pun yang menyangkal fakta bahwa media audiovisual sesungguhnya merupakan ‘bahasa lebih rumit dan yang bisa dicode’ sehingga tidak berbeda dengan beban penelitian analisis isi pada media lainnya (Hart,2000,Van Leeuwen&Jewitt,2001;Wang,Liu&Huang,2000). Lebih lagi, melakukan coding audiovisual tidak semahal sebagaimana sering disangsikan selama ini.

Berbeda dengan klaim bahwa audiovisual tidak membawakan makna yang (bisa) dipahami bersama, para produser berita justru mengetahui bahwa bahasa audiovisual mengandung susunan petunjuk yang bila dipahami secara mendalam bisa di-coding. Tanpa  bisa dipahami secara sama, tentunya mustahil media audiovisual bisa menyajikan makna yang sama bagi audiens yang bersifat masif. Ketika stasiun televisi menggunakan kosa kata tertentu yang seringkali menjadi kebiasaan bagi media audiovisual lainnya, tentunya audiens dengan cepat akan mampu menebak makna yang terkandung di dalamnya. Kecepatan adalah unsur yang esensial karena segmen berita televisi biasanya pendek dan mengalir terus dan tidak langgeng, tanpa memberi kesempatan (bagi audiens) untuk melakukan refleksi, atau mencari alternatif makna lainnya atau menutup kemungkinan bagi audiens mencari petunjuk terselubung dari gambar yang disajikan.  Jika audiens diminta untuk menilai keadaan dan figur seorang politisi menggunakan petunjuk audiovisual, mereka menyebutkan sejumlah petunjuk yang sama (Graber, 2001). Demikian juga, laporan dalam bentuk cetak sebuah peristiwa yang diberitakan oleh televisi, seperti upacara-upacara kepresidenan, menunjukkan bahwa para penulis tersebut menyajikan pemaknaan yang sama dengan disajikan secara audiovisual.

Petunjuk audiovisual yang digunakan dalam berita televisi didasarkan pada pemahaman produser terhadap pengalaman visual  rata-rata penonton Amerika dan selera penonton pada umumnya. Untuk menggambarkan hancurnya sebuah jembatan dalam peperangan Afghanistan, misalnya, produser bisa memvisualkan sebuah jembatan yang sesungguhnya (itu)— sebuah icon— atau rangkaian kemacetan ketika jalan putus —sebuah index. Atau produser bisa menggambarkan rambu jalan yang menyimbolkan jalan tersebut tidak bisa dilalui. Semua gambaran tersebut bisa dipahami secara mudah oleh audiens Amerika, sesuatu yang tidak menimbulkan persoalan dalam coding-nya.

Analisis isi terhadap pemberitaan televisi menunjukkan bahwa bahasa audiovisual itu bersifat stereotype tidak hanya dalam pengertian tipe-tipe gambaran yang digunakannya  tetapi juga dalam semua bentuk framing-nya.  Misalnya,  the ‘game’ frame — melaporkan politik utamanya dalam pengertian strategi— merupakan mainstream dominan dalam laporan berita tentang politik (Lawrence,2000 : 93). Audienes telah belajar menghubungkan struktur  tersebut dengan gagasan bahwa politik itu sama saja, tidak lebih dan tidak kurangnya hanyalah persoalan “pertempuran” di antara orang-orang yang berambisi kekuasaan.  The game frame dan frame lainnya bisa dijelaskan dengan mudah untuk berbagai situasi politik yang berbeda karena penjelasan itu bisa diramu berdasarkan gambar-gambar dan audio yang terpisah-pisah. Fakta bahwa bahasa audiovisual bersifat stereotype tidaklah berarti bahwa gambar dan framingnya itu identik. Gambaran bencana kekeringan di pertanian Amerika, atau di tempat-tempat tertentu di China atau Argentina, tak diragukan akan  menggambarkan situasi satu sama lain.  Masing-masing rangkaian foto menyajikan informasi yang memberikan pemahaman lebih baik dari situasi yang mirip yang terjadi di tempat lain.

Meng-coding tayangan televisi yang berisi pesan-pesan politik yang signifikan akan menjadi pekerjaan yang sungguh berat jika seseorang harus berhadapan dengan rekaman sejumlah besar gambar yang selalu berubah dengan ribuan detail rekaman yang secara potensial punya arti penting dari berbagai angle dan jarak dan melekat pada konteks yang berbeda-beda pada sejumlah stasiun televisi.  Bagaimana  peneliti kemudian bisa menjadikan prosedur analisis yang kompleks tersebut sehingga menjadi  analisis yang lebih praktis dan mudah diterapkan? Salah satunya adalah dengan menggunakan banyak coding program audiovisual yang tersedia.  Misalnya, sesi legislatif yang ditayangkan televisi dapat dianalisis dengan program seperti program yang menggunakan data transkrip video parlemen di Jerman (Kohler, Biatov,Larson, Eckes & Eickler, 2001).   Prosiding parlementary semacam itu menggunakan kata-kata dan wacana visual yang bersifat universal sehingga memungkinkan dikembangkan tatacara dalam  mengenali sintagmatik audiovisual dan semantiknya.

Mencermati  literatur komunikasi politik yang ada, para ahli yang menekuni analisis audiovisual ini umumnya memerlakukan metode automatis tersebut seperti metode analisis isi manual. Pendekatan yang mereka lakukan  tidak beranjak dari mulai mengidentifikasi, menghitung, dan mencatat setiap objek yang bisa dilihat di dalam tayangan, seperti jumlah orang dan objek, untuk menggambarkan orang atau objek secara detail dan aktivitas yang kelihatan  (Emmison&Smith, 2000).  Para peneliti  telah menggunakan pendeskripsian semacam ini untuk membuat dan menyimpulkan code  makna yang dibawakan melalui gambara/tayangan.  Scene yang menggambarkan polisi yang dikepung oleh para pekerja yang penuh amarah secara langsung akan bisa diprediksi terjadinya kekerasan, sementara polisi yang melatih olahraga para anggota gangster bisa diperkirakan bahwa lingkungan tersebut lebih ramah. Tampaknya, sebagian ahli tersebut lebih memusatkan perhatian pada implikasi psikologis dari teknik  produksi dan editing pemberitaan. Mereka mencatat pengambilan gambar close-up , middle- range, dan long –range termasuk  angle kamera dan shot jarak jauh, fade-out dan fade –in dan berbagai bentuk cuts, menduga-duga bahwa dari berbagai variasi tersebut menunjukkan  dihargai atau tidaknya seorang pemimpin politik dan ditinggalkan oleh audiensnya sedikit banyak terkait dengan scene-scene yang telah mereka saksikan (Kepplinger, 1991Lang, Geiger, Stricwerda&Sumner,1993).

Beberapa ahli tidak lagi  menggunakan coding verbal dan gambaran visual secara individual dan mencoba untuk menggantinya dengan pemahaman terhadap impresi umum yang diciptakan oleh sebuah gambar.  Misalnya, mereka meneliti isi audiovisual  yang membawakan visi retorika atau  fantasi politik atau drama-drama ritual (Hallin &Gatlin,1993; Hershey,1993, Nimmo&Combs, 1989).

Pendekatan yang digunakan oleh Graber – disebutnya sebagai gestalt coding— berdasarkan pada pendeskripsian coding kalimat  dan gambar serta juga berdasar pada catatan atas impresi umum yang lebih luas (Graber,2001). Model ini dilandasi oleh penemuan di kalangan neuroscientis dan psikolog yang telah memahami bagaimana cara kerja manusia di dalam mengambil intisari makna dari teks audiovisual. Para ahli tersebut mendemonstrasikan bahwa rata-rata orang  tidak menyerap keseluruhan informasi yang sampai pada diri mereka. Akan tetapi, orang secara selektif akan mengambil intisari dari sejumlah informasi yang menonjol dari keseluruhan gelombang informasi yang sampai pada mereka. Gestalt coding , dengan demikian, hanya mencatat impresi  audiovisual secara umum beserta makna-maknanya, ketimbang menganalisis gambar dan kata-kata secara mendetail sendiri-sendiri. Dalam prosesnya, model ini menangkap apa yang sesungguhnya audiens serap, dan mengabaikan apa yang tidak diperhatikana audiens. Model ini dengan demikian berorientasi terhadap meanings yang disampaikan kepada rata-rata audiens oleh  siaran televisi, dan bukan mendeteksi setiap butir informasi yang mungkin dikemas  di dalam pesan audiovisual seperti  yang dilakukan dalam content analysis melalui program yang otomatis itu.

Gestalt coding sebenarnya tidak terlalu  bersifat impresionistik karena model ini berdasarkan pada uji pengetahuan dalam pemrosesan informasi. Model ini juga sedikit banyak mirip dengan yang biasa dilakukan dalam skema coding verbal, hanya saja tidak hanya mencari atau mengkoding kata demi kata.  Model ini lebih mencari makna-makna secara umum dari keseluruhan kalimat dan kelompok kalimat, dengan mempertimbangkan konteks keseluruhan dari situasi-situasi tertentu. Ini sama dengan, ketika penonton televisi tidak melihat dan mendengar serta menginterpretasikan setiap kata atau gambar secara terpisah. Atau, seperti halnya ketika pembaca yang membaca  simbol atau pendengar yang menyimak kata –kata yang diucapkan pembicara , mereka pertama-tama akan melihat tujuan umum dari pesan tersebut — inilah yang secara umum disebut gestalt.  Mereka kemudian memilih sejumlah detail yang sejalan dengan tujuan tertentu yang mereka tangkap dalam pesan tersebut berdasarkan stock pengetahuan mereka.  Seperti yang dikutip Salvaggio (1980) “ perhatian penonton di setiap scene tidak perlu difokuskan  terhadap apa yang secara visual di-tandakan (signified), melainkan dipusatkan pada penempatan petanda itu ke dalam gestalt – keseluruhan area yang disarankan oleh apa yang telah mereka lihat “ ( hal 41).

Mendeteksi gestalt dalam rangka melakukan coding biasanya bergantung lebih pada kata-kata yang dipakai sebagai ‘lead berita’ dalam pemberitaan televisi atau gambar yang secara gamblang mengidentifikasikan orang-orang tertentu, lokasi atau situasi tertentu. Petunjuk ini memberi arahan bagi pengkoding terhadap makna keseluruhan dan arti penting dari elemen pesan yang tengah mereka saksikan.  Misalnya, sekelompok anak yang sedang menerima paket makanan  dapat diidentifikasi secara verbal partisipan di dalam program makanan sekolah atau  para anak yatim piatu yang sedang menerima makanan dalam  kamp pengungsian. Pengkoding, seperti kebanyakan penonton televisi, dapat menangkap keseluruhan makna berita melalui petunjuk audiovisual yang sejalan dengan arah pesan sabagaimana mereka pahami, dengan menempatkannya pada area gestalt yang ada pada diri mereka.

Catatan dari penulis:

Artikel ini merupakan bagian akhir dari sub bab “content analysis “ yang diterapkan pada kajian komunikasi politik.  Yang menarik dari tulisan ini adalah tawaran model/pendekatan analisis isi yang selama ini kita kenal hanya sebatas model kuantitatif.  Model analisis isi “gestald coding “ dari Graber ini selain sifatnya yang kualitatif juga memiliki nilai lebih karena dalam proses tidak sepenuhnya mengandalkan interpretasi intuitif peneliti (terhadap apa yang mungkin tersembunyi dalam pesan), melainkan mendasarkan pada proses pemahaman pesan audiovisual oleh audiens. Dengan kata lain, peneliti berusaha menangkap makna yang dipahami audiens terhadap pesan audiovisual dengan mendasarkan pada teori gestald.  Dengan demikian melakukan analisis isi terhadap pesan audiovisual dengan pendekatan ini tidak semata mencatat (meng-coding) apa yang di-tanda-kan oleh petunjuk audiovisual melainkan lebih jauh menangkap implikasi pesan audiovisual itu ketika sampai pada audiens. Makna pesan diperoleh melalui rekonstruksi dengan melibatkan pengirim pesan, pesan itu sendiri dan penerima. Analisis isi  model Gestald coding dari Graber ini sekaligus mengawinkan antara  konsepsi psikologi kognitif dan perspektif interpretatif, yang menurut saya, pendekatan ini  masih baru dalam penelitian analisis isi, khususnya dalam ranah komunikasi politik di Indonesia. (Bersambung dalam artikel dengan tema lanjutan dalam sub judul Studying Channels Through Network Analysis ).

Referensi:

Doris A Graber.  2004. “METHODOLOGICAL DEVELOPMENTS IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH” Dalam Kaid,Lynda Lee (ed).  Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates.  Hal. 57-60.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 15 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “AUDIOVISUAL CONTENT ANALYSIS CHALLENGES”

  1. […] adalah penyebab utama mengapa analisis isi yang intensif itu menuntut biaya yang tidak sedikit.  (Bersambung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: