AN ACTIVE ROLE FOR THE MEDIA: MEDIA AS PARTICIPANTS

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Media vs Real World : The MacArthur Day Parade

Bagaimana media memotret sebuah peristiwa namun ternyata berbeda dengan realitas yang sesungguhnya terjadi? Walter Lippmann (1922) telah jauh-jauh hari mengingatkan kita bahwa sebenarnya tindakan seseorang itu didasarkan pada “picture” yang ada di kepala mereka, namun baru setelah tiga dekade kemudian orang mencoba melihat lebih dekat pada pengalaman bagaimana “picture” yang kita dapatkan dari media itu ternyata berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya terjadi.  Hal itu sekarang kita kenal sebagai studi klasik sebagaimana dilakukan oleh Kurt dan Gladys Lang (1971) yang membuat analisis mengenai parade MacArthur Day di Chicago tahun 1951. Lang melakukan pengamatan sepanjang peristiwa perjalanan parade dan juga mengamati melalui tayangan  televisi serta membandingkan reaksi dari orang-orang  yang mengalami/mengikuti langsung jalannya parade dengan mereka yang hanya melihatnya melalui tayangan televisi.  Orang yang melihat jalannya parade melalui tayangan televisi memberi penilaian betapa semaraknya peristiwa tersebut, namun tidak demikian penilaian orang yang mengikuti langsung jalannya parade tersebut. Kamera televisi mengikuti jalannya parade, menyajikan pada pemirsa gambaran  terus-menerus tentang semaraknya acara itu, pemirsa pun bisa mengikuti jalannya parade di seluruh route yang dilalui, sementara orang yang melihat langsung  parade hanya berada di satu lokasi dan hanya melihat sekilas lambaian tangan para peserta parade ketika berada di dekat mereka. Tidak seperti pemirsa di televisi, penonton di lapangan itu hanya bisa melihat sekilas serombongan parade akibatnya kesan parade itu menjadi tidak semeriah seperti yang digambarkan di televisi. Orang  yang berdiri di sepanjang route parade bisa jadi malah mengamati orang-orang disekelilingya yang begitu sumringah lantaran bakal dibidik  kamera televisi dan pertama kalinya dalam hidup mereka bisa masuk dalam tayangan televisi— mereka ceria bukan karena menyaksikan MacArthur!. Lang pun sampai pada simpulan bahwa representasi realitas yang disajikan televisi dalam beberapa hal penting berbeda dengan pengalaman personal seseorang (ketika melihat realitas itu).

Manipulating Reality 

Jika isi media tidaklah secara sempurna menggambarkan realitas, lalu apa sebenarnya yang media itu sajikan? Isi media bisa jadi didasarkan pada apa yang sesungguhnya terjadi dalam arti fisik, namun ‘tampilan ‘ itu muncul dan mendapat penekanan pada aspek-aspek tertentu dibandingkan yang lain dan media  memiliki struktur logikanya sendiri yang kemudian diterapkan pada bagian-bagian tertentu tersebut. Realitas perlu dimanipulasi manakala peristiwa atau orang akan dimasukkan dalam sebuah berita atau laporan primetime. Media memiliki kuasa untuk memaksakan logika mereka ketika meramu bahan berita  dengan cara-cara tertentu, termasuk memberi penekanan pada orang, perilaku  tertentu atau stereotype tertentu. Televisi bisa melakukan distorsi penampilan seseorang secara visual melalui pemilihan sudut pandang kamera atau cara lainnya. Sudah bukan hal yang aneh, jika orang bisa ditampilkan dengan berbagai label ( misal pejuang kemerdekaan atau teroris). Salah satu cara yang paling jelas bagaimana isi media bisa menciptkan sebuah lingkungan simbolik adalah dengan cara memberikan perhatian lebih  ( misal dengan bentuk alokasi tayang yang lebih banyak, memberikan penonjolan , dsb)  pada sesuatu peristiwa, orang, kelompok atau suatu tempat ketimbang yang lain. Hampir sebagian besar analisis isi memusatkan perhatian pada hal ini.

Visual vs Verbal Manipulation

Selama bertahun-tahun, penelitian  yang telah dilakukan  utamanya menekankan pada isi verbal, dalam sebuah teks dan bukan pada picture-nya. Mungkin kita berasumsi bahwa muatan verbal lebih mudah dimanipulasi, sementara picture  lebih menyorot secara langsung pada objek realita. Tayangan film dan televisi malah berlangsung secara sekilas, sehingga lebih sulit untuk diteliti dan acapkali kurang mendapat perhatian serius daripada kata-kata yang tertulis ( Mungkin karena para peneliti komunikasi massa memiliki latar belakang di media cetak). Walau demikian, picture atau tampilan visual sebenarnya juga bisa didistorsi melalui cropping, sudut pengambilan gambar, dan pilihan shot. Melalui penelitiannya tentang perlakuan media terhadap mahasiswa radikal di tahun 1960an, Todd Gitlin ( 1980:50-51) memilih dua foto tentang protes antiperang. Satu foto dibuat oleh UPI namun tidak dipakai di New York Times. Foto tersebut  menggambarkan orang-orang berbaris sambil memegang papan protes secara closeup sebagai latar depan, relatif menonjol dibanding kelompok yang menentang protes tersebut sebagai latar belakang yang berada di seberang jalan. Sementara itu surat kabar Times menggunakan foto yang lain, sebuah foto longshot menggambarkan kedua kelompok, namun diambil dari sisi jalan di mana terdapat barisan orang – orang yang menentang pengunjuk rasa, dengan demikian mengecilkan tampilan para pengunjuk rasa itu, baik dalam ukuran maupun perspektif.

Perspektif kamera juga bisa memanipulasi persepsi. Hans Kepplinger ( 1982) mencatat bahwa film bisa memanipulasi waktu dan tempat dengan cara, misal, menampilkannya secara slow motion dan sudut pengambilan kamera yang ekstrim.  Film berita, demikian menurutnya, mengklaim punya obyektivitas dan dengan demkian lebih mendekati realitas sebenarnya. Namun demikian, news cameraman yang ia wawancarai mengatakan bisa saja tayangan berita itu diambil sesuai dengan selera subjektif mana yang dia  sukai  dengan cara memilih perspektif kamera yang berbeda.

Dalam sebuah analisis film dari kampanye pemilihan di Jerman Barat, Kepplinger menemukan perbedaan di dalam tampilan visual kedua kandidat. Helmut Kohl bisa disaksikan penonton dalam shot sejajar dengan mata pemirsa  berbeda dengan Helmut Schmidt (  perspektif yang lebih favorable bagi cameraman) dan sorotan pada audiens  yang sedang menggoda serta membawa spanduk yang mengkritik kandidat tampil lebih sering dalam liputan pada Kohl  daripada Schmidt. Kepplinger pun mencatat, Kohl ditampilkan sebagai kandidat yang paling sering dipertemukan dengan pemilih yang tidak setuju dengannya.

Di beberapa negara, di mana sebagian besar media kurang begitu memerhatikan objektivitas, mengambil posisi berpihak pada kekuatan politik tertentu akan tampak lebih terbuka. Misalnya,  televisi yang dimiliki secara private di Mexico, Televisa, dituduh karena tidak fair dalam meliput kandidat oposisi di musim pemilihan presiden 1988. Berita-berita yang ditampilkan menggambarkan kandidat tersebut hanya dikelilingi oleh sedikit pendukung, mengisyaratkan betapa sedikitnya dukungan pada dirinya, sementara kandidat  yang orang pemerintahan selalu ditampilkan dalam sebuah kerumunan yang besar (Mereka tidak menyebutkan bahwa PRI, partai pemerintah yang tengah memimpin itu membayar orang-orang supaya hadir dalam kampanye). Dalam persitiwa yang lain, Televisa dengan  sengaja memunculkan foto Mussolini di samping kandidat oposisi ketika menyampaikan pidatonya ( Rohter, 1988).

Berita televisi memiliki beberapa kemampuan untuk menggunakan trik visual. Pemberitaan pada saat  kampanye presiden tahun 1980 di mana terdapat kebijakan  bahwa Reagen telah menyatakan pengunduran dirinya, Televisi berita CBS menempatkan tanda silang “x” putih di wajahnya  setiap kali reporter mengatakan bahwa Reagen telah mengubah pendiriannya. CBS berkilah di hari berikutnya,dengan menyebutnya sebagai “ a very bad idea for a graphic “( Robinson, 1981:174).

Sumber :

Shoemaker, Pamela J.  dan Stephen D. Reese. 1996. Mediating The Message. Theories of Influences on Mass Media Content. USA: Longman Publisher.

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 16 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “AN ACTIVE ROLE FOR THE MEDIA: MEDIA AS PARTICIPANTS”

  1. […] Masalah yang belum terpecahkan dari kedua pandangan di atas adalah karena keduanya gagal menjelaskan bagaimana dua atau lebih saluran pemberitaan bisa sangat berbeda di dalam meliput realitas yang sama. Orang bisa dengan mudah mengamati kesenjangan tersebut. Misalnya, dua surat kabar dalam waktu yang bersamaan di kota yang sama bisa menyajikan peristiwa sehari-hari dalam pandangan yang secara radikal berbeda. Masyarakat yang menghadiri rally kampanye politik memiliki pendapat  yang sangat berbeda terhadap apa yang sesungguhnya terjadi dibandingkan dengan apa yang mereka saksikan di televisi. Jika media hanyalah semata saluran atau yang menyajikan realitas, maka semestinya semua media akan menyajikan  gambaran yang pada dasarnya sama dalam setiap peristiwa. Jika kekuatan yang saling menyeimbangkan memaksa para pembeli dan penjual berita maka akan menghasilkan isi berita yang secara akurat merepresentasikan realitas,  maka versi media terhadap realitas sosial  (misal seberapa besar tingkat kejahatan dalam masyarakat) seharusnya sesuai  dengan apa yang disajikan oleh penyedia informasi lainnya ( seperti laporan dari pihak kepolisian).  Para peneliti komunikasi mulai menyasar ke sejumlah persoalan ini dengan menyoal  konsep “channel” dan menguji  bagaimana media massa memaksakan logika dan struktur mereka terhadap sejumlah peristiwa sehingga tercipta apa yang kemudian disebut “a media world”. ( Bersambung  ke judul artikel AN ACTIVE ROLE FOR THE MEDIA: MEDIA AS PARTICIPANTS) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: