LEKSIA DAN KODE PEMBACAAN

Barthes

Barthes

Roland Barthes (1990) memilah penanda-penanda pada wacana naratif ke dalam serangkaian fragmen ringkas dan beruntun yang disebutnya sebagai leksia-leksia (lexias), yaitu satuan –satuan pembacaan dengan panjang pendek bervariasi. Sepotong bagian teks, yang apabila diisolasikan akan berdampak atau memiliki fungsi yang khas bila dibandingkan dengan potongan-potongan teks lain di sekitarnya, adalah sebuah leksia.  Akan tetapi, sebuah leksia sesungguhnya bisa berupa apa saja: kadang-kadang berupa satu-dua patah kata, kadang kelompok kata, kadang beberapa kalimat, bahkan sebuah paragraf, bergantung pada ke-“gampang” –annya saja : cukuplah bila leksia itu sudah dapat menjadi sesuatu yang memungkinkan kita menemukan makna. Sebab yang kita butuhkan hanyalah bahwa masing-masing leksia itu memiliki beberapa kemungkinan makna.  Dimensinya tergantung kepada kepekatan dari konotasi-konotasi yang bervariasi sesuai dengan momen-momen teks. Dalam proses pembacaan teks, leksia-leksia tersebut dapat ditemukan baik pada tataran kontak pertama di antara pembaca dan teks maupun pada saat satuan-satuan itu dipilah-pilah sedemikian rupa sehingga diperoleh aneka fungsi pada tataran-tataran pengorganisasian yang lebih tinggi.

Kode pembacaan

Pengertian kode secara umum dalam strukturalisme dan semiotic  terkait dengan sistem yang memungkinkan manusia untuk memandang entitas –entitas tertentu sebagai tanda-tanda, sebagai sesuatu yang bermakna (Schooles,1982). Dengan kata lain, segala sesuatu yang bermakna tergantung pada kode. Kita bisa memberi makna kepada sesuatu berkat adanya suatu sistem pikiran, suatu kode, yang memungkinkan kita untuk dapat melakukannya. Bahasa-bahasa manusia merupakan contoh yang paling sempurna dari kode yang kita kenal, walaupun ada pula kode-kode yang bersifat sub-linguistk (ekspresi wajah, dsb) atau supralinguistik ( konversi-konversi sastra dsb). Penafsiran atas tunturan tuturan yang kompleks melibatkan pemakaian secara tepat sejumlah kode sekaligus.

Berbeda dengan pemahaman umum di atas, bagi Roland Barthes  di dalam teks setidak-setidaknya beroperasi lima kode pokok yang di dalamnya semua penanda tekstual ( baca leksia) dapat dikelompokkan. Setiap atau masing-masing leksia dapat dimasukkan ke dalam salah satu dari lima buah kode ini. Kode-kode ini menciptakan sejenis jaringan, suatu topos yang melaluinya teks dapat “menjadi” ( Barthes, 1990). Adapun kode-kode pokok tersebut —yang dengannya seluruh aspek tekstual yang signifikan dapat dipahami — meliputi aspek sintagmatik dan semantic sekaligus, yaitu menyangkut bagaimana bagian-bagiannya berkaitan satu sama lain dan terhubungkan dengan dunia di luar  teks.

Kelima jenis kode tersebut meliputi kode hermeneutik, kode semik, kode simbolik, kode proairetik dan kode cultural.

(1)    Kode hermeneutik  adalah satuan-satuan yang dengan berbagai cara berfungsi untuk mengartikulasikan suatu persoalan, penyelesaiannya, serta aneka peristiwa yang dapat memformulasikan persoalan tersebut, atau yang justru menunda-nunda penyelesaiannya, atau bahkan yang menyusun semacam teka-teki (enigma) dan sekedar member isyarat bagi penyelesaiannya( Barthes , 1990:17). Pada dasarnya kode ini adalah sebuah kode “penceritaan”, yang dengannya sebuah narasi dapat mempertajam permasalahan, menciptakan ketegangan dan misteri, sebelum membrikan pemecahan atau jawaban.

(2)    Kode semik ( code of semes) atau konotasi adalah kode yang memanfaatkan isyarat, petunjuk, atau “kilasan makna” yang ditimbulkan oleh penanda-penanda tertentu. Pada tataran tertentu kode konotatif ini agak mirip dengan apa yang disebut oleh para kritikus sastra Anglo-Amerika sebagai “ tema” atau “sruktur tematik”, sebuah thematic grouping ( Barthes, 1990:19).

(3)    Kode simbolik (symbolic code) merupakan kode “pengelompokkan” atau konfigurasi yang gampang dikenali karena kemunculannya yang berulang-ulang secara teratur melalui berbagai cara dan sarana tekstual, misalnya berupa serangkaian antithesis : hidup dan mati, di luar dan di dalam, dingin dan panas, dan seterusnya. Kode ini memberikan dasar bagi suatu struktur simbolik (Barthes 1990:17)

(4)    Kode proairetik (proairetik code) merupakan kode “ tindakan”. Kode ini didasarkan atas konsep proairesi, yakni “ kemampuan untuk menentukan hasil atau akibat dari suatu tindakan secara rasional ( Barthes, 1990:18)” yang mengimplikasi suatu logika perilaku manusia :  tindakan-tindakan membuahkan dampak-dampak, dan masing-masing dampak memiliki nama generic tersendiri, semacam  “ judul” bagi sekuens yang bersangkutan.

(5)    Kecuali keempat kode di atas, dapat ditambahkan satu jenis kode lagi, yaitu kode cultural ( cultural code) atau kode referensial ( reference code) yang berwujud sebagai semacam suara kolektif yan anonym dan otoritatif; bersumber dari pengalaman manusia, yang mewakili atau berbicara tentang sesuatu yang hendak dikukuhkannya sebagai pengetahuan atau kebijaksanaan yang “diterima umum”. Kode ini bisa berupa kode-kode pengetahuan atau kearifan (wisdom) yang  terus-menerus dirujuk oleh teks, atau yang menyediakan semacam dasar autoritas moral dan ilmiah bagi suatu wacana ( Barthes, 1990: 18)

Sumber :

Budiman, Kris. 2004. Semiotika Visual. Yogyakarta : Buku Baik. Hal : 53-57

Sumber ilustrasi : ceasefiremagazine.co.uk

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 6 Juni 2013.

Satu Tanggapan to “LEKSIA DAN KODE PEMBACAAN”

  1. thank you so much! membantu banget informasinya ! keep the good work yaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: