MENGENAL SIGMUND FREUD : SEJARAH PEMIKIRAN PSIKOANALITIS DAN APLIKASINYA DALAM ANALISIS TEKS (bag 1)

Sigmund Freud

Sigmund Freud

Nama besar  Sigmun Freud semestinya sudah bukan asing lagi di telinga kita, utamanya bagi  yang mau serius memelajari kajian budaya dan masyarakat. Karena di samping Karl Marx, Freud sering disebut –sebut sebagai tokoh yang sangat  berpengaruh sebagai salah satu pemikir yang karyanya dijadikan landasan analisis (teks) perkembangan masyarakat dan budaya. Apa istimewanya pemikiran Freud? Bagaimana karya-karya besar dia menjadi sangat ‘laku’  dikutip baik dalam literature psikologi sendiri maupun dalam bidang lainnya, seperti politik, teks dan interpretasi wacana, sosiologi  dan kajian budaya pada umumnya?

Tulisan ini hendak mencoba menelisik pokok-pokok pemikiran Freud dari berbagai bacaan yang kebetulan saya punya. Ketertarikan saya terhadap pemikiran Freud sebenarnya terjadi karena ketidaksengajaan. Dua puluh delapan tahun silam, ketika masih duduk di bangku SMP secara kebetulan saya menemukan buku usang tergeletak di meja dapur;  buku itu rupanya salah satu buku teks milik kakak saya yang belajar dan fakultas keguruan. Karena saya memang suka membaca apa saja maka saya “curi baca” buku itu di kala tidak dipakai, alhasil saya takjub dengan yang namanya psikologi karena rupanya itu ilmu yang bisa “membaca” perilaku orang. Sedikit demi sedikit saya mengenal istilah id, ego dan super-ego meski pada saat itu hampir sebagian besar uraian yang saya baca dari buku itu belum bisa saya pahami sepenuhnya.

Apa yang saya tulis kali ini menjadi semacam janji pada diri saya sendiri, karena setelah puluhan tahun berselang saya baru bisa  membaca Freud  secara agak fasih, dan karena ilmu itu dulu saya peroleh secara “cuma-cuma “ maka saya pun akan membaginya secara “gratis “ pula. Semoga bermanfaat.

“Freud adalah murid yang cemerlang”

Sigmund Freud lahir dalam sebuah keluarga Yahudi pada tahun 1856 di Freiburg. Ketika ia berumur 4 tahun, keluarganya pindah ke Wina tempat Freud hidup dan bekerja sampai tahun 1938, saat ia terpaksa melarikan diri ke Inggris setelah terjadinya Anschluss. Meskipun ia selalu mengeluh tentang gerahnya kehidupan di Wina, Freud tidak hanya tinggal di sana hampir seluruh masa hidupnya, tetapi ia dengan seluruh keluarganya hidup di alamat yang sama hampir selama lima puluh tahun: di  Jalan Bergasse 19 yang terkenal itu….

Freud adalah seorang murid yang cemerlang, setiap tahun selalu nomor satu di antara teman-temanya di Gymnasium, dan lulus dengan pujian pada tahun 1873. Freud memeroleh gelar dokternya dari Universitas Wina  pada usia 25 tahun. Pada tahun 1885 memenangkan beasiswa untuk melanjutkan studi di Paris. Di sana ia belajar di bawah pengawasan Jean Martin Charcot di Salpetriere. Bagi Freud, dengan diagnosisnya tentang histeris dan penggunaan hipnotis, Charcot bukan  hanya membuka jalan untuk belajar tentang sakit jiwa secara serius, melainkan juga merupakan seorang guru karismatik dan suka memberi  dorongan; kekaguman Freud terhadap gurunya ini tidak pernah habis. Setelah kembali ke Wina pada tahun 1886, ia membuka praktek sebagai dokter dan akhirnya meninggal di London pada tahun 1939.

Freud adalah manusia dari zamannya. Ia memiliki nilai-nilai dari kaum borjuis abad kesembilan belas, dan tak dipungkiri  mendapat pengaruh positivisime ilmiah dan vitalisme, dan gaya hidupnya yang Victorian itu lalu mewarnai pandangannya mengenai seksualitas.  Selain itu, Freud juga senantiasa dinilai sebagai seorang pemikir yang kontroversial dan masih akan tetap demikian. Hal ini terkait dengan pemikirannya mengenai seksualitas serta psike, walaupun dengan kecermelangannya dalam menemukan psikoanalisis melalui analisis mengenai gejala-gejala yang sampai saat itu ( masa hidup Freud)— dianggap hal yang tak teranalisis, seperti mimpi dan selip lidah ( igau).

Karya tulis Freud sangat menantang dalam pembahasan tentang entitas yang (relative) berlainan ; karya tersebut juga, bahkan terutama, menantang sebagai sebuah jejak pengembaraan intelektual agung yang di dalamnya psikoanalisis mengalami suatu transformasi halus dalam sekumpulan wacana yang terus berevolusi. Sebagian transformasi  ini datang dari kenyataan bahwa Freud sendiri tidak seluruhnya mengendalikan konsep ( seperti kehidupan, kematian, kenikmatan dan sebagainya) yang ingin ia utarakan, dan karena konsep ini belum mantap. Singkatnya, Freud, yang menekankan pentingnya upaya melakukan interpretasi secara terus -menerus— Freud  yang mengatakan bahwa pada akhirnya ilmu psikoanalisis itu tidak pernah akan berakhir—Freud yang demikian, harus ditafsirkan dalam kerangka  pengertian tentang “ interpretasi tak terbatas”seperti yang pertama kali ia usulkan.

Jalan menuju lahirnya The Interpretation of Dream

Selama belajar di universitas, Freud bekerja di laboratorium seorang ahli fisiologi dan penganut aliran positivis, Ernest Brucke. Teman sejawat Brucke yang cukup berpengaruh, Herman Helmholtz — yang menghasilkan banyak karya tulis, di antaranya tentang teori termodinamika — juga memberikan pengaruh yang cukup besar bagi Freud, demikian juga fisikawan dan filsuf Gustaf  Fechner. Ketiga orang ini merupakan wakil dari dunia medis yang beraliran positivism dan vitalisme yang mendominasi banyak tempat termasuk di Wina selama tiga dasawarsa terakhir dalam abad kesembilan belas. Pengaruh mereka secara khusus terlihat dari teori Freud tentang energi  psikis yang “ terbatas” dan “ tidak terbatas” dalam sebuah karyanya yang diterbitkan secara anumerta, yaitu “ Proyek untuk suatu psikologi ilmiah”. Pada tahun yang sama , yaitu tahun 1895. Freud dan Breuer, yang pada awalnya mengawali pekerjaan mereka dari kasus Anna O, menerbitkan karya berjudul  Studies in Hysteria. Dengan demikian penelitian Freud pada kegiatan psikis mulai bergerak ke arah baru. Yang tampaknya mengakibatkan kesembuhan Anna O melalui katarsis ( pelepasan ketegangan) adalah sebagaimana dikatakan oleh sang pasien itu “ pengobatan dengan melakukan kegiatan berbicara” (“talking care”). Sebenarnya ,”talking care” merupakan hasil cara kerja menurut model psike seorang fisikalis atau  vitalis: ketegangan dilepaskan ( dicapai melalui homeostatis) melalui pembicaraan dan intepretasi — artinya , melalui suatu manipulasi makna.

Perubahan dari model psike seorang vitalis, yang diperlihatkan di dalam analisis tentang hysteria, muncul dengan lebih dramatis dalam sebuah studi kasus yang dikaji ulang pada tahun 1895, melalui “Proyek”  yang merupakan sebuah wacana yang menunjukkan dengan jelas sekali model psike yang —kuantitatif psike sebagai “ sejenis ekonomi kekuatan urat syaraf” . Kasus yang Freud kaji adalah mengenai seorang  wanita muda bernama Emma yang merasa takut untuk pergi ke toko sendirian. Dalam analisis studi tersebut, Emma mengaitkan kelainan yang dideritanya dengan kenangan saat ia, pada usia 12 tahun, pergi ke sebuah toko dan melihat dua penjaga tertawa  bersama-sama, dan ia lari ketakutan dari toko itu. Pengkajian analitis menunjukkan bahwa di balik peristiwa ini masih ada peristiwa lain lagi: pada usia 8 tahun, Emma pergi ke sebuah toko untuk membeli permen, dan penjaga  toko itu meraba-raba alat kelaminnya. Walaupun begitu, pengalaman Emma pada saat  itu tidak dianggap traumatis. Yang penting dari kedua peristiwa ini adalah bahwa yang pertama bersifat traumatis sebagai sebuah memori, tetapi sebagai sebuah peristiwa yang tidak membangkitkan rasa dosa;peristiwa yang kedua( secara kronologis merupakan yang pertama) berpotensi traumatis tetapi tetap tidak membangkitkan rasa dosa sebagai sebuah memori—persis karena tidak dialami sebagai suatu trauma. Baru setelah masa pubertas dilalui, pelecehan ini menjadi bermakna penuh sehingga secara psikis menjadi traumatis, atau bisa kita katakan hanya dalam bentuk yang sudah dialihkan. Disini , pengertian pengalihan cukup  penting karena menyebabkan pencarian kategoris suatu trauma dengan sesuatu peristiwa fisik menjadi tidak mungkin.  Lebih dari itu pengertian pengalihan menyarankan bahwa setiap pemahaman manusiawi  tentang trauma harus mempertimbangkan makna retrospektifnya. Dengan kata lain, pemahaman fisikalis atau vitalis terhadap psike itu tidak memadai. Hal tersebut membuka jalan di mana realitas pengalihan yang sesungguhnya— yang diuraikan Freud dengan sangat lengkap  dalam The Interpretation of Dream. — menampilkan dirinya di dalam wacana  Freud, saat ia akhirnya mengubah teori positivistiknya tentang kehidupan psikis setelah bertemu dengan fakta-fakta tentang psike itu sendiri— termasuk psikenya sendiri yang ditemuinya melalui analisis diri, dan juga pasien –pasiennya.

Oleh sebab itu, sebelum berbentuk suatu entitas fisik, psike itu adalah sebuah strutur makna. Ia berhubungan dengan proses-proses simbolik dan mengandung interpretasi. Jika unsur  interpretasi ini menjadi penting dalam kaitannya dengan kehidupan psikis, maka model kuantitatif— dan yang terakhir model behavioris — tentang psike menjadi tidak mencukupi.

Di bagian awal The Interpretation of Dream,  dengan tegas Freud menyatakan bahwa usahanya memberikan pemahaman tentang mimpi yang lebih mendalam berbeda sekali dengan usaha-usahanya yang sebelumnya karena ia tidak mengandalkan tanda-tanda mimpi yang lazim. Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar meninjau hal-hal dalam mimpi dengan menggunakan hal-hal dalam mimpi itu sendiri. Secara garis besar Freud menunjukkan bahwa penafsiran mimpi harus berbentuk khusus karena mimpi adalah suatu pemenuhan harapan ( secara umum), harapan yang tidak dipahami dalam tataran pemunculan isinya. Sebuah mimpi selalu mengandung pesan tersembunyi yang terkait dengan seksualitas sang pemimpi.  Secara harfiah, banyak yang berpikir bahwa ini adalah klaim yang tidak masuk akal.  Bagaimana mungkin sebuah mimpi itu berkaitan  ( secara esensial ) dengan seksualitas? Jawaban singkatnya, bahwa pada dasarnya seksualitas itu tersembunyi atau harus disembunyikan. Seksualitas itu  berkaitan  dengan tanda-tanda dan hal-hal yang bersifat simbolik.  Ini bukan dorongan hewani, tetapi hal ini terus tumpuk-menumpuk dalam semua pengalihan kehidupan social dan kultural. Pengalihan adalah jalur yang berputar-putar. Dalam The Interpretation of Dream, Freud mendefinisikan pengalihan sebagai salah satu cara kerja mimpi menyamarkan pesan tak sadar dari mimpi itu. Bersama dengan kondensasi, ia membentuk sebagian proses primer. Pengalihan mengarah pada cara yang membuat satu atau beberapa unsur  dalam isi/muatan mimpi yang tampil menjadi tidak berarti atau malah tidak ada dalam kandungan latennya : gagasan mimpi. Kondensasi menunjukkan bagaimana kandungan mimpi yang tampil itu jauh lebih miskin dibandingkan dengan kenyataan pikiran tentang mimpi yang diturunkan darinya. Setiap unsur  mimpi mungkin menghasilkan berbagai macam kesatuan dan ini disebutkan Freud sebagai “overdeterminasi”. Oleh karena itu,pengalihan dan kondensasi menyaratkan bahwa mimpi menghendaki adanya interpretasi ( ia tidak bisa disamakan dengan isi tampilannya). Selain itu kedua proses ini merupakan dua aspek kegiatan mimpi yang bersifat menyamarkan makna mimpi yang sejati ( jelas bersifat seksual), dan dengan demikian memungkinkan dipenuhinya harapan : tertutupnya pemikiran tak sadar.

Seperti yang kita lihat di atas, titik tolak Freud adalah pendapatnya tentang tidak adanya resep pasti untuk menafsirkan mimpi. Setiap unsur (biasanya suatu citra/imaji) harus ditafsirkan seolah-olah ini baru pertama kali dilakukan. Ini karena mimpi itu lebih merupakan bahasa daripada produk suatu proses linguistik : ia mirip sebuah idiolek. Hal ini karena Freud menunjukkan bagaimana suatu mimpi memperluas bahasa dan interpretasi sampai batas-batasnya sehingga di luar psikoanalisis, khususnya dalam bidang interpretasi wacana, karyanya menjadi cukup berpengaruh.

Kompleks Oedipus dan  Tentang Ego

Selain memperkenalkan teori tentang “tafsir mimpi” Freud dikenal juga sebagai perumus  konsep kompleks Oedipus. Secara harfiah ini adalah gejala yang diamati oleh Freud ( dan ini menggambarkan analisis dirinya) di mana sang anak laki-laki ( seperti Oedipus yang ada dalam mitologi Yunani) ingin menyingkirkan ayahnya agar bisa tidur dengan ibunya. Tema yang  terkait dengan hal itu muncul dalam Totem and Taboo saat Freud menunjukkan mitos tentang pembunuhan dan penyantapan bapak yang jahat dalam gerombolan Darwinian purba. Sebagai  tindakan penyesalan dan ungkapan rasa bersalah, anak laki-laki dari sang bapak tersebut segera menghentikan inses/ hubungan langsung dengan istri ayahya, dan membentuk suatu tatanan simbolik : tatanan hukum. Oedipus dan kisah tentang gerombolan purba memberikan gambaran tentang bagaimana ketidaksadaran (proses primer) selalu berusaha untuk  menghindari represi dan dengan demikian menghindari tatanan simbolik ( proses sekunder) . Di sini ia meninggalkan tanda pada yang simbolik sebagai  suatu gejala ( seperti selip lidah/igauan).

Satuan jalur pemikiran Freud yang cukup banyak mendatangkan perdebatan adalah pengertian tentang ego. Freud mendefinisikan ego dalam kaitannya dengan dua pengertian lain: id — atau energy afektif atau reservoir — dan super-ego — ( ego ideal) , atau yang mewakili realitas eksternal. Satu titik pokok yang menjadi bahan perdebatan adalah apakah ego itu sama dengan keseluruhan pribadi— yang berarti akan memasukkan id dan super-ego di dalam dirinya— atau apakah ego itu merupakan pelaku yang berusaha membedakan dirinya dari dua lainnya ( id dan super-ego). Bila pun dengan pertama membuka kemungkinan tentang suatu ego yang pada akhirnya identik dengan dirinya, maka pandangan yang kedua membuat adanya kemungkinan tentang identitas diri menjadi problematis.

Sampai di sini petualangan pembacaan mengenai pemikiran utama Freud yang nantinya akan menjadi dasar pemahaman kita akan karya Freud yang sangat luas dan heterogen; karya-karya  yang didasarkan atas model biologis dari psike; karya-karya meta –pskologis yang memberikan garis besar tentang konsep-konsep penting; beberapa studi kasus yang diambil dari praktik klinis; karya-karya autobiografis dan sejarah; karya yang didasarkan atas data historis dan antropologis; telaah tentang kehidupan sehari-hari dan karya didaktis yang berusaha menjelaskan psikoanalisis  kepada publik yang lebih luas. (Bersambung )

Bacaan :

Berger, Arthur Asa.  2000. Tanda –Tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta : PT Tiara Wacana

————————-. 2000. Media Analysis Techniques (2ed).  Yogyakarta : Penerbit Universitas Atmajaya

Freud,  Sigmun. 1983. Sekelumit Sejarah Psikoanalisa. Terjemahan K Bertens. Jakarta : Penerbit PT Gramedia

————————-. 2002. Psikoanalisis Sigmun Freud. Terjemahan Ira Puspitorini. Yogyakarta : Ikon Teralita.

————————-. 2001. Tafsir Mimpi.  Terjemahan Apri Danarto dkk. Yogyakarta: Penerbit Jendela.

Lechte, John. 2001. 50 Filsuf Kontemporer. Dari Strukturalisme sampai Postmodernitas. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.

Sumber ilustrasi : en.wikipedia.org

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 9 Juni 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: