DO MEDIA REFLECT EVENTS?

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

A Passive Role for the Media : Media as Channels

Model proses komunikasi  terdahulu mengimplikasikan peran pasif media di dalam menyajikan berita/peristiwa. Misalnya model Laswell yang menanyakan “ who/says what/through which channel?” ; di dalamnya terkandung ide mengenai media tak ubahnya sebagai saluran atau pipa yang dilalui sejumlah informasi – –penyalur pesan netral yang menghubungkan antara pengirim dengan penerima. Pendekatan ini digambarkan oleh Westley dan MacLean dalam “model proses komunikasi massa” (Figure 3.1. model proses komunikasi massa) yang didesain khususnya untuk mengilustrasikan jalan pikiran proses pencarian  berita.  Mereka menggambarkan channel ( media) sebagai “agents” yang bertugas melayani audiens di dalam memilih dan menyalurkan informasi yang mereka butuhkan, utamanya informasi  yang tidak bisa secara langsung bisa diperoleh audiens. Informasi itu diasumsikan bersifat “nonpurposive”, artinya pesan-pesan tersebut  disalurkan tanpa ada maksud tertentu dari komunikator (media) untuk memengaruhi audiens. Model seperti itu berasumsi bahwa tidak ada hal yang istimewa yang ada di dalam paket informasi yang disalurkan media. Efek-efek yang kemudian terjadi pada audiens karena menggunakan informasi yang dilansir oleh media massa tersebut ,dengan demikian,  lebih disebabkan oleh karakteristik audiens itu sendiri dan bukan  disebabkan oleh informasi yang  disalurkan oleh media.

Early Studies of Media Effects.

Penelitian komunikasi di masa lalu mencerminkan ide media sebagai saluran semata. Hal itu bukan berarti memandang lemah saluran/media; sebaliknya, kemampuannya  untuk berkomunikasi secara massif kepada audiens menjadikan media atau channel dilihat sebagai sarana ampuh yang bisa digunakan untuk tujuan tertentu yang berdampak sosial —yang baik maupun yang  jahat. Studi mengenai  efek isi media masa itu lebih berkenaan dengan teori komunikasi manusia ( bagaimana audiens menanggapi sesuatu pesan tertentu) daripada berkaitan dengan teori komunikasi massa ( apa yang diakibatkan oleh isi media dan bagaimana itu bisa terjadi). Mereka memfokuskan pada identifikasi pesan-pesan yang bagaimanakah yang bisa menimbulkan efek, atau karakteristik audiens tertentu yang menjadi (variabel )perantara  terjadinya efek tersebut ( Mana yang lebih persuasif ? — satu sisi atau kedua sisi sekaligus?). Media dilihat sebagai instrumen dalam melantarkan pesan-pesan tersebut.

Harold Lasswell menjadi ujung tombak  penelitian mengenai propaganda di tahun 1927 melalui bukunya yang berjudul Propaganda Technique in the World War. Beberapa negara yang berperang  telah menggunakan komunikasi modern sebagai bagian tak terpisahkan dalam strategi militer dan Lasswell menemukan  daftar dan kategori teknik-teknik propaganda itu. Propaganda pun berlanjut menjadi perhatian serius hingga meletus perang dunia kedua. Institut Analisis Propaganda yang didirikan tahun 1937 kemudian  menanggapi gejala kesuksesan propaganda Nazi Jerman dan ikut turun tangan dengan mempublikasikan materi berisi teknik-teknik antipropaganda yang diajarkan di sekolah-sekolah di Amerika. Materi ini mengajarkan kepada para siswa tentang teknik-teknik propaganda umum seperti “name calling”, “glittering generalities”, “plain-folks” dan “ card-stacking”  (baca artikel berjudul Teknik Propaganda) dengan tujuan para siswa itu menjadi “kebal” terhadap ancaman propaganda tersebut.

Akan tetapi pemerintah Amerika Serikat tampaknya juga menginginkan cara-cara persuasi yang digunakan oleh Nazi tersebut guna mendukung peperangan yang tengah dilakukan.  Pihak militer pun memerintahkan kepada sutradara Frank Capra agar membuat serial film  bertema  Why We Fight yang kemudian lahirlah  judul-judul film seperti Prelude to War, The Nazis Strike, Devide and Conquer, dan The Battle of Britain—film-film tersebut dirancang untuk mengajari (mengindoktrinasi) para rekrutmen tentang peristiwa-peristiwa yang akhirnya melecut terjadinya perang dunia.  Carl Hovland dan rekan-rekannya di Yale ( Hovland, Lumsdaine & Sheffield, 1949) mengadakan  eksperimen untuk mengevaluasi efektivitas film-film tersebut. Mereka menemukan bahwa film-film itu memang menyajikan fakta namun tidak efektif di dalam menimbulkan sikap kepada para prajurit Amerika dan juga motivasi untuk melawan musuh.  Dalam penelitian selanjutnya, Hovland melihat pada sifat-sifat pesan yang lain yang mungkin membawa pengaruh dalam menimbulkan efek  persuasif seperti kredibilitas sumber dan penampilan-penampilan yang memberi kesan menakut-nakuti (Hovland et.all 1949,1953). Studi ini berasumsi jika bisa merancang pesan-pesan dengan tepat, dan disebarkan melalui saluran komunikasi massa niscaya akan menjadi senjata persuasif yang kuat.

Dalam skala yang lebih luas, studi yang dilakukan oleh Paul Lazarsfeld dan rekan-rekan lainnya di Biro Riset Sosial Terapan Columbia selama tahun 1940an dan 1950an juga menguatkan gagasan mengenai “media sebagai saluran”.  Tujuan utama mereka adalah untuk mengetahui mengapa dan bagaimana orang  mengambil keputusan dalam pemilu, termasuk peran propaganda politik. Temuan menunjukkan orang yang mengonsumsi media lebih banyak juga adalah orang yang pertama mengambil keputusan dalam memilih siapa kandidat yang dipilihnya, mereka menyimpulkan efek utama media massa di dalam kampanye politik adalah memperkuat sikap politik yang telah ada sebelumnya.

Di dalam bukunya The Effects of Mass Communication (1960) Joseph Klapper mencatat gagasan tersebut dalam proposisi  yang lebih luas : “ Komunikasi massa umumnya bukanlah menjadi penyebab yang penting dan berarti dalam terbentuknya efek-efek pada diri audiens melainkan lebih berfungsi  sebagai perantara dan pengikat dari faktor-faktor lain sehingga menimbulkan efek atau pengaruh tertentu bagi audiens” . Dalam pengertian, audiens seperti juga sumber atau yang mempersuasi sama-sama menggunakan  isi media massa sebagai instrumen, untuk memperkuat dan membenarkan sikap awal mereka sebelumnya. Kajian terhadap isi media massa tidak dipandang sebagai hal yang penting karena para audiens diasumsikan telah memilih dan menentukan komentator, artikel dan fakta-fakta lainnya untuk mendukung pendapat mereka sendiri.  Maka, dalam beberapa kasus, media dipandang sebagai saluran, dimana melalui saluran itu pesan-pesan dengan tujuan tertentu mengalir dari para pemersuasi dan melalui itu audiens  memilih pesan-pesan yang  sejalan atau yang memperkuat pandangan mereka. Peran media di dalam membentuk lingkungan simbolik di dalam keseluruhan proses pengambilan keputusan tersebut hampir-hampir diabaikan.

The Neutral Journalist Theory.

Filosofi media hanyalah sebagai  saluran juga bersumber dari para jurnalis. “ Kami tidak membuat berita, kami hanya melaporkannya” demikian menurut Richard Salant dari CBS News. “ Reporter kami tidak meliput  berita berdasar pada sudut pandang mereka. Mereka menampilkan berita yang bukan berasal dari sudut pandang siapapun ( Altheide, 1976: 17). Penyiar berita televisi sebelumnya Walter Cronkite’s  memiliki kebiasaan  mengakhiri program beritanya dengan mengatakan “ and that’s the way it is” , seakan menguatkan pandangan tadi.  Para jurnalis membela diri mereka dengan menunjukkan bahwa peran mereka bersifat netral, hanya mencari dan menyajikan informasi.  Seorang jurnalis yang sejati, dengan demikian, haruslah tidak punya kepentingan sendiri, benar-benar independen, melihat segala sesuatu dan senantiasa hadir sebagai pengamat dan mencatat dengan tidak melakukan satu kesalahan pun. Isi media diasumsikan menyajikan gambaran dunia secara akurat dan representatif.

The Null Effects Model

Model akademik yang lebih formal dari Young (1981) juga memprediksi isi media itu bebas dari distorsi apapun. Ia menyebutnya sebagai the null effects model yang menggambarkan media massa menyajikan  representasi apa adanya sebuah realitas dengan sedikit atau tanpa distorsi. Alasan bahwa isi media yang  bebas dari distorsi ini, meski demikian, sedikit banyak berbeda dengan pandangan “journalist as neutral transmitter” tradisional sebagaimana disinggung di depan. Young meyakini bahwa representasi isi bukan disebabkan oleh jurnalis yang netral dan hasil amatan serta pencatatan yang tanpa kesalahan melainkan karena dipaksa untuk tidak menampakkan biasnya oleh kekuatan-kekuatan yang saling menyeimbangkan ( misal liberal vs konservatif,pihak  yang mendukung pengendalian senjata vs Asosiasi Senapan Nasional ) sehingga menghasilkan reportase  relatif akurat. Media massa, demikian Young,  secara simultan “membeli” pandangan dari mereka yang memiliki kekuasaan (atas pemberitaan) dan “menjual” pandangan tersebut kepada kelas pekerja. Akibat dari sistem pasar ini –yakni jual dan beli news — mengurangi distorsi isi media, karena distorsi isi akan memperkecil pangsa audiens potensial dan akhirnya akan merugikan pemilik media.

Baik pandangan the null effects model maupun the limited effects model, melihat media massa hanya memiliki sedikit  atau tidak sama sekali efek terhadap perubahan sosial. Kendali terletak pada audiens –baik selaku pengontrol  atau kelas pekerja— yang secara aktif memproses informasi.

A New Approach

Masalah yang belum terpecahkan dari kedua pandangan di atas adalah karena keduanya gagal menjelaskan bagaimana dua atau lebih saluran pemberitaan bisa sangat berbeda di dalam meliput realitas yang sama. Orang bisa dengan mudah mengamati kesenjangan tersebut. Misalnya, dua surat kabar dalam waktu yang bersamaan di kota yang sama bisa menyajikan peristiwa sehari-hari dalam pandangan yang secara radikal berbeda. Masyarakat yang menghadiri rally kampanye politik memiliki pendapat  yang sangat berbeda terhadap apa yang sesungguhnya terjadi dibandingkan dengan apa yang mereka saksikan di televisi. Jika media hanyalah semata saluran atau yang menyajikan realitas, maka semestinya semua media akan menyajikan  gambaran yang pada dasarnya sama dalam setiap peristiwa. Jika kekuatan yang saling menyeimbangkan memaksa para pembeli dan penjual berita maka akan menghasilkan isi berita yang secara akurat merepresentasikan realitas,  maka versi media terhadap realitas sosial  (misal seberapa besar tingkat kejahatan dalam masyarakat) seharusnya sesuai  dengan apa yang disajikan oleh penyedia informasi lainnya ( seperti laporan dari pihak kepolisian).  Para peneliti komunikasi mulai menyasar ke sejumlah persoalan ini dengan menyoal  konsep “channel” dan menguji  bagaimana media massa memaksakan logika dan struktur mereka terhadap sejumlah peristiwa sehingga tercipta apa yang kemudian disebut “a media world”. ( Bersambung  ke judul artikel AN ACTIVE ROLE FOR THE MEDIA: MEDIA AS PARTICIPANTS)

Sumber :

Shoemaker, Pamela J.  dan Stephen D. Reese. 1996. Mediating The Message. Theories of Influences on Mass Media Content. USA: Longman Publisher.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 15 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “DO MEDIA REFLECT EVENTS?”

  1. […] Untuk mengetahui bagaimana media telah melakukan distorsi terhadap  dunia sesungguhnya bergantung pada kemampuan kita melihat perilaku media. Beberapa konsepsi telah menempatkan media sebagai saluran tentang peristiwa dunia  yang bersifat pasif, sementara pendangan lain menempatkan media sebagai pemeran aktif di dalam manipulasi atau konstruksi realitas ( Bersambung dalam artikel berjudul DO MEDIA REFLECT EVENTS?  ) […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: