MENGENAL SIGMUND FREUD : SEJARAH PEMIKIRAN PSIKOANALITIS DAN APLIKASINYA DALAM ANALISIS TEKS (bag 2)

Sigmund_Freud_1926Aplikasi Psikoanalitis

Salah satu bentuk aplikasi psikoanalitis kemudian kita kenal sebagai kritisisme psikoanalitik. Kritisisme psikoanalitik adalah salah satu dari banyak studi yang menggunakan konsep psikoanalitik untuk memahami suatu subjek permasalahan khusus.

Dalam analisis suatu teks pemanfaatan teori kepribadian Freud dapat dilihat melalui ilustrasi berikut : dalam sebuah teks, karakter-karakter yang ada mungkin dapat dilihat figur id yang penting dan figur ego ataupun figur super-ego. Sebagai contoh, film Star Trek dapat dilihat sosok Spok adalah figur ego, Kirk ( yang dalam bahasa Jerman arti nama tersebut adalah “gereja”) adalah figur super-ego, dan Mc Coy adalah figur id. Spok, makhluk Vulcan yang tidak beremosi, menunjukkan rasionalitas yang murni.  Kirk komandan Enterprise, lebih kurang tergantung pada apa yang harus dilakukan dan karenanya merepresentasikan super-ego. Dan McCoy, yang sangat emosional dan sering melakukan  sesuatu dengan dasar perasaannya merepresentasikan id.

Dalam beberapa teks sangat mudah untuk mengidentifikasikan karakter sebagai figur id, ego dan super-ego. Superman, Dick Tracy, Luke Skywalker dan tokoh-tokoh pahlawan lainnya, sangat jelas merupakan figur super-ego. Tetapi tokoh lainnya seperti James Bond dan Indiana Jones lebih rumit penggambarannya, mereka mungkin lebih merupakan figur  id dan ego, daripada super-ego. Tokoh-tokoh jahat, tentu saja hampir semuanya adalah figur id, mereka jauh dari perkembangan super-ego dan hanya tertarik untuk memuaskan keinginan mereka. Mereka mungkin pintar dan pemberang tetapi mereka kehilangan sense baik dan buruk.

Kita juga dapat  menguji  atau memeriksa variasi aliran dalam kerangka hipotesis struktural Freud. Program-program film dan televisi  seperti pemberitaan, wawancara dan dokumenter dapat diklasifikasikan sebagai ego teks. Teks yang menggambarkan polisi atau yang memiliki pesan-pesan religious sangat jelas sebagai teks super-ego. Serta opera sabun dan program televisi yang lain maupun film yang melibatkan seksualitas ( video porno ) cenderung menjadi teks yang bersifat id. Tidaklah selalu mungkin untuk memberi  label sebuah teks yang secara jelas merepresentasikan id, ego dan super-ego, namun di dalam beberap kasus, khususnya ketika suatu pekerjaan sudah terformulasikan, representasi id, ego dan super-ego tersebut menjadi masuk akal.

Analisis Simbol

Psikoanalisis adalah seni interpretasi. Psikoanalisis berupaya  untuk mencari makna perilaku orang dan seni yang mereka ciptakan. Satu cara yang dapat kita lakukan untuk menerapkan teori psikoanalitik adalah dengan memahami bagaimana kerja kejiwaan dan memelajari bagaimana menginterpretasikan hal penting yang tersembunyi dari apa yang dilakukan orang dan peran fiksi.

Simbol adalah sesutu yang berdiri /ada untuk sesuatu yang lain, kebanyakan di antaranya tersembunyi atau setidaknya tidak jelas. Sebuah simbol dapat berdiri untuk suatu insitusi, cara berpikir, ide, harapan—dan banyak hal lain. Sosok pahlawan pria atau wanita seringkali simbolis sifatnya dan dengan demikian dapat diinterpretasikan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan keberadaan sosok pahlawan tersebut. Dan kebanyakan dari apa yang paling menarik tentang simbol-simbol adalah hubungannya dengan ketidaksadaran.  Simbol-simbol adalah kunci yang memungkinkan kita untuk membuka pintu yang menutupi perasaan-perasaan ketidaksaran dan kepercayaan kita melalui penelitian yang mendalam. Simbol-simbol merupakan pesan dari ketidaksadaran kita.

Freud dalam karyanya “ Simbolism in Dreaming” ( dalam A General Introduction to Psychoanalysis) yang menerangkan simbol-simbol kemaluan menulis sebagai berikut:

Organ genital laki-laki secara simbolik ditampilkan dalam mimpi-mimpi dengan cara yang lain, yang sebagian besar ide-ide umum tentang pembandingan dengan objek lain dapat dikenali dengan begitu mudah…penis pertama-tama disimbolisasikan dengan objek-objek yang mirip bentuknya, panjangnya, dan tegak, semacam tongkat-tongkat, payung-payung, tongggak-tonggak, pohon-pohon. Dan kemiripan dengan objek-objek yang disimbolkan memiliki kelengkapan menusuk dan konsekuensinya merusak (melukai) badan, yaitu seperti halnya segala jenis senjata berikut: pisau-pisau, rencong-rencong, tombak-tombak, pedang-pedang, senjata apai yang biasa digunakan : senapan-senapan, pistol-pistol dan revolver-revolver, hal itu semua akhirnya merupakan sebuah simbol yang sesuai dengan ketajamannya ( 1953 : 161-162)

Meskipun Freud menggunakan istilah simbol, ia sebenarnya membicarakan apa yang kita sebut sebagai tanda ikonik.

Mekanisme Pertahanan Diri

Mekanisme pertahanan diri adalah salah satu teknik yang dapat digunakan oleh ego untuk mengendalikan insting dan mencegah keinginan. Kita semua menggunakan mekanisme ini dari waktu ke waktu, meskipun kita tidak sadar telah menggunakannya. Seperti cara yang digunakan oleh kebanyakan media dengan membawa kita melibatkan diri dengan manusia dalam berbagai jenis hubungan, sehingga banyak karakter yang kita lihat dan baca ( sering) dapat diinterpretasikan berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri. Maka perilaku mereka menjadi makin masuk akal bagi kita jika kita dapat menghubungkan pada pertahanan yang digunakan orang untuk memelihara equilibrium mereka. Kita juga dapat memahami kenikmatan kita dengan media massa berkaitan dengan mekanisme pertahanan diri.

Berbagai permaian game seperti ( dulu terkenal sekali ) Pac-Man dan yang lainnya seperti Space Invander.  Dalam Space Invander pemain terbang di angkasa terbuka, melawan serbuan makhluk asing. Dua hal tentang Space Invander yang berkaitan dengan analisis ini : Pertama, tentang kebebasan untuk terbang; kedua, permainan tersebut mengandung lambang kejantanan ( phalic). DI sini lain game Pac-Man, pemain dibatasi bermain dalam area yang tertutup dan serangan-serangannya melibatkan – memakan. Dengan kata lain, agresi dalam Pac-Man bersifat oral. Apa yang kita kemudian dapatkan dari Pac-Man adalah regresi dan phalic ( senjata) menjadi oral ( menggigit) sebagai arti dari penyerangan dan perubahan dan kebebasan untuk berpacu di angkasa ke dalam kurungan dengan jaringan yang ruwet. Dalam persepketif perkembangan , Pac-Man adalah regresif.

Barangkali popularitas dari Pac-Man (pada masa dahulu) menyatakan sejumlah besar kaum muda Amerika ( meski bukan satu-satunya yang dimainkan ) mengalamai kegelisahan, dan bahwa mereka menggunakan game untuk meredakan kegelisahannya.

Regresi dan semua mekanisme pertahanan diri dan yang lain merupakan konsep yang dapat diaplikasikan pada karakter perilaku di dalam film, program televisi dan teks-teks lain dan variasi aspek media. Konsep-konsep tersebut dapat membantu kita memahami motivasi manusia dan dapat memperkaya serta memperdalam kemampuan kita untuk menganalisis media.

Freud dalam impian-impian

Analisis Freud mengenai kejadian keseharian dalam teori /tafsir mimpi bisa dijumpai dalam beberapa esai dari bukunya berjudul The Occurance in Dreams of Material from Fairy- Tales yang ditulis tahun 1913.  Selain itu juga ada beberapa bagian dari bukunya yang terkenal The Interpretation of Dream yang dapat membantu kita dalam memahami esai tentang dongeng karya Freud dan sebagainya. Pertama, mimpi menuntut pemenuhan harapan-harapan. Kedua, mimpi –mimpi sering berupa penyimpangan  dan misteri. Ketiga, kedua bentuk penyimpangan yang paling utama adalah peringkasan dan pemindahan.  Peringkasan meliputi “susunan dari kumpulan dan gabungan tokoh-tokoh” , di mana seornag tokoh ,mewakili beberapa tokoh yang berlainan maupun potongan-potongan dari sejumlah citra-citra berbeda yang bergabung menjadi satu kesatuan. Pemindahan meliputi penggantian salah satu citra aatau elemen dalam mimpi untuk sesuatu yang lain. Pemindahan pada umumnya meliputi penggantian sesuatu  yang beresiko ( dan tentang a-sesksual) bagi sesuatu yang memberi tandaa pada sensor mimpi sehingga kita terbangun. Kita seing bermimpi tentangkejadian yang berhubungan langsung dengan kegiatan-kegiatan dan pikiran kita di hari-hari sebelumnya. Dengan demikian, kita menjumpai sebuah proses “perkembangan yang kedua”. Pada saat itu kita melihat citra dalam mimpi dan kemudian kita mengalaminya dalam kisah yang sesungguhnya.

Bagian-bagian di atas  membantu kita untuk mengkaji lebih jauh salah satu mimpi yang dianalisia oleh Freud dalam “ The Occurence in Dreams of Material from Fairy – Tales. Kisah ini merupakan mimpi seorang ibu muda yang dikunjungi suaminya.

Saat itu ia berada di ruangan yang seluruhnya bercat coklat. Ada sebuah pintu kecil yang menuju tepat ke ujung sebuah tangga, tangga ini mengarah ke sabuah ruangan yang terdapat sebuag manekin. Manekin kecil itu berambut putih namun ujung kepalanya botak. Hidungnya meraha. Ia melihat suaminya berdansa mengelilingi ruangan dengan manekin itu. Dia mengenakan stelan abu-abu. Tampak jelas bahwa ia adalah suaminya.  ( akhirnya terdapat pembetulan dia mengenakan jas hitam panjang dan celana panjang  abu-abu) ( 1963: 59-60)

Secara ringkas ada  beberapa kutipan mengenai interpretasi Freud yang penting di bawah ini:

Manekin.  Menggambarkan ayah mertua ibu tersebut. Freud menambahkan “ tiba-tiba kisah Rumpelstilskin muncul dalam mimpunya, dia menari dengan gerakan lucu sehingga mencemarkan nama ratunya. Sebagai akibatnya Rumpelstilskin kehilangan hak perwaliannya atas putra pertama sang ratu dan dia  menjadi geram dan membelah tubuhnya menjadi dua bagian. Demikian pula  terjadi pada si ibu yang sangat marah pada suaminya dan berkata “ Aku dapat memotong tubuhnya menjadi dua “.

Ruangan coklat. Ruang makan oorang tua si ibu tersebut bercat coklat. Ibu itu kemudian bercerita tentang tempat tidur yang tidak nyaman bila digunakan dua orang. Dia mengulas tentang kisahnya saat bersama kelompok orang dan bercerita tentang “ mal a prosos” yang menggelikan. Secara simbolik,  ruangan itu menggambarkan sebuah tempat tidur dan langsung dihubungkan  dengan makanan. Tamu yanga berkunjung waktu itu bukanlah suaminya melainkan ayah mertuanya.

Interpretasi ini menuntut Freud untuk lebih jauh mengkaji makna mimpi jika dihubungkan dengan seksualitas. Dia menulis:

Pada tingkat ini, ruangan itu  melambangkan vagina ( Ruangan itu berada dalam tubuhnya tidak seperti apa yang terjadi dalam mimpi ). Sosok pria kecil yang menyeringai dan bertingkah lucu adalah gambaran penis. Pintu sempit dan tangga menggambarkan suasana saat  terjadi persetubuhan (1963: 61)

Ibu itu dapat mengartikan kain transparan berwarna abu-abu sebagai sebuah kondom. Hal ini dihubungkan dengan perasaan gelisah ibu tentang kehamilan sesudah persetubuhan dengan suaminya.

Jas hitam panjang. Ibu itu senang melihat suaminya berpakaian rapi yang tidak seperti biasanya dilakukan. Jas hitam menggambrkan suami idaman sangibu. Pada saat suaminya mengenakan jas hitam dan celana panjang abu-abu ibu itu merasakan nuansa keindahan dalam dua wanita .

Freud mengemukakan dua arti yang bertolak belakang dengan kisah dalam mimpi. Pria itu tidak kehilangan putra pertama sang ratu melankan akan mendapat anak kedua. Freud menyimpulkan hasil penelitiannya sebagai berikut:

Rumpelstilskin juga membimbing jalan ke tingkat dasar dari kesadaran saat bermimpi. Sosok pria kecil, yang tidak diketahui namanya, menyimpan misteri yang menarik untuk dikaji lebih jauh. Dia dapat mengelabuhi kita. Dalam sebuah  dongeng kita dapat mengubah jerami menjadi emas, kemarahan itu adalah ditujukan atau lebih pada pemiliknya yang menimbulkan rasa iri ( kecemburuan kaum perempuan pada lelaki). Elemen –elemen tersebut berhubungan dengan gangguan syaraf, sebagaimana telah dibahas pada halaman sebelumnya. Rambut pendek manekin dihubungkan dengan pengebirian.

Jika kita perhatikan dengan cermat, dongeng yang diceritakan ibu itu pada bagian pertentu, mungkin memiliki beberapa petunjuk yang membantu dalam memahami materi dalam kisah tersebut ( 1963: 63)

Mimpi –mimpi selalu dhubungkan dengan kisah nyata dan tanda-tanda maupun simbol-simbol  dapat  diartikan satu persatu, sesuai dengan latar belakang orang yang mengalamaninya. Freud membantah jika seseorang menganggap tidak ada naskah kuno yang membahas makna pada tanda-tanda dan simbol- simbol tanpa memerhatikan pengalaman.  Mimpi- mimpi dapat diartikan dan difungsikan sebagai penunjuk jalan ke alam bawah sadar ( tentang harapan-harapan seseorang ). Namun, mimpi hanya bermakna bagi bagi orang yang mengalaminya. Freud merasa yakin bahwa mimpi-mimpi merupakan penggambaran yang tidak berhubungan satu dengan yang lain. Saya percaya bahwa model Freud dapat dipergunakan dan diharapkan sesuai dengankebudayaan setempat. Jika kita menggantikan mimpi-mimpi yang disebarkanluaskan ( melalui film, televisi, iklan, komik, novel) untuk mimpi seseorang dan tentang karakter nasional, budaya dan masyarakat, kita  akan mendapatkan kemungkinan-kemungkinan.

Freud menyebut bahwa mimpi-mimpi bersifat fungsional, yang berarti mimpi-mimpi  tersebut bermakna dan berhubungan dengan seseorang yang bermimpi. Dalam kasus yang sama, lamunan juga memiliki makan tersendiri dan dapat memuaskan banyak orang. Apa saja yang memiliki arti tersebut dan mengapa begitu berarti? Saat  kita mellihat kebudayaan , budaya yang bersifat umum, mimpi-mimpi mengalami penyingkatan dan pemutarbalikan ( dan tipuan), kita akan mendapati sesuatu yang tidak bisa diremehkan, namun terdapat kemungkinan-kemungkinan untuk mengkaji dan memahaminya.

Tentang Humor dan Parodi

Freud juga pernah melakukan analisis yang menarik tentang fenomena parodi dengan menghubungkan parodi dan teknik-tekniknya dengan unsur  ketidaksadaran dalam buku berjudul  Jokes and Their Rellation to Unconscious  sebagai berikut :

Karikatur, parodi dan orang banci ( seperti halnya pengungkapan kedok) ditujukan untuk mengkritik orang  ataupaun objek yang memiliki kekuasaan dan kehormatan, bahkan kedudukan.  Bentuk-bentuk tersebut di atas merupakan sarana untuk merendahkan martabat.

Dia menjelaskan proses terjadinya adalah sebagai berikut:

Parodi dan kebencian merupakan bentuk perendahan martabat karena merusak keutuhan sifat yang ada dalam setiap orang seperti kepribadian, cara bicara dan tingkahlaku. Hal ini terjadi karena meniru dan menggantikan cara bicara orang yang direndahkan agar kelihatan bodoh ( 1963: 201)

Freud menilai agresifitas  yang terdapat dalam parodi memiliki pengaruh yang kuat terhadap nilai seni.

Catatan yang perlu diperhatikan

Ada sejumlah besar problem yang ditemui seorang analisis media ketika hendak menggunakan konsep sekompleks psikis/ kejiwaan seperti psikoanalisis ini.  Selalu muncul resiko terjadinya oversimplikasi ( terlalu menyederhanakan ) bagaimana konsep-konsep paling mendasar di dalam literatur psikoanalisis dapat diaplikasikan pada media, dan bagaimana konsep tersebut dapat membantu kita untuk memahami motivasi manusia dan mungkin juga reaksi kita pada apa kita baca, lihat dan dengar.

Ada baiknya kita mengutip Simon Lessser  tentang literatur Fiction and The Unconscious ( 1957) yang dapat diaplikasikan pada hampir semua media massa :

Sifat paling penting dari psikoanalisis, dari sudut pandang manfaat potensialnya sebagai literatur studi adalah karena telah menyelidiki banyak aspek dari sifat – sifat seseorang seperti sebagaimana para penulis  fiksi yang terkenal memiliki daya tarik emosional, ketidaksadaran atau hanya sebagaian dari pemahaman berdasarkan perilaku kita. ….. Psikoanalisis menawarkan kepada kita pengetahuan secara sistematik dan kebenaran yang sah/valid mengenai kekuatan-kekuatan tersebut ( hal 15)

Lasser melanjutkan, untuk mengatakan sesuatu tentang apa yang kita akan sebut sebagai khalayak dan caranya merespon pada fiksi dan media massa umum:

Adalah asumsi saya bahwa sebagaimana kita baca kita tidak secara sadar mengerti setidaknya pada beberapa signifikansi rahasia sebuah cerita; sebagai  perluasan kenikmatan/ keasyikan kita adalah produk dan pengertian ini. Tetapi beberapa pembaca terus mencoba untuk menghitung pengaruh cerita yang terjadi pada diri mereka, dan untuk melaporkan apa yang mereka jelajahi. Hal ini berhubungan dengan aktivitas kritik yng terjadi kemudian, di mana harus secara jelas dibedakan dengan pengalaman membaca itu sendiri, sehingga konsep-konsep psikoanalisis seperti membuktikan suatu nilai yang tak terhingga. Hal tersebut membutanya mungkin berhubungan dengan porsi dari respon kita yang sampai saat ini tidak dapat diperoleh ke arah kritisisme – mengijinkan kita untuk menjelaskan reaksi-reaksi yang intuitif, pelarian dan seringkali non verbal, dan menyediakan kunci ke alemen-elemen di dalam cerita untuk reaksi-reaksi tersebut ( hal 15)

Bacaan :

Berger, Arthur Asa.  2000. Tanda –Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta : PT Tiara Wacana

————————-. 2000. Media Analysis Techniques (2ed).  Yogyakarta : Penerbit Universitas Atmajaya

Freud,  Sigmund. 1983. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa. Terjemahan K Bertens. Jakarta : Penerbit PT Gramedia

————————-. 2002. Psikoanalisis Sigmun Freud. Terjemahan Ira Puspitorini. Yogyakarta : Ikon Teralita.

————————-. 2001. Tafsir Mimpi.  Terjemahan Apri Danarto dkk. Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer. Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Sumber ilustrasi : commons.wikimedia.org

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 9 Juni 2013.

3 Tanggapan to “MENGENAL SIGMUND FREUD : SEJARAH PEMIKIRAN PSIKOANALITIS DAN APLIKASINYA DALAM ANALISIS TEKS (bag 2)”

  1. wah sangat membantu penelitian saya pak, terimakasiihh🙂

  2. […] sisi psikologis yang muncul dalam iklan. Ini berarti kita harus membuat semacam kategorisasi dari psychological appeals yang ada dalam iklan tersebut. Kemudian baru kita meneliti lebih jauh bagaimana para pembaca, […]

  3. […] dan karya didaktis yang berusaha menjelaskan psikoanalisis  kepada publik yang lebih luas. (Bersambung […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: