CONTENT ANALYSIS PROBLEMS

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Seperti metode penelitian yang lainnya, content analysis masih saja menyimpan berbagai ketidaksempurnaan yang serius yang diakibatkan oleh  persoalan validitas dari hasil-hasil penelitiannya. Beberapa sudah disinggung  sebelumnya.  Sebagai tambahan, teknik analisis isi masih diombang-ambingkan di antara silang sengketa yang belum terjawab di antara para ahli sekitar makna yang harus diambil pada pesan yang diteliti.  Apakah makna yang dipetik adalah makna sebagaimana yang dimaksudkan oleh pengirim pesan, atau makna yang ditangkap si penerima pesan. Atau, apakah makna harus direkonstruksi sebagai hasil interaksi antara pengirim dan penerima, sebagaimana yang diterapkan oleh para ahli ketika menerapkan teori interpretasi? Manakala pesan mengandung makna-makna yang beraneka ragam(multiple meanings), seperti yang sering terjadi, makna yang manakah  yang harus dipegang oleh si peneliti? Misalnya, sebuah pesan (berisi) mengundang hanya anggota Konggres dari Partai Republik  ke pertemuan di Gedung Putih, disamping pesan-pesan yang eksplisit ini, mungkin ada sinyal akan adanya pertemuan mendadak yang memang akan diselenggarakan partai tersebut. Namun bisa saja, dipahami sebagai bentuk penghinaan yang disengaja terhadap Partai Demokrat, dan merupakan sinyal ketidaksenangan terhadap manuver yang dilakukan oleh Partai Demokrat tersebut? Lalu, makna yang seperti apakah yang harus ditangkap oleh si peneliti?

Hampir semua analisis isi berkaitan dengan makna denotatif kata-kata atau frase— yang berarti makna menurut kamus— ketimbang makna-makna konotatif-nya—- makna lebih lanjut yang dibangkitkan oleh pesan-pesan tertulis. Banyak peneliti yang menghindari penelitian yang mengedepankan ‘konotasi’, mereka berpendapat bahwa  makna yang seperti itu tidak bisa ditetapkan karena semua pesan bersifat polisemy dengan demikian senantiasa menawarkan bermacam makna untuk berbagai audiens. Meski demikian, terlepas dari persoalan kesulitan dalam memahami makna pesan seperti itu, makna konotasi tidak bisa diabaikan jika peneliti memang hendak mengetahui makna pesan yang sebenarnya memang hendak dibawakan kepada audiens tertentu ( Cohen,1989). Kemungkinan-kemungkinan munculnya multiinterpretasi sebuah pesan bukan berarti bahwa si pengirim tidak bisa menyampaikan konotasi sesuai kesepakatan. Hal itu justru berarti si pengirim pesan barus mengetahui betul bagaimana audiens akan menafsirkan pesan dan  memperhitungkannya dengan seksama.

Analisis isi yang memerlukan biaya besar seringkali memaksa peneliti untuk memilih apakah akan melakukan analisis intensif terhadap sejumlah kecil isi pesan; atau analisis yang dangkal dan kemungkinan terbengkelai  dari sejumlah besar isi pesan. Pertimbangan ekonomis akan membawa resiko pada proses penelitian dan mengancam validitas temuan penelitian.  Misalnya, peneliti yang akan melakukan studi mengenai suratkabar bisa saja hanya melihat pada headline dan halaman mukanya dan langsung berasumsi itu sudah merefleksikan topik berita yang signifikan.  Headline jarang yang  telah mengisyaratkan topik-topik utama yang dicover sebagai sebuah teks untuk berita tertentu dan banyak berita penting yang justru muncul di ‘halaman dalam’ suratkabar. Sama halnya, demi pertimbangan ekonomi, peneliti mungkin  mengkoding keseluruhan berita sebagai  satu topik saja, meskipun dengan mengkoding paragraf demi paragraf, misalnya, akan memunculkan temuan bahwa hampir semua berita ternyata mengandung topik-topik yang beragam. Analisis isi dengan bahan terbatas seperti itu, biasanya akan mengakibatkan distorsi atau tidak terbukanya sebuah isi pesan yang sesungguhnya ( Althaus, Edy, & Phalen, 2001;Wooley,2000).  Analisis isi yang mengkoding isi berita secara utuh dan memberi perhatian sepenuhnya pada keseluruhan berita yang dibawakan dalam sebuah topik berita, meskipun yang demikian ini jarang dilakukan,  adalah penyebab utama mengapa analisis isi yang intensif itu menuntut biaya yang tidak sedikit.  (Bersambung )

Referensi:

Doris A Graber.  2004. “METHODOLOGICAL DEVELOPMENTS IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH” Dalam Kaid,Lynda Lee (ed).  Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates. Hal: 56-57

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 8 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “CONTENT ANALYSIS PROBLEMS”

  1. […] dan bagaimana kaitannya dengan pemberitaanya  yang  diteliti. (Bersambung ke artikel berjudul Content Analysis Problems […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: