A Semiotic Analysis of a Newspaper Story (Helen Gambles 1998)

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Analisis semiotik sesungguhnya tidak hanya melulu dipakai untuk teks media visual;  “news” atau berita, atau dalam konsep di Barat lebih disebut “story” juga bisa dianalisis dengan semiotik. Bagaimana caranya? Tulisan ini dikutipkan dari karya Helen Gambles (1998) yang melakukan analisis terhadap tiga surat kabar yang memberitakan satu peristiwa yang waktu itu sempat menggemparkan: pembunuhan seorang polisi wanita! Mari kita pelajari contoh bagus analisis berikut ini.

Sebelumnya, kita simak dulu pendefinisan “news” itu apa. Menurut Bignell  (1997:81), news tak hanya merupakan fakta (facts), namun lebih sebagai representasi yang diwujudkan berupa bahasa dan tanda-tanda lain semisal foto.  Suratkabar itu sendiri hanyalah salah satu medium komunikasi yang isinya news; media lainnya bisa berupa  televisi, radio, majalah dan internet.  Tulisan ini  lebih memusatkan perhatian pada satu item berita tertentu yang diberitakan dalam tiga suratkabar Inggris yaitu The Sun, The Telegraph dan The Times. Kisah atau story yang diberitakan adalah tentang kematian seorang polisi wanita akibat ditikam oleh seorang laki-laki ketika sedang bertugas. Medium surat kabar menarik dijadikan korpus penelitian karena merupakan penanda yang secara simultan menyajikan serangkaian tanda-tanda konkrit di mana pembaca bisa membaca berita tersebut secara berulang-ulang, berbeda misalnya kalau diberitakan melalui televisi atau radio yang hanya bisa didengar atau dilihat dalam sekali waktu.

Proses pemilihan berita merupakan inti dari produksi suratkabar.  Ini terkait dengan pemilihan peristiwa (events) yang dipertimbangkan sebagai sesuatu yang bernilai untuk dicetak  menjadi berita, dan juga melibatkan pengabaian “news” yang dinilai tidak relevan, tidak penting, atau tidak berharga sebagai sebuah liputan.  Dengan demikian, berita tidak lain adalah konstruksi sosial bergantung pada apa yang disinyalir sebagai hal penting oleh orang-orang yang bekerja di industri pemberitaan, didasarkan pada kode-kode perilaku (codes of behaviour) tertentu yang telah dipelajari selaku jurnalis di dalam melaksanakan tugasnya.  The codes of behaviour  atau aturan main yang telah dipelajari oleh jurnalis ini tentu saja  bergantung pada lembaga suratkabar tempat mereka bekerja.

newspaper 1Sudah menjadi pamahaman masyarakat bahwa di kalangan orang dewasa Inggris telah sadar akan konvensi yang berbeda-beda yang berlaku di masing –masing perusahaan suratkabar. Analisis ini nantinya akan menyoal tipe sistem penandaan di mana oleh surat kabar tertentu di-encode di dalam  pemilihan berita; dan bagaimana perbedaan sistem penandaan ini bisa berimbas pada makna tertentu. Kalau kita  memperhatikan surat kabar The Sun, The Telegraph, dan The Time, yang sama-sama beredar pada hari Sabtu, 18 April 1998 masing-masing suratkabar tersebut memberi penilaian akan pentingnya berita pada item yang berbeda-beda. Hal ini nampak semakin jelas kalau dilihat dari halaman depan dari masing-masing suratkabar, di mana halaman depan The Sun memusatkan pada berita hubungan antara Patsy Kensit dengan Liam Gallagher; bandingkan dengan berita utama The Telegraph yang berpusat pada komite ilmiah yang menyarankan pada kementerian akan pentingnya keamanan produk makanan; dan halaman depan The Times meng-cover   berita mengenai pertunjukan National Lottery Big Ticket yang baru yang ditayangkan di BBC.

newspaper2Namun demikian, analisis ini tidak berkonsentrasi pada perbandingan dari masing-masing berita utama tersebut. Apa yang dikemukakan di atas hanyalah contoh betapa drastis perbedaan yang bisa terjadi di masing-masing suratkabar dalam mengemas berita utamanya. Contoh di atas juga menggambarkan adanya perbedaan interpretasi karena konvensi masing-masing  suratkabar, kepada berita yang dipilih berdasarkan pentingnya berita tersebut sehingga dimuat sebagai halaman muka. Sebagaimana bisa dilihat di suratkabar The Sun di mana berita utamanya jelas mendominasi halaman mukanya. Meski demikian, tidak sama halnya dengan kedua suratkabar yang lain, perbedaannya tidak begitu menonjol.  Peneliti telah men-decode tanda-tanda di halaman muka berdasarkan asumsi ideologinya, dan dengan itu peneliti sampai pada pemahaman melalui beberapa kode tertentu yang dihadirkan di dalam medium suratkabar di masing-masing suratkabar. Peneliti menemukan bahwa kriteria utama ketika menentukan apakah sesuatu berita itu penting dan tampil di halaman muka dari The Telegraph dan The Times adalah melalui ukuran dan tampilan muka dari headlinenya.  Akan tetapi, orang lain mungkin  saja memilih berita itu berdasarkan besar kecilnya foto berita. Ini menandaskan bahwa para pembaca memahami suratkabar dengan seperangkat kode yang akan dipakai untuk men-decode text berita tersebut, dan kode-kode ini bisa saja berbeda untuk tiap-tiap individu.  Hal ini membawa kita pada satu gagasan bahwa text itu bersifat terbuka terhadap berbagai interpretasi bergantung pada acuan ideologis dari pembacanya, dan bagaimana si pembaca itu mengenali surat kabar dan kode-kode yang dipakai untuk mengkomunikasikan berita tersebut.  

newspaper3Konotasi  kebahasaan  dan tanda-tanda visual yang ditampilkan oleh suratkabar menjadi penting di dalam menghadirkan makna dari item berita kepada pembaca.  Konotasi dari item berita diterima sebagai bagian tak terpisahkan dari kerangka kode dan dikenali sebagai kode-kode yang melekat dalam suratkabar yang berbeda-beda. Jadi jelas bahwa suratkabar yang berbeda menggunakan kode narative tertentu ketika merepresentasikan satu item berita yang sama. Hal ini tampak pada tiga headline yang mengacu pada berita tentang penikaman polisi wanita ,di mana peneliti pilih untuk diteliti.  The Sun melansir  headline dengan menulis :  SCANDAL OF PSYCHO FREED TO KILL HERO COP NINA;  The Telegraph menurunkan : WPc was knifed to death after removing armour ; dan The Times menampilkan : WPc paid with her life for dedication to duty. Masing – masing kode narative itu digunakan dalam headline yang intinya  menyajikan kerangka di mana dibangun sesuatu makna terhadap item berita.  Headline adalah sintagmatik bahasa yang dipakai untuk menarik perhatian pembaca kepada topik berita dan sistem penandaan yang dipakai di dalam headline mengarahkan pembaca pada kode yang sesuai yang bisa digunakan untuk memahami atau men-decode item berita tersebut.

Jelas bahwa suratkabar-suratkabar tersebut menggunakan kode lingustik yang berbeda sebagai cara dalam merepresentasikan berita.   The Times dan The Telegraph memiliki kesamaan di dalam pemakaian bahasanya. Meski demikian, keduanya memiliki perbedaan yang mencolok dibanding suratkabar The Sun. Kelihatan jelas bahwa The Sun menggunakan kosakata berbasis percakapan, dramatis serta menggunakan gaya bahasa sensasional. Ini tampak pada kalimat pertama dari berita tersebut : “violent cop-hating nut killed brave WPC Nina Mackay after a catastrophic catalogie of blunders by Crown prosecutors and police allowed him to room free“. Artikel tersebut juga menggunakan aliterasi sebagai penekanan. Misalnya pada frase ‘catastrophic catalogue’ dan juga pada frase ‘scandal of psycho’. Kode bahasa yang dipakai dalam berita tersebut tentu saja berkonotasi ujaran yang pada gilirannya membawa konotasi pada “familiarty”, “informality” dan “camaraderie” (persahabatan). Artikel tersebut juga membawa implikasi bahwa korban adalah orang yang sudah dikenal publik, yang disebut dengan panggilan “Nina” dimana akan menjadi berjarak alias tidak dikenal manakala disebut dengan nama aslinya, Elgizouli. Kode familiarity ini dengan sangat jelas berbeda dengan yang dipakai dalam The Telegraph dan The Times, yang menyebut korban baik dengan kemampuan profesionalnya maupun dengan sebutan nama aslinya. Yang penting dicatat adalah si pelaku disebut dengan menggunakan nama aslinya dalam semua bagian yang muncul dalam pemberitaan.  Strategi penjarakan pelaku kriminal dengan pembacanya ini digunakan oleh ketiga surat kabar. Jelas mengarahkan pembaca bahwa “preferred reading “ dari teks adalah tidak perlunya memberi simpati pada si pelaku.

Perbedaan mencolok lainnya di antara suratkabar tersebut di dalam merepresentasikan berita itu adalah pada perangkat typography yang digunakan untuk memberi efek dramatis pada teks. The Sun berbeda secara mencolok dibandingkan The Telegraph dan The Times karena menggunakan huruf tebal untuk mengawali artikel, seakan menegaskan fungsi headline dalam menarik perhatian pembaca pada topik berita tersebut. Penggunaan huruf tebal dan satu huruf besar pada subheadline yang diterapkan di sepanjang teks berfungsi mengarahkan pembaca di dalam memaknai teks keseluruhan dan memberikan penekanan pada point penting sejalan dengan makna penting yang akan dikemukakan oleh suratkabar yang bersangkutan.  The Telegraph dan The Times tidak menggunakan kode typography seperti halnya dalam The Sun dengan tidak menggunakan huruf tebal untuk headlinenya dan juga huruf tebal pada jurnalis yang menulis artikel tersebut.  Narasi berita menggunakan jenis dan ukuran huruf yang sama dengan berita lainnya. Alasannya, bisa jadi ini berkonotasi pada otoritas dan formalitas dari pembacanya yang juga ditunjukkan dengan kalimat-kalimat yang relatif panjang, dengan ejaan yang tepat, kurang menekankan pemakaian colloquial language (bahasa percakapan) seperti “cop” yang digunakan seperti dalam The Sun. Hal demikian kemungkinan juga menunjukkan “kualitas” suratkabar sekelas The Telegraph dan The Times yang mampu menyajikan berita yang lebih baik ketimbang tabloid sekelas The Sun. Meski demikian,  judgement penilaian semacam ini tidaklah tepat jika diterapkan karena kedua surat kabar itu melakukan konstruksi berita sebagai suratkabar yang ditujukan pada pembaca yang memiliki otoritas dan bersifat formal, sedangkan suratkabar /tabloid populer dimaksudkan untuk menghasillan konotasi pada “tindakan menceritakan bagaimana sesuatu itu terjadi”. Dengan demikian, kedua jenis suratkabar tersebut merepresentasikan item berita dalam mitos pemaknaan yang berbeda.

Bahasa dan kode typography bukan satu-satunya kode yang digunakan surat kabar dalam wacana berita. Kode graphic juga harus dipertimbangkan. Foto yang dipakai dalam surat kabar juga melalui proses penyeleksian. Satu foto dipilih dari sekian banyak foto yang membawa konotasi foto yang dipilih itu membawa pesan dari suratkabar untuk dikomunikasikan kepada pembaca. Barthes (mengutip Bignell,1997:98) mengatakan bahwa foto suratkabar adalah suatu objek yang sudah mengalami pengerjaan tertentu, dipilih, disusun, dikonsruksi, menurut cara-cara yang profesional, dengan pertimbangan estetika maupun norma etika, dengan begitu banyak faktor konotasi yang menyertai. Perlakuan terhadap foto yang dimaksudkan oleh Barthes ini, tentu saja berbeda-beda menurut surat kabar yang melakukannya. Yang menarik masing-masing versi berita ternyata menggunakan foto yang sama, namun dengan perlakuan yang berbeda menurut konotasi makna yang mereka kehendaki. Masing-masing representasi menggunakan foto yang sama yakni wajah polisi wanita mengenakan seragam menghadap kamera dan wajah si pelaku yang melihat ke arah menjauh menghindari kamera. Lagi-lagi, The Times dan The Telegraph menggunakan kode yang sama,  dan The Sun menggunakan strategi yang secara dramatis berbeda dari versi foto aslinya. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada The Sun menampilkan foto berwarna, yang membawa konotasi pada keadaan sungguh-sungguh dan betapa berbahayanya si pelaku kriminal. Hal ini juga dikonotasikan melalui ukuran foto, dengan menampilkan grafis yang secara dominan lebih besar porsinya dibanding keseluruhan ruangan halaman tetsebut, yang secara dramatis berbeda di antara penampilan The Sun dibandingkan dengan kedua surat kabar lainnya.

Disamping perbedaan utama tersebut, penting dicatat bahwa semua surat kabar menggunakan foto yang sama dan menarik jika memerhatikan mengapa foto khusus ini yang mereka pilih. Secara paradigmatik, sebuah foto menyimpan sebuah konotasi tertentu, dan dengan demikian arti penting mengapa foto tertentu itu dipilih bisa dilihat lebih jelas ketika mempertimbangkan konotasi paradigmatik lain yang mungkin bisa muncul. Misalnya. konotasi dari foto polisi wanita yang menjadi korban akan berbeda kalau tidak sedang mengenakan seragam. Sama halnya konotasi foto akan berbeda kalau menggambarkan si pelaku tampak sedang menatap kamera dan tersenyum, dan bukan foto pelaku tersebut yang menghindari kamera dengan ekspresi kosong menandakan tidak adanya emosi.

Pasangan berlawanan yang tampak di dalam hubungan paradigmatik adalah “rasa tidak bersalah” vs “bersalah”; “keadilan” vs “ketidakadilan”. Pasangan berlawanan ini akan nampak lebih jelas ketika melihat dari sekelumit teks yang melekat dalan foto tersebut (caption). The Times menyajikan pasangan berlawanan menurut versinya sendiri tampak dari teks yang menempel di foto tersebut :”kiler” dan “killed” . Sebagaimana dikemukakan oleh Bignell (1997:99) caption yang melekat pada foto akan memampukan pembaca menarik foto tersebut pada makna kultural tertentu dan fungsi dari foto tersebut kemudian menjadi bukti bahwa teks yang disajikan itu benar adanya. Foto-foto tersebut juga ditampilkan dalam berbagai konteks yang berbeda di antara ketiga suratkabar tersebut di mana The Sun menggunakan strategi yang berbeda dibanding The Telegraph dan The Times. The Telegraph dan The Times menggunakan foto yang ukurannya sama baik foto kotban maupun pelaku. Sedangkan pada The Sun ukuran foto individu – individu itu berbeda, di mana foto si pembunuh ditampilkan lebih besar ukurannya dibandingkan foto korban. Juga, foto polisi wanita yang menjadi korban tersebut ditampillan dalam wujud foto seakan dalam frame sehingga berkonotasi sentimental. Sisi sentimental yang dibawakan foto lainnya dalam The Sun adalah foto yang menggambarkan peti mati dari polwan tersebut yang tengah diusung oleh para koleganya. Ini menjadi penanda kultural yang bagi sebagian besar pembaca akan mampu mengaitkannya dengan dan mengkonotasikannya pada suatu simpati, tragedi, dan ketidakadilan.

Diskusi kita mengenai representasi beberapa suratkabar tentang satu item berita yang sama ini menunjukkan betapa analisis semiotik bisa menunjukkan makna apa saja yang muncul dari berita tersebut  sebagai akibat dari penggunaan bahasa dan tanda-tanda visual dalam sebuah teks. Meski demikian analisis semiotik tidak bisa menunjukan bagaimana individu pembaca akan menginterpretasikan representasi dari berita tesebut dalam konteks sosial sesungguhnya. Analisis semiotik hanya menawarkan suatu cara untuk melihat faktor-faktor yang bekerja dalam proses produksi berita dan mengenali berbagai kode yang dipakai oleh jenis suratkabar yang berbeda ketika merepresentasikan suatu berita tertentu.

Sumber : http://www.aber.ac.uk/media/Students/hlg9501.html

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 27 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: