NEW COMMUNICATION TECHNOLOGIES

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Yang pertama dan merupakan contoh bagus penerapan teknologi komunikasi interaktif baru adalah pada proyek di Santa Monica, CA yang namanya Public Electronic Network (PEN). PEN didesain untuk mendorong perubahan situasi komunikasi, khususnya yang berkaitan dengan persoalan politik, di antara warga penduduk Santa Monica, sebuah komunitas di sekitar pantai di Los Angeles. Proyek penelitian PEN yang  berlangsung selama enam tahun ini dilakukan oleh para ahli komunikasi dari University of Southern California ( Colling-Jarvis, 1993; Guthrie&Dutton, 1992; Rogers, Collin-Jarvis &Schimtz, Rogers, Phillips& Pascal, 1995). PEN punya makna penting karena pada saat proyek itu dimulai, tahun 1989, bertepatan dengan tersedianya jaringan elektronik yang berhubungan dengan kegiatan/pelayanan pamerintahan yang disediakan secara gratis kepada warga kota tersebut. Ada 5300 penduduk Santa Monica (dari total populasi 90.000orang) yang kemudian terdaftar sebagai pengguna PEN,dan hampir mendekati 60.000 akses melalui PEN ini tercatat tiap tahun. Dalam perjalanan waktu hampir 1500 pengguna yang masih aktif menggunakan PEN. Setidaknya  200 lalu lintas pesan elektronik  setiap bulannya di antara para warga dan pegawai pemerintahan.

PEN dilaunching di era di mana ada semacam optimisme terhadap bentuk teknologi komunikasi interaktif baru guna meningkatkan partisipasi politik warga.  Internet mulai ada tahun 1989, namun baru menyebar pada prosentase kecil dari warga Amerika Serikat.  Santa Monica lebih dulu memiliki tradisi yang cukup kuat dalam hal aktivitas politik.  Pegawai pemerintahan kota kemudian meminta perusahan komputer di Amerika Serikat agar mendonasikan perlengkapan jaringan tersebut. Perangkat ini mencakup 20 terminal publik yang ditempatkan di perpustakaan kota, pusat pertemuan para warga manula, dan gedung-gedung  lainnya.  Setidaknya  20% PEN log-on berasal dari terminal publik di atas, dan sisanya dari gedung-gedung pemerintahan.  Terminal publik, pada mulanya hanya diharapkan menjadi bagian kecil dari desain sistem PEN, yang ternyata berubah menjadi penting sebagai sarana bagi masyarakat yang tidak memiliki tempat tinggal untuk bisa memeroleh akses pada sistem komunikasi elektronik.

Ted, salah seorang tunawisma yang ada di Sanata Monica, menuliskan sebuah pesan dalam sistem PEN demikian : “I… spent many hours in the Library, it is my home more or less. Then I discovered PEN and things have never been the same. PEN is my main companion; although it can’t keep me warm at night, it does keep my brain alive”.   Pada waktu itu, di Santa Monica,  diperkirakan terdapat  populasi tuna wisma antara 2000 sampai 10.000 orang. Mereka dianggap oleh sebagian warga yang mapan sebagai persoalan sosial yang perlu diprioritaskan di Santa Monica, dan diskusi awal dari sistem PEN yang dilakukan oleh orang-orang yang mapan itu adalah keluhan mereka perihal  kaum tunawisma. Maka kaum tunawisma ini, dengan menggunakan terminal publik, mulai berpartisipasi dalam PEN. Mereka merespon kritikan sebelumnya yang mempersepsi mereka sebagai pemalas dengan berdalih bahwa sesungguhnya mereka menginginkan memeroleh lapangan pekerjaan tetap namun tidak memungkinkan melamar gara-gara  penampilan mereka. Segera kemudian, sekitar 30 warga mapan dan juga yang tunawisma membentuk PEN Action Group dengan maksud mencari jalan untuk memecahkan persoalan tersebut.  Mereka pun mencari sesuatu tempat yang bisa digunakan untuk menampung aktivitas SHWASHLOCK (Shower, WASHers & LOCKers). Di tempat itulah para tunawisma bisa mandi dan menyimpan barang-barang mereka, belajar menggunakan komputer dan memeroleh akses ke sumber info lowongan pekerjaan. Manfaat  dari SHWASHLOCK ini, sejumlah tunawisma pun berhasil memeroleh lapangan pekerjaan.

Penting dicatat, PEN menawarkan sebuah ruang di mana orang-orang yang semula tidak bisa berinteraksi bisa ikut serta memberi solusi memecahkan persoalan yang dihadapi bersama. Don, salah seorang pemimpin proyek PEN Action Group, mengatakan “ Tidak ada orang di PEN yang tahu kalau sebenarnya saya tunawisma kalau saya tidak memberitahu mereka. PEN juga spesial karena setelah saya memberitahu mereka, saya pun masih diperlakukan sebagaimana layaknya manusia biasa. Bagi saya, yang paling luar biasa dari komunitas PEN adalah anggota dewan kota dan orang-orang biasa, bisa saling bekerja sama, meski memang tak selamanya serasi, namun berangkat dari dasar yang sama”. Dengan demikian PEN menunjukkan bahwa sistem komunikasi elektronik memiliki potensi menyatukan segala macam “jenis” anggota masyarakat. (meski demikian perlu dicatat, bahwa kemampuan PEN ini dalam hal menjembatani jarak sosial ini tidak mungkin terlaksana jika tanpa menggunakan “public terminal”)

Pelajaran lebih lanjut yang bisa dipetik dari Proyek PEN ini adalah bahwa setidaknya beberapa persoalan sosial yang muncul dalam sistem hampir semua bisa dipecahkan oleh sistem itu sendiri. Misal, dalam bulan-bulan pertama beroperasinya PEN, para pengguna perempuan mendapat serangan verbal (pelecehan verbal) dari lelaki tertentu. “Derogatory message” (pesan yang isinya menghina atau melecehkan) yang dikirimkan kepada pengguna PEN yang nama pertamanya “perempuan” ( seseorang harus menggunakan nama aslinya), sejalan dengan pesan-pesan yang bermuatan pelecehan seksual dari  laki-laki ( seperti cerita porno di mana nama perempuan tersebut dicatut di dalamnya). Banyak perempuan pengguna PEN yang tidak lagi menggunakan sistem karena  menemui serangan verbal yang bersifat personal ini.  Kendati demikian, ada 30 perempuan  yang masih bertahan kemudian mendeklarasikan PENFEMME,dengan tujuan mengorganisasikan cara guna menanggulangi serangan verbal ini.  Keputusan pertama mereka tidak semata merespon serangan seksual laki-laki. PENFEMME mendekatkan diri pada partisipan laki-laki dan memfokuskan pada isu-isu seputar kekerasan domestik, kesetaraan seksual, pemeliharaan anak, dan kembalinya para ibu rumah tangga ke dunia kerja ( Collins-Jarvis, 1993). Orang yang menentang gerakan antiserangan terhadap perempuan umumnya teridentifikasi dari kalangan remaja lelaki. Segera kemudian, 30 % dari aktivis dalam sistem PEN ini adalah perempuan. Ini merupakan contoh yang menggambarkan  proses bagaimana orang yang tidak berdaya mengatasi situasi mereka.

Dari analisis isi diketahui bahwa sebagian besar pertukaran pesan dalam PEN konsentrasinya adalah pada persoalan politik lokal.  Dalam sebuah komunitas di mana semula warganya sudah aktif di dalam aktivitas politik, maka tidak mengherankan jika sarana komunikasi interaktif yang baru digunakan untuk mendiskusikan persoalan politik. Internet, saat ini digunakan oleh sekitar 70% orang dewasa Amerika, memainkan peran penting di dalam politik pemilu ( seperti dijelaskan di awal serial tulisan ini) dan dalam  berbagai bentuk perilaku komunikasi politik lainnya.

Satu persoalan yang membatasi dampak internet adalah the digital divide (kesenjangan digital), suatu proses melalui mana kemanfaatan internet hanya jatuh ke kalangan individu tertentu yakni mereka yang memiliki akses pada komputer dan jaringan internet dan relatif tidak membawa kemanfaatan bagi individu yang tidak memiliki akses tersebut.  Saat ini, hampir 544 juta orang yang menggunakan jaringan internet, sekitar 8 % dari total populasi. Di beberapa negara, dan di wilayah-wilayah yang masih miskin di Amerika Serikat, “telecenters dan cyber cafes ( Rogers, 2002b) telah menyediakan akses bagi penduduk untuk menggunakan komputer dan jaringan internet, yang berarti akan mengatasi persoalan kesenjangan digital tadi.

SIMPULAN

Tema yang disajikan dalam (serial tulisan) ini adalah awal berkembangnya studi komunikasi di tangan Walter Lippmann, Harold Laswell, Paul F Lazarsfeld dan yang lainnya yang kemudian sangat berpengaruh dalam kajian komunikasi politik. Para ahli komunikasi politik menempatkan fokus utamanya pada media komunikasi massa, meski dalam perkembangan pemahaman kemudian muncul keterkaitan antara media dengan komunikasi interpesonal.  Pesan media seringkali menstimulasi komunikasi interpersonal tentang sesuatu topik, yang melalui jalur komunikasi interpesonal kemudian mengarah pada perubahan perilaku dalam sebuah proses yang diantarai media ( Rogers, 2002a).

Dari awalmula penelitian ( seperti dalam the Erie County Study), riset komunikasi politik memfokuskan dependent variabelnya pada level individu (misal dalam hal voting choices).  Sebaliknya , sebagian besar  perhatian studi komunikasi politik, misal masyarakat pasif dan tidak melek informasi, justru merupakan level sosial. “Hampir sebagian besar tindakan politik dan hubungan kekuasaan bekerja pada level  sosial atau dalam level sistematik yang lain, sementara sebagian besar teori empiris dan penelitian justru  berkonsentrasi pada perilaku individu ( McLeod et.al. 2002:232).

Menghubungkan level individu dengan persoalan-persoalan masyarakat (level sosial) menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli komunikasi politik, mereka sama-sama memiliki keyakinan normatif dalam semangat meningkatkan kemajuan fungsi demokrasi. ( TAMAT)

Referensi:

Kaid,Lynda Lee (ed).2004. Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 23 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “NEW COMMUNICATION TECHNOLOGIES”

  1. […] yang mengingatkan kembali pada masa keemasan Walter Lippmann.  ( Bersambung ke artikel berjudul  New Communication Technologies […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: