CONTENT ANALYSIS TECHNIQUES IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Bila hendak melakukan penelitian dengan fokus pada pesan-pesan politik, maka beberapa model analisis isi  menjadi alternatif  yang bisa  kita gunakan. Metode ini bisa diterapkan untuk semua jenis isi pesan, termasuk yang bersifat tulisan atau dokumen tercetak, pesan yang direkam, film, dan rekaman audio. Pesan bahkan bisa dianalisis  seketika itu juga bila pengamat hadir pada saat mereka (yang diamati) itu mengucapkan pesan politik yang pertama kali.

Menggunakan  pengkoding manual yang telah dilatih untuk mengidentifikasi elemen tekstual masih menjadi pendekatan analisis isi yang paling umum dilakukan. Pada saat  setumpuk data yang  volumenya  sangat  berlimpah itu mulai dianalisis, content analysis yang bersifat ‘manual’  akan sangat menyita waktu,membosankan dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Content analysis dengan menggunakan komputer telah menjadi alternatif yang sangat bagus, meski pengolahan data dengan komputer ini juga akan menghabiskan  biaya yang besar, serta menyita waktu yang tidak sedikit, khususnya ketika berhadapan dengan data yang tidak bisa dibaca mesin pembaca datanya.

Inovasi  melalui komputer pengkoding data merupakan perkembangan paling signifikan dalam  metode analisis isi. Inovasi itu termasuk  kemajuan dalam berbagai paket software untuk bermacam jenis analisis  yang dipakai dalam komputer pembaca data. Beberapa program analisis disertai  fasilitas kamus yang telah diuji mampu mendeteksi isi teks khusus— misalnya pesan-pesan yang berorientasi ideologis, atau pesan dari pembicara politik yang memiliki kemampuan kognitif canggih sekalipun. Peneliti juga bisa membuat kamusnya sendiri dengan menambahkannya pada program ini.

Tugas yang harus dilakukan komputer ini meliputi penghitungan munculnya kata-kata sederhana untuk kemudian diperbandingkan dengan seluruh  teks untuk diidentifikasi  perbedaan dan persamaannya.  Banyak program yang bisa mendeteksi tidak hanya tema-tema tertentu melainkan juga kata-kata tertentu.  Komputer juga bisa mengenali konteks di mana kata-kata atau frase itu dipakai. Dengan program yang bernama : “key word in context” (KWIC), peneliti bisa memilih beberapa kata khusus dalam konteks spesifik daripada harus mengenali semua kata kunci yang ada di dalam keseluruhan teks.

Content analysis bisa bersifat kuantitatif maupun kualitatif. Seringkali, keduanya malah digabungkan untuk mengoptimalkan kelebihan dari masing-masing pendekatan. Analisis isi kualitatif  terhadap  sebuah laporan, wawancara, transkrip FGD, dan pesan-pesan lainnya biasanya mendasarkan diri pada teknik interpretasi pesan yang peneliti pelajari  ketika berinteraksi dengan orang lain sepanjang  hidupnya.  Tipe analisis kualitatif ini, jika dilakukan secara sistematis berdasarkan kriteria yang didefinisikan dengan benar,  bisa sangat bermanfaat dan akurat.  Model tersebut memiliki nilai lebih karena peneliti bisa menggunakan kemampuan intuisinya dalam menafsirkan pesan-pesan yang dihasilkan manusia.  Kemampuan itu mencakup pemahaman akan konotasi-konotasi yang melekat pada pesan-pesan, memahami dampak emosionalnya, dan menarik  implikasi-implikasi yang diyakini bisa lebih luas,  beserta konsekuensi-konsekuensinya.  Meskipun penilaian semacam itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh pendapat dan sikap-sikap individual, namun hal demikian juga mencerminkan memori kolektif dari komunitas kultural di dalam mana pesan-pesan politik tersebut beredar.

Analisis isi kuantitatif , karena berbeda sifatnya dengan analisis isi kualitatif, menyaratkan alat ukur yang bisa mendeteksi secara stabil, meminimalisir penilaian, kriteria yang  tegas dalam pendefinisian elemen pesan sehingga bisa terdeteksi dengan jelas dan adanya indikator yang bisa menandai muncul tidaknya masing-masing elemen data di atas. Kriteria yang dipakai dalam pemilihan data  digunakan untuk  penelitian seksama terhadap isi pesan yang ditentukan sebelumnya. Sebagai contoh, studi mengenai seberapa sering Departemen Perdagangan menggunakan rujukan berdasar  peraturan-peraturan yang dikeluarkan konggres bisa diperoleh dengan meneliti semua laporan tahunan yang dikeluarkan departemen tersebut.  Setiap kali merujuk pada peraturan konggres bisa dicatat dan dihitung dalam skala rating banyak sedikitnya rujukan.

Dengan cara yang  sistematis,  pencatatan data kuantitatif bisa terhindar dari kesalahan yang mungkin lebih banyak terjadi karena kesalahan prosedur karena ketidakmampuan peneliti berjalan sesuai dengan aturan main yang ditetapkan.  Metode analisis isi kuantitatif yang menggunakan komputer, memungkinkan peneliti bisa bekerja dengan sejumlah besar data dan menganalisisnya dengan detil.  Pekerjaan analisis kuantitatif bisa melebihi ketelitian yang dilakukan dalam analisis kualitatif. Prosedur kuantitatif yang detil juga memungkinkan diterapkannya uji matematis yang kompleks dalam implementasinya.  Misalnya, analisis faktorial bisa menghasilkan kluster-kluster konsep yang mungkin akan luput jika dianalisis dengan mengandalkan intuisi belaka.  Analisis multiple regresi memungkinkan peneliti memprediksi perubahan dalam variabel komunikasi yang dapat diperkirakan ketika ada perubahan-perubahan situasi komunikasi. Model matematika menyediakan analisis canggih yang bisa membantu di dalam merestrukturisasi jaringan komunikasi yang tidak efektif.

Baik dalam kualitatif maupun  kuantitatif  keduanya sama-sama berhubungan dengan aspek ‘penghitungan’  karena peneliti kualitatif juga harus memperhitungkan muncul tidaknya karakteristik isi tertentu dalam teks.  Sebaliknya, dalam analisis kuantitatif juga tidak luput dari aspek intuisi. Misalnya, ketika memutuskan apakah kriteria tertentu muncul atau tidak kadang memerlukan pertimbangan subjektif.  Contoh kongkritnya, pencarian otomatis editorial suratkabar selama terjadinya masa krisis internasional mungkin masih memerlukan pemerikasaan yang detil dari pengkoder manusia untuk mengecek bahwa ketika disebutkan kata  ‘ krisis’ benar-benar merujuk pada pengertian krisis dalam peristiwa krisis internasional yang sedang diteliti.

Jika peneliti hendak  melakukan evaluasi terhadap pesan , keterlibatan penilaian subjektif mungkin tidak bisa dielakkan. Misalnya, jika mereka menggunakan skala pengukuran tingkat pentingnya sesuatu, mungkin diperlukan penilaian orang untuk menetapkan apakah posisi “great” urgensi,  akan masuk dalam posisi “somewhat great” atau “ neutral”.  Pembedaan semacam itu masih sulit jika diterapkan dalam program komputer.  Meskipun sekarang, sudah ada beberapa sotware program yang, seperti versi terbaru yang dihasilkan oleh General Inquirer system, bisa menganalisis pembedaan konsep dengan lebih canggih lagi.

Semua jenis analisis isi, tidak memengaruhi keutamaan metodologi yang harus diterapkan, memerlukan serangkaian tahapan penting, dimulai dengan pemilihan bangunan data yang hendak diteliti, untuk  menjelaskan benar tidaknya sebuah hipotesis. Kalau peneliti menggunakan data yang berasal dari arsip,  seperti yang telah disinggung di depan, peneliti tersebut harus hati-hati dengan metode pengumpulan data kearsipannya.

Bila teks yang hendak diteliti sudah dipilih, kemudian harus ditentukan mana yang akan menjadi unit of analysis.  Ini berarti peneliti harus menentukan seberapa banyak bagian dari material riset itu yang akan dikoding untuk mendapatkan informasi apa yang hendak dicari.  Misalnya, jika tujuan penelitian adalah hendak mencari frekuensi munculnya peringatan global di harian Denver Post,  dan yang menjadi unit of analysis adalah halaman muka surat kabar tersebut, maka harus dicatat semua halaman muka yang akan diobservasi itu satu demi satu.  Jika unit analisisnya adalah setiap paragraf yang ada di halaman muka dan global warning disebutkan dalam tujuh paragraf, maka akan ada tujuh data catatan yang bisa diteliti.  Umumnya, semakin kecil unit analisisnya, semakin besar jumlah data yang terkumpul harus diobservasi untuk setiap sampel isi tertentu.  Analisis kualitatif cenderung menggunakan sejumlah besar unit data rekaman analisis dibanding dengan analisis isi kuantitatif yang biasanya hanya memanfaatkan data yang lebih sedikit.

Setelah unit of analysis ditetapkan, tahap selanjutnya adalah mengembangkan kode dan indeks nya sebagai acuan bagi peneliti dalam mendeteksi elemen isi yang ditentukan. Persiapan semacam codebook  yang menggambarkan secara detil bagaimana penelitian harus dijalankan adalah tahap penting dalam analisis isi karena nilai puncak dari penelitian semacam ini terletak pada wawasan dan kecakapan di dalam mendefinisikan dan mengidentifikasikan  variabel yang digunakan dalam analisis. Variabel harus bersifat mutually exclusive  sedemikian rupa sehingga pengkoder bisa membedakan satu konsep dengan konsep lainnya dengan jelas.

Seringkali ada kesulitan di dalam mengidentifikasi elemen-elemen isi yang harus dicatat. Misalnya, peneliti mungkin hendak mencaritahu seberapa sering identifikasi ras termasuk di dalam file personal agensi. Haruskah dijelaskan bahwa dalam alamat klien termasuk sudah ada identifikasi ras-nya ketika ada keterangan daerah di mana sebagian besar penduduk di daerah tersebut ditinggali oleh  warga dengan ras tertentu ? Pertanyaan  di atas menggambarkan betapa harus telitinya dalam membuat keputusan pengkodingan dan pentingnya alternatif jawaban.

Efektivitas dari codebooks dan kesuksesan pengkoder di dalam mengikuti petunjuk secara akurat dapat dicek melalui berbagai uji reliabilitas guna melihat  reliabilitas antarkoder—penjelasan sampai sejauhmana  kesesuaian di antara pengkoder terhadap kode pilihannya.  Pengujian memerlukan penghitungan prosentase kesesuaian pengkoder yang didasarkan pada jumlah total keputusan koding.  Beberapa di antaranya menggunakan formula yang lebih spesifik, seperti rumus Scot’s pi. (Holsty, 1969 ; Neuendorf, 2001).

Meski kesesuaian sempurna di antara keputusan koding itu jarang terjadi, angka normal yang diharapakan terjadi dalam reliabilitas antarkoder adalah sekitar 80% atau lebih. Reliabilitas antarcoder menunjukkan kemampuan pengkoder untuk mengulangi keputusan pengkodingan mereka setelah selang waktu kemudian.  Bagi pengkoder yang sudah terlatih, semestinya akan memeroleh skor yang lebih tinggi ketimbang skor kesesuaian antarkodernya. Bila kesesuaian antara koder di antara para pengkoder yang telah terlatih berada dalam batas bawah ambang normal, maka yang harus direvisi adalah kategori variabelnya.

Tujuan penelitian content analysis berbeda-beda demikian juga metode yang diterapkannya  (Riffe, Lacy & Fico,1998). Misalnya, ada peneliti yang berminat pada simbol-simbol politik, maka bisa menggunakan analisis dramaturgi dan fantasy theme analysis  untuk mengesplorasi dramatistik dan fantasy themes  yang ada dalam kehidupan politik.  Beberapa ahli  menggunakan pendekatan hermeneutik untuk mengkaji konstruksi kata-kata dari makna-makna sosial. Sementara ahli-ahli lainnya menggunakan ethnometodology  untuk mengkaji bagaimana orang memberikan penjelasan tentang pengalaman keseharian mereka. Kemudian pendekatan interaksi simbolik bisa dipakai untuk mengetahui bagaimana orang menggunakan simbol-simbol untuk berkomunikasi dengan orang lain. Nimmo dan Combs ( 1990), misalnya, menggunakan perspektif dramaturgi untuk meneliti komunikasi dalam sebuah pemilihan umum.  Mereka mengkonseptualisasikan pemilu sebagai ritual dramatistik yang dimainkan di hadapan para audiens pemilih untuk mempertontonkan para kandidat dalam sebuah panggung percaturan politik. Nimmo dan Combs mencatat audiens menerima panggung retorika tersebut sebagai sesuatu yang nyata dan menggunakannya sebagai pertimbangan dalam pemilihan.

Para peneliti seringkali mengkaji pesan sebagai sebuah petunjuk untuk memahami kondisi politik, sosial dan ekonomi, misalnya dalam peristiwa ketegangan internasional,  keyakinan di dalam memerintah, dan ketakutan sehubungan dengan merosotnya keadaan ekonomi.  Pada tahun 1950-an dan 1960-an, misalnya, sekelompok ilmuwan sosial terkemuka bekerja sama dalam studi RADIR di Institusi Hover.  RADIR singkatan dari Revolution And Development of International Relations. Para peneliti tersebut meyakini bahwa mereka bisa memeroleh pemahaman dan struktur-struktur yang bernilai yang lazim dari berbagai bangsa dengan meneliti citraan yang disebarkan melalui media massa di negara – negara tersebut. Jika suhu politik tersebut bisa dikenali, maka kita bisa memprediksi perkembangan politik di negara-negara tersebut ( de Sola Pool, 1959; Laswell & de Sola Pool, 1952).

Akhir-akhir ini, para peneliti telah memusatkan perhatian pada  Undang-undang Telekomunikasi 1996 untuk mendeteksi apakah kepentingan dari pemilik media pemberitaan telah masuk dalam cakupan undang-undang tersebut (Gilens & Hertzman, 2000). Mereka telah meneliti bagaimana perspektif dari pemberitaan ( seperti saat penantian euro sebagai mata uang baru Eropa atau jurnalisme publik di New Zealand) dibuat untuk menentukan framing yang terjadi dan konsekuensi-konsekuensinya ( McGregor, Fountaine & Comry, 2000; Semetko & Valkenburg, 2000).Dan mereka juga telah menganalisis pidato-pidato kampanye untuk mendeteksi tema-tema spesifik yang digulirkan serta pola-pola retorikanya ( Benoit,Blaney & Pier,2000; Hershey&Holian,2000).

Isi pesan juga dapat digunakan untuk memahami karakteristik psikologis, keyakinan, motivasi dan strategi-strategi yang dimiliki oleh para pemimpin politik( DeMause, 1986; Winter&Carlson,1988) .  Meskipun  karakteristik psikologis tetap tidak jelas, manfaat dari kajian masih bisa diambil dari pemahaman tentang konfigurasi kekuasaan berdasarkan kutipan-kutipan yang diambil oleh para politisi tersebut dan bagaimana kaitannya dengan pemberitaanya  yang  diteliti. (Bersambung ke artikel berjudul Content Analysis Problems )

Referensi :

Doris A Graber.  2004. “METHODOLOGICAL DEVELOPMENTS IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH” Dalam Kaid,Lynda Lee (ed).  Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates. Hal 53-56.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 7 Juli 2013.

Satu Tanggapan to “CONTENT ANALYSIS TECHNIQUES IN POLITICAL COMMUNICATION RESEARCH”

  1. […] (Bersambung ke judul artikel CONTENT ANALYSIS TECHNIQUES ) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: