MEASURING CONTENT : HOW WE STUDY IT

Tri Nugroho Adi

Tri Nugroho Adi

Jika kita sepakat dengan batasan istilah “content” sebagai segala sesuatu yang muncul di media massa, maka definisi semacam itu berarti mencakup fenomena yang sedemikian luas bentangannya – suatu wilayah yang meliputi batasan realitas itu sendiri.  Tugas seorang peneliti, dengan demikian, adalah membuat aturan batasan tertentu dari fenomena yang diamati sehingga kita bisa memeroleh atau menangkap makna darinya. Sebagian dari proses penentuan batasan  ini nantinya akan memunculkan satu gambaran kunci dalam mana kita akan mempertimbangkan sebagai sesuatu yang penting dan bagian itulah yang akan menjadi pusat analisis kita. Pendekatan analisis isi dalam hal-hal tertentu memang terdiri dari berbagai perspektif konseptual dan sarana metodologis. Yang akan dibahas di sini pada dasarnya adalah yang menggunakan pendekatan ilmiah dalam kajian analisis isi, meski juga akan disinggung analisis isi dengan pendekatan humanistik.

Humanistic vs Behavioristic Traditions

Berbeda dengan perspektif ilmiah, perspektif humanistik menyoal : apakah media mencerminkan realitas? Mereka melihat isi media sebagai  bagian tak terpisahkan dari kebudayaan yang ada, bukan sebagai sesuatu yang terpisah darinya. Kebudayaan diwujudnyatakan dengan berbagai cara, termasuk di antaranya melalui media. Kaum humanistik mengkaji isi media guna mencari makna-makna artistiknya. Analisis  film pada  masa setelah  perang dunia, misalnya, para peneliti menganalisis dengan menggunakan perspektif psikoanalitis dan antropologi budaya untuk mengetahui bagaimana film menampilkan kebenaran tentang masyarakat atau sejarah kebudayaan tertentu (Czitrom, 1982) dan ahli yang lain misalnya Horace Newcomb (1982)  melakukan studi terhadap prime-time televisi dan jam-jam ditayangkannya serial untuk melihat aspek drama, ritual dan mitologinya. Newcomb berpendapat bahwa tindakan menonton televisi adalah sebuah forum kebudayaan.

Analisis retorika, sebagai ciri dari analisis tradisi humanistik, meneliti logika internal dalam isi media.  Apa yang menjadi aturan, bentuk, tematik, dan satuan-satuannya merupakan jalan menuju sebuah inti cerita  dari isi yang bersangkutan. Nimmo dan Combs ( 1983),misalnya, meneliti bagaimana media memotret realitas melalui logika “dramatic representation” – aktor-aktornya, aktingnya, plot dan alur, scene, motivasi  dan patokannya ( sumber prinsipial yang membenarkan peristiwa, tindakan dan simpulan dari drama tersebut). Robert Smith (1979) melakukan kajian  terhadap sejumlah siaran berita televisi untuk mengetahui apakah berita-berita tersebut membawakan suatu pola naratif yang relatif konsisten dan bisa diprediksi; ia menemukan bahwa 83 persen dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori : “man decides”, “suffering” dan “villain caught”.

Penekanan pada makna kultural yang melekat dalam isi media ini membuatnya berbeda dengan yang dilakukan oleh peneliti ilmiah, yang secara khusus memusatkan perhatiannya terhadap isi guna mencari penjelasan mengenai efek dari isi media tersebut.  Peneliti humanistik cenderung menempatkan isi media sebagai titik awal dan melihat kebelakang, untuk memahami bagaimana budaya menghasilkan isi media seperti itu; sementara kaum behavioristik memiliki kebiasaan melihat isi media sebagai titik awal dan menariknya ke depan untuk melihat efek yang ditimbulkan oleh isi media tersebut. Di satu sisi, isi media dilihat sebagai karya artistik, sebuah “text” yang bermakna bagi sebuah studi karena memang demikian halnya.  Sementara di sisi lain, isi media merupakan bagian dari rantai sebab dan akibat/dampak. Meski demikian kedua perspektif tersebut memberi sumbangan berarti terhadap kajian mengenai isi media.

Quantitative vs Qualitative.

Analisi isi behavioristik tidak selalu menggunakan atau memerlukan  analisis kuantitatif atau angka-angka, teknik (statistik) , meski demikian kecenderungannya memang demikian.  Seperti halnya, dalam analisis isi humanistik yang biasanya terkait dengan analisis kualitatif. Karena ketertarikannya terhadap efek, maka ilmuwan sosial  harus menggunakan analisis kuantitatif dengan perspektif teori psikologi stimulus – response, di mana, semakin sering ditemukan stimulus maka diasumsikan semakin terdapat potensi terjadinya efek (dari stumulus tadi). Melalukan reduksi dari sejumlah besar teks ke dalam data kuantitatif, meski demikian, tidak dapat menyajikan gamabaran utuh sebuah  makna dan kode-kode kontekstual,karena teks mungkin mengandung bentuk-bentuk penekanan lain selain dari apa yang tampak/ ditampilkannya (Gitlin,1980).

Tidak dipungkiri  ‘kuantifikasi’  telah memiliki arti penting di dalam merangkumkan apa yang mesti ditemukan di dalam isi media dan menjadi salah satu pendekatan ilmiah paling populer dalam riset media, yakni analisis isi, yang didefinisikan sebagai analisis yang bersifat objektif, sistematis, kuantitatif dan nyata terhadap media (Berelson,1952.Hal 18). Pada kenyataannya, menganalisis seberapa sering sesuatu, orang, dan tempat  muncul di dalam isi media menjadikan peneliti mampu membandingkannya antara isi media tersebut dengan realitas tertentu senyatanya (misal presentasi muncul orang Latin di dalam jam-jam utama televisi  dengan presentase jumlah total orang etnis Latin dari keseluruhan populasi di Amerika Serikat). Jika kita  mengetahui pola-pola isi media, kita bisa memahami bagaimana pola tersebut tercipta dengan melihat  struktur organisasi dan orang-orang dibalik media itu.

Sebagai peneliti media, kita memahami pola-pola berulang tersebut merupakan pesan terselubung yang memiliki makna sosial tersendiri dan yang diproduksi oleh organisasi media di dalam sebuah rutinitas kerja dan cara tertentu yang sudah baku. Pola –pola isi media yang berulang secara sistematis ini menjadikannya semakin jelas betapa isi media merepresentasikan pola budaya atau logika organisasi yang  ada di dalamnya.

Passive vs Active Conceptualizations

 Di dalam bukunya Public Opinion (1922) Walter Lippmann menggambarkan sebuah pulau di mana di dalamnya ditinggali oleh orang-orang Perancis, Inggris dan Jerman yang hidup damai sebelum terjadinya Perang Dunia I. Layanan surat pos Inggris menjadi satu-satunya saluran yang menghubungkan mereka dengan dunia di luar sana.  Suatu hari di pertengahan September, sebuah perahu layar membawa kabar bahwa bangsa Inggris dan Perancis telah bersekutu bertempur melawan bangsa Jerman selama lebih dari enam minggu. Selama enam minggu itu, para penduduk pulau, yang secara teknis bermusuhan, telah berlaku sebagai kawan, meyakini “ the picture in their heads” (hal 3).  Lippmann menyajikan sebuah alegori yang kemudian memicu ilmuwan komunikasi pada masa itu. Idenya yang sederhana namun penting adalah bahwa kita harus membedakan antara “reality” dengan “social reality” – yakni, yang diistilahkan Lippmann sebagai “the world outside” dari kejadian sesungguhnya dan pengetahuan yang kita dapatkan melalui media terhadap kejadian tersebut — karena kita berpikir dan bertindak bukan berdasarkan pada apa yang sesungguhnya terjadi melainkan berdasarkan pada apa yang kita persepsikan terjadi.

Di jaman purba dahulu, hampir semua yang ingin diketahui orang tentang dunia ini ada di tangan mereka. Mereka jarang terpisah dari komunitas mereka sendiri. Mereka tinggal dan akhirnya meninggal dekat dengan tempat mereka dilahirkan.  Sebaliknya,kompleksitas dan saling ketergantungan masyarakat modern,telah membuat orang dipengaruhi oleh hal-hal ekonomis dan persoalan politik yang berasal dari kekuatan di luar komunitas hidup mereka. Kenyataannya, bisa kita katakan bahwa hampir semua peristiwa dunia yang menerpa kita melalui jalan tidak langsung dan hampir dipastikan diantarai oleh media sehingga menjadi apa yang kemudian disebut Lippmann “pseudo environment” . Media massa memiliki posisi penting sebagai sumber dari gambaran yang ada di kepala kita yang menghantarkan kita secara logis kepada sebuah pertanyaan seberapa dekat sebenarnya media di dunia ini  mencerminkan dunia yang sesungguhnya.

Untuk mengetahui bagaimana media telah melakukan distorsi terhadap  dunia sesungguhnya bergantung pada kemampuan kita melihat perilaku media. Beberapa konsepsi telah menempatkan media sebagai saluran tentang peristiwa dunia  yang bersifat pasif, sementara pendangan lain menempatkan media sebagai pemeran aktif di dalam manipulasi atau konstruksi realitas ( Bersambung dalam artikel berjudul DO MEDIA REFLECT EVENTS?  )

Sumber :

Shoemaker, Pamela J.  dan Stephen D. Reese. 1996. Mediating The Message. Theories of Influences on Mass Media Content. USA: Longman Publisher.

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 14 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: