Diffusions of News Events

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Jenis penelitian komunikasi  lain yang dilakukan pada tahun 1960-an oleh kader peneliti baru yang juga punya pengalaman sebagai jurnalis surat kabar profesional dan memeroleh gelar doktor komunikasinya dari Universitas Stanford adalah  penelitian yang dikenal sebagai “ the study of news event difussion”. Paul J. Deutschmann dan Wayne Danielson (1960)-lah sebagai perintis kajian yang melahirkan paradigma  ‘penelitian penyebaran berita’ ini. Mereka memeroleh data penelitiannya melalui pengambilan  sampel dari masyarakat segera setelah kemunculan berita sesuatu peristiwa yang relatif menggemparkan, menanyakan  dari channel atau media apa responden mengalami semacam kesadaran awal –  pengetahuan tentang adanya berita suatu peristiwa itu diperoleh, dan saluran media lain untuk memeroleh informasi lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut , serta kapan pertama kali responden mengetahui adanya berita peristiwa tersebut. Simpulan umum penelitian mengenai penyebaran berita ini adalah bahwa media, khususnya media penyiaran, dalam tahapan tertentu penting perannya dalam menyebarkan berita-berita peristiwa utama. Ketika diplot dari waktu ke waktu, pengetahuan individu akan perkembangan berita itu pada mulanya bertambah secara lamban, kemudian bertambah secara cepat karena dibangkitkan oleh saluran komunikasi interpersonal dan  akan berakhir sehingga membentuk gambaran kurva penyebaran informasi itu seperti bentuk S, yang merepresentasikan bagaimana individu memeroleh pengetahuan mengenai peristiwa tertentu yang dibawakan berita itu. Kurva bentuk S ini mirip dengan apa yang terjadi dalam peristiwa penyebaran inovasi teknologi selama ini dan studi tentang penyebaran berita ini pada mulanya memang dipengaruhi oleh penelitian difusi sebelumnya ( Rogers, 2003).

Kajian Deutschmann dan Danielson (1960 ) terhadap penyebaran berita ini mendorong  diadakannya  penelitian yang sejenis, yang hampir sebagian besar dipusatkan pada berita-berita peristiwa yang sedikit banyak berbau politik : misalnya berita pembunuhan presiden atau kepala negara, pengunduran diri pejabat  teras tertentu, atau bencana berskala  besar. Tidak kurang ada 60 penelitian mengenai penyebaran berita ini telah dipublikasikan hingga sekarang. DeFleur (1987) menyimpulkan bahwa bidang kajian mengenai penyebaran berita ini telah mengalami penurunan trendnya karena pertanyaan yang hendak dicari dalam riset itu telah terjawab. Kendati demikian, selama beberapa dekade terakhir atau bahkan sampai sekarang pun,  perkembangan  mutakhir dari studi mengenai penyebaran berita ini telah dilakukan dengan mencoba mengekplorasi pertanyaan-pertanyaan lanjutannya (Rogers, 2000). Misal,  penelitian yang dilakukan oleh the Mayer,Gudykunst, Perril dan Merrill (1990) tentang penyebaran berita seputar malapetaka Challenger, yang mencuat tanggal 26 Januari 1986, dan menunjukkan pentingnya waktu pada hari demi hari sepanjang minggu munculnya berita peristiwa tersebut di mana hampir semua individu menggunakan  media atau saluran komunikasi interpersonal sebagai sumber informasi. Pendeknya, para ibu rumah tangga yang tinggal di rumah pertama kali mengetahui  peristiwa tersebut melalui berita yang muncul di suatu pagi melalui media penyiaran, sementara mereka yang bekerja di luar sebagian besar mengetahuinya melalui saluran interpesonal.

Rogers dan Siedel(2002) melakukan penelitian penyebaran berita tentang serangan teroris terhadap Pentagon dan gedung WTC, 11 September 2001. Mereka menemukan bahwa berita tentang peristiwa dahsyat ini mendorong berbagai macam tindakan dari anggota masyarakat semisal mendonorkan darahnya, mengirim bantuan berupa uang, dan mengibarkan bendera Amerika di lingkungan mereka, di rumah atau tempat kerja. Berita tentang serangan teroris telah memengaruhi audiens secara emosional hingga mencapai tingkat yang lebih tinggi dibanding dengan penelitian penyebaran berita yang dilakukan sebelumnya. Penelitian –penelitian sebelum  Rogers dan Siedel (2002), umumnya lebih menekankan  variabel dependentnya adalah pada pentingnya waktu pertama kalinya mengetahui berita sesuatu peristiwa dan relatif penting juga pada variabel saluran komunikasi. Penelitian yang akhir-akhir ini mengindikasikan  pentingnya mencari variabel dependent yang lain dan menambahkan independent variabel dalam kajian penyebaran berita ini.

Berbeda  dengan kajian mengenai penyebaran berita peristiwa, yang utamanya meneliti berita peristiwa utama, hampir semua penyebaran berita politik berlangsung relatif lamban dan mengakibatkan dampak yang tidak berarti bagi pengetahuan publik. Dengan demikian, kajian mengenai penyebaran berita peristiwa lebih menekankan pada berita –berita yang tidak biasa. Hampir sebagian besar publik tetap tidak mendapat informasi mengenai berita-berita yang aktual. Kesenjangan pengetahuan ini  terjadi pada masyarakat yang karakteristiknya adalah berpendidikan kurang, kelompok masyarakat yang secara ekonomi rendah ( Tichenor, Donohue & Olien 1970;Viswanth & Finnegan, 1996).

Masalah penyerapan pada masyarakat yang  tidak aktif dan tidak mendapat informasi secara adekuat ini akhirnya mendorong para ahli komunikasi politik dalam tahun-tahun belakangan ini mengadakan penelitian tentang “civic journalism” sebagai sarana  untuk meningkatkan partisipasi masyarakat di dalam masyarakat demokratis Amerika. Satu contoh penelitian tentang civic journalism ini adalah yang dilakukan oleh McDevitt dan Chaffee (2002) yang mencoba mengevaluasi dampak dari “Kids Voting USA” , suatu program yang tujuannya merangsang keterlibatan warga dalam aktivitas komunikasi politik. Minat terhadap civic journalisme akhir-akhir ini  mencerminkan penilaian para ahli komunikasi politik tentang pentingnya  warga masyarakat yang melek informasi dan yang aktif, nilai-nilai yang mengingatkan kembali pada masa keemasan Walter Lippmann.  ( Bersambung ke artikel berjudul  New Communication Technologies )

Referensi:

Kaid,Lynda Lee (ed).2004. Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 22 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “Diffusions of News Events”

  1. […] Penelitian agenda setting mungkin telah terlampau menampilkan kekuatan media massa dalam mendorong munculnya agenda nasional melalui proses yang terus-menerus.  Bidikan pada satu peristiwa tertentu tiba-tiba bisa menjadi agenda utama, seperti berita tentang skandal Monica Lewinsky dan menimbulkan harapan bagi para ahli komunikasi untuk meneliti lebih lanjut tentang-agenda setting (McLeod et.al. 2002). Kendatipun  demikian, penelitian agenda-setting semakin maju dalam memahami efek tidak langsung media, inilah era efek terbatas media. Lebih jauh, kajian agenda-setting merepresentasikan pemusatan perhatian kembali pada kajian komunikasi politik namun tidak  sekedar menekankan pada perilaku politik individu ( seperti dalam penelitin pemilu) dengan mengaitkan liputan berita terhadap suatu isu kepada gabungan persepsi individu terhadap sesuatu itu dan bagaimana respon yang diberikan oleh institusi politik  (the policy agenda). Selanjutnya, penelitian agenda-setting mencoba mencari kejelasan bagaimana masyarakat mengorganisasikan dan memberi makna terhadap dunia politik yang ada di sekitar mereka, sebagai makna yang diberikan publik tentang berbagai isu berita tersebut.  Akhirnya, penelitan agenda-setting  biasanya dikenal sebagai sebuah mekanisme atau cara kerja media yang menstimulasi komunikasi interpersonal, yang pada gilirannya seringkali memicu perubahan perilaku ( Dearing&Rogers, 1996)    (Bersaambung ke artikel berjudul Diffusion of News Events) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: