MITOS KEPAHLAWANAN DI MEDIA DALAM PERSPEKTIF PSIKOLOGI ANALITIK CARL JUNG

Carl Jung

Carl Jung

Disamping Freud, Carl Jung barangkali adalah teoritisi psikoanalitik yang paling penting. Pada awalnya Jung diasosiasikan dengan Freudian, namun dia melakukan langkah yang berbeda dengan ide-ide Freud dan menamukan ilmunya sendiri “ psikologi analitik”. Jung memperluas sejumlah konsep yang mengarah pada cara membantu orang yang berbeda dan untuk tujuan kita, menganalisis teks. Beberapa konsepnya akan kita diskusikan secara ringkas di bawah ini.

Pola dasar (archetype)

Yang dimaksud dengan pola dasar menurut Jung adalah tema universal yang ditemukan di dalam mimpi, mitos, religi dan kerja seni.  Pola dasar ada secara mandiri dari ketidaksadaran personal seorang individu. Menurut teori Jung mereka berhubungan dengan masa lampau dan diduga keras sebagai ketidaksadaran kolektif yang ditemukan di dalam semua orang. Menurut Jung, pola dasar merupakan ketidaksadaran dan menjadi disadari mereka hanya sebagai hasil dari citra/ gambaran yang muncul pada diri kita di dalam mimpi, karya seni, atau pengalaman emosional keseharian yang menghubungkan kita dengannya, yang tiba-tiba kita kenali/ sadari. Sebagaimana penjelasan Jung ( 1964) :

Apa yang layak kita sebut insting adalah dorongan psikologis dan diterima oleh indera. Namun pada saat yang sama, mereka juga menampakkan dirinya di dalam fantasi dan seringkali menampakkan kehadirannya hanya melalui citra simbolik. Manifestasi tersebut adalah apa yang saya sebut pola dasar. Hal tersebut awalnya tanpa atau diketahui, dan mereka mengambangkan dirinya setiap waktu atau di tiap bagian dunia — bahkan ketika dikirimkan langsung oleh keturunan atau “perkawinan silang” melalui migrasi, harus dikesampingkan ( hal 69)

Jung mengatakan bahwa “sosok pahlawan adalah pola dasar, yang muncul sejak jaman dulu” ( hal 73) dan juga diterapkan sama pada mitos tentang Surga atau “jaman keemasan” yang lampau, ketika orang hidup dalam kedamaian dan berkelimpahan.

Ketidaksadaran kolektif

Sumber  pola dasar Jung adalah apa yang dia gambarkan sebagai ketidaksadaran kolektif. Jung ( 1964) menjelaskan, dengan menggunakan analogi dengan insting sebagai berikut :

Kita tidak berasumsi bahwa tiap binatang yang baru lahir — baru menciptakan instingnya sendiri sebagaimana yang diperoleh individu dan kita harus tidak boleh mengira bahwa manusia individual menemukan kekhasan manusianya melalui kelahiran baru. Sebagaimana insting, pola pemikiran, kolektif dari  pikiran manusia adalah pembawaan lahir dan diwariskan. Mereka berfungsi saat lahir, kurang lebih dengan cara sama pada kita semua ( hal 75)

Ini menjelaskan argumentasi pandangan Jung, mengapa mitos bersifat universal dan tema serta motif terntu yang ditemukan didalam kerja seni yang  muncul dalam sejarah dan di manapun di dunia. Gagasan Jung tentang pola dasar, ketidaksadaran kolektif dan universlitas mitos, perlu ditambahkan, sangat kontroversial dan banyak pakar psikologi  lainnya yang membicarakan issue tersebut. Mustahil untuk menunjukkan, sebagai contoh, bahwa ketidaksadaran kolektif itu secara aktual ada.

Mitos kepahlawanan

Pahlawan, yang merupakan pola dasar dan manifestasi dari ketidaksadaran kolektif, mempunyai peranan penting dalam pemikiran Jung. Salah satu pengikut Jung yang terkenal, Joseph L. Henderson (1964) menulis:

Mitos kepahlawanan adalah mitos umum yang dikenal di dunia. Kita menemukannya dalam mitologi klasik Yunani dan Romawi, di Jaman Pertengahan, di Timur Jauh dan di antara suku-suku primitif kontemporer. Juga nampak di dalam mimpi kita…

Mitos kepahlawanan tersebut secara detil variasinya sangat banyak, namun semakin dekat kita mengkajinya semakin terlihat secara struktural kesamaannya. Dengan kata lain, mitos kepahlawanan tersebut memiliki pola yang universal , meskipun mitos tersebut telah dikembangkan oleh kelompok-kelompok atau individu-individu tanpa adanya saling kontak kultural satu sama lain…Secara terus menerus seseorang mendengar dongeng yang menggambarkan sosok pahlawan yang menakjubkan namun rendah hati, merupakan bukti awal dari kekuatan manusia super, keulungan atau kekuatannya yang muncul dengan cepat, kejayaannya melawan kekuatan jahat, kesalahannya atas dosa kesombongan ( hybris), dan kejatuhannya melalui pengkhianatan atau pengorbanan “pahlawan” yang berakhir di dalam kematiannya (hal 110).

Deskripsi tersebut menunjukkan apa yang disebut sebagai pahlawan tragis. Kebanyakan sosok pahlawan khususnya yang ditemukan di dalam media massa, pada umumnya tidak kalah pada dosa kesombongan, mereka pada umumnya selamat ketika bertarung, di dalam keberhasilan yang abadi, melawan penjahat baru yang tetap kelihatan di dalam keteraturan yang menakjubkan. Mitos tentang pahlawan,  menurut Handerson memiliki fungsi membantu individu-individu mengembangkan ego kesadarannya, yang memungkinkan mereka berhubungan dengan problem-problem yang mereka akan konfrontasikan sebagaimana pertumbuhan usinya. Figur kepahlawanan membantu orang dengan pemisahan problem dan individualisasi dari orang tua dan figur pelindung yang lain, yang menjelaskan mengapa mereka ditemukan melalui sejarah dan mengapa mereka menjadi sangat penting.

Elemen Bayangan di dalam Kejiwaan

Apa yang disebut Jungian sebagai bayangan berkaitan  dengan sisi gelap dari kejiwaan manusia, yang umumnya tersembunyi dari kesadaran kita, seautau yang seringkali harus dikenali dan berhubungan dengannya. Handerson (1964) menjelaskan pemahaman Jung tentang bayangan.

Dr. Jung telah menjelaskan bahwa bayangan disusun oleh kesadaran pikiran dari individu yang berisi aspek-aspek kepribadian yang tersembunyi, tertekan dan tidak baik ( jahat). Namun sisi gelap ini bukanlah sesederhana kebalikan/ lawan dari kesadaran ego. Seperti ego-ego yang bersisi sikap yang tidak baik dan desktruktif, bayangan memiliki kualitas yang baik — insting normal dan dorongan kreatif Ego dan bayangan meskipun terpisah, tidak dapat terlepas, sebagaimana pikiran dan perasaan yang terhubungkan dengan satu sama lainnya ( hal 118).

Menurut pandangan Jung, terjadi peperangan untuk pembebasan antara bayangan dan ego. Sosok pahlawan menyediakan maksud/ arti ( atau wahana ) yang secara simbolik adalah ego yang “ membebaskan manusia dewasa dari kemunduran panjang untuk kembali dari kebahagiaan masa kwcil di dalam dunia yang didominasi oleh ibunya “ ( Handerson, 1964 hal 118,120)

Aliran Freud tidak memiliki konsep ini, namun sangat mudah untuk melihat bahwa ada analogi  pda apa yang digambarkan Freud sebagai ketidaksadaran. Upaya untuk dominan antara bayangan dan ego dapat dibandingkan dengan peperangan yang dikatakan Freud terjadi antara id, dan superego, di mana ego mencoba untuk menjadi penengahnya. Bayangan yang disebtu Jung nampaknya lebih negatif dari id freud tetrapi keduanya mengacu kepada sumber aktivitas yang kreatif.

Dikutip dari :

Berger, Arthur Asa. 2000. Media Analysis Techniques. 2nd ed. Terj.  Setio Budi HH. Yogyakarta : Penerbit Universitas Atmajaya. Hal 93-97.

Sumber ilustrasi :  amandaonwriting.tumblr.com

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 12 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: