TEKNIK PROPAGANDA

Alfred Mc Clung Lee

Alfred Mc Clung Lee

Lee, A.M. dan E.B.Lee (1939 ) dalam buku klasiknya The Fine Art of Propaganda: A Study of Father Coughlin’s Speeches mengemukakan tujuh teknik/metode  propaganda :

  1.  Name Calling. “ Name calling – giving an idea a bad label- is used to make us reject and condemn the idea without examining the evidence  ( hal.26)” . Memberi julukan/label buruk pada seseorang, gagasan,orang,lembaga supaya audiens tidak menyukai atau menolaknya.   Teknik ini biasanya dilakukan dalam kancah politik atau arena wacana public secara umum dan relative  tidak banyak dipakai dalam praktek advertising, karena ada semacam keengganan untuk menyebutkan produk lawan meskipun dilakukan dengan label yang miring sekalipun. Salah satu contoh name calling yang lazim kita temui adalah label “ teroris atau terorisme”.  Di Indonesia, salah satu contoh penggunaan name calling dalam masa kampanye adalah julukan “ Penculik Aktivis Mahasiswa” dari lawan politik  kepada Prabowo Subianto yang pernah mencalonkan diri dalam pilpres.
  2. Elizabeth Briant Lee

    Elizabeth Briant Lee

    Glittering Generality. “ Glittering Generality…associating something with a virtue word”—is used to make us accept and approve the thing without examining the evidence” (hal 47). Suatu teknik menghubungkan dengan ‘kata yang berkonotasi baik’  dipakai untuk membuat audiens menerima dan menyetujui sesuatu tanpa memeriksa bukti-bukti. Misalnya, penyebutan konsep ekonomi Budiono dengan konsep “ekonomi jalan tengah” karena terkesan lebih nyaman di telinga dan seolah member win win solution. Dalam lingkup iklan, beberapa merk dunia seperti Super Shell, Imperial Margrarine, Wonder Bred, Superior Dairy adalah contoh  Glittering Generality  sampai sekarang masih digunakan.  Beberapa produk  kecantikan juga kadang “dipaksa’ untuk mencantumkan sesuatu pernyataan tentang “ natural ingredients” karena mengesankan produknya lebih aman dan tidak membahayakan pemakai. Natural ingridients di sini misalnya dikaitkan dengan bahan-bahan seperti minyak kelapa .

  3.  Transfer. “ Transfer carries  the authority, sanction, and prestige of something respected and revered over to something else in order to make the latter more acceptable” ( Hal 69). Teknik membawa otoritas dukungan, gensi dari sesuatu yang dihargai dan disanjung  kepada sesuatu yang lain agar sesuatu yang lain itu lebih dapat diterima.  Misalnya, Megawati yang senantiasa membawa nama besar Soekarno agar mendapat dukungan sebagaimana rakyat dahulu menyanjung ayahandanya.
  4. Testimonial. “ Testimonial consists in having some respected or hated person say that a given or program or product or person is good or bad” ( Hal 74). Teknik  ini memberi kesempatan pada orang yang mengagumi atau membenci untuk mengatakan bahwa sebuah gagasan atau program atau produk atau seseorang itu baik atau buruk.  Teknik ini sangat umum di pakai dalam teknik periklanan dan juga dalam masa kampanye politik.
  5. Plain Folks. “ Plain folks is the method by which a speaker attempts to convince his audience that he and his ideas ar goods because they are ‘of the people’, the ‘plain folks’ (hal 92). Teknik ini digunakan oleh pembicara propaganda dalam upaya meyakinkan audiens bahwa dia dan gagasannya bagus karena mereka adalah bagian dari rakyat. Hampir semua peserta pemilu menggunakan teknik ini, menyatakan diri bagian dari rakyat.
  6. Card Stacking. “ Card stacking involves the selection and use of facts or falsshood, illustrations, and logical or illogical statements in order to give the best or worst possible case for an idea, program, person, or product” ( hal 95).  Meliputi pemilihan dan pemanfaatan fakta atau kebohongan, ilustrasi atau penyimpangan dan pernyataan –pernyataan logis atau tidak logis untuk memberikan kasus terbaik atau terburuk pada suatu gagasan, program , orang atau produk. Misalnya, penggunaan kasus-kasus spesifik di masa lalu guna menjegal lawan politiknya.
  7. Bandwagon. “ Bandwagon has as its theme.” Everybody—at least all of us—is doing it”; with it, the propagandist attempts to convince us that all members of a group to which we belong are accepting his program and that we must therefore follow our crowd and ‘jump on the bandwagon’” ( Hal 105).  Teknik ini digunakan dalam rangka meyakinkan audiens bahwa semua anggota suatu kelompok – di mana audiens termasuk dalam kelompok tersebut— telah menerima gagasan atau programnya dan oleh karenanya diharapkan audiens sasaran juga segera mengikuti jejaknya.

Referensi :

Lee, A.M. dan E.B.Lee .  1939.The Fine Art of Propaganda: A Study of Father Coughlin’s Speeches. New York : Harcourt, Brace and Company.

Sumber Ilustrasi : uua.org

 

 

~ oleh Tri Nugroho Adi pada 2 Juni 2013.

4 Tanggapan to “TEKNIK PROPAGANDA”

  1. tulisan yang sangat membantu pak, saya mohon izin untuk me-reblog tulisan bapa, boleh kah??

  2. Reblogged this on rizky ari wibowo.

  3. […] “glittering generalities”, “plain-folks” dan “ card-stacking”  (baca artikel berjudul Teknik Propaganda) dengan tujuan para siswa itu menjadi “kebal” terhadap ancaman propaganda […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: