Perang Dunia II dan Awal Mula Studi Komunikasi

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Perang Dunia Kedua, di Washington, DC., menjadi tempat bertemunya ilmuwan sosial Amerika terkemuka yang nantinya akan menjadi cikal bakal dan pendiri studi komunikasi.  Momen  paling bersejarah adalah saat ketika diadakan Seminar Yayasan Rockfeller selama satu tahun penyelenggaraan, yang diorganisasikan olah  Yayasan pendukung John Marshall  dan diadakan setiap bulan di kantor Yayasan Rockfeller di New York. Surat undangan  Marshall kepada peserta seminar  adalah salah satu dari pertama kalinya digunakan istilah komunikasi massa ( sebelumnya digunakan istilah opini publik atau propaganda yang digunakan untuk mengacu pada bidang tersebut) ( Rogers, 1994).  Kedua belas  peserta reguler dalam Seminar Yayasan Rockfeller  termasuk di antaranya adalah Paul F. Lazarsfeld dan Harold  Lasswell, yang dikemudian hari dikenal sebagai intelektual menonjol yang menjadi motor berjalannya diskusi.  Model lima pertanyaan komunikasi Lasswell juga dirumuskan dalam seminar ini.  Perhatian utama Seminar Komunikasi Yayasan Rockfeller ini adalah mendefinisikan bidang kajian komunikasi yang baru saja berkembang namun lebih dikhususkan lagi adalah perkembangan pada saat mendekati PD II, yang dimulai di bulan September 1939 ( yaitu saat pertama kalinya diadakan seminar bulanan ). Seminar ini memiliki arti penting untuk menyatukan para ahli dalam satu minat bersama yaitu penelitian komunikasi dan sebagai momen membentuk konsensus tentang pertanyaan yang seharusnya diprioritaskan dan mendesak untuk dicarikan jawabannya. Pada bagian akhir dari serial pertemuan Seminar  di New York dalam kurun waktu setahun ini, para peserta  mengadakan pertemuan dengan para pimpinan pemerintahan di Washington guna memaparkan hasil-hasil seminar, termasuk di dalamnya peran yang belakangan muncul dalam bidang komunikasi dan dapat  bermain dalam konflik dunia berikutnya.

Perang Dunia II telah menyatukan berbagai ilmuwan sosial berbakat di Washington DC, di mana mereka saling bekerjasama sebagai konsultan yang bekerja pada berbagai agen pemerintah semasa perang berlangsung.  Termasuk di antara kelompok ilmuwan tersebut adalah Lazarsfeld, Laswell, sosiolog Sam Stouffel, ilmuwan psikologi sosial  Carl Hovland dan Kurt Lewin dan direktur dari Iowa Writers’Workshop di Univercitas Iowa, Wilbur Schramm. Para ahli ini sama-sama berminat terhadap kajian komunikasi manusia dan terapannya guna mengatasi persoalan yang timbul semasa perang yang dialami Amerika Serikat. Interaksi mereka dengan Washington berbuntut  kelahiran sebuah paradigma baru dalam kajian komunikasi massa.  Semasa perang masih berlangsung , para ahli ini relatif tidak tersekat oleh batas keilmuwan , kemudian ketika kembali ke kampus masing-masing maka mereka terdorong untuk memikirkan pendekatan interdisiplinary di dalam penelitian komunikasi.  Sebagian  dari anggota yang ikut dalam kelompok lintas disiplin ilmu ini mendiskusikan pentingnya melanjutkan penelitian setelah berakhirnya masa peperangan dan bagaimana mendidik kader guna menghasilkan kandidat doktor  di bidang komunikasi.

Wilbur Schramm

Wilbur Schramm

Tahun 1943,  Wilbur Shcramm kembali ke Universitas Iowa sebagai Direktur dari the School of Jurnalism, di mana dia berusaha untuk mengimplementasikan visinya ke dalam bidang keilmuwan baru komunikasi ini. Ia pun mendirikan program Ph.D komunikasi dan  memulai berdirinya pusat riset komunikasi massa di universitas tersebut.  Setelah melewati tahun-tahun paceklik di Iowa, Wilbur Shramm pun pindah ke Universitas Illinois, di mana dia kembali mendirikan lembaga riset komunikasi.  Menjelang pertengahan tahun 1950an, ketika Schramm pindah ke Universitas Standford, bidang ilmu komunikasi telah berkembang kian mapan. Tahun 1960, lebih dari selusin universitas di Amerika, termasuk Minnesota, Wisconsin dan Michigan State yang telah memiliki pusat  studi bidang komunikasi massa  dengan menyelenggarakan pendidikan doktoral di bidang komunikasi.

Bidang kajian  baru ini menekankan pendekatan ilmu sosial dalam kajian komunikasi, membangun tradisi riset dan teori sebagaimana telah dikembangkan beberapa dekade sebelumnya di ranah psikologi sosial, sosiologi dan ilmu politik ( oleh Laswell, Lazarsfeld, Lewin, Hovland dan yang lainnya).  Penting dicatat, bahwa prasarat untuk menempuh program doktor pada mulanya adalah harus memiliki pengalaman sebagai profesional di bidang media massa ( khususnya sebagai jurnalis surat kabar). Persyaratan ini mengisyaratkan  bahwa para doktor baru yang akan dihasilkan nantinya  memiliki cara pandang terhadap dunia yang berbeda dibanding dengan para doktor dari generasi sebelumnya, yang hingga saat itu masih terjebak pada pola pikir dari departemen sosiologi, psikologi dan ilmu politik. Para  doktor baru itu memang dipengaruhi oleh semangat penelitian komunikasi massa dengan pendekatan/studi efek namun mereka juga memiliki pemahaman mengenai relitas kerja di dalam lembaga  media massa.  Orientasi inilah yang menghantarkan mereka pada pencarian efek tidak langsung dari media ( seperti melalui proses agenda-setting), dan tidak terlalu mengharapkan adanya efek langsung yang perkasa dari media yang diakibatkan oleh  terpaan media pada perilaku individu ( mencerminkan bahwa media berperan hanya sebagai saluran informasi ketimbang peran persuasif).

Wilbur Schramm muncul sebagai pemimpin terkemuka dalam pendirian komunikasi sebagai lembaga kajian komunikasi di masa sesudah perang dunia. Para ahli komunikasi yang gelar doktornya diperoleh dari universitas tempat Schramm mengajar yaitu Universitas Standford pun menyebar ke berbagai universitas di seluruh  Amerika Serikat, di mana di universitas-universitas tersebut mereka menapaki karir  hingga menjadi pemimpin juga. Misalnya, Paul J Deutschamm di Universitas Negeri Michigan, Wayne Danielson di Universitas North Carolina kemudian ke Universitas Texas dan Steven H. Chaffee di Universitas of Wisconsin ( mereka semua menjadi dekan atau direktur sekolah jurnalistik). Beberapa dari para ahli tersebut telah menyumbangkan konseptual penting, seperti Danielson dan Deutschamm tentang study of news event diffusion dan Maxwell McCombs, salah seorang produk Standford di Universitas North Carolina, yang bekerja sama dengan Donald L Shaw, doktor dari Universitas Wisconsin, yang berminat pada proses agenda-setting ( Rogers, 1994).

Lembaga-Lembaga  studi komunikasi di universitas-universitas riset di Amerika Serikat sekitar tahun 1960-an menunjukkan kecenderungan  pada riset komunikasi politik, ini terlihat dari minat para kader ilmuwan baru bidang ini yang mengkaji pada efek tidak langsung komunikasi massa. Setelah tahun 1960-an, studi komunikasi semakin mantap dan  berkesinambungan, disertai  fasilitas untuk menyelenggarakan kajian teoritis yang penting dan melalui program riset yang kian terorganisir dengan baik. (Bersambung ke judul artikel RESEARCH ON MEDIA EFFECTS)

Referensi:

Kaid,Lynda Lee (ed).2004. Handbook of Political Communication Research. USA: Lawrence Erlbaum Associates.

Sumber ilustrasi : archives.library.illinois.edu

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 19 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “Perang Dunia II dan Awal Mula Studi Komunikasi”

  1. […] Bersamaan dengan pemilihan presiden tahun 1948 , maka dilanjutkanlah penelitian semacam di the Erie County Study  tersebut, kali ini mengambil lokasi  masyarakat di wilayah  New York (Berelson, Lasarsfeld& Mc Phee, 1954). Ini merupakan penelitian Lazarsfeld pertama yang berskala besar dalam riset pemilihan presiden yang memberi perhatian utama pada peran media massa dan agaknya belum pernah ada lagi penelitian semacam ini di tahun-tahun berikutnya ( Chaffee& Hockheimer, 1985). Lembaga Riset Sosial Universitas Michigan memulai studi secara berkelanjutan tentang pemilihan presiden, melanjutkan tradisi riset survai dari Lazarsfeld tentang perilaku memilih. Survai nasional ini, meski demikian, hanya sedikit menaruh perhatian terhadap peran media massa dalam keputusan memilih, dan sebaliknya memusatkan pada  variabel identifikasi partai politik dan variabel sosio-ekonomi sebagai variabel yang berpengaruh dalam sebuah pengambilan keputusan memilih seseorang ( pentingnya partai politik dalam menentukan perilaku memilih warga telah memudar dalam tahun-tahun terakhir ini, digantikan oleh media, khususnya televisi).  Karena  penelitian Michigan ini merupakan sampel survai berskala nasional, peran jaringan komunikasi personal dalam keputusan memilih menjadi sulit  atau tidak memungkinkan  untuk dikaji ( Sheingold,1973). Posisi utama individu sebagai unit of respons dan menjadi unit analisis menjadikan tidak ditekankannya jaringan dan pengaruh sosial lainnya terhadap keputusan memilih dan makin berkurangnya perhatian pada sistem yang lebih besar ( seperti institusi media) di dalam penelitian komunikasi politik (Bersambung ke judul artikel Perang Dunia Ke-II dan Awal Mula Studi Komunikasi ) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: